Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 30
HAL YANG MENGEJUTKAN
Luis tidak langsung bergerak. Tatapannya jatuh pada pistol di tangan Eliza seperti seorang pemilik yang sedang menilai barangnya sendiri—bukan senjata, bukan ancaman, melainkan bagian dari dirinya yang pernah ia bentuk, ia patahkan, lalu ia miliki kembali.
“Asal kau tahu,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan, “kau tidak pandai berbohong.”
Eliza menelan ludah. Tangannya gemetar, tapi laras pistol tetap mengarah ke dada pria itu. “Aku tidak berbohong.”
“Kau gemetar.”
“Aku tidak takut padamu. Kau membunuh semuanya dariku.”
Luis tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah mencapai matanya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat.
“Jangan bergerak!” suara Eliza meninggi, pecah oleh kepanikan yang ia tekan mati-matian.
Luis berhenti, tapi hanya sebentar.
“Kau selalu seperti ini,” katanya lembut. “Berani di luar, hancur di dalam. Aku yang membesarkan keberanianmu, Eliza. Aku yang mengajarimu bagaimana cara menatap pria tanpa menundukkan kepala.”
“Aku belajar itu dari rasa sakit,” balas Eliza. “Bukan darimu.”
Luis terkekeh kecil. “Kalau begitu kita seimbang.”
Tanpa aba-aba, Luis bergerak cepat—terlalu cepat hingga Eliza refleks menarik pelatuk.
Klik!
Peluru tidak keluar.
Wajah Eliza memucat. Jantungnya serasa berhenti. Dan saat itulah Luis langsung meraih pergelangan tangannya dan membanting pistol itu ke lantai hingga terlempar ke bawah meja dan membenturkannya ke dinding serta menahan pergelangan tangannya di dinding.
“Kau lupa satu hal penting,” katanya dingin.
“Pistol hanya memiliki beberapa peluru! Dan aku sudah menggunakannya untuk kepala seseorang!”
Ia menekan tubuh Eliza ke dinding. Tidak sekeras dulu, tidak brutal—tapi cukup dekat untuk membuat napas mereka saling bercampur.
“Kau datang ke sini membawa keberanian pinjaman,” bisiknya. “Dari pria lain.”
“Aku datang membawa keputusanku sendiri.”
“Keputusan untuk menjadi milik orang lain?”
Eliza menatapnya lurus. Air matanya menggenang, tapi tidak jatuh.
“Untuk menjadi milik diriku sendiri.”
Luis terdiam. Untuk pertama kalinya, ada retakan kecil di wajahnya. Hanya sepersekian detik, lalu menghilang.
“Vale tidak akan melindungimu selamanya.”
“Cukup sampai aku bebas darimu.”
Luis tertawa pelan, suram. “Bebas?” Ia menyentuh rambut Eliza, menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang terlalu lembut untuk seseorang sepertinya.
“Kau membawa namaku. Tubuhmu mengingatku. Malam-malam terburukmu memanggilku.”
Eliza memalingkan wajah.
“Jangan sentuh aku lagi.”
“Ck, okay...” Luis mundur selangkah, lalu berjalan kembali ke meja kerjanya, menyalakan rokok baru dengan tangan tenang.
“Aku akan menandatangani perceraian yang kau mau. Tapi seperti yang pria itu ucapakan kepada, mungkin. Tidak ada yang gratis di dunia ini, sayang!”
Kedua alis Eliza berkerut kesal. “Apa maumu?”
Senyuman Luis hilang, berganti dengan tatapan tajam yang menekan. “Vale.”
Tatapan tajam Eliza runtuh mendengar nama yang Luis inginkan. Senyuman Luis terukir jelas bahwa dia benar-benar bisa melihat bagaimana istrinya kebingungan.
“Why? (Kenapa)? Kau takut, atau tidak bisa?”
Tenggorokan Eliza terasa tercekat. Tak ada suara saat Eliza hanya berpaling ke sisi kanan. Perlahan, jari telunjuk Luis bergerak mengusap lembut sisi wajah istrinya.
“Aku akan menuruti perceraian ini dan membiarkanmu menikahi nya, tapi sebagai gantinya.... ” Luis mendekat ke telinga Eliza, “Berikan mayatnya kepadaku saat malam pertama!”
Tubuh Eliza tegang, bak seseorang yang baru saja dicor. Ia bahkan susah menelan ludah.
Luis mencium pipi Eliza sebelum akhirnya dia melangkah mundur. “Kau akan melihat Nathaniel Vale yang sesungguhnya, Eliza. Dan saat itulah... Kau akan berpikir tidak akan ada tempat yang aman dan rumah untukmu!” ucap Luis merentangkan kedua tangannya sembari membelakangi istrinya, lalu ia meraih segelas beer dan meneguknya.
Pyaarr!!!!
Gelas itu dibanting ke lantai, dan Luis kembali berbalik menatap Eliza yang tengah berpikir keras, kaget dan bingung bercampur aduk dengan emosinya yang lain.
