Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal dari pemburuan berdarah
Di Benua Xuan Lu, kekuatan adalah segalanya. Sejak zaman kuno legendaris tiga milenium silam, hierarki kekuatan telah dibentuk menjadi 8 Ranah Kultivasi.
The Mortal Realms (Ranah alam fana)
masing masing bagi menjadi tiga tahap: Early (Pemula), Mid (Menengah), dan Peak (Puncak).
1. Qi Gathering Realm (Ranah Pengumpulan Qi)
2.Marrow Cleansing Realm (Ranah Pembersihan Sumsum)
3.Foundation Establishment Realm (Ranah Pembentukan Fondasi)
4.True Core Realm (Ranah Inti Sejati)
5.Earth Spirit Realm (Ranah Roh Bumi)
6.Heavenly Spirit Realm (Ranah Roh Langit)
7.Mortal King Realm (Ranah Raja Fana)
8.The Divine Bridge Realms (Jembatan Keilahian)
Saat ini, Zhou Yu baru saja mencapai Ranah Pembersihan Sumsum tahap Puncak, sebuah pencapaian luar biasa bagi rakyat jelata, namun tidak berarti apa-apa di mata para jenius kekaisaran.
Sinar matahari pagi menyelinap perlahan melalui celah dinding kayu asrama yang reyot, membawa debu-debu emas yang menari di udara. Zhou Yu perlahan membuka matanya, merasakan beban yang hangat dan lembut menekan dadanya. Ia tidak bisa bergerak, namun rasa nyaman yang menjalar di sekujur tubuhnya membuatnya enggan untuk berontak.
Saat penglihatannya mulai fokus, jantungnya berdegup kencang. Di atas tubuhnya, Ling'er tertidur dengan sangat lelap. Entah bagaimana, dalam lelapnya malam, gadis itu telah bergeser dari alas tidurnya dan kini meringkuk di atas dada Zhou Yu seolah-olah suaminya itu adalah bantal paling nyaman di dunia. Wajah Ling'er tampak begitu tenang dan cantik, bibirnya sedikit terbuka, dan helaian rambut hitamnya yang harum menutupi sebagian pipinya yang putih.
Zhou Yu terpaku. Keheningan pagi itu terasa sangat canggung. Ia bisa merasakan detak jantung Ling'er yang beradu dengan detak jantungnya sendiri. Dengan gerakan yang sangat lembut, seolah takut merusak momen rapuh itu, Zhou Yu mengangkat tangannya yang kasar dan mulai membelai rambut Ling'er. Sentuhannya seringan bulu, penuh dengan kasih sayang yang tak terucap.
"Aku akan melindungimu, apa pun harganya," bisik Zhou Yu sangat pelan.
Namun, belaian itu rupanya cukup untuk menyadarkan Ling'er dari mimpinya. Bulu mata gadis itu bergetar, dan perlahan, sepasang mata jernih itu terbuka. Selama beberapa detik, mereka hanya saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Ketika kesadaran Ling'er pulih sepenuhnya dan ia menyadari posisinya yang sedang menindih tubuh Zhou Yu, wajahnya mendadak merah padam secerah bunga mawar.
"A-ah! Kak Yu!" Ling'er memekik tertahan, segera bangkit dengan gerakan canggung yang hampir membuatnya terjatuh dari ranjang kayu. "Maaf! Aku... aku tidak tahu bagaimana aku bisa..."
Zhou Yu terkekeh kecil, rasa hangat menjalar di hatinya melihat tingkah menggemaskan istrinya. "Tidak apa-apa, Ling'er. Kau tidak berat sama sekali. Malah, aku merasa tidurku jauh lebih nyenyak."
Ling'er menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha menyembunyikan rasa malunya. Namun di balik sela-selanya, ia tersenyum. Momen itu menjadi penguat hati mereka sebelum menghadapi kerasnya hari di akademi.
Mereka segera bersiap. Seperti biasa, mereka menuju sungai untuk mandi pagi. Air dingin yang menyentuh kulit seolah mencuci sisa-sisa kantuk dan memberikan kesegaran baru. Setelahnya, mereka memasak bersama di atas tungku kecil menu sederhana berupa ubi rebus dan teh pahit, namun dinikmati dengan penuh tawa bersama Da Ge yang baru saja kembali dari latihan angkat beban pagi.
Siang harinya, atmosfer di Aula Guntur terasa sangat berat. Hari ini adalah pelajaran Teknik Berpedang. Semua murid, baik dari kelas rendah maupun kelas elit, berkumpul di lapangan terbuka.
"Hari ini, kita akan berlatih tanding bebas!" seru Instruktur Qin, seorang pria bertubuh tegap dengan bekas luka di mata kirinya. "Hanya menggunakan pedang kayu, tanpa energi Qi yang berlebihan. Fokus pada teknik!"
Namun, aturan tinggal aturan. Tuan Muda Chen, yang masih mendendam karena kejadian di asrama tempo hari, telah mengumpulkan kacung kacung nya. Ia berada di Ranah Pembentukan Fondasi tahap Menengah, satu ranah di atas Zhou Yu.
"Heh, Petani. Mari kita lihat apakah keberuntunganmu masih ada hari ini," ejek Chen sambil memberi isyarat kepada empat orang temannya untuk mengepung Zhou Yu.
Zhou Yu menggenggam pedang kayunya. Ia tahu ini bukan tanding biasa. "Da Ge, Ling'er, tetap di belakangku," perintahnya.
Namun, instruksi itu diabaikan oleh kelompok Chen. Mereka menyerang secara bersamaan. Zhou Yu bergerak dengan lincah, menggunakan teknik Arus Pemecah Karang untuk menangkis tiga serangan sekaligus. Suara benturan kayu terdengar nyaring. Namun, perbedaan kekuatan ranah mulai terasa. Chen mengalirkan Qi secara ilegal ke pedang kayunya, membuatnya sekeras baja.
Prak!
Pedang kayu Zhou Yu retak. Dalam satu momen yang krusial, kaki Zhou Yu disapu oleh salah satu kaki tangan Chen, membuatnya terjatuh. Saat ia mencoba bangkit, empat pedang kayu menghantam punggung dan pundaknya secara bertubi-tubi.
"Berhenti!" teriak Da Ge sambil menerjang maju untuk membantu. Namun, Da Ge segera dihadang oleh dua murid elit lainnya yang lebih kuat. Da Ge berjuang seperti singa, namun sebuah pukulan telak mendarat di tengkuknya, membuatnya jatuh tersungkur dan pingsan seketika.
"Da Ge!" Ling'er berteriak, ia mencoba berlari mendekat, namun ujung pedang kayu Chen yang tajam menyayat lengan kecilnya hingga berdarah. Ling'er terjatuh, memegangi lengannya yang terluka.
Melihat Ling'er terluka, Zhou Yu menggeram. Ia hampir mencoba membangkitkan energi Han Shui, namun roh pedang itu tertahan oleh formasi penekan yang dipasang di lapangan akademi. Zhou Yu dikeroyok habis-habisan. Ia tidak menyerah, ia bangkit berkali-kali hanya untuk dijatuhkan kembali. Darah mulai mengalir dari sudut bibirnya, tubuhnya biru lebam.
"Cukup!" Instruktur Qin akhirnya berteriak setelah Zhou Yu tidak lagi mampu berdiri. Kelompok Chen tertawa puas sambil meludah ke arah Zhou Yu yang terkapar. "Itu pelajaran untuk orang dusun yang tidak tahu tempatnya."
Malam jatuh dengan sunyi yang menyakitkan. Di dalam asrama mereka yang redup, Zhou Yu berbaring dengan napas tersengal. Da Ge masih belum sadarkan diri di ranjang sebelah, meski napasnya sudah mulai stabil.
Ling'er duduk di samping Zhou Yu, matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Dengan tangan yang masih dibalut kain tipis akibat luka sayatan tadi, ia memeras handuk basah dan mulai membersihkan luka-luka di tubuh Zhou Yu.
"Maafkan aku, Kak Yu... aku tidak berguna. Aku tidak bisa melindungimu," isak Ling'er. Air matanya jatuh menetes di luka sayatan akibat gesekan pedang kayu di dada Zhou Yu.
Zhou Yu meringis menahan sakit, namun ia memaksakan diri untuk tersenyum. Ia meraih tangan Ling'er, menggenggamnya dengan lemah. "Jangan bicara begitu... melihatmu terluka adalah kegagalan terbesarku. Maafkan aku karena belum cukup kuat."
Ling'er menggeleng kuat-kuat. Ia mengambil botol kecil berisi minyak obat yang ia buat dari ramuan Desa Harapan. Dengan penuh ketelatenan, ia mengolesi setiap luka lebam di tubuh Zhou Yu. Setiap sentuhan tangannya membawa kehangatan yang perlahan-lahan meredakan rasa perih di tubuh Zhou Yu.
Suasana menjadi sangat dramatis saat cahaya bulan masuk melalui jendela, menyinari wajah mereka berdua. Di tengah kekalahan yang memalukan ini, ikatan mereka justru terasa semakin mengeras seperti baja.
"Kak Yu, berjanji padaku... kita akan membalas mereka suatu hari nanti," bisik Ling'er sambil menyandarkan kepalanya di dada Zhou Yu yang kini sudah terbalut perban.
Zhou Yu mengangguk, matanya menatap langit-langit dengan tekad yang dingin. "aku pasti akan menjadi lebih kuat, Ling'er. Jika Pembentukan Fondasi tidak cukup, aku akan mencapai Transendensi. Jika itu tidak cukup, aku akan menembus Ranah Dewa. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu."
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dalam keheningan yang dalam. Ling'er tetap memeluk Zhou Yu dengan hati-hati, menjaga agar tidak menekan lukanya. Rasa sakit di tubuh Zhou Yu perlahan sirna, digantikan oleh kedamaian yang hanya bisa diberikan oleh wanita yang dicintainya. Di kejauhan, suara gemericik air sungai terdengar seperti janji alam semesta bahwa setelah badai ini, matahari akan terbit dengan kekuatan yang lebih besar.
Mereka tertidur dalam pelukan satu sama lain, berbagi mimpi tentang kemenangan yang tertunda dan rumah yang menanti di ujung perjalanan mereka. Kekalahan hari ini bukanlah akhir, melainkan api yang membakar jiwa Zhou Yu untuk menjadi legenda yang sesungguhnya.
...Bersambung.......