Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PISAH HARTA
“Pak Farid! Pak Farid!”
Farid tersentak dari lamunannya. Suara lantang sang atasan membuyarkan pikirannya yang sejak tadi melayang entah ke mana. Ia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba kembali fokus pada ruangan rapat yang penuh dengan orang penting.
Biasanya, Farid yang merupakan orang kepercayaan sang bos—selalu dilibatkan dalam pertemuan penting, diberi tanggung jawab besar, bahkan sering diajak langsung ke lapangan.
Tapi hari ini, ia seperti kehilangan sinarnya. Duduk di ujung meja dengan wajah murung, mata kosong dan ekspresi yang tidak bisa menyembunyikan beban di pundaknya.
“Tampaknya bawahan Anda sedang banyak masalah ya, Pak.” Sindir salah satu kolega bisnis dengan nada setengah bercanda namun jelas menyentil.
Sang bos, dengan senyum canggung, segera menimpali, “Mohon maaf, Pak. Tadi Pak Farid hanya sedikit kehilangan fokus. Silakan dilanjutkan.”
Farid pun langsung membungkuk ringan “Maaf, Pak. Mohon maaf atas ketidaksopanan saya." Ucapnya lirih, mencoba menutup rasa malu yang menyelimutinya.
Namun sesungguhnya, ia tahu masalahnya jauh lebih rumit daripada sekadar “sedikit kehilangan fokus”.
Sejak kemarin ibunya tak henti mengirim pesan, menagih janji transfer bulanan yang belum ia penuhi. Padahal, uang gajiannya akan ia rencanakan untuk membayar cicilan barang-barang mahal yang dulu ia beli demi gengsi dan penampilan.
Belum lagi Vina. Sejak malam dimana hal yang seharusnya tak terjadi, perempuan itu terus menghubunginya. Meminta datang kembali, mengajak bicara, bahkan sekadar ingin ditemani, juga menagih janji untuk segera dinikahi.
Kepalanya terasa penuh, berisik oleh suara-suara yang saling bertabrakan. Tuntutan ibu, tekanan finansial, hubungan dengan Maira yang makin renggang, dan kini… Vina.
Farid menarik napas dalam-dalam. Hari ini, ia benar-benar kehilangan kendali untuk semua masalah yang tengah dihadapinya.
•
•
Langkah kaki Maira mantap saat menghampiri meja di sudut restorannya yang telah dipesan khusus.
Di sana, Pak Adrian—pengacara kepercayaannya—langsung berdiri begitu melihatnya. Setelan jasnya rapi, dan map hitam di tangannya menandakan jika hari ini bukan pertemuan biasa.
“Selamat siang, Bu Maira.” Ucap pria muda itu sambil mengulurkan tangan.
“Siang, Pak Adrian." Sambut Maira dengan anggukan singkat dan menjabat tangannya.
Tatapan mereka saling bertemu sejenak—profesional, namun ada rasa saling menghargai yang terbentuk dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Adrian duduk di kursinya sambil membuka tas kulit kerjanya. Tidak seperti pengacara pada umumnya yang tampil terlalu formal dan kaku, pria ini justru terkesan santai tapi rapi. Usianya mungkin hanya terpaut beberapa tahun dari Maira, namun pembawaannya dewasa dan cermat.
“Saya sudah membawa semua dokumen yang Ibu Maira minta minggu lalu. Sudah saya review kembali, dan saya pastikan semuanya rapi dan kuat secara legal." Ujarnya sambil mengeluarkan setumpuk berkas dari tasnya.
Maira mengambil salah satu dokumen dan membukanya. “Jadi ini… surat pernyataan harta pribadi?”
Adrian mengangguk. “Betul. Ini akan memperjelas bahwa rumah yang sekarang Ibu tempati dan restoran ini adalah warisan pribadi. Saya juga lampirkan akta hibah, surat keterangan ahli waris, dan bukti pembelian sebelum pernikahan. Semua sudah dilegalisasi.”
Maira membolak-balik halaman itu pelan.
“Kalau nanti..." Jedanya sebelum melanjutkan kalimatnya." "...seandainya kami berpisah dan dia bilang itu harta bersama?”
“Itu tidak akan bisa. Dia tidak punya dasar hukum. Tidak pernah ada pencatatan kontribusi dalam pengembangan aset tersebut."
Adrian kembali melanjutkan, “Lalu untuk aset yang dibeli setelah pernikahan mobil dan restoran cabang yang sedang dibangun. Secara hukum, ini masuk kategori harta bersama.” Ujarnya menjelaskan.
“Itu yang ingin saya ubah.” Nada suara Maira tegas. “Saya mau pemisahan harta. Bukan hanya untuk hari ini, tapi supaya nanti jika saat kami tidak bersama, dia tidak bisa menuntut bagian dari apa yang bukan haknya.”
Tatapan Pak Adrian berubah menjadi serius. Dari kalimat yang dilontarkan oleh Maira, ia tahu rumah tangga wanita itu kini tengah tidak baik-baik saja.
