NovelToon NovelToon
Wanita Amnesia Itu Istriku

Wanita Amnesia Itu Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Amnesia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?

Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENATA BAHAGIA

Hari masih gelap, jam dinding di mushola sederhana itu mengarah pada angka tiga tiga puluh---subuh. Hawa dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Sisa hujan semalam masih terasa lewat bau tanah basah.

Aira sudah di mushola saat itu, menyusun lembar demi lembar sajadah bersiap untuk sholat subuh. Bara masih mandi, mensucikan diri setelah menunaikan hajatnya semalam.

Aira sengaja bangun lebih dulu dan bergegas mandi saat semua masih tertidur lelap. Ia malu kalau kedapatan mandi saat adzan subuh. Rasa canggung pada Bara juga masih terasa hingga sekarang. Ia berusaha menghindar, setidaknya saat ini aman. Entah bagaimana nanti.

Aira ke kamar anak-anak putra membangunkan mereka satu persatu. Anak-anak yang sudah wajib sholat di bangunkan lebih dulu agar tak tertinggal sholat berjamaah. Yang kecil-kecil di biarkan tidur jika memang iqamah sudah berkumandang sedah mereka masih tertidur lelap.

Aira sholat tahajud dua rakaat dan ditutup witir satu rakat. Berdzikir dan berdoa mengharap kesembuhan dan hubungan yang baik untuk pernikahannya. Ini waktu mustajab untuk berdoa, Aira tak ingin kehilangan momen itu.

Lima belas menit kemudian ia bergegas kembali ke kamar anak-anak putri, tapi hampir menabrak Bara yang baru sampai di pintu mushola.

"Pelan-pelan sayang, " ujarnya santai seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka semalam.

Pipi Aira merona, lalu menundukkan kepala dan berjalan cepat meninggalkan Bara yang tersenyum. Bara juga merasa canggung sebelumnya, tapi berusaha santai supaya Aira juga bisa bersikap yang sama. Ternyata, Aira tetap canggung bahkan spontan tersipu.

Bara bergegas ke dalam, menunaikan sholat tahajud dan witir sambil menunggu waktu subuh.

Saat sampai di kamar anak putri, Siska ternyata lebih dulu disana membangunkan mereka. Aira bergegas membantu.

"Sepertinya ada yang beda dari wajahmu Aira, " ujar Siska menggoda.

Aira tertegun, tak mengerti arah ucapan Siska.

"Ibu lihat, Bara keramas tadi, " bisiknya lagi.

"Bu, " seru Aira. Wajahnya memerah seperti tomat.

Siska terkekeh sambil berlalu ke mushola.

"Ayo anak-anak cepat bawa mukenanya, sebentar lagi adzan subuh."

Aira menyusul ke mushola, setelah memastikan tak ada yang tertinggal. Suara adzan berkumandang, kali ini anak putra yang sudah masuk masa tamyidz.

Tak lama, iqamah dilantunkan dan sholat subuh ditunaikan. Setelah sholat mereka dzikir bersama. Bara diminta menyampaikan tausiyah lagi seperti kemarin. Kali ini temanya tentang syukur.

Siska dan Dharma beberapa kali memilik ke arah Aira. Aira berpura-pura tak melihat mereka dan terus mendengarkan tausiyah Bara.

Selesai tausiyah, Aira melipat mukenanya dsn buru-buru menyusul Dharma yang lebih dulu ke dapur menyiapkan sarapan. Bara menghampiri Siska yang masih duduk berdzikir.

Udara sejuk menyeruak masuk ke dalam mushola. Tetes sisa air hujan menetes perlahan jatuh ke bawah menciptakan kubangan air bening.

"Bu, nanti minta ijin ajak Aira keluar lagi cari kontrakan sekitar sini. Supaya Aira nggak jauh ke panti."

"Kamu sudah pikirkan matang-matang Bara? terutama reaksi ibumu nanti. "

"Tenang Bu, tugas Bara memahamkan Ibu nanti."

"Bara, maaf kalau perkataan saya menyinggung mu. Jujur, saya juga cemas seperti Aira. Saya bisa membayangkan cerita Aira saat ibumu mengatakan hal kasar padanya. Kamu yakin ibumu tak akan menyakiti Aira?"

Bara tertegun, ia memang tak bisa menjamin apapun soal itu.

"Saya akan berusaha, Bu. "

Siska menghela nafas panjang, lalu akhirnya mengangguk.

Matahari mulai terbit, perlahan tapi pasti. Hawa hangat masuk ke celah-celah jendela, menghangatkan ruangan tempat anak-anak sarapan. Bara juga ikut bersama mereka bercengkrama sambil menikmati sarapannya.

