Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhenti Menyakitiku!
"Dia... Tante Sisca, ayo, Dicky sapa!" Setyo meminta Sisca mendekat agar bisa berkenalan dengan Dicky.
Dengan senyum yang dipaksakan, Sisca mau memperkenalkan dirinya. Dicky terus menatap Sisca, entah mengapa hatinya tidak menyukai perempuan yang bersikap sangat lembut pada Papanya tersebut.
"Mama mana?" tanya Setyo. Ia tak melihat Tasya sejak tadi.
"Mama kerja, Pa," jawab Dicky dengan polosnya.
"Kerja?"
"Iya, Mama bilang, kalau tidak kerja, Mama tak bisa membayar kamar rawat ini," jawab Dicky.
"Kerja apa sampai bisa membayar kamar semahal ini?" cibir Sisca.
Setyo langsung memberikannya tatapan tajam pada Sisca yang seenaknya saja berbicara. Ia tak mau Dicky mendengar apa yang Sisca katakan.
Setyo lalu mengajak Dicky mengobrol. Mereka membahas banyak hal, mulai dari film sampai mainan. Sisca menunggu dengan menahan sebal. Ia terpaksa harus menjadi calon istri yang pengertian pada pasangannya.
Sisca beberapa kali nampak melirik jam tangan mahalnya, lalu menghela nafas. Ia merasa bosan. Aroma rumah sakit dan celoteh Dicky membuatnya sebal. Ia ingin pulang namun Setyo tak juga paham isyaratnya.
Sisca yang kesal terus menunggu, akhirnya menyuarakan keinginannya. "Mas, sudah satu jam kita di sini. Kapan kita pulang? Tante Welas ingin kita makan malam bareng."
"Sebentar lagi ya, Sis." Setyo juga ingin cepat pulang namun ia menunggu Tasya datang. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan.
Sisca menghela nafas lagi. Ia menekuk wajahnya.
Tak lama kemudian, pintu kamar Dicky terbuka. Tasya melangkah masuk ke dalam dengan wajahnya yang lelah sehabis bekerja. Langkah Tasya melambat kala melihat siapa yang tengah duduk di sofa, asyik memakan anggur yang sengaja ia belikan khusus untuk Dicky. Tasya tak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya pada Sisca, ingatan tentang percintaan panas mereka kembali berputar di kepalanya, membuat hatinya kembali panas.
"Mama!" Dicky berseru senang melihat Tasya.
Tasya berusaha menguasai dirinya. Ia mendekati Dicky, mengacuhkan tatapan sinis Sisca terhadapnya. "Rupanya ia tak lagi menyembunyikan siapa dirinya setelah berhasil mendapatkan Mas Setyo," batin Tasya.
"Sudah lama, Mas?" tanya Tasya berbasa-basi.
"Sekitar satu jam lalu." Setyo terus mengamati Tasya. Tak dipungkiri, istrinya memang semakin cantik semenjak bekerja menggunakan baju bebas, bukan seragam karyawan gudang seperti dulu.
Setyo menepis kekagumannya. "Sya, bisa kita bicara?"
Tasya menoleh, menatap Setyo dengan tatapan bingung. Pak Dino mengatakan kalau ia sedang mengurus surat perceraiannya, seharusnya Setyo belum tahu kalau ia sedang mengajukan gugatan. Lantas, apa yang mau Setyo bicarakan?
"Oke. Kita bicara di luar saja." Tasya menyetel film kartun agar Dicky tidak rewel. "Mama mau bicara dulu sama Papa ya, Sayang."
"Iya, Ma."
Tasya mendorong kursi roda Setyo sampai keluar ruangan. Ia sengaja mencari tempat yang agak sepi. "Ada apa, Mas?"
"Sya, aku mau tanya, aku minta kamu menjawabnya dengan jujur." Setyo menatap Tasya dengan tajam. "Mengenai kamar perawatan Dicky. Kamu menempatkannya di ruang VIP. Kita semua tahu berapa biaya per malam untuk kamar VIP."
"Lantas? Aku tak boleh memberikan perawatan terbaik untuk Dicky?" balas Tasya.
"Uang darimana kamu untuk membayar semua itu? Biaya operasi yang mahal, biaya perawatan selama di ruang NICU dan kini kamar rawat VIP. Besar sekali gaji bulananmu sampai bisa membayar semua itu?" Setyo menatap Tasya dengan tatapan penuh selidik.
Tasya sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti ini. "Bukankah sudah kukatakan sebelumnya kalau aku meminjam di kantor?" balas Tasya.
Setyo tertawa kecil. "Tasya... Tasya. Kamu mau membohongi siapa? Anak kecil? Yang mau kamu bohongi itu aku, Sya. Aku bukan orang bodoh. Aku ini mantan manager perusahaan. Tak bisa semudah itu kamu bohongi. Perusahaan mana yang mau meminjamkan uang untuk pengobatan karyawannya, sampai membiayai kamar VIP? Perusahaanmu atau selingkuhanmu?"
