Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Pagi hari.
Pagi sekali Norma di sibukkan oleh pekerjaan rumah. Setelah memasak untuk makan keluarga mertuanya, Norma lanjut mengerjakan laundry nya. Karena malam harinya hujan lumayan lebat, jadilah pagi ini dirinya tidak menyadap karet. Hari ini tidak banyak yang di cuci, tapi cukup menguras tenaga, yakni mencuci kain dekorasi pelaminan. Jadi memang harus di kerjakan sedari pagi.
Nuri, putri nya sudah di mandikan, pun juga sarapan. Gadis kecil itu saat ini berada di kamarnya. Sebelum melanjutkan kerjanya, Norma sudah menyiapkan cemilan untuk sang anak, supaya Nuri tidak tantrum dan mengamuk di luar kamar berakhir di maki oleh Daria_ tantenya dah Mariah_ neneknya.
Setelah menjemur kain dekorasi, lanjut Norma mengepel rumah. Sementara mertua dan adik iparnya di kamar mereka masing-masing. Mariah akan keluar saat sarapan dan makan siang saja, begitu juga Daria, gadis itu bisa di katakan suka sembunyi tulang.
Mariah keluar dari kamarnya, mendekati sang menantu yang sibuk membersihkan debu dari meja menggunakan kemoceng.
"Nor, tolong beli kan amplop dua lembar" Mariah menyerahkan uang berwarna abu senilai dua ribu.
"Tapi Buk, Nuri tidak bisa di tinggal sendirian, sementara warung yang menjual amplop agak jauh" Norma bimbang.
"Alah, paling juga cuma sebentar. Dia tidak akan kemana-mana. Nanti ku suruh Daria mengawasinya sebentar" Mariah berucap enteng. Padahal diri nya tahu, putri bungsunya tidak pernah dekat dengan cucunya, Nuri. Yang ada Daria akan kerap kali naik darah bila sedikit saja Nuri mengganggu nya tanpa sengaja.
Dengan berat hati akhirnya Norma meninggalkan kerjaannya untuk membeli pesanan Mariah.
Sebelumnya Norma terlebih dahulu menemui sang anak.
"Nuri, mamak pergi ke warung sebentar ya nak... Anak mamak jangan keluar kamar ya, apa lagi keluar rumah." Norma membingkai wajah putrinya, agar fokus mendengar pesannya. Terkadang, Nuri bisa memahami pesan sang ibu, layaknya anak normal lainnya.
Gadis kecil itu menganggukkan kepala tanda mengerti ucapan ibunya. Norma mengecup pipi, kiri kanan dan pucuk kepala sang anak dengan penuh kasih sayang. Entah kenapa mendadak berat hati meninggalkan Nuri, hatinya tidak karuan, tapi segera ditepisnya.
Tak ingin Mariah menunggu lama berujung memarahinya, Norma segera beranjak. Sebelum menutup pintu kamar, wanita ini melihat kembali sang putri, lalu menutup rapat pintu kamar.
"Kakak hendak kemana?" Daria berpas-pasan dengan kakak iparnya, gadis muda itu baru dari kamar mandi. Di rumah ini kamar mandi hanya dua, di belakang dan kamar Mariah.
"Ke warung, ibu minta di belikan amplop" balasnya.
"Tolong awasi Nuri sebentar ya Ria. Tak perlu terlalu di dekati, cukup awasi jika dia keluar dari kamar." pesan Norma.
"Hem" Daria mengangguk.
"Cih!, siapa juga ingin berdekatan dengan anak yang otaknya miring itu, mana ileran lagi. Iiiii....." Daria mencibir, membatin, bahunya meremang seolah jijik dengan Nuri, keponakan nya.
Norma sedikit lega, lalu segera meninggalkan rumah.
"Ini nama nya keberuntungan. Tanpa bersusah payah bermain drama, membodohi, membujuk ipar minim akal itu, tapi malah masuk sendiri ke rencanaku." batin Daria. Segera diri mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu, bibir tersenyum samar.
Dirinya berjalan menuju kamar milik kakaknya.
"Nuri, ini ante (Tente), boleh tak ante masuk?" Daria melongok kepala ke dalam kamar.
Nuri sibuk bermain boneka, peralatan miniatur alat masak, tidak menghiraukan kedatang dan ucapan Daria. Membuat sang Tante kesal luar biasa, tapi hanya bisa menggeram dalam hati.
Iya membuka lebar daun pintu, melangkah masuk. Duduk di sisian ranjang, menatap sang keponakan yang seolah mengaduk makanan mainannya.
Daria pusing untuk memancing Nuri supaya mendengar ucapannya. Tiba-tiba iya tersenyum licik, mendapat ide brilian.
"Nuri, di depan sana, di luar pagar ada Abang gerobakan Menjual aneka bakso, donat topping. Nuri suka kan?" pancingnya dengan suara lantang, supaya Nuri memperhatikannya. Benar saja, gadis polos itu langsung beralih menatapnya.
