Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suasana di halaman utama Grand Mahameru begitu megah.
Ratusan tamu undangan dari kalangan pejabat, investor, hingga selebritas papan atas telah memenuhi kursi yang tertata rapi.
Puluhan kamera wartawan terus membidik ke arah panggung utama yang dihiasi bunga lili putih segar—bunga favorit Swari.
Baskara melangkah naik ke podium dengan langkah tegap, meski sesekali ia masih meraba kerah jasnya yang sengaja dikancing hingga paling atas.
Di sampingnya, Swari berdiri dengan anggun, memancarkan aura seorang pimpinan yang telah berhasil menaklukkan badai.
Lampu sorot fokus ke arah Baskara. Ia menarik napas dalam, menatap seluruh hadirin sebelum memulai pidatonya.
"Selamat pagi, rekan-rekan dan sahabat semua," suara Baskara menggema, berat dan penuh otoritas.
"Mahameru bukan sekadar proyek properti. Ini adalah simbol dari ketangguhan, kesetiaan, dan kesempatan kedua. Gedung ini berdiri kokoh karena ada sosok wanita luar biasa di samping saya yang tidak pernah menyerah, bahkan saat maut mencoba menjemputnya."
Baskara menoleh ke arah Swari, tatapannya melembut seketika.
"Swari Arunaz terima kasih telah menjadi jantung dari Mahameru, dan pusat dari hidupku."
Tepuk tangan riuh pecah di seluruh penjuru kompleks. Namun, Baskara belum selesai.
Ia memberikan kode kepada Navy untuk mengambil mikrofon tambahan.
"Hari ini, selain meresmikan Mahameru, saya ingin melakukan sesuatu yang seharusnya sudah saya lakukan sejak lama," lanjut Baskara.
Ia berbalik sepenuhnya menghadap Swari, mengabaikan protokol acara yang kaku.
"Istriku, selama enam tahun, aku telah membiarkanmu berjuang sendiri. Selama dua bulan terakhir, kita bertaruh nyawa di rumah sakit. Hari ini, di depan semua saksi di sini, aku ingin meminta izin padamu—dan juga pada anak-anak kita, Alex dan Alexandria."
Baskara menatap ke arah barisan depan di mana si kembar duduk bersama Nyonya Widya.
"Papa ingin mencuri Mama sebentar. Aku ingin meminta izin kepada kalian semua, bahwa setelah pita ini dipotong, aku akan membawa istriku pergi untuk bulan madu yang tertunda. Kami akan terbang ke Paris, mencari kembali waktu-waktu yang pernah hilang."
Swari tertegun, matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Baskara akan mengumumkan rencana pribadi mereka di depan publik dan media nasional.
"Jadi, Sayang Apakah kamu bersedia meninggalkan dokumen-dokumen ini sejenak dan terbang bersamaku malam ini?" tanya Baskara dengan senyum yang sangat tulus.
Swari tidak bisa lagi menahan harunya. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum lebar.
"Tentu saja, Bas. Selama itu bersamamu dan anak-anak."
"Bagus," Baskara kembali menoleh ke arah tamu.
"Dan untuk rekan bisnis saya, jangan cari saya selama dua minggu ke depan. Urusan kantor sepenuhnya saya serahkan pada Navy. Jika ada keadaan darurat, tolong jangan hubungi saya, karena saya akan sangat sibuk menjadi suami yang baik."
Tawa pecah di antara para tamu. Navy yang berada di bawah panggung hanya bisa menepuk jidatnya, sementara Ratri tertawa puas melihat Baskara yang begitu "bucin" pada istrinya.
Momen yang ditunggu pun tiba. Baskara, Swari, Alex, dan Alexandria berdiri bersama di depan pita merah besar.
Dengan tangan yang saling bertumpu pada gunting emas, mereka memotong pita tersebut secara bersamaan.
"Dengan ini, Grand Mahameru resmi dibuka!"
Konfeti berwarna emas dan perak menyembur ke udara, berbaur dengan sorak-sorai penonton.
Di tengah keramaian itu, Baskara membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Swari.
"Siapkan koper-kopermu, Sayang. Jet pribadi kita berangkat pukul tujuh malam nanti. Pastikan tidak ada nyamuk raksasa lagi yang mengganggu persiapanmu di rumah."
Swari tertawa, mencubit lengan Baskara dengan gemas.
