Ikhtisar :
Dia bernama Ayu Purnama, anak ketiga dari empat bersaudara. Dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai supir bus sedangkan ibunya pedagang tas ayaman. Ayu memiliki 2 kakak laki-laki dan 1 adik laki-laki, Ayu kembar dengan kakak keduanya. Tapi sayangnya, meski pun Ayu anak kandung dari keluarga tersebut dia selalu di sisihkan oleh sang ibu. Karena sang ibu hanya ingin memiliki anak laki-laki, ibunya berpikir kalau anak perempuan tidak akan bisa mengangkat derajat keluarganya dan keluar dari keterpurukan.
Suatu hari, ada seorang laki-laki dari keluraga kaya raya yang menyukainya karena kecantikan dan kegigihannya. Tetapi Ayu masih memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah, dia nekat untuk kabur dari rumahnya untuk mewujudkan cita-citanya. Apakah kepergian Ayu kan membuahkan hasil dan menjadi sukses setelah meninggalkan rumahnya itu ? Silahkan simak ceritanya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Jatuh Sakit
“Setiap hari aku pura-pura baik-baik saja, tetapi sebenarnya hatiku begitu hancur”
_ Elina Cassarius_
Sejak pertemuan Elina dan Ayu kemarin, Arka tidak melihat Elina keluar dari kamarnya. Gadis itu seolah ingin menghindarinya, sebagai sahabat Arka merasa tidak tenang.
“Elina belum sarapan, bi ?” Tanya Arka saat menuju meja makan, namun taka da Elina di sana
“Belun tuan, saya sudah memanggilnya untuk sarapan tetapi nona Elina bilangnya nanti saja. Bahkan nona Elina, semalam melewatkan makan malamnya” Jawab Asisten rumah tangganya dengan raut wajah khawatir
“kenapa begitu ? Apa dia sakit ?” Tanya Arka lagi
“Saya kurang tahu tuan, tapi nona Elina terlihat sangat murung” Jawab Asisten rumah tangga
Arkan urung untuk sarapan, dia lebih memilih untuk ke kamar Elina dan mengetuk pintunya.
TOK … TOK … TOK …
“Elina, buka pintunya” Ucap Arka sambil mengetuk pintu kamar Elina
“Kenapa kamu diam saja ? kamu tidak papa kan Elina ?” tanya Arka semakin khawatir
Arkan mengetuk pintunya kembali, dengan sangat keras membuat Elina akhirnya terbangun dan membuka pintu untuk Arka.
“Arka, ada apa ?” Tanya Elina sambil mengucek matanya yang masih terasa berat efek menangis semalam
“Kamu kenapa ? Apak amu habis menangis ?” Tanya Arka sambil mengusap pipi Elina
“Aku tidak …”
Bruk …
Belum sempat Elina menjawab, Elina sudah jatuh pingsan dan beruntung Arka cepat menangkapnya hingga dia terjatuh di pelukan Arka.
“Astaga ! Apa yang terjadi denganmu ?” Tanya Arka khawatir
Arka mengkat tubuh Elina dan membaringkannya ke ranjang …
“Sepertinya kamu demam” Ucap Arka setelah menempelkan pungunggung tangannya pada kening Elina
Lalu menyelimuti tubuh Elina, Arka bergegas keluar kamar Elina dan meminta pelayan untuk menyiapkan air hangat.
“Ini tua, air hangatnya” Ucap Pelayan itu
“Terima kasih bi” Jawab Arka
Arka membawa air hangat ke kamar Elina, dia ingin mengompres gadis itu untuk menurunkan demamnya.
“Elina, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kamu lagi. kamu sudah cukup menderita, izinkan aku membuat kamu untuk selalu tersenyum” Ucap Arka sambil meraih tangan Elina dan menggenggamnya sangat erat
“Apa maksud Arka bicara seperti itu ?” Batin Elina
Elina sudah sadar dari pingsannya sejak Arka keluar dari kamarnya tadi, namun karena Arka tiba-tiba masuk kembali Elina pun pura-pura masih tetap pingsan.
Jantungnya berdetak kencang, ketika Arka menyentuh jemarinya dengan lembut. Jujur Elina merasakan perasaan paling nyaman, mendapatkan perlakuan lembut seperti itu. Namun Elina selalu berusaha untuk menepis perasaannya, karena dia menyadari dirinya sudah tidak suci lagi untuk seorang Arka.
Perlahan Elina membuka matanya, dia tak ingin Arka terus berkata-kata karena dia sudah tak sanggup lagi mendengarnya.