“Kalau Ibu ingin aman sepenuhnya, Ibu bisa mengalihkan mobil dan saham usaha di restoran cabang, menjadi ke entitas bisnis dalam bentuk PT dengan ibu pemilik tunggal.”
Mata Maira memandangi berkas yang baru saja diberikan oleh Pak Adrian sejenak. “Apa bedanya dengan yang sekarang, bukannya saat ini semuanya dibawah nama pribadi saya?”
“Saat ini, karena semua usaha Ibu masih berada di bawah nama pribadi secara hukum, jika ada gugatan misalnya dari suami ibu, ia bisa mengklaim bahwa usaha itu bagian dari harta bersama, apalagi karena dibangun setelah pernikahan.”
Maira mengangguk pelan, lalu membuka halaman pertama akta pendirian.
“Dengan membuat PT," Lanjut Adrian, “restoran cabang berdiri sebagai badan hukum terpisah. Segala aset, pendapatan, dan tanggung jawab hukum berada di bawah nama PT itu, bukan atas nama pribadi. Selama akta pendiriannya jelas mencantumkan bahwa modal berasal dari Ibu, maka secara hukum Farid tidak bisa menyentuhnya.”
“Saya ingin restoran cabang ini berdiri sebagai entitas bisnis yang mandiri. Asetnya, rekeningnya, hak mereknya—semuanya harus di bawah PT. Saya tidak mau ada peluang bagi siapa pun untuk mengusiknya nanti.” Jawab Maira akhirnya setelah mengerti semua akan semua penjelasan pengacaranya.
Adrian mengangguk mantap. “Saya akan daftarkan akta pendirian minggu ini, lalu urus NIB dan NPWP perusahaan. Rekening bisnis juga harus dibuka atas nama PT, bukan pribadi.”
“Lakukan. Saya ingin semua transaksi ke depan tercatat resmi.”
Melihat keteguhan sikap Maira, Adrian tersenyum tipis. Jelas ia terpukau. Tangannya menutup berkas lalu bersandar bersandar santai.
“Ibu tahu… langkah ini jarang diambil oleh pengusaha perempuan. Tapi saya salut dengan ibu."
Helaan nafas perlahan terdengar dari arah Maira. Ia menoleh, menatap Adrian dengan sorot yang dalam. “Saya cuma tidak mau semua yang saya bangun bertahun-tahun, runtuh hanya karena saya menikah dengan orang yang salah." Ujarnya lirih.
Sesaat kemudian, Pak Adrian hanya mengangguk pelan—sebuah bentuk solidaritas diam yang lebih kuat daripada seribu kata.
Namun jauh di sudut lain restoran, sepasang mata menyipit penuh rasa ingin tahu. Vina dengan gaun semi formalnya tampak mencolok di antara meja-meja kayu dan senyumnya merekah kala teman-teman kerjanya tertawa di sekeliling.
Tapi perhatian Vina sepenuhnya tak lagi pada obrolan rekan-rekannya.
Pandangan matanya tak lepas dari Maira.
“Foto bagus nih!” Gumamnya sembari buru-buru mengeluarkan ponsel.
Ia mengarahkan kamera diam-diam, menjepret Maira yang sedang berbicara dengan Pak Adrian. Angle yang diambilnya memperlihatkan kedekatan duduk mereka, ekspresi serius, dan atmosfer yang terasa hangat meski penuh dokumen di meja.
Klik. Klik.
Senyuman puas terlihat jelas di wajah Vina. Ia memang belum tahu siapa pemilik restoran tempat mereka makan siang hari itu.
Dan mengenai Maira yang ia duga dari penampilannya selama ini, wanita itu hanyalah seorang pekerja kantoran.
Vina memandangi hasil jepretan di ponselnya. “Pasti bukan cuma rekan kerja… kalau mas Farid tahu ini, ngamuk kali ya." Ujarnya lirih dengan cekikikan pelan, menahan geli yang sinis.
Jemarinya memainkan layar, memperbesar foto Maira yang sedang membalik dokumen sambil menatap pria itu penuh perhatian.
Vina menyender ke kursinya, menyilangkan kaki. Wajahnya masih diliputi kepuasan. “Kirain dia istri rumahan atau kerja kantoran biasa… ternyata bisa juga ‘bermain’ di luar.”
Namun tawa kecil itu segera memudar. Ingatannya berputar cepat ke pesan terakhir yang ia kirim ke Farid terakhir kali. Pria itu sama sekali tak mengangkat telfon maupun membalas pesannya sejak beberapa hari yang lalu setelah malam itu.
Wajah Vina berubah masam. Ia menunduk sejenak, sebelum akhirnya menatap kembali layar ponsel dengan rahang mengeras.
“Nggak. Pokoknya Mas Farid harus nikahin aku. Aku nggak mau boleh nyerah!”
semangat kak 💪 iklan untukmu
semangat ya thor satu bunga untukmu nih biar ssmangat
kak yuk saling dukung