NovelToon NovelToon
SILENCE OF JUSTICE

SILENCE OF JUSTICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Karir / Duniahiburan / Bullying di Tempat Kerja / Cinta Murni / Balas Dendam
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Black _Pen2024

"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "

Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.

Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Pengakuan Sang saksi

Suara angin menderu di luar pondok tua itu, seolah-olah alam sendiri sedang merintih. Dedaunan kering bergesekan, menciptakan melodi seram yang memecah kesunyian hutan pinus yang lebat. Di dalam pondok terpencil itu, jauh dari mata-mata kota, ketegangan terasa begitu pekat, hampir bisa diiris dengan pisau. Meylie duduk di sebuah kursi kayu tua, berhadapan dengan Fernandez. Cahaya redup dari lampu minyak di atas meja menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding, menambah suasana mencekam.

Fernandez, pria yang dulunya adalah editor media yang cerdas dan bersemangat, kini tampak seperti hantu. Wajahnya cekung, matanya merah dan bengkak, dan tubuhnya terus-menerus gemetar. Ia memegang secangkir teh panas, tetapi tangannya terlalu gemetar untuk bisa meminumnya dengan tenang. Paranoianya begitu nyata, begitu mendalam, sehingga Meylie bisa merasakannya. Ia terus-menerus melirik ke arah jendela, seolah menunggu ada bayangan yang muncul dari kegelapan hutan.

"Terima kasih sudah datang, Fernandez," Meylie memulai, suaranya tenang, mencoba menenangkan suasana. "Saya tahu ini sulit untuk Anda."

Fernandez tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, matanya menatap Meylie dengan campuran ketakutan dan rasa ingin tahu yang rapuh. Pertemuan mereka di kafe tadi pagi terasa seperti mimpi buruk bagi Fernandez, sebuah pemicu yang membuka kembali luka lama.

"Saya tahu Anda takut," Meylie melanjutkan, nadanya lembut, mencoba menunjukkan empati yang tulus dari Xiao Fei yang asli. "Tapi saya tidak akan memaksa Anda. Saya hanya ingin menunjukkan sesuatu. Sesuatu yang akan menjelaskan mengapa saya mencari Anda."

Meylie mengeluarkan laptop burner-nya dari tas, meletakkannya di atas meja di antara mereka. Fernandez menatap laptop itu dengan waspada, seolah-olah itu adalah sebuah bom waktu.

"Ini adalah... ini adalah apa yang saya temukan," Meylie berkata, membuka laptop dan menyalakan layar. "Ini adalah kebenaran tentang Yu."

Ia sengaja tidak langsung memutar video itu. Ia membiarkan Fernandez melihat antarmuka laptop, folder yang sama yang ia temukan di kartu memori, dan file video tanpa nama. Ia membiarkan ketegangan membangun, membiarkan Fernandez mempersiapkan diri, meskipun ia tahu tidak ada yang bisa mempersiapkan diri untuk kengerian yang akan datang.

"Yu... dia tidak overdosis, kan?" Fernandez berbisik, suaranya serak. "Saya... saya mendengar sesuatu malam itu. Teriakan. Suara-suara aneh."

Meylie menatap mata Fernandez. "Anda akan melihatnya sendiri."

Dengan jari gemetar, Meylie mengklik 'putar'.

Layar laptop berkedip, lalu menampilkan gambar. Kegelapan. Suara statis. Lalu, perlahan, gambar itu muncul. Yu, terikat di kursi logam, tubuhnya telanjang, penuh noda darah dan cairan menjijikkan lainnya. Wajahnya yang hancur, matanya yang kosong.

Fernandez tersentak. Cangkir teh di tangannya bergetar hebat, dan teh panas itu tumpah ke tangannya, namun ia tidak merasakannya. Matanya terpaku pada layar, membelalak, dipenuhi kengerian yang tak terlukiskan.

Suara-suara di video mulai terdengar. Bisikan-bisikan terdistorsi. Tawa rendah yang menyeramkan. Kemudian, sosok-sosok berjubah hitam dengan topeng putih muncul, mendekati Yu.

