NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Siapa yang tidak mengenali seorang Dareen Kristian

Fisnatoon Moore? Pebisnis andal yang menguasai metropolitan Eropa, pria itu melakukan investasi pada bisnisnya sendiri dalam bidang pembuatan maskapai penerbangan.

Jangan tanyakan berapa jumlah kekayaan Dareen, tentu pria itu tidak tau sebab pikirannya selalu fokus untuk meraup keuntungan secara gila-gilaan, melakukan apapun agar perusahaannya tidak merugi sekalipun menggunakan cara licik.

Menjadi pria tampan dengan segala aset mewahnya membuat Dareen menjadi dambaan bagi kaum wanita, mereka rela berjejer rapi asal terlihat di mata pria itu, mereka tahu bahwa berdiri di samping Dareen merupakan tiket emas menuju kekuasaan.

Sayang sekali hati Dareen sudah terisi oleh orang lain hingga tak acuh pada wanita yang mengejarnya, Jeslyn Van Deogore, wanita berparas cantik dengan suara teduh yang menyejukkan, namun sialnya ia malah menjadi ipar dari wanita yang sangat ia cintai.

Dan paling tak masuk akal ialah penyebab semua permasalahan ini terjadi karena Afnan, istri kecil yang baru ia nikahi. Apakah Dareen menyesal? Jelas! Pria itu ingin memutar waktu untuk menyelamatkan Jeslyn dari ambisi Afnan, keegoisan Afnan dalam memilikinya adalah hal gila yang mengorbankan kebahagiaan orang lain, termasuk kakak wanita itu sendiri.

Lantas, lihatlah betapa gilanya Afnan datang sembari menendang pintu seolah mengibarkan genderang perang, "Afnan?" Dareen bergumam kecil, berdiri dari kursi kebesarannya.

Tersenyum tanpa dosa, Afnan menyelipkan anak surainya di belakang telinga, terkejut mendapati beberapa pria tengah bersama sang suami, "Kak Dareen sedang rapat ya? Maaf-maaf aku tidak tau, dan masuk ke ruangan dengan tidak sopan."

"Dude, ini adalah wanita barumu?" Salah satu rekan bisnis Dareen berkata santai, menatap tak percaya sesosok wanita yang masuk tanpa sopan santun.

Diam tak langsung menjawab, Dareen mengangkat tangan hingga, Jax Riverl Van Goyten, pria berwajah tampan sebab memiliki dua darah China - USA itu muncul maju selangkah, selaku asisten pribadi Dareen.

"Jax, bawa wanita itu menuju ruangan lain." Titah Dareen tak ingin dibantah, mengabaikan tatapan protes yang Afnan berikan padanya, memang siapa yang mengizinkan wanita itu masuk ke dalam ruanganya?

Mengangguk patuh, Jax segera menghampiri Afnan, senyum sopan terpatri di wajahnya, "Nyonya Afnan, mari ikut bersama saya." Ia berkata seraya memberi isyarat agar Afnan mengikutinya.

Afnan memajukan bibirnya sedikit, menatap Jax dari ujung rambut hingga ujung kaki, "Kau siapa? Apa Kak  Dareen benar-benar sibuk sampai aku harus pergi?"

"Perkenalkan saya Jax, asisten sekaligus sekretaris Tuan Dareen, untuk sekarang mohon nyonya mengikuti saya terlebih dahulu sebab Tuan Dareen sedang melaksanakan rundingan bersama para investor."

Derdecak terdengar, namun Afnan tetap melangkah mengikuti Jax keluar dari ruangan rapat yang kini kembali hening, begitu mereka tiba di ruang tunggu, ia langsung melemparkan pertanyaan dengan nada menyelidik.

"Jax, katakan sejujurnya padaku," Afnan duduk, menyilangkan kakinya dengan angkuh, "Apakah akhir-akhir ini banyak wanita lain yang selalu menggangu suamiku?"

Menundukkan kepalanya sedikit, Jax tetap menjaga intonasi suara datarnya, "Nyonya, Tuan Dareen adalah pebisnis dengan reputasi gemilang, sangatlah wajar jika banyak pihak, termasuk kaum wanita, ingin berinteraksi dengannya."