“Elina kamu sudah sadar ?” Tanya Arka begitu sangat senang saat Elina membuka matanya
“Apa yang terjadi padaku ?” Tanya Elina sambil memegang kepalanya yang terasa pusing
“Kamu tadi pingsan, apa yang kamu rasakan sekarang ?” Ujar Arka
“Aku haya terasa pusing saja” Jawab Elina apa adanya
Arka langsung mengambil bubur yang tadi dia bawa
“Sekarang kamu minum dan makan dulu, tubuh kamu sangat lemah” Titah Arka
Semalam Elina tidak nafsu makan, nyatanya pagi hari perutnya terasa sangat lapar.
“Tetap di situ, biar aku yang suapin kamu” Ujar Arka seraya meraih mangkuk bubur tersebut
“Arka, aku tidak papa. Biar aku makan sendiri saja” Tolak Elina
“Diamlah, aku akan menyuapi kamu” Ucap Arka
Elina yang enggan berdebat, akhirnya hanya menuut saat Arka menyuapinya.
*****
Hari ini, Laura sudha merencanakan sesuatu pada Ayu yang dia kira Elina. Setelah berada di depan kamar Elina, Laura membuka pintu perlahan.
“Dia sedang mandi, baguslah. Aku tidak akan ketahuan” Gumam Laura
Laura meletakkan segelas susu, Laura menaruh sejenis obat ke dalam gelas tersebut.
“Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku ?” Tanya Ayu
Laura tersentak, ketika Ayu menegurnya.
“Aku hanya ingin mengajak kamu ke suatu tempat” Jawab Laura seraya duduk di ranjang
“Dasar tidak sopan” Gerutu Ayu menatap kesal Laura
“Kamu kenapa ? Aku biasa begini, kenapa kamu baru keberatan ?” Tanya Laura
“Pergilah, aku sednag ingin sendiri” Ujar Ayu
“Ayolah, Lina” Ucap Laura
Laura terus merayu kepada Ayu
“Ayolah Lina, sebentar saja” Ujar Laura terus memaksa
“Apa kamu tidak mendengarnya, aku cape mau istirahat. Jika kamu tidak mau keluar, aku terpaksa mengusir kamu dari sini dengan menggunakan kekerasan” Ancam Ayu menatap tajam
“Baiklah, aku mengerti. Sebaiknya kamu beristirahat saja, lain kali aku akan mengajakmu” Jawab Laura
Laura keluar dari kamar Ayu dengan wajah masam
“Sial, beraninya kamu mengusir aku. Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan kepada kamu. meski pun kamu amnesia, aku tidak peduli dengan itu” Gumam Laura seraya tersenyum menyeringai
Sementara Ayu, dia mengambil gelas itu lalu membawa keluar menuju dapur dan membuangnya karena takut ada sesuatu yang di masukkan oleh Laura.
“Bi dimana wanita licik dan anaknya itu ?” Tanya Ayu
“Nona, kenapa kamu menyebut mereka seperti itu ?” Tanya Pelayan itu karena heran dengan perubahan sifat nonanya itu
“Aku yakin bibi juga tahu, maksud aku mereka apa” Ujar Ayu seraya menatap pelayan itu
“Percuma saja, dia ingin mendekati tuan. Dari dulu tuan tidak pernah menyukai wanita itu. Meski pun nyonya sudah tiada, tapi cinta tuan pada nyonya tidak pernah hilang” Jawab Pelayan itu
“Apa bibi ingin tahu bi, selain ingin merebut hati ayah, mereka juga ingin menyingkirkan aku dari dunia ini” Lirih Ayu
“Apa maksud nona ?” Tanya Pelayan terperangah mendengar kata-kata Ayu
“Bibi tahu, sebenarnya aku tidak kabur dari rumah tapi wanita licik itu yang sudah menyuruh orang untuk menyanderaku” Jawab Ayu sambil menitikkan air mata
Meski pun Ayu tidak mengalami sendiri, tetapi entah mengapa Ayu seolah merasakan penderitaan Elina saat di siksa oleh pria asing itu.
“Kurang ajar sekali mereka kepada nona, dan nona harus melawannya. Jangan mau kalah sama wanita licik seperti mereka” Ujar Yang Lain
“Itu tidak akan terjadi lagi bi, bibi tahu tahu gadis licik itu telah menaruh sesuatu di minumanku” Kata Ayu
“Apa nona meminumnya ?” Tanyanya
“Tidak sama sekali, aku membawanya supaya bibi mengembalikan minuman ini padanya” Jawab Ayu sambil tersenyum
“Tapi bagaimana caranya ?” Lalu Ayu membisikkan sesuatu kepada pelayan itu
“Apa bibi mengerti ?” Tanya Ayu
“Baik non” Jawab Pelayan itu
*****
Saat malam tiba, Laura dan Rasmisi (Ibunya) datang ke rumah Alvin. Dua wanita yang tidak tahu malu itu, memang sering menginap di rumah Elina dengan alasan karena mereka sedang kangen kepada Angbin (ibu kandung Elina yang sudah meninggal). Sehingga mereka meminta kepada Alvin, untuk sekedar menghilangkan rasa kangen kepada mendiang kakaknya.