"Tidak... tidak mungkin..." Fernandez bergumam, napasnya tercekat. "Ini... ini bukan..."

Meylie melihat Fernandez menggigil tak terkendali. Ia melihat air mata mulai mengalir di pipi pria itu, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata horor murni.

Ketika adegan pelecehan brutal dimulai, Fernandez mengeluarkan suara tercekik. Ia mencoba memalingkan muka, tetapi matanya seolah terpaku pada layar. Ia gemetar hebat, tubuhnya membungkuk, menahan rasa mual yang mendalam.

"Hentikan... hentikan..." Fernandez berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.

Meylie tidak menghentikan video itu. Ia tahu Fernandez harus melihat semuanya. Ia harus merasakan kengerian yang sama yang ia rasakan. Ini adalah bagian dari proses. Ini adalah cara untuk memecahkan benteng ketakutan Fernandez.

Kemudian, adegan pengambilan organ vital. Pisau bedah yang berkilauan. Yu yang kejang-kejang. Darah yang membanjiri meja.

Fernandez menjerit. Sebuah jeritan yang tertahan, penuh trauma. Ia merosot dari kursinya, jatuh ke lantai, memeluk lututnya, mencoba menutupi telinganya, seolah ingin menghapus gambar dan suara itu dari benaknya. Tubuhnya bergetar tak terkendali, napasnya terengah-engah, tercekik.

Meylie mematikan video itu. Layar kembali gelap, namun kengeriannya masih terasa begitu nyata di ruangan itu.

"Ini yang mereka lakukan pada Yu," Meylie berkata, suaranya datar, tanpa emosi, meskipun hatinya mencelos melihat penderitaan Fernandez. "Ini adalah kebenaran yang mereka sembunyikan."

Fernandez terdiam di lantai, terisak-isak, tubuhnya bergetar hebat. Ia tampak seperti anak kecil yang baru saja menyaksikan monster paling mengerikan.

"Saya... saya tahu..." Fernandez akhirnya berkata, suaranya serak, penuh air mata. "Saya tahu itu bukan overdosis. Saya tahu itu lebih buruk."

Ia mengangkat kepalanya, matanya merah dan bengkak, menatap Meylie dengan tatapan putus asa. "Malam itu... malam Yu meninggal... saya mendengar semuanya. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya terlalu takut untuk melihat."

Meylie duduk diam, membiarkan Fernandez berbicara, membiarkan trauma itu keluar.

"Saya tinggal di apartemen sebelah Yu," Fernandez melanjutkan, suaranya gemetar. "Dindingnya tipis. Saya sering mendengar dia berbicara di telepon, kadang-kadang berdebat dengan Chen. Tapi malam itu... malam itu berbeda."

"Apa yang Anda dengar?"

"Saya mendengar suara gaduh. Seperti perkelaihan. Lalu... Yu berteriak. Dia menjerit. Jeritan yang mengerikan, Meylie. Jeritan yang tidak akan pernah saya lupakan." Fernandez memejamkan mata, seolah mencoba menekan ingatan itu. "Lalu ada suara-suara lain. Suara orang banyak. Bisikan-bisikan. Dan kemudian... suara-suara aneh. Seperti... ritual. Bahasa yang tidak saya mengerti. Dan kemudian... kesunyian. Tiba-tiba. Hanya kesunyian yang mencekam."

"Anda mendengar suara ritual?" Meylie bertanya, merasakan firasat dingin.

Fernandez mengangguk. "Ya. Seperti yang ada di video itu. Saya... saya tidak tahu apa itu. Tapi itu membuat bulu kuduk saya berdiri. Dan kemudian... bau. Bau yang sangat kuat. Manis dan busuk, seperti... seperti darah dan obat-obatan."

"Lalu?"