Deg!
"Mas!" Wajah Tasya memerah karena marah.
"Apa?
"Tak usah Mas pikirkan darimana aku mendapat uang untuk pengobatan Dicky!" Tasya mencoba mengendalikan dirinya.
"Kenapa? Karena Mas kini lumpuh? Tak mampu membiayainya lagi, begitu?" Setyo terus memancing emosi Tasya.
Tasya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum sinis. "Memang sejak awal, Mas tidak mau membiayainya, bukan?"
Setyo baru saja hendak membuka mulutnya ketika Tasya kembali mengatakan isi hatinya. "Mas lupa, saat Dicky koma di rumah sakit, Mas malah menyarankan untuk menitipkan Dicky di panti asuhan karena Dicky bukan anak kita?"
Setyo merasa tertohok dengan perkataan Tasya. "Itu... karena Mas tak tahu kapan ia akan sadar-"
"Mas bahkan mengatakan kalau keadaan Dicky mungkin akan lebih parah dari keadaan Mas saat ini, lupa?" balas Tasya sebelum Setyo menyelesaikan ucapannya.
"Tidak... Mas tidak lupa. Waktu itu, Mas hanya putus asa. Keadaan Mas seperti ini, jangankan untuk membiayai Dicky, untuk terapi Mas saja Ibu yang-"
Tasya memotong lagi ucapan Setyo sebelum ia menyelesaikannya. "Aku kerja keras demi Dicky, Mas. Apapun akan kuberikan untuknya."
"Tapi uang dari mana? Dari selingkuhanmu itu? Laki-laki yang membuatmu tertawa saat kalian sedang ke luar kota?" Balas Setyo.
"Bukan urusanmu aku dapat uang darimana. Yang pasti, pengobatan Dicky bisa kuatasi," balas Tasya.
Setyo tersenyum mengejek. "Secara tidak langsung, kamu mengakui kalau uang yang kamu dapatkan untuk mengobati Dicky bukan uang yang berasal dari jalan yang benar."
"Kukatakan sekali lagi, Mas. Bukan urusanmu!" kata Tasya dengan tegas.
"Jelas urusanku, Sya. Kamu itu masih istriku. Aku tak akan tinggal diam jika kamu berselingkuh di belakangku!" Wajah Setyo memerah karena emosi.
"Selingkuh?" Tasya gantian yang tersenyum mengejek. "Yakin aku yang selingkuh?"
"Jelas. Kamu yang selingkuh. Tak mungkin ada orang baik hati yang akan membiayai anak orang lain dengan pengobatan super mewah tanpa ada embel-embel yang diberikan. Kamu berikan apa sebagai bayarannya? Tubuhmu? Hah?" Ucapan Setyo semakin tajam saja dan menyakitkan. Seakan dia adalah makhluk paling suci dan paling benar di dunia ini.
"Cukup, Mas. Berhenti menyakitiku!"
"Kenapa? Karena ucapanku benar? Karena kamu memang berselingkuh dengan laki-laki itu sejak lama? Hanya karena uang? Picik sekali hati kamu, Sya! Setelah Mas cacat karena menuruti keinginanmu untuk jalan-jalan, kamu pergi meninggalkan Mas dengan alasan uang. Kini kamu berselingkuh dengan lelaki lain dan kamu sekarang merasa sok hebat? Mas tak menyangka, semua yang Ibu katakan tentangmu benar adanya. Mas pikir, selama ini Ibu salah paham tapi ternyata apa yang Ibu katakan semua benar." Setyo terus mencecar Tasya.
Kesabaran Tasya sudah sampai batasnya. "Ibu memang selalu benar di matamu, Mas. Aku yang selalu salah. Aku yang tak pernah benar menjadi istri. Itu yang selalu Ibumu katakan sejak kita menikah. Kamu tahu apa alasan kita tidak bahagia? Karena Ibumu yang selalu mengusik rumah tangga kita. Selalu mencampuri apa yang kita lakukan dan semua keputusan kita, tergantung pada Ibumu. Sekarang kamu mengatakan kalau aku selingkuh? Jangan sok suci, Mas. Kamu tak lebih baik dariku!"
"Jelas aku lebih baik darimu, Sya!" Setyo juga termakan emosi.
"Kamu juga-"
Belum selesai Tasya berbicara, seorang pria tampan datang mendekat.
"Sya, dimana kamar Dicky? Boleh aku menemuinya?"
****
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
ehhhh siapa tuh cewek ujug2 minta transferan
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
apakah itu Radit yg datang yaaa uhhhh.makin panas dong
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
dicky tentu kau sangat menyayangi papamu...
Sisca kesempatan terus ngompor2in Setyo
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️