NovelToon NovelToon
Cinta Tak Butuh Tes IQ

Cinta Tak Butuh Tes IQ

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Murid Genius / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tahun Ajaran Baru Kelas 3

Bel masuk berbunyi panjang.

Aira berdiri di depan kelas 3 E sambil menatap papan nama di pintu.

“Kita masih hidup,” gumamnya.

Begitu masuk...

“AYE!” teriak Bambang sambil berdiri dramatis.

“Selamat datang kembali di kelas orang-orang kuat mental!”

Aira tertawa.

“Bang, kamu naik kelas?” Tanya Naya dengan nada bercanda.

Bambang berkedip.

“Naik, sayang. Aku naik level.”

Raya mengibaskan rambut pendeknya.

“Level cerewet.”

Nona sibuk dengan ponselnya.

“Guys, update Evan pagi ini udah nyemplung kolam jam lima.”

Aira melirik, “Kenapa kamu tau?”

Nona menaikkan alis. “Karena semua orang tau.”

Bambang mendesah, “Ya ampun, atlet nasional, ganteng, basah-basahan. Dunia nggak adil.”

Raya menuju ke Aira.

“Fokus. Kita 3 E. Masih kelas buangan.”

“Buangan yang solid,” timpal Bambang.

Di kantin, situasi langsung berubah ...

Anne muncul dengan tray makanan dan ekspresi sinis.

“Oh,” katanya sambil melirik Aira, “Kita ketemu lagi.”

Aira tersenyum tipis, “Iya. Semoga makanannya enak.”

Anne mendengus, “Selera orang beda-beda.”

Bambang berbisik ke Raya, “Itu kode dia nggak doyan ketemu kita.”

Raya mengangguk. “Kita juga.”

Nona berdehem “Update lagi: Anne masih suka drama.”

Kembali ke kelas...

Aira duduk di bangkunya, menoleh ke belakang.

Bonnie si preman sekolah tertidur, dengan hoodie menutup kepala.

Aira berbisik, “Dia selalu tidur ya.”

Naya mengangguk, “Preman sekolah.”

Bambang menelan ludah, “Preman tapi cakep.”

Bonnie bergeser sedikit, “Gue denger.”

Aira kaget, “Eh—maaf.”

Bonnie membuka satu mata, “Gak papa, Terusin.”

Nona menutup mulut, “Dia ngomong.”

Bambang bertepuk tangan pelan, “Sejarah tercipta.”

Guru masuk semua duduk Bu Silvy menatap kelas.

“Selamat datang di kelas 3 E.”

Bambang mengangkat tangan, “Bu, ini kelas E karena kita Excellent kan?”

Semua tertawa.

Bu Silvy tersenyum tipis, “E itu… effort.”

Sedang Bonnie kembali tidur.

Aira menyandarkan dagu di tangan, kelas ini masih sama.

Berisik. Aneh. Berantakan.

Tapi entah kenapa 3 E terasa seperti rumah.

*** Asap di Gudang Sekolah ***

Tidak semua kisah besar dimulai dari cinta.

Beberapa dimulai dari… asap rokok murahan di gudang sekolah.

“Ew.” Itu reaksi pertama Anne.

Dia berdiri di depan pintu gudang olahraga dengan tangan terlipat di dada, wajahnya menampilkan ekspresi jijik maksimal.

Seolah yang ada di depannya bukan manusia, tapi sampah berbahaya.

Di dalam gudang, Bonnie duduk santai di atas kardus bekas bola basket.

Rokok masih menyala di antara jari-jarinya.

“Kalau mau muntah,” kata Bonnie malas, “bilang. Gue bisa minggir.”

Anne menutup hidungnya, “Kamu tau ini area sekolah, kan?”

Bonnie menghembuskan asap ke atas, “Tau.”

“Dan kamu tau merokok itu melanggar aturan?”

“Tau.”

“Dan kamu tetap ngelakuin?”

Bonnie mengangkat bahu. “Bosen.”

Anne mendecak keras, “Tipikal cowok bandel. Nggak punya masa depan.”

Bonnie tertawa kecil, “Wow. Baru lima menit, udah vonis hidup.”

Anne melangkah masuk setengah langkah, tapi langsung berhenti.

“Jangan dekat-dekat,” katanya tajam, “Bau rokok kamu nempel.”

Bonnie mematikan rokoknya di lantai semen. “Tenang. Gue juga nggak minat deket deket lo.”

Anne terdiam sesaat, “Kenapa kamu selalu ngerokok di sini?”

“Karena gue bosen.”

“Kenapa kamu selalu bikin masalah?”

“Karena orang kayak lo selalu ngerasa paling bener.”

Anne melotot, “Kamu nggak tau siapa aku, ya?”

Bonnie menatapnya lurus untuk pertama kali,“Tau.”

Anne mendongak angkuh, “Bagus.”

"Anak yang selalu tampil paling depan,” lanjut Bonnie.

“Nlai bagus, hidup rapi, dan jijik sama orang yang hidupnya nggak sesuai ekspektasi.”

Anne tercekat, “Aku Nggak...”

"Salah?” potong Bonnie, “Tenang. Gue nggak tersinggung.”

Bonnie berdiri tinggi badan Bonnie membuat Anne refleks mundur setengah langkah.

Namun di luar sana nampak Bu Silvy suaranya terdengar oleh Anne dan Bonnie.

"Aku laporin kamu ya,"

“Laporkan aja,” kata Bonnie datar.

“Biar lengkap citra sempurna lo,”

Anne menggertakkan gigi, “Kamu pikir aku takut sama kamu?”

Bonnie menyeringai tipis, “Enggak. Tapi lo takut terterik sama gue, kan.”

Anne terdiam.

Langkah kaki terdengar dari luar gudang.

“Ada apa di sini?” suara Bu Silvy muncul.

Anne langsung menoleh, “Bu, Bonnie merokok di gudang!”

Bonnie menghela napas pelan, “Yup. ketangkap.”

Bu Silvy menatap mereka berdua bergantian, “Bonnie. Ke ruang BK.”

Bonnie berjalan keluar tanpa protes.

Saat melewati Anne, ia berhenti sebentar.

“Terima kasih udah peduli sama aturan,” katanya pelan.

“Semoga hidup lo selalu sebersih sepatu putih lu.”

Anne menatap punggungnya dengan emosi campur aduk.

Anne baru sadar satu hal untuk pertama kalinya,

Cowok yang dia anggap sampah, tidak terlihat tertarik kepadanya.

Dan entah kenapa, itu mengganggunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!