NovelToon NovelToon
Saat Mereka Memilihnya Aku Hampir Mati

Saat Mereka Memilihnya Aku Hampir Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Dilarang keras menyalin, menjiplak, atau mempublikasikan ulang karya ini dalam bentuk apa pun tanpa izin penulis. Cerita ini merupakan karya orisinal dan dilindungi oleh hak cipta. Elara Nayendra Aksani tumbuh bersama lima sahabat laki-laki yang berjanji akan selalu menjaganya. Mereka adalah dunianya, rumahnya, dan alasan ia bertahan. Namun semuanya berubah ketika seorang gadis rapuh datang membawa luka dan kepalsuan. Perhatian yang dulu milik Elara perlahan berpindah. Kepercayaan berubah menjadi tuduhan. Kasih sayang menjadi pengabaian. Di saat Elara paling membutuhkan mereka, justru ia ditinggalkan. Sendiri. Kosong. Hampir kehilangan segalanya—termasuk hidupnya. Ketika penyesalan akhirnya datang, semuanya sudah terlambat. Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata maaf. Ini bukan kisah tentang cinta yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menginap

Elara menggulung tubuhnya di atas ranjang, selimut ikut terpilin mengikuti gerakannya. Ia berpindah ke kanan, lalu ke kiri, tapi rasa bosan tetap menempel.

“Bosennn,” keluhnya keras, menatap langit-langit kamar.

Ia mendengus pelan, lalu duduk setengah bersandar. Pandangannya beralih ke ranjang kosong di sebelahnya. Ide itu muncul begitu saja.

“Apa gue ajak Nayomi aja buat nginep di sini?” gumamnya, kali ini dengan nada lebih hidup.

Elara meraba-raba permukaan kasur, mencari ponselnya yang entah tertinggal di mana. Setelah beberapa detik, tangannya menemukan benda itu. Ia langsung membuka kontak dan menekan satu nama tanpa ragu.

Tak lama, panggilan tersambung.

“Halo,” suara Nayomi terdengar malas, seolah baru saja bangun tidur.

“Nay, nginep dong di rumah gue,” ucap Elara tanpa basa-basi.

“Jauh ih rumah lo,” sahut Nayomi cepat. “Lagi mager gue.”

Elara mendengus. “Kok lo gitu sih. Gue lagi bosen banget, nggak ada temen curhat.”

“Curhat apaan sih. Kan bisa lewat HP,” balas Nayomi santai.

Elara terdiam sejenak, lalu senyum licik muncul di wajahnya. “Padahal gue punya blind box macaron di lemari. Isinya enam. Kalau lo ke sini, kita unboxing bareng.”

*hanya contoh saja

Di seberang sana, suasana langsung berubah. “Serius lo punya?” suara Nayomi terdengar jauh lebih bersemangat.

“Iya. Mau nggak?” tanya Elara, sengaja menggoda.

“Yaudah, gue ke sana sekarang,” jawab Nayomi cepat, disusul tawa keras yang memenuhi panggilan.

“Berisik banget ketawa lo. Kayak kuntilanak,” sindir Elara sambil ikut tertawa kecil.

“Sh*bal,” balas Nayomi ringan.

Panggilan terputus. Elara menatap layar ponselnya sebentar, lalu meletakkannya di samping bantal. Rasa bosan yang tadi menyesakkan perlahan menghilang, tergantikan oleh antusiasme kecil.

Ia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju dapur. Lemari dibuka, satu per satu camilan dikeluarkan. Snack asin, cokelat, minuman dingin—semua ditata di meja kecil kamar.

Elara kembali duduk di ranjang, menatap susunan itu dengan puas. Malam ini mungkin tak akan diisi hal besar atau obrolan berat. Tapi setidaknya, ia tak akan sendirian.

Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

____

Ding dong.

Ding dong.

“Bentar!” teriak Mama Sekar sambil berjalan ke arah pintu rumah.

“Iya cari siap—” ucapan Mama Sekar terhenti saat melihat Nayomi berdiri di depan pintu dengan satu tas besar berisi perlengkapan sekolah, sementara di tangannya ada boneka besar yang hampir menutupi wajahnya.

“H-hehe… selamat malam, Tante,” ucap Nayomi gugup sambil menyalami Mama Sekar.

“Nayomi?” Mama Sekar tersenyum hangat. “Kamu mau nginep?”

“Iya, Tante. El yang ngajak. Boleh, kan?” tanya Nayomi penuh harap.

“Ya ampun, boleh dong. Sana naik ke atas, El pasti udah nunggu,” jawab Mama Sekar sambil menepuk bahu Nayomi lembut.

“Makasih, Tante. Yomi ke atas dulu ya,” ucap Nayomi lalu melangkah cepat menaiki tangga.

Sesampainya di depan kamar Elara, Nayomi langsung mengetuk pintu dengan semangat.

Tok tok.

Tok tok tok.

“Bentaaaar!” teriak Elara dari dalam.

Cklek.

“Hii Ell, princess udah dateng nih!” seru Nayomi sambil masuk ke kamar tanpa permisi.

“Princess abal-abal lo. Baju tidur lo aja gambarnya Shinchan,” kata Elara sambil melirik dari atas ke bawah.

“Jangan main-main. Ini baju tidur limited edition. Cuma ada satu di dunia karena dibikinin langsung sama Pangeran Sunghoon,” balas Nayomi percaya diri.

“Di toko oren juga ada,” jawab Elara datar.

