Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 Suster Siska
Suster Siska sangat terkejut setelah mendengar penuturan mbok Surti. Mbok Surti telah mengatakan tentang kondisi rumah tangga Aldo dan Sari yang kurang harmonis dan rukun. Mbok Surti juga telah mengatakan bahwa walaupun Aldo telah menikahi Sari namun cinta Aldo terhadap Hana tak akan pernah goyah.
Siska: "Pak Aldo mencintai Hana, tapi ia tetap menghianati Hana. Aku benar-benar tidak mengerti dengan hati pak Aldo." ucapnya sambil menatap wajah mbok Surti dengan penuh keheranan.
Mbok Surti: "Aku sama denganmu, suster. Aku juga tidak mengerti dengan tuan." ucapnya dengan wajah yang cemberut.
Siska: "Apakah kamu pernah melihat Hana, mbok? Apakah Hana cantik?" tanyanya dengan rasa penasaran. Mbok Surti menatap suster Siska, ia tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
Mbok Surti: "Hana sangat cantik, suster. Ia beberapa kali pernah datang ke sini untuk mencari nyonya." ucapnya dengan rasa kagum. "Ia putih, hidungnya mancung, tinggi dan kedua matanya bulat bersinar." ucapnya sambil menutup kedua matanya dan membayangkan wajah Hana dalam pikirannya.
Siska: "Pak Aldo tega meninggalkan wanita secantik Hana, ya." ucapnya dengan heran.
Mbok Surti: "Aku juga tidak tahu, suster. Namanya juga laki-laki, sangat pandai mempermainkan wanita." ucapnya dengan kesal. "Sebaiknya kamu masuk lagi ke kamar Anita, suster. Nyonya bisa marah jika melihat kita berdua bergosip." ucapnya dengan pelan sambil menatap ke arah pintu kamar Sari yang masih tertutup.
Siska: "Iya, mbok. Aku akan ke kamar melihat Anita." ucapnya sambil tersenyum kecil. Suster Siska membalikkan badannya dan melangkah dengan terburu-buru masuk ke dalam kamar Anita. Suster Siska menatap bayi Anita yang masih tertidur dengan pulas, ia merasa iba pada nasib Anita yang terlahir cacat karena kesalahan kedua orang tuanya. Suster Siska lalu duduk di tepi ranjangnya yang berukuran sedang, ia semakin tertarik dan penasaran dengan keadaan rumah tangga Aldo dan Sari.
Siska: "Pak Aldo menikahi ibu Sari, tapi ia tidak mencintainya seperti ia mencintai istri pertamanya. Ini adalah hal yang aneh, pak Aldo pria yang sangat tampan, ia tinggi dan bertubuh kekar." ucapnya lirih dengan rasa kagum. Diam-diam suster Siska mulai mengagumi dan memuji ketampanan Aldo. Suster Siska adalah seorang janda muda, namun ia tidak mempunyai anak. Mantan suaminya seorang guru sekolah, namun telah meninggal 3 tahun yang lalu karena mengidap penyakit jantung.
"Drak." Siska mendengar suara pintu yang ditutup keras dari kamar Sari.
Aldo: "Sudahlah, Sari. Kamu selalu memperbesar masalah." bentaknya sambil berjalan keluar dari dalam kamarnya. Sari mengikuti Aldo dari belakang, wajahnya tampak tegang karena menahan emosi. Sari masih memegang foto Hana yang berukuran segiempat itu di tangan kanannya.
Sari: "Aku akan merobek foto ini sekarang, mas." ucapnya sambil menahan emosi. Sari menatap wajah suaminya dengan penuh kebencian, ia memegang foto Hana dengan erat dan merobeknya di depan Aldo.
Aldo: "Apakah kamu puas sekarang, Sari?" tanyanya pelan namun dengan perasaan tertekan. "Itu hanya selembar foto lama kami saat masih sama-sama kuliah. Nama Hana akan tetap tersimpan selamanya di dalam hatiku." ucapnya pelan dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu tidak akan pernah bisa sehebat Hana. Kamu memiliki tubuhku, tapi tidak dengan hatiku." ucapnya dengan pelan namun tegas. Hati Sari semakin panas mendengar pernyataan dan pengakuan Aldo, walaupun Aldo telah memilihnya bukan berarti Aldo mencintai Sari dengan sepenuh hati. Aldo juga sangat kecewa dengan sikap Sari yang tidak pernah mau memahami isi hatinya.
