NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 Minum Es Tanpa Ditawari

Pagi itu aku bangun dengan badan yang rasanya belum pulih. Mata perih, punggung pegal, kaki berat kayak habis jalan jauh. Padahal jarak kamar ke lapangan cuma beberapa puluh meter. Tapi capeknya bukan di jarak. Ada yang numpuk, dan belum turun.

Aku bangun lebih awal dari yang lain. Jam masih menunjukkan setengah enam. Di kamar, beberapa masih tidur, selimut sampai kepala. Ada yang mendengkur pelan.

Aku duduk sebentar di kasur, ngerapihin pikiran, lalu berdiri pelan supaya nggak bikin ribut. Di luar, udara dingin nyengat. Lapangan masih basah, rumput licin. Aku jalan ke kamar mandi sambil mikir jadwal hari ini. Harusnya nggak sepadat kemarin, tapi tetap aja ada tanggung jawab yang harus dicek.

Setelah cuci muka dan ganti baju, aku langsung ke aula kecil. Biasanya pagi-pagi ada yang udah nongkrong, tapi hari ini sepi. Aku duduk di bangku panjang, buka catatan, ngecek ulang barang-barang yang kemarin dipakai. Senter, tali, peluit, semuanya ada.

Aku tulis satu-satu. Tanganku gerak otomatis. Sekitar satu jam kemudian, anak-anak mulai keluar kamar. Ada yang masih setengah ngantuk, ada yang langsung ribut. Aku ngelirik sesekali, tapi nggak ada yang nyamperin. Nggak ada yang nanya, “Butuh bantuan?” atau “Kemarin beres jam berapa?”

Aku udah biasa. Tapi tetap aja ada rasa yang nggak enak. Menjelang siang, kegiatan selesai lebih cepat dari jadwal. Panitia bilang,

 “Istirahat dulu, nanti jam dua lanjut.” Anak-anak langsung nyebar.

Ada yang ke kantin kecil di dekat gerbang, ada yang balik ke kamar. Aku duduk di lobi aula. Kursinya dari kayu, panjang, agak keras.

Di depanku ada meja kecil dengan termos air. Beberapa orang beli es dari abang-abang yang lewat bawa gerobak. Suaranya khas, lonceng kecil berdenting.

“Es, es!” Beberapa anak langsung nyamperin. Ketawa, pesen rame-rame. Ada yang beli es teh, ada yang es jeruk. Aku lihat dari jauh. Tenggorokanku kering. Tapi aku nggak langsung berdiri. Aku mikir sebentar. Dompet ada. Uang ada. Tapi rasanya males ikut nimbrung. Aku duduk aja.

Abang es lewat depan lobi. Berhenti karena ada beberapa anak manggil. Mereka berdiri melingkar. Aku ada di situ, duduk, jaraknya cuma dua langkah. Tapi nggak ada yang nengok.

“Lu mau apa, Ra?” tanya salah satu ke Rara.

“Es teh aja,” jawabnya.

Yang lain pesen juga. Abang es sibuk. Gelas plastik disusun. Es batu bunyi berdenting. Aku duduk, tangan di paha. Mataku ngikutin gerak mereka tanpa niat. Selesai. Semua pegang gelas. Mereka geser sedikit, berdiri sambil minum. Aku masih duduk.

Nggak ada yang bilang, “Na, mau?” Nggak ada yang nawarin. Bukan soal esnya. Aku bisa beli sendiri. Tapi momen itu bikin aku ngerasa… ya gitu. Kayak aku transparan. Aku berdiri pelan. Jalan ke abang es.

“Bang, es teh satu,” kataku. Abangnya ngangguk. Bikin cepat. Aku bayar. Ambil gelas, terus balik ke bangku. Aku minum pelan. Manisnya biasa. Esnya kebanyakan. Tapi dinginnya lumayan.

Di depanku, Rara dan yang lain ketawa bahas hal nggak penting. Aku dengar sekilas. Soal foto, soal caption, soal siapa yang kelihatan jelek.