"Saya... saya terlalu takut. Saya tahu Yu dalam masalah besar. Dia sudah sering bercerita tentang 'orang-orang kuat' dan 'rahasia berbahaya' yang dia miliki. Dia bilang dia punya 'daftar hitam' yang bisa menjatuhkan banyak orang. Dia bilang dia merasa diawasi." Fernandez terisak lagi. "Saya tidak berani keluar. Saya hanya mengunci diri di apartemen saya."

Ini adalah saatnya. Meylie harus menanyakan tentang rekamannya.

"Apakah Anda melakukan sesuatu, Fernandez?" Meylie bertanya, nadanya lembut. "Apakah Anda... merekam sesuatu?"

Fernandez menatap Meylie, matanya sedikit melebar. "Bagaimana Anda tahu?"

Meylie tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tenang.

Fernandez menghela napas panjang, lalu mulai berbicara, suaranya sedikit lebih tenang, seolah beban itu mulai terangkat dari dadanya. "Yu... dia itu paranoid. Dia tahu dia dalam bahaya. Beberapa minggu sebelum kejadian itu, dia pernah datang ke apartemen saya. Dia bilang, 'Fernandez, kau itu jenius digital. Kau bisa melihat apa yang tidak terlihat. Jika sesuatu terjadi padaku, tolong... tolong rekam apa pun yang kau dengar atau lihat. Jangan libatkan dirimu, tapi jadilah saksi. Dan jika aku sudah tidak ada lagi, cari aku di ruangan yang tanpa jendela.' dia mengatakan demikian."

Meylie merasakan air matanya sendiri mengalir. Yu telah mengantisipasi kematiannya. Ia telah meminta bantuan.

"Dia bahkan memberi saya beberapa kode," Fernandez melanjutkan, "semacam kode suara. Jika saya mendengar kode itu, itu berarti dia dalam bahaya serius. Dan dia meminta saya untuk memasang kamera tersembunyi. Bukan di apartemennya, tapi di dinding apartemen saya yang berbatasan langsung dengan apartemennya. Dia bilang itu adalah 'mata' terakhirnya."

Fernandez bangkit, berjalan ke sudut ruangan, ke sebuah tas ransel lusuh. Ia merogoh ke dalamnya, lalu mengeluarkan sebuah hard drive eksternal kecil dan sebuah kartu memori mini.

"Saya... saya memasang kamera itu," Fernandez berkata, suaranya bergetar. "Saya seorang editor. Saya tahu teknologi. Saya memasangnya di balik lukisan di dinding yang berbatasan langsung dengan apartemen Yu. Kamera lubang jarum. Sangat kecil. Dan mikrofon sensitif. Saya tidak pernah melihat apa pun secara langsung, tapi saya merekam semuanya."

"Anda merekam semuanya?" Meylie bertanya, tidak percaya. Ini adalah anugerah. Bukti yang tidak bisa dibantah.

"Ya. Saya merekam audio dan video samar dari balik dinding itu," Fernandez mengangguk. "Saya mendengar jeritan Yu. Saya mendengar suara-suara ritual. Saya mendengar mereka berbicara. Saya tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam, karena hanya kamera lubang jarum, tapi saya punya rekaman audio yang sangat jelas. Dan beberapa gambar buram yang menunjukkan gerakan mereka."

Ini adalah kunci. Video Meylie hanya menunjukkan bagian dari kengerian itu. Rekaman Fernandez akan mengisi kekosongan, memberikan sudut pandang yang berbeda, dan yang terpenting, mungkin menangkap suara-suara yang lebih jelas, bahkan mungkin wajah di balik topeng jika ada celah.

"Tapi saya terlalu takut," Fernandez terisak lagi. "Setelah malam itu, saya langsung menyadari betapa berbahayanya ini. Mereka itu monster, Meylie. Mereka akan membunuh siapa pun yang tahu. Saya mencoba menghapus rekaman itu, tapi saya tidak bisa. Saya tidak bisa menghapus penderitaan Yu. Saya hanya menyimpannya, menguncinya, dan mencoba melupakan semuanya. Saya hidup dalam ketakutan setiap hari."

