Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.
Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.2. A Body Rejected by the World
Di sisi lain, dari arah yang jauh.
Pria tua dan wanita muda berdiri berdampingan di atas bangunan, menatap langit yang cerah di hiasi awan.
“Apa anda juga merasakannya?” kata wanita di sebelahnya.
“Ya, pilar-pilar penyanggah mulai rapuh. Dan aliran bergejolak tak beraturan” sahut pria tua itu.
Mereka berdua menghilang menjadi bayangan dan pergi terbawa angin.
.
.
.
Di ruang kamar, Theo tertidur di kasur dan sekelilingnya ada beberapa orang yang mamasang wajah cemas.
“Bagaimana ini, kenapa dia belum juga membuka matanya” kata perempuan yang memegang tangan Theo.
“Bukankah tadi katamu dia sudah sadar?” kata pria di sebelahnya.
“Eirene... Apa yang terjadi saat kamu menemukan adikmu tadi?” tanya pria itu pada anak kecil di depan ranjang.
Anak itu tidak menjawab, hanya menatap Theo dengan rasa penasaran yang aneh.
“Aku rasa dia berubah,” ucap Aurelia tiba-tiba.
Membuat semua orang di sana menatapnya. Tapi belum sempat menanyakan maksud dari perkataannya, terdengar suara dari Theo.
“Ugh,” Theo mencoba membuka mata.
“Theo,” ucap wanita itu, dengan panik menggenggam tangan Theo.
Theo mulai membuka mata secara perlahan, mecoba menyesuaikan pandangannya denga cahaya. Lalu dia bingung dengan suasana di depannya, dan mencoba bangun dari tidurnya.
“A-apa yang terjadi?” ucap Theo, kepala masih terasa sakit.
“Hei, bocah cengeng. Apa kau memang selemah ini? Padahal sudah tidur selama seminggu dan kau sekarang tidur lagi” ucap pria itu pada Theo.
Theo yang mendengarnya, hanya bisa menatp pria itu.
Dan ingatan tentangnya muncul.
‘Regnar Ashvale, dia ayah tubuh ini dan sang kaisar’ Theo membatin, lalu menoleh ke sebelahnya. ‘Elowen Ashvale, Ibu sekaligus sang permaisuri’ dan Theo mengalihkan padangannya pada anak perempuan di depannya, tapi pandangannya masih buram.
“Apa kau tak bisa bicara hal baik pada anakmu?” ucap Elowen pada Regnar, ekspresinya kesal.
“Apa kamu tak apa, nak?” tanya Elowen pada Theo.
Theo hanya mengangguk.
Eirene yang sedari tadi diam tiba-tiba beranjak pergi tanpa mengatakan apapun. Mereka yang melihat itu hanya diam.
“Baiklah kalau kau sudah sadar, aku akan pergi” kata Regnar, melangkah pergi.
Mereka berdua tidak mempedulikan itu.
“Apa kamu butuh sesuatu Theo” tanya Elowen.
KRUUUKKK
Tiba-tiba suara perut dari Theo terdengar.
“Apa boleh aku minta makan?” tanya Theo, tersenyum canggung.
Elowen tersenyum. “Tentu saja kamu bisa makan apapun yang kamu mau, tunggu di sini aku akan menuruh para pelayan menyiapkan makan untukmu,” kata Elowen mengusap kepala mungil Theo lalu berjalan keluar kamar.
Setelah melihatnya pergi, Theo langsung bangkit dari kasurnya lalu meregangkan badannya.
“Apa-apaan itu tadi, tulang-tulangku seperti patah semua, dan...” Theo merasakan tubuhnya sedikit berubah. Theo mengambil napas panjang, mulai memfokuskan dirinya untuk memeriksa tubuhnya. Udara di sekitarnya langsung berubah, ada sesuatu yang tertarik ke dalam tubuh Theo tapi hilang dengan cepat.
“Ugh,” Theo mengerang. “Tubuh macam apa ini, sangat sulit mengumpulkan mana.”
Lalu Theo mengatur napasnya lagi, mecoba menarik sesuatu yang lain. Kekuatan murni terserap pada tubuhnya. Wajah yang nampak pucat berubah lebih segar dengan cepat.
Dia membuang napas panjang, “Untungnya untuk saat ini aku bisa menyerap energi alam, tapi itu belum cukup.” Theo menggaruk kepalanya dengan kesal, “Sial, sebenarnya apa-apaan ini.”
[TING]
“Selamat tuan Theo, anda berhasil untuk membuat pondasi awal dalam kekuatan.”
Mendengar suara itu The menjadi semakin kesal.
"Hei, Lily...” ucap Theo. “Kurasa sekarang sudah waktunya kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini,” sambung Theo.
[TING]
“Mohon maaf tuan, untuk saat ini saya tidak bisa menjelaskan apapun karena autoritas anda belum mencukupi”
[TING]
“Untuk saat ini, saya cuma bisa memberitahu keadaan anda sekarang. Anda sekarang berada di tubuh tuan muda Theodore Ashvale, anak dari....”