Aku duduk di situ cukup lama. Minum sampai habis. Nggak ada yang nyamperin. Nggak ada yang duduk di samping.

Tara muncul sekitar sepuluh menit kemudian. Dia bawa botol air sendiri. Matanya nyari-nyari, terus nemu aku.

“Na,” katanya sambil duduk di sebelahku.

“Lu dari tadi di sini?”

“Iya.”

“Minum?” dia nunjuk gelasku.

“Iya.” Dia buka botolnya, minum, terus diem sebentar. “Gue kira lu sama yang lain.”

Aku geleng. “Enggak.” Tara ngelirik ke arah Rara, terus balik lagi ke aku. Nggak ngomong apa-apa. Tapi aku tahu dia ngerti. Kami duduk bareng tanpa banyak kata. Itu aja udah cukup. Nggak lama, ada pengumuman.

“Lima belas menit lagi kumpul.” Anak-anak mulai beres.

 Ada yang buang gelas, ada yang tinggalin di meja. Aku berdiri, buang gelasku sendiri ke tempat sampah. Kegiatan lanjut. Aku kembali ke peran aku: ngecek, ngatur, ngingetin. Suaraku masih keluar, tapi rasanya beda. Lebih pendek. Lebih seperlunya.

Sore hari, jadwal selesai lebih cepat dari rencana. Beberapa orang langsung packing. Ada yang ketawa seneng karena besok udah mau pulang. Aku duduk lagi di lobi. Kali ini sendirian.

Tara bilang mau balik dulu ke kamar buat beres-beres. Aku ngangguk. Lobi agak rame. Orang lalu-lalang. Ada yang foto-foto. Aku cuma duduk, ngeliatin orang lewat. Di situ aku sadar, aku udah capek bukan cuma fisik.

Ada rasa bingung yang nggak jelas. Aku nggak tahu salahku di mana. Aku ngerjain semua yang diminta. Datang pas dipanggil. Pergi terakhir. Tapi kenapa rasanya kayak aku cuma pelengkap?

Aku buka HP. Grup rame lagi. Bahas pulang besok, bahas titip oleh-oleh. Aku baca tanpa bales. Ada satu pesan dari Rara, di grup: “Nanti sore kumpul bentar ya, evaluasi.”

Aku baca itu dua kali. Evaluasi. Kata itu bikin perutku nggak enak. Tapi aku bales singkat, “Oke.” Sore menjelang malam. Kami kumpul sebentar. Evaluasinya nggak panjang. Banyak yang cuma ketawa, bilang, “Capek tapi seru.”

Aku duduk di pinggir. Dengerin. Rara ngomong beberapa hal. Soal kurang koordinasi. Soal jadwal yang agak molor. Dia nyebut “kita” terus.

Nggak nyebut nama. Aku diem. Tanganku di pangkuan. Kuku jariku ngeruk kulit pelan. Selesai. Semua bubar. Aku jalan ke kamar.Di lorong, Tara nyusul. “Na, lu kenapa?” tanyanya.

Aku berhenti sebentar. Mikir. “Gue nggak kenapa-kenapa.” Tara kelihatan mau ngomong, tapi akhirnya cuma bilang, “Kalau kenapa-kenapa, bilang.” Aku ngangguk.

Di kamar, aku rebahan. Lampu masih nyala. Beberapa lagi ngobrol kecil. Aku nutup mata, tapi nggak tidur. Kejadian siang tadi muter lagi di kepala. Duduk di lobi. Minum es tanpa ditawari. Hal kecil. Tapi nempel.

Aku nggak butuh diperhatikan berlebihan. Aku cuma pengen dianggap satu lingkaran, bukan di pinggir. Aku tarik napas panjang. Buang pelan. Besok masih ada satu hari. Aku bakal tetap jalanin. Seperti biasa.

Tapi di kepala aku, ada satu catatan kecil yang nggak bisa dihapus: ternyata, capek itu bukan cuma soal kerja. Kadang soal posisi. Dan aku mulai ngerasa posisiku makin menjauh, pelan-pelan.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!