Dion Arvion, siswa SMA lemah yang setiap hari menjadi korban penindasan, hidup dalam keputusasaan hingga sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, uang, kekuatan, dan pengaruh mengalir tanpa batas dalam hidupnya. Dion yang dulu diinjak kini bangkit menjadi sosok mengerikan yang siap membalikkan keadaan.
Kini, dunia yang pernah merendahkannya akan dipaksa tunduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Sore merambat pelan, di depan gerbang SMA Cahaya Senja.
Cahaya matahari condong ke barat, menyapu aspal dan pagar besi sekolah dengan warna keemasan yang hangat. Hiruk-pikuk pulang sekolah mulai mereda, menyisakan langkah-langkah murid yang berjalan sendiri atau berkelompok kecil.
“Dion…” suara Barra terdengar pelan.
Dion menoleh. “Hm?”
“Terima kasih,” lanjut Barra, sopan, nyaris canggung. Wajahnya masih menyisakan lebam samar, jejak kejadian pagi yang belum sepenuhnya hilang.
“Kenapa kau berterima kasih?” tanya Dion datar, langkahnya tetap tenang.
Barra menghela napas, lalu tersenyum kecil yang terasa kikuk. “Haha… ini benar-benar canggung ya.” Ia menggaruk tengkuknya, seperti seseorang yang belum terbiasa berkata jujur tentang perasaannya. “Aku… ingin mengucapkan sesuatu, tapi rasanya aneh.”
Dion meliriknya sekilas. “Kau ingin bilang kalau aku yang memberimu kekuatan itu, kan?”
Barra terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. “I-iya. Aku tahu ini terdengar mustahil, tapi sejak aku bertemu denganmu… hal-hal mustahil itu terjadi.”
Mereka berjalan berdampingan menuju halte bus di seberang jalan. Angin sore berembus ringan, membawa bau debu dan suara kendaraan yang lalu-lalang.
“Mulai sekarang,” kata Dion akhirnya, suaranya rendah namun tegas, “kau tak perlu terkejut lagi.” Ia menatap lurus ke depan. “Kau teman pertamaku, aku tidak ingin kau terluka dengan mudah lagi.”
Langkah Barra terhenti sesaat. Matanya membesar, lalu meredup oleh rasa haru yang tak ia sembunyikan. “Dion…”
Seketika, sebuah kilau emas muncul di sisi pandangan Dion.
Ding.
[Kesetiaan hubungan pertemanan dengan Barra meningkat: 80%]
Dion sedikit terkejut, meski wajahnya tetap tenang. Ia menoleh ke Barra, lalu tersenyum tipis, jarang, tapi tulus.
“Apa kau tahu, Bar,” katanya ringan, “sekarang kau mulai terkenal. Katanya, kau dijuluki Pengikutku nomor satu karena terus bersamaku, dan bahkan kau viral di internet.”
“Hahaha,” Barra tertawa pelan. “Aku juga dengar rumor itu.” Ia mengangkat bahu. “Tapi anehnya… aku tidak keberatan, malah senang.”
Mereka kembali melangkah, bercakap-cakap santai. Tidak ada lagi jarak canggung, tidak ada rasa takut yang menekan. Hanya dua pemuda yang berjalan berdampingan, bercanda ringan, seolah sudah berteman bertahun-tahun, menuju halte bus, ditemani cahaya senja yang perlahan memudar.
.....
Malam menggantung pekat di langit kota. Di dalam sebuah rumah sakit ternama yang hanya melayani kalangan atas, ruang pasien VIP terasa sunyi dan dingin, dipenuhi dengung halus alat medis.
Di atas ranjang pasien, tubuh Alex, kurus kering, nyaris tak berisi, terbaring tak berdaya. Selang oksigen menempel di wajahnya, dadanya naik turun perlahan, seperti bara api yang hampir padam.
Mordain, Raka, Kevin Halim, Nathan, Gilang, dan Zayn berdiri mengelilingi ranjang itu, wajah mereka tegang, keringat dingin merembes di pelipis.
“Mor… ini sepertinya akibat Serum Tenaga Paksa." ucap Raka pelan, suaranya serak.
Semua menelan ludah. Nama itu saja sudah cukup membuat tenggorokan mereka terasa kering, mereka, keenam orang itu, juga pernah memegang jarum yang sama.
Jarum dengan cairan hitam pekat yang menjanjikan kekuatan instan, dibeli langsung dari pemimpin sebenarnya SMA Cahaya Senja.
“Kau benar,” jawab Mordain lirih sambil membenarkan kacamatanya. “Aku juga tidak menyangka, efek sampingnya akan separah ini.”