"Tidak apa-apa, Fernandez," Meylie berkata, kini berdiri di sampingnya, meletakkan tangannya di bahu pria itu. Sentuhan itu tidak lagi dingin, tetapi penuh kehangatan dan simpati yang tulus. "Anda sudah berani. Anda sudah menjadi saksi. Dan sekarang, Anda tidak sendirian."

Fernandez menatap Meylie, mata mereka bertemu. Di mata Meylie, Fernandez melihat bukan hanya Ling yang dingin, tetapi Xiao Fei yang berduka, yang sama-sama terluka, sama-sama mencari keadilan. Ia melihat tekad yang tak tergoyahkan, sebuah kekuatan yang ia sendiri telah lama kehilangan.

"Yu... dia tidak akan ingin saya menyembunyikannya," Fernandez berbisik. "Dia ingin kebenaran terungkap."

"Dan kita akan mengungkapkannya," Meylie membalas, suaranya penuh kepastian. "Bersama."

Fernandez mengangguk, sebuah keputusan besar telah diambil. Rasa takutnya tidak hilang, tetapi kini ada sesuatu yang lebih kuat yang menyertainya: sebuah tujuan. Sebuah kesempatan untuk menebus rasa bersalahnya karena tidak bertindak lebih cepat.

"Ini," Fernandez menyerahkan hard drive eksternal dan kartu memori itu kepada Meylie. "Ini semua yang saya punya. Semua rekaman audio dan video samar. Semua yang saya dengar dan lihat dari balik dinding itu. Semua yang Yu minta saya rekam."

Meylie mengambilnya, merasakan berat bukti itu di tangannya. Ini adalah sumber informasi yang sangat penting. Ini adalah potongan puzzle yang hilang.

"Dan saya akan membantu Anda mendekripsi buku catatan Yu," Fernandez menambahkan, nadanya kini lebih mantap, lebih bertekad. "Yu pernah mengajari saya beberapa hal. Dia bilang, 'Jika kau ingin menyembunyikan sesuatu, sembunyikan di tempat yang paling jelas, tapi buatlah begitu rumit sehingga hanya orang yang tahu kuncinya yang bisa membukanya.' Saya mungkin bisa membantu. Saya seorang editor. Saya tahu bagaimana mengurai informasi."

Meylie tersenyum, senyum tulus yang jarang ia tunjukkan sejak kematian Yu. "Terima kasih, Fernandez. Kita akan melakukan ini bersama."

Fernandez mengangguk, ada secercah harapan di matanya yang lelah. Aliansi telah terbentuk. Sebuah aliansi yang rapuh, terjalin dari duka, trauma, dan tekad untuk keadilan. Meylie kini memiliki sekutu yang sangat berharga, seorang jenius digital yang bisa menembus dinding enkripsi dan memberikan bukti tak terbantahkan. Fernandez, di sisi lain, telah menemukan kekuatan baru untuk melawan rasa takutnya, sebuah tujuan yang memberinya alasan untuk terus berjuang.

Meylie memandang hard drive dan kartu memori di tangannya, lalu ke buku catatan Yu. Dengan bantuan Fernandez, ia kini memiliki lebih banyak potongan puzzle. Mereka akan mengakses dunia Yu, dunia rahasia yang ia coba lindungi dengan nyawanya. Dan di sana, mereka akan menemukan siapa "Operator Utama" dan "The Senator" itu.

Angin masih menderu di luar pondok, tetapi di dalam, ada bara api yang menyala lebih terang. Perburuan ini baru saja mendapatkan kekuatan baru. Dan kali ini, mereka tidak akan berhenti sampai keadilan terungkap. Itu harapannya.

1
Ita Xiaomi
Menegangkan. Kasihan Yu😢
Ita Xiaomi: Berharap keadilan bs ditegakkan.
total 2 replies
Ita Xiaomi
Saat ini hanya Fei sendirian yg menolak utk percaya pd berita yg tersebar.
Ita Xiaomi: Sama-sama kk. Semangat berkarya. Berkah&Sukses selalu.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!