"Jadi banyak wanita yang mendekatinya?" Afnan tertawa geli, benar juga? Mengapa ia harus bertanya terhadap sesuatu yang sudah jelas jawabannya? Pun pernikahan mereka juga tidak akan dipublish, normal jika banyak wanita tetap mendekat.

Menutup netra sejenak, jelas Jax tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Afnan, pria itu memilih untuk mundur dua langkah, "Tuan Dareen akan segera menyelesaikan rapatnya. Sabarlah sedikit, nyonya."

"Kau tidak menjawab pertanyaanku." Afnan tersenyum tanpa arti, menatap Jax yang masih menundukan kepala.

"Saya tidak memiliki jawaban, anda bisa bertanya secara langsung pada Tuan Dareen," Jax menjawab cepat, "Jika tidak ada sesuatu yang perlu dibahas lagi, saya pamit mengundurkan diri."

Tanpa menunggu persetujuan dari Afnan, Jax langsung pergi begitu saja meninggalkan punggungnya yang kini mulai tak terlihat lagi, di ruangan yang hening itu, Afnan hanya sendiri.

Menyenderkan tubuhnya di atas papan sofa, Afnan mengerjabkan nertanya menatap plafon sembari menerawanag nasibnya sendiri, benarkah ia salah melangkah? Sayangnya untuk menyerahpun terlalu awal.

Tak ingin berpikir terlalu jauh yang berujung membuat hatinya berdenyut sakit, Afnan memilih untuk bermain ponselnya sendiri, sekedar mencari hiburan sembari menunggu kehadiran Dareen.

Namun setelah beberapa jam menunggu Dareen tetap tidak memunculkan batang hidungnya, pria itu seolah tidak menepati janji, padahal jam makan siang sudah terlewat dua jam yang lalu.

Mau tak mau Afnan berdiri, wanita itu berkecak pinggang sembari menatap rantang makanannya yang sudah dapat dipastikan isinya telah dingin, dengan segala keberanian, ia melangkah keluar sembari menenteng rantang itu.

"Nyonya? Anda ingin kemana?" Jax, pria itu berdiri di hadapan Afnan dengan kening yang terangkat heran.

"Di mana tuanmu? Apa masih rapat? Aku sudah menunggu tiga jam, dan aku bosan menunggu." Afnan menjawab sewot, menatap Jax yang kini terlihat terkejut setelah mendengar ucapannya.

Tersenyum kecil, Jax menunduk, "Mohon maaf nyonya, namun Tuan Dareen menolak bertemu dengan anda." Serunya sedikit merasa bersalah, sebab sang nyonya sudah menunggu begitu lama untuk bertemu dengan Dareen.

Melototkan netranya, Afnan menggelengkan kepala tak percaya, "Apa? Kenapa tidak berkata sedari tadi Jax? Pantatku sudah sakit kau tau!? Kusarankan untuk mengganti sofa yang fungsional!"

"Baik nyo-"

Belum selesai Jax berkata, Afnan sudah pergi membawa rantang menuju ruangan Dareen, tanpa permisi wanita itu masuk, mengejutkan sang suami yang kini tengah terpaku pada layar monitor komputer.

"Jax, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengusirnya?" Tandas Dareen sembari memijat pelipisnya yang terasa nyeri, menatap Afnan tak ingin, bagaimana bisa wanita itu masuk secara tiba-tiba tanpa permisi?

Tertawa sumbang, Afnan mendekatkan dirinya pada Dareen, menatap pria itu tanpa arti, "Aku sudah menunggu kakak selama tiga jam, kakak tau!? Tapi setelah rapat kakak malah mengingkari janji!"

"Aku tau dan aku tidak mengingkari janji." Dareen menjawab santai, menatap jemari Afnan yang mengepal, masih menggengam erat rantang makanan itu.

Menganggukkan kepala, Afnan tersenyum mencoba menguasai rasa amarah yang siap meledak kapan saja, dan mungkin akan berakhir memukul kepala Dareen, ia tidak ingin terlihat sebagai istri temperamental.

