NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: RERUNTUHAN REPUTASI

Kabar tentang rekaman dan tumpahan uang di kantin menyebar secepat kilat. Sebelum jam pelajaran terakhir berakhir, Revaldi, Eliza, Alsya, dan Samudera sudah dipanggil ke ruang Kepala Sekolah. Suasana di sana jauh lebih tegang daripada konfrontasi di Bukit Bintang.

Papa Saga dan Mama Luna sudah duduk di sana dengan wajah yang sangat pucat. Di sisi lain, orang tua Revaldi yang merupakan donatur besar sekolah juga hadir, namun mereka tampak sangat malu.

"Ini adalah pelanggaran berat," ucap Pak Gunawan, Kepala Sekolah, sambil menunjuk amplop cokelat yang kini menjadi barang bukti. "Suap, manipulasi saksi, dan intimidasi. Kami tidak bisa membiarkan ini terjadi di lingkungan pendidikan."

Papa Saga menatap Eliza dengan tatapan yang sangat asing. "Eliza... kamu terlibat dalam penyuapan ini?"

"Nggak, Pa! Itu semua ide Revaldi! Aku cuma... aku cuma ada di sana!" Eliza menangis histeris, mencoba menggunakan taktik lamanya.

Namun kali ini, Revaldi yang merasa dikhianati oleh sekutu terdekatnya langsung angkat bicara. "Jangan bohong, El! Loe yang kasih tahu gue kalau Rian butuh uang buat operasi ibunya. Loe yang nyuruh gue cepet-cepet bawa dia ke sini sebelum Samudera makin deket sama bokap loe!"

"DIAM KAMU!" bentak ayah Revaldi, menampar meja. "Kamu sudah mempermalukan nama keluarga kita!"

Kepala Sekolah berdehem pelan. "Keputusan sekolah sudah bulat. Revaldi, kamu akan diberikan sanksi drop out (DO) karena ini bukan pelanggaran pertamamu. Dan Eliza... karena keterlibatanmu dalam perencanaan ini, kamu akan diskors selama satu bulan dengan catatan hitam di rapor. Kamu juga dicopot dari jabatan pengurus OSIS."

Eliza jatuh terduduk di lantai, dunia yang selama ini dia bangun dengan citra kesempurnaan kini hancur berkeping-keping.

Papa Saga berdiri, namun dia tidak menghampiri Eliza. Dia justru berjalan ke arah Alsya dan Samudera yang berdiri di sudut ruangan.

"Alsya..." Papa Saga terdiam sejenak, tenggorokannya terasa kaku. "Papa baru saja mendapat laporan dari pengacara Papa. Semua kiriman uang yang dilakukan Samudera ke rumah sakit Rian selama ini memang benar adanya. Dia bahkan menggunakan nama anonim agar tidak ada yang tahu."

Saga menoleh ke arah Samudera. "Saya minta maaf karena telah merendahkan kamu. Kamu lebih 'laki-laki' daripada saya dalam hal bertanggung jawab."

Samudera hanya mengangguk sopan. Dia tidak butuh pengakuan itu, tapi dia lega karena setidaknya beban di pundak Alsya sedikit berkurang.

"Alsya, pulanglah ke rumah," bujuk Mama Luna sambil memegang tangan Alsya. "Kamar kamu masih sama. Mama janji nggak akan ada lagi paksaan."

Alsya menatap ibunya, lalu menatap Samudera. Dia menarik napas panjang. "Aku akan pulang sesekali untuk menjenguk Papa dan Mama. Tapi aku tetep akan tinggal di dekat bengkel Kak Arka sampai aku lulus. Aku mau belajar mandiri, Ma. Aku mau buktiin kalau aku bisa sukses karena kemampuan aku sendiri, bukan karena aku anak seorang Anantara."

Papa Saga tampak berat hati, namun dia akhirnya mengangguk. Dia menyadari bahwa burung yang sudah menemukan sayapnya tidak akan pernah mau masuk kembali ke sangkar, seindah apa pun sangkar itu.

Saat keluar dari ruang kepala sekolah, Alsya berpapasan dengan Eliza yang sedang menangis tersedu-sedu.

"Kenapa, Sya? Kenapa loe harus rebut semuanya dari gue?" tanya Eliza dengan suara serak.

"Gue nggak rebut apa-apa, El," jawab Alsya tanpa rasa benci. "Loe yang ngelepasin semuanya demi rasa iri loe sendiri. Gue harap satu bulan skorsing ini bisa bikin loe sadar kalau jadi 'sempurna' itu nggak ada gunanya kalau hati loe kosong."

Alsya berjalan melewati Eliza, menggandeng tangan Samudera menuju parkiran. Di sana, motor hitam Samudera sudah menunggu. Mereka berkendara menembus sore yang cerah, meninggalkan semua drama sekolah di belakang mereka.

Sanksi yang setimpal! Revaldi keluar dari sekolah, dan Eliza harus menghadapi kenyataan pahit.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!