Aira melihat tawa Bara yang pecah. Hatinya menghangat, tak tega menyakiti orang yang sudah sangat tulus dengannya.

Saat Bara hendak membuka jilbabnya semalam, Aira sempat menolak. Hati Aira terasa bergemuruh. Seolah kenyataan pahit mengetuk kembali dan menyadarkan keadaan tubuhnya yang jauh dari kata layak untuk seorang Bara.

Matanya mendadak berkaca-kaca menatap Bara ragu.

"Mas, kamu yakin? Aku benar-benar tak sepadan denganmu. Kamu masih bisa berkesempatan merasakan malam pertama dengan perempuan lain yang lebih baik."

"Aira, kalau aku ragu. Sudah lama aku meninggalkan mu. Bahkan mencari yang lebih dari ekspektasi. Tapi aku justru berada di sini kan? artinya aku tak merasa ragu. "

" Aku selalu melihat mu cantik bagaimana pun rupamu. Sekarang kamu tak perlu pikirkan yang lain, kita nikmati saja malam ini ya."

Aira akhirnya mengangguk dan membiarkan Bara mengeksplorasi semua sisi tubuhnya.

"Aira, " panggil Bara.

"Eh.. iya mas? "

"Ayo, aku sudah ijin bu Siska."

Aira beranjak dan memberi tahu anak-anak untuk membersihkan sendiri piring kotor sarapan nya. Lalu pergi berpamitan pada Siska.

Bara sudah siap di atas motornya.

"Mau cari dimana?" tanya Aira sambil naik ke atas motor.

"Di gang sebelah kayaknya ada kata Bu Siska, kita kesana aja dulu supaya kamu jalan ke panti nggak terlalu jauh. "

Aira mengangguk mengerti.

Sepanjang jalan, Aira masih tak bisa menyembunyikan cemasnya. Bayang-bayang ibu mertuanya masih sering melintas di ingatan Aira.

Penolakan, penilaian buruk dan hinaan membuat Aira ragu, tapi tatapan Bara, usahanya yang tulus akhirnya memutuskan Aira untuk pasrah dengan apa yang akan ia hadapi ke depan.

"De, ayo sudah sampai."

Aira turun lalu melepas helm dan menggantungnya di spion. Bara menggandeng Aira menyusuri gang. Beberapa warga yang mengenal Aira menyapanya dengan tatapan iba. Kondisinya sudah di ketahui hampir seluruh warga di sekitar panti.

"Wah ini pengantin baru, cari kontrakan ya? "

Bara mengangguk dan tersenyum ramah. "Iya Bu, ada di sekitar mana ya? "

"Itu mas, yang ujung ada beberapa rumah bedeng lima pintu. Pemiliknya di rumah seberangnya. Yang besar dari yang lain."

"Baik, Bu terima kasih. Kami ke sana ya, Bu..Mari. "

"Mari mas, Aira sehat-sehat ya."

Aira hanya menyambut dengan anggukan dan senyum ramah.

"Assalamu'alaikum, " panggil Bara di depan rumah yang terlihat lebih bagus dan cukup mewah.

"Wa'alaikumsalam. Loh, Aira ya? lama sekali saya nggak lihat. Ini suaminya? "

Aira mengulur tangan untuk bersalaman.

"Nggih Bu Wulan, ini Mas Bara. "

"Saya Bara, Bu. Suami Aira. Ibu yang punya kontrakan? "

" iya mas, yang itu. Mau tinggal di kontrakan?"

"Iya, Bu. Supaya Aira nggak jauh ke panti. Kalau dari rumah Saya jauh sekali. Makanya carinya yang dekat sini."

"Oh gitu, Aira kenapa nggak di rumah aja, nggak capek nanti. Kan masih pemulihan."

"Biar ada aktifitas lain, Bu. Jadi nggak kepikiran dengan kondisinya terus. Saya juga nggak masalah. Kalau kerja di panti, ada yang nemenin. Di rumah sering sendiri."

"Oh iya ya.. saya paham. Mau lihat di dalamnya?"

"Kalau bisa, Bu."

Wulan masuk ke dalam mengambil kunci.

Mereka melihat-lihat ke dalam. Negosiasi harga, dan membuat kesepakatan.

Setelah berunding sekitar empat lima menit, mereka akhirnya pamit.

"Kapan rencananya masuk mas? "

"Sore ini Bu kalau bisa. Saya rencananya setelah ini pulang ambil barang pamitan juga sama ibu saya."

"Oh ya sudah, kalau begitu saya panggil asisten saya bersihkan rumahnya ya."

Mereka bersalaman lalu berjalan menuju motor yang terparkir di depan gang.

Aira makin cemas karena diajak Bara pulang ke rumahnya untuk berpamitan dengan puspa dan ibunya.

