Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Buah Hati
"Tapi Nin," ucap Arga lagi, kali ini nadanya sedikit lebih normal. "Gue penasaran deh. Lo bayangin si Devan. Devan yang dingin, kulkas dua pintu, muka datar kayak tembok... sekarang jadi bapak."
Nindi ikut terkekeh membayangkannya. "Iya juga ya. Gue nggak kebayang Devan ganti popok, jangan-jangan dia ganti popok sambil pake jas lengkap, terus mukanya tetep datar."
"Nah itu!" sambar Arga semangat, dan ketawa lucu. "Terus kalau bayinya nangis, bukannya ditenangin, eh... malah dibacain laporan saham. 'Diamlah nak, IHSG sedang turun, papa pusing'. Pasti gitu nantinya." Arga kembali tertawa
Nindi tertawa lepas. "Jahat banget lo sama sahabat sendiri!"
"Itu fakta, Nin." Arga ikut tertawa. "Tapi gue seneng. Akhirnya si kulkas itu cair juga, dia pantes bahagia sama Putri."
Mobil mereka akhirnya memasuki pelataran parkir rumah sakit. Arga mematikan mesin, lalu menoleh pada Nindi. Wajah jahilnya berubah menjadi tatapan lembut yang dalam.
"Nin," panggil Arga pelan.
"Apa lagi? Awas kalau gombal lagi, gue lempar pake kado ini," ancam Nindi.
Arga tersenyum, mengusap puncak kepala Nindi.
"Enggak gombal. Cuma mau bilang... makasih ya. Udah mau buka hati lagi. Gue tau lo trauma sama Reno. Gue tau lo takut, tapi gue janji, gue bukan Reno. Gue Arga, dan gue bakal bikin lo ketawa tiap hari, biarpun pake gombalan receh yang bikin lo mual."
Nindi tertegun, tatapan tulus Arga meluluhlantakkan sisa-sisa tembok pertahanannya.
"Lo emang lebai akut, Ga," bisik Nindi, matanya berkaca-kaca haru. "Tapi... kayaknya gue suka sama lebai lo."
Arga bersorak girang. "Yes! Lampu hijau! Yuk turun, kita lihat ponakan online gue. Siapa tau ketularan, habis ini kita yang nyebar undangan."
"Ngarep!"
"Doa, Nindi. Doa!"
Mereka pun turun dari mobil, berjalan bersisian menuju lobi rumah sakit dengan tawa yang masih tersisa. Dua hati yang dulu tidak saling kenal, kini berjalan menuju masa depan yang lebih cerah, diiringi lelucon-lelucon garing yang menghangatkan jiwa.
Pintu ruang VIP terbuka perlahan setelah Arga mengetuknya pelan.
Pemandangan yang menyambut Arga dan Nindi di dalam sana membuat keduanya terpaku sejenak di ambang pintu, menahan senyum haru.
Di tengah ruangan yang sejuk dan beraroma bayi, Devan, sang CEO dingin yang biasanya hanya memegang pena mahal atau tablet kerja, kini terlihat kaku namun sangat berhati-hati.
Ia sedang menimang sesosok makhluk mungil yang terbungkus kain bedong biru muda.
Gerakan Devan kaku seperti robot, sikunya terangkat tinggi, takut salah posisi, namun matanya menatap wajah bayi itu dengan pemujaan yang tak terlukiskan.
"Ssttt... jangan gerak-gerak terus, Nak. Papa ngeri kamu jatuh," bisik Devan pada bayinya sendiri, keringat dingin sebesar biji jagung terlihat di pelipisnya.
Di sisi ranjang, pak Brahma duduk tersenyum lebar, wajah tuanya berseri-seri. Sementara itu, bu Anggun berdiri di sisi lain Putri. Ia tidak banyak bicara, wajahnya pun masih terlihat kaku dan canggung. Namun, matanya tak lepas dari Putri.
Tangan Anggun sesekali bergerak merapikan selimut Putri, atau mengecek tetesan infus dengan wajah khawatir yang tak bisa disembunyikan.
"Hai, Putri..." sapa Nindi pelan, melangkah masuk diikuti Arga yang membawa paper bag besar.
"Eh, Kak Arga, Mbak Nindi," sapa Putri. Suaranya masih lemah sisa persalinan, tapi wajahnya terlihat segar dan bahagia. "Masuk, sini."
Arga langsung nyelonong mendekati Devan,
menatap sahabatnya dengan tatapan jahil.
"Wuidih... pemandangan langka abad ini," ledek Arga sambil berbisik. "Seorang Devan Pramuditya, yang kalau meeting mukanya kayak tembok, sekarang luluh lantak sama bayi merah. Lihat tuh, cara gendongnya udah kayak lagi megang bom nuklir. Tegang amat, Pak?"
Devan melotot pada Arga, tapi tidak berani menggerakkan kepalanya terlalu banyak.
"Diem lo, Ga. Anak gue lagi tidur. Suara lo cempreng, nanti dia bangun," desis Devan protektif, "ini namanya teknik menidurkan bayi. Lo mana ngerti, jomblo."
