NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: GREGET, GAJIAN PERTAMA, DAN GULATAN DI KASUR

Disclaimer: Bab ini mengandung gajian pertama yang ternyata nggak seberapa, ujian kesabaran tingkat tinggi, dan perdebatan siapa yang harus bayar wifi yang bikin gregetan.

---

Tiga bulan di Jogja. Uang tabungan mereka menipis kayak es batu di bawah terik matahari. Keduanya mulai kelabakan. Kinan orderan desain seadanya, bayarannya telat-telat. Ardi cuma dapet job mixing lagu untuk band indie yang bayarnya seikhlasnya alias sering nggak dibayar.

Tekanan finansial itu kayak tamu tak diundang yang nongkrong di pojokan loteng mereka. Setiap kali mereka mau senyum, tamu itu nyeletuk: "Listrik bayar belum? Gas elpiji mau abis loh."

Lalu, keajaiban kecil datang. Kinan dapet project desain packaging untuk brand kopi lokal yang cukup bayar bulanan. Ardi dapet job narasi dan musik untuk podcast indie yang ternyata punya sponsor. Gajian mereka cair berbarengan di hari yang sama.

Malam itu, mereka berdiri di depan ATM, saling pandang.

"Gue tarik ya," kata Kinan.

"Gue juga."

Brrr... brrr... mesin ATM mengeluarkan uang. Bukan jumlah yang fantastis. Tapi cukup buat bayar utang-utang kecil, beli kebutuhan, dan... bernapas lega.

Mereka pulang ke loteng dengan semangat. "Yok kita rayain!" usul Ardi. "Makan di restoran!"

Kinan lihat dompetnya. "Jangan deh. Nanti abis lagi. Mending kita masak sendiri, beli bahan yang agak bagus."

"Ayo! Gue bikin ayam bakar kesukaan lo!"

"Gue bikin brownies dari mix!"

Kesalahan: mereka belanja impulsif. Ayam, bumbu spesial, coklat impor buat brownies, plus minuman sparkling. Totalnya hampir sepertiga dari gajian Kinan. Tapi di saat itu, rasanya layak. Mereka sudah lama nggak makan enak.

---

Malam itu, dapur jadi medan perang.

Kinan yang perfeksionis mau browniesnya perfect crackly top. Ardi yang santai asal ayamnya mateng aja. Mereka berebut kompor, saling protes soal cara potong bawang, debat soal seberapa manis browniesnya.

"JANGAN TARO GARAM BANYAK-BANYAK! GUE NGGAK SUKA ASIN!" teriak Kinan.

"AYAM GARAMNYA HARUS CUKUP BIAR GURIH! LO YANG BIKIN BROWNIES MANIS BANGET AJA!"

"ITU KAN BROWNIES!"

"AYAM JUGA PENTING!"

Tapi di tengah teriakan, ada tawa yang meledak. Mereka sadar betapa recehnya pertengkaran ini. Ini pertama kalinya dalam tiga bulan mereka punya kemewahan buat ribut hal sepele. Nggak ada tekanan bayar kontrakan, nggak ada deadline genting. Cuma dua orang bodoh yang berebut kompor.

Makan malamnya akhirnya berantakan. Ayamnya agak gosong, browniesnya terlalu manis. Tapi mereka makan dengan lahap, sambil ketawa ngelihat hasil karya mereka yang gagal.

---

Bencana terjadi pas mau bayar tagihan.

Mereka buka aplikasi e-banking, saling tunjukin nominal.

"Kontrakan 1,5 juta," kata Kinan.

"Listrik 300 ribu," tambah Ardi.

"Wifi 200 ribu."

"Gas 100 ribu."

Mereka hitung-hitungan. Ternyata, setelah bayar semua, sisa uang mereka cuma cukup buat hidup 2 minggu dengan sangat hemat.

"Harusnya kita nggak belanja impulsive tadi," gerutu Kinan.

"Tapi kita udah kepengen lama!"

"Iya tapi... kita harus lebih bijak."

Percakapan itu berubah jadi perdebatan soal gaya hidup. Kinan pengin ketat, nabung buat investasi studio. Ardi pengin santai, nikmati hasil kerja sedikit. Bukan soal siapa yang salah. Tapi soal prioritas.

"Kapan terakhir kali lo beli barang buat seneng-seneng lo sendiri?" tanya Ardi.

"Kapan terakhir kali lo mikirin masa depan kita lebih dari seminggu ke depan?" balas Kinan.

Mereka diam. Ini bukan lagi soal uang. Tapi soal visi hidup bareng.

---

Puncak ketegangan: siapa bayar wifi?

