"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_28
Untuk sesaat, Narendra tidak bergeming menanggapi permintaan Rayna. Ia berdiri mematung, pandangannya lurus tertuju pada wajah istrinya yang tampak pucat namun tetap memancarkan keteguhan khasnya.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa," ujar Rayna akhirnya, suaranya lirih namun berusaha terdengar biasa. "Nanti pas kamu keluar, tolong panggilin Bibi ke kamar ya. Aku minta tolong sama dia saja."
Di dalam kepala Narendra, suara lain justru berteriak jauh lebih keras.
"Gimana caranya bilang ke dia kalau gue bukannya nggak mau, tapi gue takut? Takut kebablasan, takut khilaf…" ratap Narendra
Kalau boleh jujur, dengan senang hati Naren ingin mengiyakan. Kapan lagi ia bisa melihat perut Rayna yang rata dan mulus tanpa dicurigai atau dituduh macam-macam? Tapi justru di situlah letak ketakutannya. Ia mengenal dirinya terlalu baik.
"Kok masih di sini?" Rayna kembali membuka suara ketika melihat Naren belum juga bergerak. "Katanya mau nemuin anak-anak. Sana gih, jangan lupa panggil Bibi suruh ke sini."
Nada Rayna nyaris tak terdengar. Tubuhnya terasa semakin lemas, campuran antara masuk angin dan kekecewaan kecil karena usahanya barusan nyaris gagal.
Narendra menghela napas pendek. "Siniin minyak kayu putihnya."
Rayna tertegun.
Naren melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang tempat Rayna berbaring. Jantung Rayna berdegup lebih cepat. Bukan main—ternyata rencananya tidak sepenuhnya sia-sia.
Karena Rayna masih melongo, Naren mengambil sendiri botol minyak kayu putih yang tergeletak di samping bantal. Tanpa sadar, jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa senti. Rayna bisa merasakan hangat napas suaminya. Dalam hati, ia ingin tertawa sekaligus menangis—ingin rasanya ia menerkam lelaki di hadapannya itu. Namun kondisi tubuhnya yang lemah dan harga diri yang tak boleh longsor membuatnya hanya diam.
"Buka sendiri bisa?" tanya Naren sambil menunjuk kancing baju Rayna.
"Lemas," jawab Rayna singkat, nyaris berbisik.
Naren menggeleng kecil. Tangannya kemudian bergerak membuka kancing baju Rayna dari bagian paling bawah. Satu per satu kancing terlepas, perlahan menyingkap kulit putih yang mulus tanpa noda. Naren menelan ludah dengan susah payah, berusaha menjaga kewarasannya.
Empat kancing terbuka, menyisakan dua di bagian atas. Pemandangan di hadapannya terasa seperti ujian paling berat hari itu. Perut Rayna yang datar seolah menari, menggoda untuk disentuh lebih jauh.
"Uh…" Rayna menegang saat tetesan minyak menyentuh kulit perutnya.
"Kenapa?" Naren langsung mendongak, menatap wajah Rayna dengan cemas.
"Geli… sama dingin," jawab Rayna, senyum kecil mengulum di bibirnya.
Setelah menuangkan secukupnya, Naren mulai menggosok minyak agar merata. Sentuhan telapak tangan itu membuat Rayna meremang. Ia menggigit bibir bawah, memejamkan mata, berusaha menahan segala desiran yang muncul. Jangan sampai ada lenguhan lolos dari bibirnya.
Bukan hanya Rayna yang berjuang. Bagi Narendra, ini justru terasa jauh lebih berat. Seluruh indranya seolah memberontak. Ia memaksa pikirannya tetap waras, menahan tangannya agar tidak bergerak ke arah yang salah.
"Perut yang bawah, Mas," bisik Rayna ketika merasa tangan Naren terlalu lama berada di bagian atas.
Narendra sengaja menghindari area yang ia sebut sebagai ‘tepi jurang’. Ia tahu betul, sekali saja meleset, ia tak yakin bisa kembali.
"Jangan digosok terus," goda Rayna lirih. "Nanti keluar jin-nya."
Naren mendengus kecil. "Kamu masuk angin apa kesurupan?"
Rayna mengernyit, lalu terkekeh pelan. "kesurupan. minta sesajen tas hermes dong," ceplos Rayna yang hanya di balas gelengan pelan dan senyum tipis oleh Naren
"Yang ini?" tanya Naren sambil menggeser tangannya sedikit.
"Uh… hu’um," Rayna mengangguk kecil.
Narendra mendongak, menatap Rayna lebih tajam. Samar-samar, ia yakin barusan mendengar lenguhan halus.
"Kenapa?" Rayna membuka mata.