Seringaian Luis terlihat jelas, tatapan mendalam namun penuh arti.
“Kau mencoba mengelabuhi. Aku tahu kau sangat licik, tapi aku tidak mau diperas oleh mu.” Tegas Eliza meski hatinya antara percaya dan tidak percaya.
“Ya, kau benar! Tapi ucapanku serius. Aku menceraikan mu, sebagai gantinya, berikan aku jasad Vale saat malam pertama kalian. Jika tidak... Aku akan selalu mengintai kehidupan kalian!” kata Luis yang saat itu juga menuliskan sebuah tulisan perceraian di kertas kosong sembari memberikan tanda tangannya dan melipatnya, menyerahkan kertas tersebut kepada Eliza.
Sementara Eliza menatap penuh tanya dan heran.
“Tapi ingatlah satu hal.” Luis menatapnya lekat tapa senyuman, “Berharaplah agar Vale tidak sama sepertiku.”
“Dia tidak seperti mu.”
“Kau yakin?!”
Napas Eliza naik turun mendengarnya. Itu ucapan kebalikannya, dan kini Luis berhasil meruntuhkan keyakinan dan keberaniannya hanya lewat kata-kata.
Pria itu memberikan kertas tadi ke tangan Eliza, menyentuh kedua pipi Eliza lalu mencium keningnya cukup dalam sedikit kasar. “Pergilah.” Pinta Luis yang langsung membelakanginya seolah dia harus merelakan miliknya kepada musuhnya untuk tujuan terbesar.
Eliza masih menatap punggung suaminya, lalu meremas kertas di tangannya dan pergi dari sana secepat mungkin. Namun, langkahnya melambat saat dia teringat akan ucapan-ucapan Luis. Dia yakin, Vale dan Holloway memiliki masa lalu kelam masing-masing dan mereka pasti saling mengenal satu sama lain.
Cili yang melihat Eliza keluar dari ruangan Luis, wanita itu menghampirinya. “Nyonya Eliza— ” suaranya terhenti saat Eliza berbalik ke arah lain, lebih tepatnya ke arah ruangan kosong yang dulunya ruang pribadi milik ayah Nathaniel Vale.
“Dia mau kemana?” gumam Cili heran, namun dia berlari kecil mengikuti langkah Eliza. Tentu, matanya selalu melebar ingin keluar, dan telinganya berfungsi dengan baik saat harus menguping tanpa lelah.
“Nyonya Eliza..” lagi dan lagi Cili mencoba menghentikan Eliza yang membuka pintu larangan itu. Namun gagal.
Eliza masuk, menarik kain hitam yang menutupi sebagian dari bingkai foto besar itu dan cukup tercengang saat melihat jelas keluarga di dalamnya.
Kain itu jatuh dari genggaman tangan Eliza. Cili yang juga saksi di sana pun ikut terkejut menutup mulut saat dia akhirnya bisa melihat foto di ruang rahasia itu, yang sudah bertahun-tahun dilarang untuk dimasuki bahkan keseluruhannya hampir berdebu.
Namun Eliza lebih terkejut dan terheran saat dia melihat foto Nathania Vale bersama Luis, Esperance, seorang gadis 11 tahun rambut pirang yang sama seperti wanita itu, wanita yang sempat berpapasan dengannya saat masuk ke ruangan Luis, anjing hitam, anak laki-laki berusia 16 tahun, gadis kecil 6 tahun, wanita sebaya dengan Esperance dan seorang pria tua, tatapan tegas seperti Nathaniel Vale yang duduk di kursi tepat di tengah-tengah mereka yang berdiri.
“Astaga...” gumam Cili yang dapat didengar oleh Eliza. Namun Eliza tak memperdulikan keberadaan nya saat ini, dia hanya fokus menatap foto itu.
Hanya ada Esperance, lalu.. -‘Mereka satu keluarga. Mereka bersaudara kandung?’ batin Eliza terheran-heran.
Kepalanya hampir pecah dan tubuhnya hampir terhuyung ke belakang, namun ia benar-benar merasa mual saat panik dan stress sendiri.
Tentu, lalu apa alasannya? Apa alasan dan masa lalu apa yang membuat keduanya bertengkar atau mereka hanya... Bersekongkol?
Eliza langsung berlari keluar dari ruangan engap itu, dia mencoba agar tidak muntah.
“Nyonya Eliza...” panggil Cili yang ikut bergegas keluar. "Nyonya... Anda baik-baik saja?”
“Ya... Aku pergi.” Pamit Eliza yang bergegas keluar.
...°°°...
Hai Guyssss!!!!! Mungkin sampai ini kalian akan bertanya-tanya kannn, tapi tenang aja dan santai. Aku akan memberikan penjelasan setelah terungkap terutama silsilah okayyyy, so.... Keep patient! Terutama menghadapi author sepertiku uyyy 🤫
Jangan lupa tinggalkan jejak semangatnya seperti biasa!!!!!
Thanks and See Ya ^•^