"Dih, sombong. Awas ya, nanti kalau dia nangis jangan oper ke gue," balas Arga terkekeh.
Nindi mendekat ke arah ranjang, menyalami pak Brahma dan bu Anggun dengan sopan.
"Selamat ya, Pak, Bu. Cucunya ganteng banget," puji Nindi tulus.
Pak Brahma mengangguk bangga. "Terima kasih, Nak Nindi. Alhamdulillah, sehat sempurna. Hidungnya mancung kayak Devan, tapi matanya... persis Putri."
Mendengar itu, Anggun yang sedari tadi diam ikut melirik ke arah bayi di gendongan Devan. Ada senyum tipis, sangat tipis, yang terbit di bibirnya.
"Susunya sudah diminum belum, Put?" tanya Anggun tiba-tiba, suaranya pelan dan datar, memecah fokusnya sendiri.
Putri menoleh, tersenyum senang karena diperhatikan. "Sudah kok, Ma. Tadi suster baru aja ganti botol infusnya juga."
Anggun mengangguk kaku, tangannya tanpa sadar memijat pelan kaki Putri yang tertutup selimut.
"Kakinya masih bengkak. Nanti mama suruh mbok Sumi bawain minyak urut khusus dari rumah. Biar peredaran darahnya lancar," ucap Anggun, matanya tetap memandang selimut, enggan bertatapan langsung. "Kamu harus cepet pulih, bayi butuh ibunya sehat."
Itu adalah bentuk perhatian terpanjang yang pernah Anggun ucapkan. Sederhana, tanpa kata sayang, tapi menyiratkan kepedulian yang nyata.
Putri merasakan hangat menjalar di hatinya. "Makasih ya, Ma."
Devan perlahan mendekati ranjang, memperlihatkan wajah bayinya pada Arga dan Nindi.
"Namanya siapa, Van?" tanya Nindi gemas melihat pipi gembul bayi itu.
Devan menatap Putri, meminta persetujuan, Putri mengangguk.
"Arkanza Pramuditya," jawab Devan bangga. "
"Keren namanya," puji Arga, "semoga gedenya nggak sedingin bapaknya ya, Nak. Semoga kamu mewarisi kesabaran ibu kamu."
"Amin!" seru pak Brahma dan Nindi bersamaan.
Devan mendengus. "Anak gue harus cool kayak gue lah, biar banyak yang naksir."
"Halah, cool apaan. Tadi aja pas Arkanza nangis pertama kali, siapa yang ikutan nangis sesenggukan di pojokan?" bongkar Putri sambil tertawa lemah.
Wajah Devan memerah padam. "Putri! Jangan buka rahasia dong!"
Ruangan itu pecah oleh tawa bahagia, bahkan Anggun terlihat menyembunyikan senyumnya dengan berpura-pura batuk kecil.
Di tengah tawa itu, Arga menyenggol lengan Devan pelan.
"Selamat, Bro," bisik Arga tulus, "lo berhasil. Lo berhasil jadi suami, jadi ayah, dan jadi manusia lagi."
Devan menatap putranya yang tertidur lelap, lalu menatap Putri yang tertawa bersama Nindi dan ibunya.
"Iya, Ga," jawab Devan pelan, matanya berkaca-kaca. "Gue berhasil karena mereka nggak pernah nyerah sama gue."
Malam itu, di dalam ruangan hangat itu, keluarga Pradipta akhirnya utuh kembali. Kehadiran Arkanza menjadi lem perekat yang menyatukan kepingan-kepingan hati yang sempat hancur, mengubah air mata masa lalu menjadi pelangi masa depan.
Suasana haru tadi dengan cepat berganti menjadi keributan kecil yang menggelitik.
Arga yang sudah gemas sedari tadi, akhirnya tidak tahan lagi. Ia mengulurkan tangannya ke arah Devan yang masih mematung menggendong Arkanza.
"Sini, Van. Gue mau gendong ponakan gue. Pegel kan lo? Liat tuh tangan lo kaku banget kayak kanebo kering," ledek Arga.
Devan langsung memutar tubuhnya membelakangi Arga, posesif setengah mati.
"Enak aja! Nggak boleh," tolak Devan ketus. "Lo belum steril. Lo abis dari luar, banyak kuman, debu, polusi. Nanti anak gue terkontaminasi."
"Ya elah, Bapak Devan yang terhormat." Arga memutar bola matanya. "Gue udah cuci tangan pake sabun antiseptik tiga kali, terus pake hand sanitizer sampe kulit gue kering. Nih lihat, lihat! Lebih bersih tangan gue daripada tangan lo yang habis megang duit!"
"Tetep nggak boleh." Devan menggelengkan kepalanya bersikeras tidak mau. "Lehernya masih lembek banget, Ga. Gue ngeri lo salah pegang terus kepalanya dangdutan."
"Kepala dangdutan..." Nindi tertawa ngakak sampai memegangi perutnya. "Devan, itu bayi, bukan boneka. Arga nggak akan seceroboh itu kali."
Devan diam, dia berpikir sejenak, lalu menoleh ke arah Arga dengan perasaan khawatir.