Sari: "Sikapmu sangat keterlaluan, mas. Aku akan balas sakit hatiku ini pada orang yang kamu sayangi." ucapnya pelan namun dengan penuh dendam.
Aldo: "Apa maksud perkataan kamu, Sari? Kamu akan balas dendam pada siapa?" tanyanya dengan cemas.
Sari: "Kamu lihat saja nanti, mas." ucapnya dengan rasa sakit hati. Sari melangkah masuk ke dalam kamarnya sambil menahan rasa cemburunya terhadap Hana. Hatinya hancur dan sakit dengan perlakuan Aldo terhadap dirinya.
Aldo menghela nafas berat, ia menatap ke arah pintu kamar putrinya. Aldo melangkah pelan sampai ke depan pintu kamar Anita.
"Tok... Tok." Aldo mengetuk pintu kamar itu dengan pelan, suster Siska membukakan pintu dari dalam.
Siska: "Pak Aldo." ucapnya pelan.
Aldo: "Aku ingin melihat putriku, suster." ucapnya pelan sambil melangkah masuk ke dalam kamar Anita.
Siska: "Anita masih tertidur, pak." sahutnya sambil menoleh ke arah Anita yang terbaring dengan pulas.
Aldo: "Apakah ia sudah lama tidur?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Siska: "Lumayan lama, pak." sahutnya sambil tersenyum kecil. Jantung Siska berdebar kencang saat menatap kedua mata Aldo. Suster Siska tidak menyangka bisa berdiri di samping Aldo di dalam kamar Anita.
Aldo: "Kamu tetap menjaga rahasia Anita, kan?" tanyanya pelan sambil menatap wajah suster Siska dalam-dalam.
Siska: "Iya, pak. Bu Sari belum tahu tentang keadaan Anita yang sebenarnya." ucapnya dengan gugup.
Aldo: "Mengapa kamu kelihatan gugup, suster?" tanyanya dengan heran. "Apakah kamu takut denganku?" tanyanya lagi dengan rasa penasaran. Siska terdiam, ia menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap mata Aldo. "Apakah kamu mendengarku, suster?" tanyanya sambil menatap wajah Siska dalam-dalam. Suster Siska mengangkat wajahnya secara perlahan, ia memberanikan diri menatap kedua mata Aldo yang bersinar.
Siska: "Maafkan saya, pak. Saya hanya takut jika bu Sari masuk ke kamar ini." ucapnya pelan.
Aldo: "Kamu tidak perlu merasa takut, suster Siska. Aku hanya datang untuk melihat putriku saja." ucapnya. Aldo tersenyum tipis kepada Siska, jantung suster Siska kembali berdetak kencang saat Aldo menatapnya.
Siska: "Anita akan terbangun saat tengah malam nanti, pak. Bayi biasanya seperti itu." ucapnya dengan penuh keyakinan.
Aldo: "Aku tahu, suster. Aku pernah memiliki bayi sebelum Anita." ucapnya sambil tersenyum kecil. "Istirahatlah, suster. Kamu akan repot saat tengah malam nanti." ucapnya dengan penuh perhatian. Aldo melangkah keluar dari ruangan kamar putrinya, suster Siska masih berdiri sambil menatap kepergian Aldo.
Siska: "Kenapa jantungku berdetak kencang saat pak Aldo berdiri di sampingku, ya. Apakah karena aku baru melihat pria tampan lagi?" tanyanya pada diri sendiri. "Aku akui jika pak Aldo sangat tampan. Wajar saja jika bu Sari terobsesi dengan pak Aldo. Istri pertamanya sangat beruntung karena telah memiliki hati pak Aldo seutuhnya." ucapnya lirih. Suster Siska mengagumi ketampanan Aldo, namun Siska berusaha menahan dirinya agar tidak jatuh cinta pada Aldo karena Siska berpikir akan berurusan dengan Sari.
Siska: " Aku tidak ingin berurusan dengan bu Sari, namun aku penasaran dengan pak Aldo. Aku akan merasa bangga jika berhasil membuat pak Aldo melupakan istri pertamanya." gumannya.
Apakah Siska akan menggoda Aldo?
************************************