“Udah deh, jangan bahas itu. Mana blind box lo? Gue udah gak sabar pengen unboxing,” Nayomi langsung duduk di ranjang.

“Nanti. Mending nonton drakor dulu sambil nyemil dan ngegibah,” kata Elara sambil meraih remote proyektor.

“Ide bagus. Drakor yang mana?” tanya Nayomi antusias.

“Bentar, gue cari dulu.”

Beberapa menit kemudian, layar proyektor menyala.

“Nah ini. Katanya lagi naik daun,” ucap Elara.

“Iyaaa, gue tau! Yang ceweknya kaya psikopat itu kan?” Nayomi langsung nyamber bantal.

Mereka mulai menonton sambil ngemil, suasana kamar penuh suara kunyahan dan komentar nyinyir.

“Gue heran deh sama si Vira. Mukanya emang keliatan polos banget, tapi kok rasanya fake,” ucap Nayomi.

“Gue kira gue doang yang engeh. Ternyata lo juga,” Elara mengangguk setuju.

“Kayaknya bentar lagi sifat aslinya keluar tuh.”

“Iya, apalagi kalo depan cowok. Sok lembut, sok rapuh,” sahut Elara.

“Nih ya, kalo dia macem-macem sama kita, gue tarik aja rambutnya,” kata Nayomi serius.

“Wah, aura bully lo kuat banget, Nay,” Elara bertepuk tangan pelan sambil tertawa.

Tawa mereka terhenti saat ponsel Elara bergetar.

Nama Arsen muncul di layar.

Elara langsung duduk tegak dan suaranya berubah lebih lembut.

“Kenapa belum tidur?” suara Arsen terdengar dari seberang.

“Lagi nonton drakor,” jawab Elara pelan.

Nayomi yang mendengar itu langsung memutar bola mata.

"gue kaya nyamuk aja,” batinnya.

Ia lalu teringat satu hal.

Kaizen belum ia kabari.

Nayomi bangkit dan menjauh sedikit dari Elara.

“Halo, Kai,” ucap Nayomi pelan.

“Di mana?” tanya Kaizen datar, terdengar jelas ada nada kesal.

“Aku tadi ke rumah kamu, kamu gak ada.”

“Hehe… maaf. Aku lagi nginep di rumahnya El. Lupa ngabarin,” ucap Nayomi bersalah.

“Kirain kamu kenapa-napa,” kata Kaizen.

“Kamu lagi di mana?” tanya Nayomi.

“Lagi ngerjain tugas dari Papa. Jangan dimatiin,” jawab Kaizen.

“Oke,” balas Nayomi.

Elara tiba-tiba muncul di samping Nayomi.

“Hayoo, lo ada hubungan apa sama si Kai?” bisiknya penuh selidik.

“Gue kaget ih! Besok deh gue ceritain,” jawab Nayomi sambil buru-buru meletakkan ponselnya di ranjang—masih tersambung dengan Kaizen.

Tanpa sadar, Elara juga meletakkan ponselnya di samping ponsel Nayomi—masih tersambung dengan Arsen.

“Sekarang mana blind box yang lo janjiin?” Nayomi mengalihkan topik.

“Bentar,” kata Elara lalu membuka lemari.

Ia kembali membawa satu kotak besar.

“Nih. Isinya enam. Tiga buat gue, tiga buat lo.”

“OMG, I’M SO EXCITED!” Nayomi hampir teriak.

“Pelan, Nay. Ortu gue lagi istirahat.”

“Hehe, maaf.”

Mereka duduk bersila di lantai.

Sementara itu, di dua rumah berbeda, Arsen dan Kaizen sama-sama duduk di meja kerja, dikelilingi dokumen perusahaan—tugas dari ayah masing-masing.

Suara ribut dari ponsel mereka terdengar samar.

“Gue pengen dapet yang pink,” ucap Nayomi.

“Gue pengen yang secret,” sahut Elara.

Satu per satu blind box dibuka.

“Biru.”

“Hijaau.”

“Kuning.”

“Ish, gak dapet yang gue mau,” Elara manyun. “Tapi yang biru lucu sih.”

“El…” suara Nayomi bergetar.

“Apa?”

“Gue dapet… secret.”

“Apa?! Yang bener lo?!”

“Iya!”

“AKHHH MAU! AYO KITA TUKER!”

“GAK MAU! INI LUCU!” Nayomi tertawa sambil berdiri dan lari ke arah pintu.

“NAY! TUKER SAMA YANG KUNING AJA!”

“Gak mau! Yang kuning kayak pup!”

Keributan itu terdengar jelas dari ponsel.

“Nay?” suara Kaizen terdengar bingung.

“El?” suara Arsen menyusul.

Kaizen mengerutkan kening. “Kenapa ada suara lo?”

Arsen juga terdiam. “Lo juga. Kenapa ada suara lo?”

“Gue lagi teleponan sama Elara,” jawab Arsen.

“Gue juga lagi teleponan sama Nayomi,” balas Kaizen.

Hening sesaat.

“Kalian ada hubungan?” tanya Arsen

“Kepo,” jawab Kaizen dingin.

Sementara itu, dua gadis itu masih ribut tanpa sadar.

1
Mutt Oktadila
💓💓💓
Remince Silalahi
ko tiba2 habis g ada sambungan
tiaahyeon: besok update lagi kok, sehari itu bisa upload 2/3 bab ditunggu ya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!