“Aku sudah tahu itu, tidak perlu penjelasan tentang itu,” potong Theo cepat.
[TING]
“Tidak pernah berubah.”
“Apa katamu?” hardik Theo kesal.
“Mohon maaf tuan muda Theo,” Ucap seseorang.
Theo menoleh, seorang pelayan berdiri membawa kereta dorong berisi penuh dengan makanan.
“Hamba mengantar makanan untuk tuan muda,” kata pelayan itu.
“Ah, baiklah terima kasih,” ucap Theo.
Pelayan itu tak langsung pergi, masih menatap Theo dengan tatapan bingung.
“Ada apa?” tanya Theo
[TING]
“Saya rasa dia menganggap anda gila tuan.”
“Ah, mohon maaf atas kelancangan hamba tuan. Hamba cuma penasaran, kenapa sedari tadi anda berbicara sendiri?” tannya pelayan itu, menatap Theo khawatir.
“Bicara sendiri? Tidak, aku dari tadi berbicara dengan sis—” kata-kata Theo terpotong, menyadari sesuatu.
“Apa kau dari tadi tidak mendengar sesuatu?” tanya Theo ke pelayan itu.
Pelayan itu hanya menggeleng, perasaannya mulai takut. Theo memijat pangkal hidungnya, perasaannya sangat kesal sekarang.
“Tidak usah terlalu di pikirkan, kau bisa pergi sekarang. Tinggalkan makanan itu di sana” suruh Theo, pelayan yang takut hanya menurut dan pergi.
“Apa tak ada yang bisa mendengarmu selain aku?” tanya Theo.
[TING]
“Benar tuan, saya hanya di rancang untuk anda. Jadi makhluk lain selain anda tidak bisa mendengar atau merasakan kehadiran saya.”
“Tapi kau tak bisa menjelaskan siapa yang merancang ini kan?” tanya Theo lagi, perasaaan kesal yang menumpuk hampir meledak.
[TING]
“Benar tuan.”
Theo mengambil napas panjang, lalu membuangnya perlahan.
“Baiklah,” ucap Theo. “Sekarang apa yang bisa kau jelaskan padaku?” tanya Theo, dia berjalan kearah kereta dorong lalu memakan makanan yang ada di sana.
[TING]
“Saat ini tuan berada di dunia bernama Aurelion”
“Aurelion? Aku pernah mendengar nama itu”
[TING]
“Benar tuan itu adalah dunia di lapis ke empat, dunia makhluk fana. Keadaan di sini sangat berbeda dengan yang lain”
“Apa maksudmu?” tanya Theo.
[TING]
“Dunia Aurelion saat ini sedang berada pada ambang kehancuran, karena Mana dunia ini sedang kacau. Dan karena kehadiran tuan, mana dunia ini semakin kacau.”
“Bukan aku yang masuk ke dunia ini, tapi kau yang mengirimku ke dunia ini. Apa itu juga salahku?” seru Theo, menjadi kesal lagi mendengar itu.
[TING]
“Bukan saya yang mengirim anda ke dunia ini tuan, dan ada alasan kenapa anda harus di kirim ke dunia ini.”
“Apa? Apa mereka menyuruhku menjadi pahlawan dunia ini?”
[TING]
“Karena mereka berdua juga berada di dunia ini tuan.”
Theo menghentikan makannya.
“Mereka berdua?” ucap Theo, dia tersenyum setelah mendengar itu. “Lalu dimana mereka sekarang?” tanya Theo antusias.
Lily hanya diam.
“Kau juga tak bisa menjawab itu? Lalu apa kegunaanmu Lily,” Theo menjadi semakin kesal.
[TING]
“Saya di sini untuk membuat tuan bisa menjadi kuat dengan cepat. Dan juga menjaga tuan.”
“Menjagaku? Apa maksudmu?”
[TING]
“Saya tidak bisa menjawab itu sekarang, tapi saat tuan menjadi kuat, anda akan bisa menjawab itu semua”
“Sialan, banyak sekali yang kau simpan.” ucap Theo kesal.
Lalu dia berjalan mendekat ke jendela, melihat ke arah luar, langit yang terbentang luas.
“Jadi aku harus menjadi kuat ya?” Theo tersenyum. “Bukankah itu hal mudah.”
[TING]
“Tapi jangan lupa tuan, tubuh anda di rancang bisa meledak kapanpun kalau anda salah dalam melakukannya.”
“Eh, apa yang salah dengan tubuh ini? Bukankah tubuh kosong ini memang di rancang untukku?” tanya Theo.
[TING]
“Benar memang tubuh itu memang di rancang untuk anda, tapi jenis tubuh itu tumpang tindih dengan kekuatan yang ada di dunia ini.”
“Jenis tubuh? Memang jenis tubuh macam apa yang kudapat ini?” Theo merabah seluruh tubuhnya.
[TING]
“Zero Vessel”
Theo tertegun, dia diam sebentar di posisinya.
“Tubuh kekosongan?” tubuhnya gemetar, tapi senyum lebar terlukis di wajahnya.
.