"Baik baik, aku akan memaafkan kesalahan kakak kali ini," Afnan menaruh rantang makanannya di atas meja kerja Dareen,"Sekarang makan ya? Aku tidak ingin Kak Dareen sakit."

Dareen berhenti menatap layar monitornya, ia beralih menyorot Afnan tanpa ekspresi, "Kedatanganmu saat ini tidak diperlukan, Afnan. Kau menganggu waktuku." Nada bicaranya dingin, penuh penolakan yang gamblang.

"Menganggu?" Afnan malah tertawa renyah, seolah ucapan Dareen adalah lelucon lucu, bagaimana bisa seorang istri yang memperhatikan pasangannya dianggap menganggu?

"Aku ini istrimu kak, bagaimana bisa menganggu? Jangan bercanda!" Afnan menunjuk ke arah kotak makan bento mewah yang ia letakkan di meja tadi.

"Aku sudah meminta Jax untuk menyiapkan makan siangku, bawa kembali makanan itu, aku tidak ingin memakannya. " Ujar Dareen melengos, tak ingin menatap wajah memelas yang Afnan tampilan.

Memilih abai, Afnan membuka bekalnya tanpa mengindahkan tatapan protes yang Dareen layangkan padanya, "Aku sudah effort membawakan kakak bekal, kenapa harus merepotkan Jax?"

Jax tanpa sadar mengangguk setuju di belakang tubuh Afnan, membuat Dareen yang melihat itu melotot, mengancam lewat sorot netra.

"Ekhem," Jax terbatuk, maju selangkah dengan senyuman ceria, "Mana mungkin Tuan Dareen merepotkan saya nyonya." Serunya.

Menolehkan kepala, dapat Afnan lihat wajah tampan Jax, lantas ia menepuk bahu pria itu seolah-olah sudah akrab, "Dari pada itu bagaimana jika kau makan ini saja? Aku membawa terlalu banyak."

"A-pa?" Jax mengerjabkan netranya, tak percaya akan ucapan Afnan, "Saya tidak bisa menolak jika begitu nyonya." Ia langsung tersenyum dengan begitu lebar, berpura-pura untuk tidak melihat wajah tak percaya Dareen.

Tertawa pelan, Afnan mengangguk penuh semangat, mengambil bekalnya dengan antusias, membuka dan mempersiapkan piring secara telaten, lantas memberikannya pada Jax.

"Makan yang banyak, tubuhmu kering sekali, pasti Kak Dareen sering menyusahkanmu ya?"

"Jax, jangan dimakan, atau kau akan keracunan." Sambar Dareen cepat, sebab pria itu masih mengingat terakhir kali ia memakan masakan wanita itu berakhir masuk ke dalam rumah sakit sebab diare dan rasanya pun sama sekali tidak enak.

Mengerucutkan bibirnya, Afnan berkecak pinggang, menatap Dareen penuh tuntutan, "Kak Dareen jangan berkata seperti itu! Coba dulu ini ya? Atau aku akan berteriak, memberitahu semua orang bahwa Kak Dareen tidak menghargai aku."

"Oh? Coba saja." Dareen menantang.

Melototkan mata, Afnan yang merasa ditantang akhirnya menganggukan kepala, wanita itu segera keluar, namun belum sempat berteriak Dareen lebih dahulu berteriak.

"DIAM! Baik, baik, aku akan makan asalkan setelah ini kau tak mengirim bekal lagi!" Dareen mengalah, ia salah besar jika menantang seorang Afnan, wanita yang tidak memiliki rasa takut.

Afnan memutar bola mata jengah, ia lantas menghampiri Dareen, menyuapkan makanan itu pada bibir sang suami, tentu dengan sedikit paksaan sebab Dareen sepertinya masih takut-takut.

"Ini? Masakanmu?" Dareen speechless, tak percaya jika masakan nikmat ini terbuat dari tangan Afnan, wanita yang dulu hampir membuatnya celaka melalui makanan.

Mengerjabkan netra polos, Afnan terseyum, "Heheh, tidak, aku membelinya tadi, bagaimana? Enak tidak? Aku tidak bisa memasak kakak, jika aku memaksa maka suamiku benar-benar akan bertemu dengan Tuhan."

Sial, Dareen tertipu lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!