"Jika Nuri mau ini uang nya, beli sebanyak yang Nuri inginkan. Tapi ante tidak bisa menemani, kepala pusing, meriang" ucapnya licik, seraya memijat keningnya.
Netra gadis kecil itu berbinar mendengarnya. Layaknya anak yang lain, Nuri bukan main girang mendengar akan membeli makanan sejuta umat tersebut.
"Cerius nte?" tanyanya, air liur menetes membuat Daria menahan mual.
"Iya keponakan aunty tersayang...." ucapnya mendayu.
Tanpa menunda, Nuri merampas uang dari tangan Daria. Dengan girang gadis itu berlari kecil keluar kamar.
"Hati-hati Nuri, banyak kendaraan berlalu lalang" ucap Daria sok peduli, khawatir.
Nuri yang terlanjur senang, tidak lagi menghiraukan ucapan Tante nya. Apa lagi dengan keterbatasan otaknya yang kurang berfungsi dengan baik.
Selepas kepergian Nuri, Daria bersenandung riang. Notifikasi transfer uang telah masuk ke rekeningnya. Dan malam ini iya akan mentraktir teman-temannya.
*******
Sementara di jalan, Nuri menoleh ke kiri kanan, melihat ke depan, tapi tak di lihat ada satupun penjual bakso seperti yang di ucapkan Daria. Yang ada hanya gerobakan penjual kue putu menggunakan uap, aneka es teh dan makanan ringan.
Tak lama terdengar dentingan sendok beradu dengan botol kaca, biasanya di bunyikan oleh penjual bakso/siomay. Tampak tak seberapa jauh, berseberangan jalan, gerobak bakso di bawa penjual menggunakan motor.
Nuri girang, tanpa menoleh kiri kanan, gadis berkebutuhan khusus itu langsung menyebrang. Dari arah lain, seorang pengendara motor melaju kencang. Jarak yang masih jauh, seharusnya si pemotor bisa memelankan kendaraan, tapi seperti sengaja mengemudikan motor ke arah Nuri. Namun gadis itu berjalan cepat saat melihat kucing kecil di bagian jalan lain sedikit pinggir.
Brakkkkkkkk!!!!
Pengendara motor menabrak tiang trotoar menghindari minibus, sementara banting stir mengarah ke Nuri, bagian depan samping mobil sedikit menyenggol Nuri yang sedang berjongkok hendak mengambil kucing.
Prakkkkkkk!!!!
Nuri terseret, kepalanya terbentur sisi trotoar. Darah dengan derasnya mengalir dari kepala, bagian sikut lecet.
"Ma-mak....." lirihnya terbata. Mata setengah terbuka, namun pandangan sudah buram, tak lama hilang kesadaran.
Para warga mulai berkerumun.
"I-ini bukannya cucu Mariah, putri Syamsul kan?" tanya salah satu ibu-ibu pada orang sebelahnya.
"Iya, tadi aku lihat ibunya di warung koh Lim. Ya sudah, itu tolong di angkat ke pinggir dulu, berikan kain jarik untuk menutupi tubuhnya. Aku akan memberi tahukan keluarganya." ucap wanita muda.
Wanita itu langsung menuju motornya, bergegas menyusul Norma. Sedangkan yang lain menuju rumah Norma, memberi info pada Mariah dan lainnya.
*****
Wanita muda tiba, turun terburu-buru dengan nafas ngos-ngosan. Berpas-pasan Norma yang baru keluar dari warung koh Lim.
"Dari mana la?" tanya Norma pada wanita yang bernama Lela ini.
"Nor, cepatlah. I-itu, a-anu....." Lela gelagapan, takut Norma shock.
"Cuba tarik nafas, hembus pelan-pelan" Norma membawa lela duduk.
"Anak mu, dia......"
"Kenapa?" kejar Norma mendadak cemas.
"Dia, tertabrak mo....
"Apa?!"
Norma rasanya seperti tersambar petir mendengar berita tentang sang putri.
Segera dirinya mengendarai motornya, dengan kecepatan tinggi.
Tiba di lokasi, jantung Norma seakan berhenti. Melihat kerumunan warga yang banyak, membuat Norma berfikiran buruk. Segera Iya berlari, seperti tidak menatap bumi karena ingin cepat tiba di sisi sang putri.
Norma berlutut, kaki nya lemas, hingga merangkak mendekati sang anak.
"Ya Allah Nuri... Buah hati mamak!" pekiknya serak. Air mata mengucur deras.
"Cuba sedikit tenangkan dirimu Nor, berdo'a, meminta anakmu tidak terluka parah. Jika dirimu terguncang, kasian anakmu. Sebentar lagi ambulance akan tiba" Bu kades mengusap punggung warganya, memberi kekuatan dan semangat. Wanita ini sedikit banyak mengetahui perlakuan keluarga Syamsul, suami Norma.
*****
"Sementara ini putri Ibu sudah siuman, tapi memerlukan beberapa tindakan medis lagi karena pasien tidak merespon." jawab suster tersebut.
.
.
Jangan lupa like, subscribe dan komentarnya🙏
Selamat malam