Naren berhenti bergerak. Suaranya parau saat bertanya, "Kamu sebenarnya minta dibaluri apa… ditiduri?"
Mata Rayna langsung terbelalak. Wajahnya memanas.
"Apaan sih, Mas," jawabnya berusaha setenang mungkin, meski rasa salting membuat dadanya berdebar tak karuan.
Tanpa berkata lagi, Naren segera mengancingkan kembali baju Rayna. Satu per satu kancing terpasang, menutup pemandangan yang sejak tadi menguji kesabarannya. Begitu selesai, ia langsung berdiri dan menjauh dari ranjang.
"Mas, mau ke mana?" Rayna memanggil lirih.
Narendra tidak menjawab. Langkahnya cepat menuju kamar mandi.
"Kayaknya dia benar-benar udah kebelet," gumam Rayna pelan.
Tangannya menyentuh perutnya sendiri, membayangkan kembali hangat telapak tangan Narendra yang tadi bergerak lembut di sana. Ia menghela napas panjang.
"Ya Allah… pengin disentuh suami sendiri aja sampai segininya," gumamnya. "Masak harus nunggu masuk angin dulu."
Hampir lima belas menit Naren belum juga keluar. Rayna mulai gelisah. Baru saja ia hendak bangkit, pintu kamar mandi terbuka.
"Mau ke mana?" tanya Naren melihat Rayna berusaha turun dari ranjang.
"Nyusul kamu. Kamu lama banget, aku takut kamu kepleset terus langsung stroke," jawab Rayna dengan senyum polos versinya sendiri.
Naren menatapnya tajam. "Sembarangan ngomong. Istigfar nggak? Omongan itu doa. Emang kamu mau suami kamu stroke?"
"Eh coy, amit-amit jabang baby," jawab Rayna refleks sambil mengusap perutnya.
"Istigfar," ulang Naren.
"Astaghfirullahaladzim," ucap Rayna patuh.
"Nggak usah banyak gerak. Aku ke bawah dulu," kata Naren sebelum melangkah pergi.
---
Di ruang tamu, hampir semua berkumpul. Hanya Raka dan Fatma yang absen, memilih beristirahat di kamar.
"Nah itu Gus-nya, udah turun," seru Bagas saat melihat Naren menuruni tangga dengan outfit sarungnya
"Curang banget, dia udah ganteng duluan," sahut Bayu. "Gue masih kelihatan kucel gini."
"Itu rambutnya basah," lanjut Bayu sambil mengedipkan mata jahil.
"Apaan sih. Dari kemarin gue nggak mandi," balas Naren santai.
Bayu tertawa nyengir.
"Gimana keadaan Rayna, Mas?" tanya Farah pada sang putra penuh perhatian.
"Nggak apa-apa, Mah. Cuma masuk angin. Tadi udah dibalurin minyak kayu putih," jawab Naren.
"Beneran nggak perlu dipanggilin dokter?" sela Fani.
"Nggak. Tadi Naren juga udah nawarin, tapi Raynanya nggak mau. Katanya masih kuat," jelas Farah pada besannya
"Ya sudah kalau gitu. Ini diminum wedang jahenya, biar badannya anget," ujar Farah sambil menyodorkan gelas.
"Makasih, Mah," jawab Naren.
Fani menatap menantunya sejenak, lalu bertanya santai, "Le, apa jangan-jangan Rayna hamil?"
"Brusss!"
Wedang jahe yang baru saja masuk ke mulut Naren langsung menyembur. Farah refleks menegurnya.
"Naren! Nggak sopan!"
"Maaf, Mah," Naren buru-buru mengelap bibirnya.
"Kamu kenapa sih kagetnya berlebihan gitu?" tanya Farah heran.
"E-enggak, Mah. Cuma… Naren kan baru sebulan nikah sama Rayna. Masa iya udah hamil," jawabnya gugup.
"Rezeki mah siapa yang tahu, Le," sahut Fani sambil terkekeh. "Apalagi kalian nikah pas Rayna lagi masa subur. Bisa aja sekali gas langsung jadi."
Bayu, Bagas, dan Ardi saling pandang, menahan senyum.
Aneh rasanya. Naren tidak merasa marah. Justru di dalam hatinya muncul harapan kecil—bagaimana kalau ucapan mertuanya itu benar? Bayangan itu membuat dadanya menghangat.
Tak ada lagi rasa bersalah pada Ajeng seperti yang dulu sering menghantuinya. Berkali-kali ia mencoba mencari kembali rasa cinta lama itu, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan.
Yang ada kini, justru keinginan untuk menatap masa depan bersama Rayna—istrinya—dengan perasaan yang pelan-pelan tumbuh, semakin nyata.
plisss dong kk author tambah 1 lagi