"Berhenti membahas nyamuk itu, Bas! Kamu membuatku malu!"
Baskara hanya tertawa puas, merangkul pinggang istrinya dengan protektif, siap memulai perjalanan baru yang jauh lebih indah dari sekadar gedung-gedung beton yang mereka bangun.
Momen haru di atas panggung itu masih berlanjut.
Saat sorak-sorai penonton mereda, Alex dan Alexandria tiba-tiba berlari naik ke atas podium.
Alex memegang sebuah amplop berwarna biru muda yang dihiasi stiker bintang, sementara Alexandria membawa amplop serupa berwarna merah muda dengan hiasan pita.
Dua bocah itu berdiri di depan Baskara dengan wajah yang sangat serius, membuat para tamu undangan kembali terdiam, penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh putra-putri sang penguasa Surya Group tersebut.
"Papa..." suara Alex terdengar melalui mikrofon yang masih menyala.
"Ini untuk Papa."
Baskara berlutut agar sejajar dengan tinggi anak-anaknya.
Ia menerima dua amplop itu dengan kening berkerut.
"Apa ini, Jagoan?"
Alexandria menyahut dengan antusias, "Itu undangan untuk Hari Ayah di sekolah kami, Pa! Minggu depan ada acara lomba dan makan bersama. Teman-teman Alen semua datang sama Papa mereka."
Alex menatap ayahnya dengan tatapan penuh harap yang membuat hati Baskara bergetar.
"Papa datang, ya? Alex mau tunjukkan ke semua orang kalau Papa Alex itu hebat seperti pahlawan."
Suasana di area peresmian mendadak sunyi, penuh keharuan.
Swari yang berdiri di samping mereka menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagianya kembali mengalir.
Selama enam tahun, anak-anak ini tidak pernah tahu siapa ayah mereka, dan sekarang, mereka meminta kehadiran sosok itu di depan ribuan orang.
Baskara menatap undangan buatan tangan yang sederhana itu, lalu beralih menatap wajah polos kedua anaknya.
Ia menarik Alex dan Alexandria ke dalam pelukannya yang sangat erat, menciumi puncak kepala mereka bergantian.
"Tentu saja, Sayang. Papa pasti datang," bisik Baskara, suaranya terdengar serak karena menahan haru.
Ia kemudian berdiri kembali, masih sambil menggandeng tangan si kembar, dan berbicara ke arah mikrofon.
"Paris bisa menunggu dua hari lebih lama, tapi hari penting bagi anak-anak saya tidak boleh terlewatkan sedetik pun. Jadi, setelah kita pulang dari Paris nanti, Papa janji akan langsung menemani kalian ke sekolah. Papa tidak akan membiarkan kalian sendirian lagi di Hari Ayah atau hari apa pun."
Tepuk tangan kembali pecah, kali ini jauh lebih kencang dan emosional.
Nyonya Widya di barisan depan tampak menyeka air matanya dengan tisu, bangga melihat putra tunggalnya telah benar-benar menemukan kembali jati dirinya sebagai seorang ayah.
Swari mendekat, merangkul bahu Baskara dan menyandarkan kepalanya di sana.
"Terima kasih, Bas. Kamu benar-benar pahlawan bagi mereka."
"Aku hanya mencoba mengejar waktu yang hilang, Swa," jawab Baskara pelan sambil mengecup kening istrinya.
Sore harinya di Bandung, setelah acara formal selesai, Navy mendekati Baskara yang sedang membantu anak-anak masuk ke mobil.
"Baskara, rute penerbangan ke Paris sudah siap untuk jam tujuh malam. Namun, jika Anda ingin mengundurnya demi acara Hari Ayah..."
Baskara menggeleng mantap. "Tidak perlu diundur, Nav. Kita berangkat malam ini. Beri aku waktu lima hari di Paris bersama Swari, lalu kita pulang tepat waktu untuk acara sekolah mereka. Pastikan jet pribadi siap untuk jadwal kepulangan paling cepat."
"Siap, Bas." jawab Navy dengan hormat.
Baskara menoleh ke arah Swari yang sedang tertawa melihat Alexandria mencoba memakai kacamata hitam milik mamanya.
Ia tersenyum puas. Mahameru telah berdiri, keluarga telah utuh, dan kini, saatnya ia membawa belahan jiwanya terbang menuju kota paling romantis di dunia.
eh skrg muncul lagi mantan kakak ipar swari
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor