Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rina
Anya menyesap jus itu perlahan, merasakan kesegaran buah yang membasahi tenggorokannya. Sesaat ia melupakan segala masalah dan rencana yang ada di benaknya. Setelah menghabiskan jus dan memakan beberapa potong buah, Anya merasa sedikit lebih baik.
"Arga, aku mau bicara sesuatu," ucap Anya setelah meletakkan gelas dan piring di meja.
Arga menatap Anya dengan mata berbinar, menantikan kelanjutan kalimatnya.
"Aku mau tidur sendiri, jadi kamu pilih kamar kamu sendiri," ucap Anya tanpa basa-basi. Ia tidak ingin berbagi kamar dengan Arga. Bahkan, ia sudah muak berada satu rumah dengan Arga, apalagi sampai harus tidur bersamanya.
Seketika, wajah Arga yang ceria berubah menjadi muram. "Kenapa? Arga maunya tidur sama Anya," jawabnya dengan nada sedih.
"Aku nggak mau! Kamu sudah besar, jangan manja!" bentak Anya.
Arga menggelengkan kepalanya dengan keras. "Nggak mau! Arga maunya tidur sama Anya! Arga takut kalau tidur sendirian!" air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Anya menghela napas berat. Reaksi seperti ini sudah ia antisipasi sebelumnya. "Jangan bersikap seperti anak kecil, Arga! Pokoknya, malam ini kamu tidur sendiri! Aku nggak sudi tidur sama kamu!" ucapnya dengan nada membentak.
Namun, Arga tidak menghiraukannya. Ia tetap menggelengkan kepalanya dengan keras dan mulai menangis meraung-raung. "Nggak mau! Anya jahat! Anya nggak sayang lagi sama Arga!" teriaknya histeris sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Arga berlari keluar rumah sambil terisak-isak. Anya yang melihat itu merasa sangat jengkel. Awalnya, ia ingin membiarkan Arga pergi dan tidak peduli apa pun yang akan terjadi padanya. Tapi, kemudian ia tersadar bahwa mereka baru saja tiba di lingkungan yang asing. Ia khawatir jika Arga tersesat, ia sendiri yang akan direpotkan nantinya.
Dengan kesal, Anya berlari keluar rumah, mengejar Arga yang sudah berlari cukup jauh. "Arga! Berhenti!" teriak Anya dengan nada tinggi. Ia merasa sangat marah dan frustrasi dengan tingkah Arga yang kekanakan itu.
Namun, Arga tidak menghiraukannya. Ia terus berlari sambil menangis, tidak peduli dengan apa yang dikatakan Anya.
"Anya jahat! Anya nggak sayang lagi sama Arga!" teriaknya di sela-sela tangisan yang memilukan sambil berlari tanpa tujuan.
Dalam keadaan kalut, Arga tidak melihat jalan dengan benar hingga akhirnya ia menabrak seseorang di pinggir jalan yang masih berada di lingkungan perumahan mewah itu.
Kedua orang itu pun jatuh bersamaan dengan suara keras. "Aww," rintih wanita itu, merasakan sakit akibat terjatuh.
"Kamu ini bagaimana sih? Kalau jalan itu pakai mata!" omel wanita itu dengan nada kesal pada Arga.
"Ma..maaf," gumam Arga dengan suara bergetar sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Arga? Ini kamu?" ucap wanita itu, terkejut melihat wajah Arga.
"Kamu... kenal Arga?" tanya Arga dengan bingung. Ia sama sekali tidak mengenali wanita yang ada di hadapannya itu.
Wanita itu tersenyum lebar. "Tentu saja aku kenal kamu, Arga. Kamu nggak ingat? Kita pernah ketemu di hotel waktu itu, pas kamu ditinggal sendirian sama istrimu. Aku Rina," ucap Rina dengan senyum lebar di bibirnya.
Arga terdiam, berusaha mengingat wanita di depannya itu. "Maaf, Arga lupa. Rina," ucap Arga dengan nada tidak enak.
Rina tertawa kecil melihat ekspresi polos Arga. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Arga di tempat seperti ini.
Tentu saja hatinya merasa senang, karena di mata Rina, Arga adalah sosok yang baik hati, ceria, dan masih sangat lugu. Ia juga menyadari bahwa Arga tidak memiliki sifat-sifat yang biasa dimiliki oleh pria dewasa pada umumnya.
"Emm, Arga, kamu kenapa? Kok matanya merah gitu? Habis nangis ya?" tanya Rina dengan nada lembut, karena ia sedari tadi memperhatikan wajah Arga yang tampak sedih.
"Anya jahat, Rina," ucap Arga dengan nada lirih, air matanya kembali menetes. "Anya tidak mau tidur sama Arga. Anya bilang Arga sudah besar dan tidak boleh manja."
"Anya? Ah, benar juga. Hampir lupa kalau Anya itu nama istri Arga." Rina terkejut mendengar curhatan Arga. Ia yakin, Arga menangis pasti gara-gara masalah dengan istrinya itu.
"Ya ampun, Arga. Kok Anya tega banget sih sama kamu?" ucap Rina dengan nada prihatin.
"Eh, tapi kenapa kamu bisa ada di sini, Arga? Apa rumah kamu juga di perumahan ini?" tanya Rina, merasa penasaran dengan kehadiran Arga di sekitar perumahan mewah itu.
"Rumah Arga ada di sana," jawab Arga sambil menunjuk ke arah jalan yang menuju ke rumahnya.
Rina sedikit terkejut sekaligus senang. "Oh, beneran? Wah, kebetulan sekali! Berarti kamu tetangga baru aku dong? Rumahku ada di dekat situ," ucap Rina dengan senyum lebarnya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau malam ini kamu tidur di rumahku saja, Arga?" tawar Rina dengan senyum lembut. "Aku punya banyak mainan dan buku yang seru, siapa tahu bisa bikin kamu lupa sama masalah kamu."
Sepertinya Rina sama sekali tidak menganggap Arga sebagai suami orang. Ia memperlakukan Arga seperti anak kecil yang masih polos. Entah apa maksud dari tawaran Rina itu, tapi yang jelas, itu sudah sangat tidak pantas. Bagaimanapun juga, Arga adalah pria dewasa yang sudah beristri.
Arga menatap Rina dengan ragu. Ia ingin menerima tawaran itu, tapi di sisi lain, ia juga takut Anya akan marah jika ia tidak pulang.
Tiba-tiba, suara Anya terdengar memanggil-manggil nama Arga dari kejauhan. "Arga! Arga, kamu di mana?" teriaknya dengan nada cemas.
Mendengar suara Anya, Arga langsung panik. Ia takut Anya akan marah besar. "Rina, Arga harus sembunyi!" bisiknya dengan nada cemas.
Rina menyunggingkan senyum licik, "Nggak ada waktu buat sembunyi, lebih baik kita kabur aja!" ajak Rina sambil menarik tangan Arga dan berlari sekencang-kencangnya.
Dari kejauhan, Anya dapat melihat dengan jelas punggung Arga yang sedang berlari sambil bergandengan tangan dengan seorang wanita.
"Arga! Jangan lari!" teriak Anya sambil berusaha mengejar Arga yang semakin menjauh.
Rina terus menarik tangan Arga, membawanya berlari semakin jauh hingga jantungnya berdebar kencang. Arga merasa bingung dan takut, ia tidak Tahu ke mana Rina akan membawanya pergi.
Anya terus berlari sekuat tenaga, memaksakan dirinya untuk mengejar Arga dan wanita itu. Namun, semakin lama mereka berlari semakin cepat, membuat Anya kehabisan tenaga dan mulai tertinggal jauh.
"Awas saja kamu, Arga!" ancam Anya sambil berlari dengan napas yang memburu.
Sementara itu, kondisi Arga juga tidak jauh berbeda. Ia merasa tubuhnya sudah remuk dan ingin segera berhenti berlari. "Arga capek, Rina. Arga mau istirahat," ucap Arga dengan napas yang tersenggal-senggal.
"Kamu mau Anya sampai nemuin kita dan marah-marah sama kamu?" tanya Rina, mencoba memprovokasi.
Arga merasa tubuhnya sudah benar-benar menyerah. Paru-parunya terasa sesak dan kekurangan oksigen. Ia akhirnya memilih untuk menghentikan langkahnya. "Arga sudah tidka kuat! Arga menyerah," ucapnya pasrah kemudian terduduk lemas di tepi jalan.
Rina menatap Arga dengan tatapan kesal. "Arga, ayolah! Kamu itu cowok, jangan lembek gitu! Ayo bangun sekarang, kita harus cari tempat sembunyi biar Anya nggak nemuin kita!" ucapnya dengan nada membentak.
Berbanding terbalik dengan Rina, tubuh Arga justru terasa sangat lemas dan tidak berdaya. Ia sama sekali tidak punya tenaga untuk berlari lagi. Tulang-tulangnya seolah sudah remuk dan tidak bisa digerakkan.
Arga menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Arga nggak mau, Arga udah nggak kuat," ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar.
Di saat yang bersamaan, Anya akhirnya berhasil menemukan mereka. Ia melihat Arga yang sedang terduduk tak berdaya di tepi jalan dengan ekspresi wajah yang sangat kelelahan. Sementara wanita itu berdiri di samping Arga sambil menatap Arga.