Tagihan wifi 200 ribu. Ardi bilang dia yang bayar bulan ini. Tapi pas mau transfer, saldo dia kurang 50 ribu.

"Gue kurang dikit. Lo bisa bayar 50 ribu?" minta Ardi.

Kinan, yang lagi stres ngitung budget studio, meledak. "JADI SEKARANG GUE HARUS NAMBAHIN LAGI? UDAH KONTRAKAN GUE YANG BAYAR BESARAN, LISTRIK LO YANG BAYAR, SEKARANG WIFI GUE YANG NAMBAHIN?"

"ENGGAK PERLU TERIAK! GUE MINTA 50 RIBU DOANG!"

"TAPI PRINSIPNYA! KITA HARUS ADIL!"

"ADIL APA? HIDUP BERSAMA ITU NGAK MUNGKIN 50-50 TERUS! KADANG 70-30! KADANG 60-40! YANG PENTING NGGA ADA YANG NGERASA DIBEBANI!"

Pertengkaran itu berujung di kasur, tapi bukan buat bercinta. Mereka duduk di ujung kasur yang berseberangan, mata berkaca-kaca, perut masih kenyang ayam gosong.

"Gue capek," kata Kinan pelan. "Capek mikirin uang terus."

"Gue juga. Tapi kita nggak punya pilihan."

"Ada pilihan. Kita bisa pulang. Kembali ke kota masing-masing, cari kerja yang lebih stabil."

"Jadi semuanya sia-sia?"

Diam lagi. Suara jangkrik di luar terdengar nyaring.

---

Gulat bantal yang menyelamatkan.

Ardi, entah dapat ide dari mana, mengambil bantal dan menggebraknya ke kepala Kinan.

"APAAN SIH!" teriak Kinan kaget.

"DARIPADA MARAH-MARAH, MAU GELUT?!" tantang Ardi, senyum nakal.

Kinan tersulut. Dia ambil bantalnya, balas gebrak. Dalam beberapa detik, kamar mereka jadi medan perang bantal. Teriakan marah berubah jadi tawa. Mereka gelut di kasur, bergulingan, sampai akhirnya kehabisan napas, berbaring berdampingan.

"Kita... dewasa... banget ya..." kata Kinan sambil terengah.

"Yaelah... gelut bantal... dewasa apanya..."

"Tapi bener. Daripada bertengkar, mending gelut."

"Harusnya dari dulu."

Mereka berbaring, lihat langit-langit. Kemarahan tadi menguap, diganti kelelahan yang lebih ringan.

"Gue bayarin wifi bulan ini full," kata Kinan tiba-tiba. "Tapi bulan depan lo yang bayarin full. Gitu aja. Simple."

"Deal. Dan gue janji gue akan lebih hemat."

"Gue juga janji gue nggak akan terlalu kaku."

---

Keputusan finansial bersama.

Besok pagi, mereka buat sistem baru: "Jar Dana Bareng". Mereka sepakat menyisihkan 40% dari setiap penghasilan masuk ke rekening bersama buat kebutuhan pokok. 30% buat tabungan studio/project. 30% sisanya buat uang jajan masing-masing dan nggak boleh dikomentari.

"Lo mau beli kaos band norak 100 ribu, terserah," kata Kinan.

"Lo mau beli kuas lukis mahal, silakan," balas Ardi.

"Tapi kalo abis, jangan nagih ke yang lain."

"Setuju."

Mereka juga sepakat punya "Hari Gajian" ritual. Setiap kali gajian, mereka harus beli satu makanan enak yang murah meriah (misal: martabak telur) dan nonton film gratis di laptop. Gak perlu mewah. Cuma sebagai penanda: kita berhasil bertahan sebulan lagi.

---

LAST LINE: Malam itu, mereka makan martabak telur di atas kasur, laptop memutar film bajakan kualitas rendah. Kinan bersandar di bahu Ardi. "Gue nggak nyangka ternyata susah banget ya urusan duit bareng-bareng," gumamnya. Ardi cium kepala Kinan. "Nggak ada yang ngajarin. Kita belajar sendiri. Sambil gelut bantal kalo perlu." Mereka tertawa kecil. Mungkin memang begitu: cinta jaman sekarang bukan cuma soal bisa bertahan di tengah badai, tapi juga bisa bertahan dari debat receh soal siapa bayar wifi, lalu berakhir gelut bantal dan sepakat bikin sistem keuangan yang lebih waras. Karena hubungan yang kuat nggak dibangun dari momen-momen besar, tapi dari kesepakatan-kesepakatan kecil yang bikin kalian nggak saling bacok saat tagihan datang. 💸🛌💥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!