Satu per satu, mereka mengeluarkan jarum suntik dari saku masing-masing. Cairan hitam di dalamnya tampak pekat, seolah menelan cahaya lampu ruang rawat.
“Apakah kita akan membuangnya?” tanya Kevin Halim, ragu.
“Kau tahu, harga satu serum ini dua juta rupiah." sahut Zayn cepat.
“Dan, kita dipaksa untuk membelinya." timpal Gilang dengan nada getir.
Tak ada yang membantah. Semua sadar, benda kecil di tangan mereka itu jauh lebih berbahaya daripada kelihatannya.
“Tunggu di sini,” kata Mordain akhirnya. “Aku ingin menelepon seseorang.”
Ia melangkah keluar dari ruang VIP, meninggalkan teman-temannya bersama desis alat medis dan tubuh kurus yang tak bergerak.
Di saat yang sama, jauh di atas gedung, angin malam berembus lembut di Sky Garden dan Lounge terbuka Grand Star Tower. Dion berdiri bersandar di pagar kaca, menatap gedung-gedung dan hamparan lampu kota yang berkilauan seperti lautan bintang jatuh.
Drrrt! Drrrt!
Getaran ponsel di sakunya membuatnya menoleh, ia mengangkat panggilan itu.
“Bos, aku di rumah sakit,” suara Mordain terdengar dari seberang. “Jarum suntik itu bernama Serum Tenaga Paksa, kami mendapatkannya dari pemimpin sebenarnya di SMA Cahaya Senja.”
“Pemimpin sebenarnya?” Dion mengernyit. “Siapa namanya? Aku terus mendengar tentang orang itu.”
“Orang itu adalah...”
Suara di telepon tiba-tiba menghilang.
“Halo? Mor?” Dion menurunkan ponsel sedikit, alisnya mengernyit. “Siapa sebenarnya orang itu?”
“Maaf, Bos,” suara Mordain kembali terdengar, kali ini tegang dan tertahan. “Sepertinya aku tidak bisa menjawabnya sekarang, aku akan menutup teleponnya.”
Tuuut!
Panggilan terputus.
Dion menatap layar ponsel beberapa detik, sebelum memasukkannya kembali ke saku.
“Kenapa tiba-tiba?” gumamnya pelan. “Ada yang tidak beres…”
.....
Di luar ruang pasien VIP rumah sakit itu, suasana berubah drastis.
Mordain berdiri kaku di koridor, menatap sosok di depannya, seorang pria bertubuh tinggi dengan otot padat, bayangannya menelan cahaya lampu lorong.
“Kau… bagaimana bisa kau tahu kami di sini?” tanya Mordain, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
“Apakah benar,” suara pria itu rendah dan dingin, “kau dan yang lain sudah mengkhianatiku?”
Mordain membenarkan kacamatanya, menarik napas dalam. “Hanya aku, mereka tidak tahu apa-apa. Tolong… lepaskan mereka.”
Tanpa peringatan.
Wuuush!
Mordain melesat lebih dulu. Tubuhnya bergerak secepat yang ia bisa, tinjunya mengarah lurus ke wajah pria itu.
“Walaupun aku tahu tidak bisa mengalahkanmu,” gumam Mordain dalam hati, “setidaknya aku akan memukulmu!”
Booom!
Tinju Mordain menghantam, menghasilkan gelombang benturan keras, namun tubuh pria itu bahkan tidak bergeser.
“Apa kau yakin,” ucapnya tenang, “yang kudengar hanya kau seorang?”
Mordain terkejut. 'Sial…! pukulan sekuat itu ditahan dengan mudah…'
“Itu benar,” jawab Mordain cepat. “Setelah rapat itu, mereka semua sudah bubar. Aku sendirian.”
Tatapan pria itu menusuk, seakan menimbang setiap napas dan detak jantung Mordain. Beberapa detik berlalu, terasa seperti selamanya.
Lalu, senyum tipis, dingin, dan menyeramkan terbit di wajahnya.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kau ikut aku.”
Wuuush!
Baaaak!
Satu pukulan menghantam perut Mordain. Tidak keras secara berlebihan, namun cukup. Tubuh Mordain terangkat sedikit, lalu ambruk tak sadarkan diri.
Pria itu meraih tubuh Mordain, membawanya pergi dari lorong rumah sakit yang sunyi, meninggalkan lampu putih, bau antiseptik, dan rahasia gelap yang baru saja terbuka sebagian.
Di kejauhan, monitor pasien terus berbunyi pelan, seolah menjadi saksi bisu bahwa permainan ini sudah melampaui batas sekolah.