Alvin tentu saja mengizinkan, mengingat mereka adalah adik dari mendiang istrinya yang telah di tinggalkan oleh suaminya sendiri dan memilih wanita lain. Alvin yang tidak tahu, jika mereka selama ini memiliki niat terselubung di balik wajah baiknya itu.
“Ternyata kalian masih di sini ? Aku kira kalian sudah pulang” Celetuk Ayu saat laura dan Rasmisi sudah duduk di meja makan
“Sayang, apa kamu lupa jika mereka adalah tante dan sepupumu ?” Tanya Sumitra seraya tersenyum
Sementara Alvin tidak berkomentar apa pun, karena dia tidak mau memarahi Elina dan kabur lagi dari rumah itu.
“Maaf nenek, aku tidak mengingat mereka sama sekali. Saat ini aku hanya mengingat nenek sama ayah saja” Jawab Ayu
“Tolong ingat-ingat lagi, pasti kamu ingat sama kita” Ujar Angbin memaksa
Ayu pura-pura berpikir, lalu tak lama pura-pura pusing dan pingsan di depan mereka membuat mereka khawatir.
“Awsss, kepalaku sangat pusing sekali” Ucap Ayu dan jatuh pingsan
“Elina” Teriak Sumitra saat melihat Ayu pingsan
“Bibi tolong panggilkan dokter” Teriak Alvi pada asisten rumahnya
“Nona Elina, baik tuan” Jawab Asisten rumah tangga
“Dan tolong panggilkan security untuk ke sini, karena Alvi tidak mungkin bisa membawa Elina ke kamarnya karena kondisinya sedang tidak baik” Titah Sumitra
Setelah Ayu di pindahkan ke kamarnya Elina, dokter yang masuk ke kamarnya langsung menyuruh mereka yang sedang di dalam untuk keluar sejenak. Karena dokter itu, sudah bekerja sama dengan Ayu dan Arka jadi dia tahu kalau ini rencana Ayu.
“Kenapa kamu pura-pura pingsan ?” Tanya Dokter
“Agar mereka percaya kalau aku itu sedang hilang ingatan karena bibi dan sepupuku sedang bertanya tentang apakah aku mengenal mereka, maaf ya dok merepotkan lagi” Jawab Ayu
“Iya tidak masalah, semoga rencana kita segera selesai” Ujar Dokter
“Amin” Jawab Ayu
Lalu dokter itu keluar dan memberitahukan …
“Bagaimana dengan keadaan anak saya dokter ?” Tanya Alvin
“Begini tuan Alvin, untuk sementara waktu jangan dulu bertanya tentang dirinya atau membahas tentang keluarga tuan. Biarkan nona Elina, sembuh dengan sendirinya takutnya berefek fatal. Tolong di mengerti ya tuan, ini juga demi kesehatannya” Jawab Dokter
“Baik dokter, terima kasih” Ujar Alvin
“Sama-sama tuan Alvin” Jawab Dok tersambil meninggalkan urmah Alvin
Alvin langsung melirik kearah Angbin ...
“Kamu jangan sekali-kali berbicara tentang asal-usul atau kebiasaan kita kepada Elina, kamu lihat sendirikan bagaimana reaksi dia setelah kalian menanyakan itu ?” Ujar Alvi sedikit emosi
“Iya kak, maafkan aku” Jawab Rasmisi
“Sekarang kalian ke kamar kalian, ini sudah malam” Titah Sumitra
“Baik tante” Jawab Rasmisi
Karena merasa harus, Rasmisi dan Laura meminum minumannya yang sudah di sediakan di meja sampai tandas. Para pelayan yang melihat itu, tersenyum puas karena misi mereka tidak sia-sia.
“Lihat akhirnya mereka meminum juga, dan lihat saja apa yang akan terjadi kepada mereka” Ujar Salah satunya
Tak berselang lama, Laura dan Ramisi berlari tunggunglanggang ke kamar mandi karena merasakan perutnya melilit dan hal itu memuat para pelayan di rumah itu tertawa puas.
“Akhirmya senjata makan tuan juga itu orang, tapi sayangnya nona Elina tidak melihatnya” Ucap Salah satu pelayan
“Tidak masalah nanti kita akan memberitahukan kepada non Elina” Jawab Yang lain
Minta likenya ya reader, terima kasih 🙏🏻😊