Dari kaca spion motornya, Bara melihat Aira yang nampak kalut.

"Sayang, jangan khawatir. Nanti Mas yang bicara dengan ibu. "

Aira hanya mengangguk dan tersenyum. Senyuman yang tak sampai ke mata. Rasa takut dan cemasnya terlalu besar.

Suasana minggu pagi di sepanjang jalan cukup ramai. Apalagi cuacanya cerah, banyak yang memanfaatkan momen untuk refresing bersama keluarga atau sahabat.

Aktifitas pedagang dan pembeli terlihat hangat saat melewati pasar tradisional. Aira melihat kehidupan yang terkadang terasa jauh dari bayangannya.

Ia lebih banyak berdiam diri di panti selama sakit ini. Seperti orang yang hidup dalam goa. Pemandangan sederhana itu cukup menyejukkan hatinya.

Perjalanan jauh tak terasa menegangkan lagi melihat hiruk pikuk aktifitas masyarakat yang mereka lalui.

Bara menghentikan motornya di depan rumah.

"Ayo dek, bantu mas berkemas ya. "

Saat Bara menggandeng Aira masuk, beberapa pasang mata menatap mereka. Ada yang iba ada yang penasaran. Karena Aira cukup lama tak terlihat dan tiba-tiba datang ke rumah tanpa membawa apa-apa.

"Assalamu'alaikum, "

"Wa'alaikumsalam. Eh kak Aira, " sapa puspa sambil menghampiri mereka dan memeluk Aira.

"Kakak sehat? "

"Alhamdulillah dek, pelan-pelan membaik."

" Ibu mana dek? " tanya Bara.

"Ibu ada arisan, Mas. Di rumah Bu Salim yang orang kaya itu, anaknya teman sekolah Mas katanya. Baru selesai kuliah S2 diterima kerja di sini akhirnya pulang. Bu Salim mau bagi oleh-oleh, makanya ibu semangat ke sana. Siapa teman mas itu? Mbak Rasti ya? "

"Oh Rasti, iya. Itu dek, mas sama Aira dapat kontrakan dekat panti. Jadi mulai hari ini mas sudah tinggal di sana. Nanti titip pesan ya sama Ibu. Kalau nunggu Ibu, kelamaan. Nanti minggu depan mas sama Aira pulang jenguk ke sini."

"Ngontrak? Ooh..ya sudah kalau Mas sama Kak Aira sudah sepakat. Berarti udah baikan kan kalian? "

"Iya, makanya mas cari kontrakan supaya Aira mau balik sama mas."

"Ih, mas. kok ngomong gitu. Yang usul kan Mas Bara sendiri. "

"He.. iya-iya sayang, Mas becanda kok. Ya sudah, nanti dulu ngobrolnya. Bantu mas kemas barang dulu. "

Aira mengangguk pamit dengan Puspa, tapi desir hatinya masih cemas. Sungkan rasanya tiba-tiba pindah tanpa pamitan yang layak.

Setelah beberapa jam berkemas, mereka pamit dengan Puspa. Bara membawa satu tas besar berisi pakaian. Aira membawa dua tas belanja membawa perkakas pribadi Bara.

"Pamit dulu ya, dek. Nanti Kak Aira jalan-jalan ke sini."

"Iya, Kak. jaga kesehatan ya, jangan capek-capek."

Aira memakai helm, Bara menata barang diatas motornya. Mereka hanya mengangguk dengan beberapa tetangga yang kebetulan melihat.

"Kelihatannya pindah si Bara."

"Iya sih, mending gitu. Wajah Bara juga lebih ceria, nggak kayak sebelumnya murung terus sejak Aira mendadak pergi."

"Yah, maklum. Suami mana yang nggak berat hati jauh dari istrinya. Bu Norma juga masa sama menantu keras begitu. Empatinya kurang sekali."

"Bukan keras lagi ibu itu, kasar. Sudah tahu menantu sakit malah dicerca dan di usir begitu. "

"Benaran di usir Bu? "

"Iya, saya dengar sendiri kok namanya dinding rumah satu tembok, jadinya ya kedengeran jelas."

"Hmmm kasihan Bara harus di posisi yang mana."

Kedua ibu itu menatap Bara dengan raut Iba. Berharap Bara bisa menjalani pernikahannya dengan Baik

1
falea sezi
bara plin plan males deh cowok kayak gini.. mending Aira kasih jdoh lain yg ortunya nrima Aira thor biar nyesel di bara yg nurut aja kata emak. nya
Happy Kids: skalipun dipaksain yg ada sakit ati. si norma jg pengen ngebet jd kaya 🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh on progress yg ini.. di up hari ini .. 🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!