NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan rencana

"SIAL! SIAL! SIAL!"

Lemari besar itu terjatuh, membentur lantai dengan suara keras yang mengguncang sekelilingnya. Pecah begitu saja semua barang-barang berharga di dalamnya.

Marah, kesal, takut, semua itu menyatu di dalam diri Lian saat ini.

"Baskara... Laki-laki sialan itu..."

Buku-buku jari berubah memutih, tangan Lian mengepal erat dengan kegagalan yang merenggut kewarasannya.

Baskara terlalu pintar, laki-laki itu terlalu cerdik.

Lian sudah mengatur semuanya sebaik mungkin, tapi laki-laki itu... dia menghancurkan semuanya begitu saja. Semuanya yang telah ia rencanakan semuanya hancur.

Sejak awal ia tak pernah menyukai Loria, wanita sombong dan angkuh itu selalu membuatnya naik darah. Lian rasa keluarga Wijaya memiliki putri yang saling melengkapi. Satunya iblis, satunya lagi malaikat.

"Aku mendapatkan tugas yang sangat penting. Aku harus membawa Loria kembali pada Dirga. Saat aku tau itu adalah kau, aku tidak mengatakan apapun lebih dulu dan memutuskan untuk memberimu keringanan seperti ini. Jika kakakmu sampai tau bahwa kau adalah dalang di balik semua ini..."

Vas dibanting ke lantai. Kata-kata Baskara beberapa saat yang lalu membuat amarahnya semakin membara.

"Hubunganmu dengannya akan renggang. Bahkan sepertinya dia tidak akan menganggapmu sebagai adiknya lagi."

Satu tinju mendarat di dinding.

Tidak. Itu tidak boleh terjadi.

"Aku melakukan ini untuk kebaikan kak Dirga." Ia terengah-engah. "Tapi kenapa sekarang bajingan itu membuat seakan-akan akulah yang menjadi penjahat?!"

Lian mengingat kembali saat ia memergoki Loria dan mantan kekasihnya bersama. Itu adalah saat di mana rencana pernikahan Loria dan Dirga telah dipastikan. Beberapa saat yang lalu keluarga Martadinata dan Wijaya berdiskusi dengan damainya, tapi bisa-bisanya Loria setelahnya keluar bersama pria lain yang seharusnya akan menjadi adik iparnya.

Wanita sialan. Wanita jalang.

Seharusnya mereka merasa beruntung bahwa Lian hanya menyuruh mereka menjauh, tidak memenggal kepala mereka saat itu juga.

Dengan keberanian dan kenekatan ia mengancam mantan kekasihnya dan Loria akan kebusukan mereka yang akan ia bongkar ke publik. Loria yang terkenal itu pastinya takut akan reputasi yang akan menjadi kotor, memohon padanya untuk tidak melakukan hal itu.

Entah pintar atau bodoh, Lian menyuruh mereka menjauh, menghilang tanpa jejak agar hidup mereka tenang dan tidak dibanjiri hujatan yang mampu membunuh mental. Mantan kekasihnya itu ia perintahkan untuk merombak penampilan—termasuk mengganti cat rambut yang sialnya disadari oleh Baskara.

Dan nomor misterius yang mengirim video kepada Wisnu... itu jelas Lian.

Ia hanya ingin Wisnu menunjukan itu pada Dirga, agar kakaknya itu berhenti berharap pada wanita yang jelas-jelas mengkhianatinya.

Tapi diluar dugaan, Dirga malah semakin berambisi membawa wanita itu kembali.

"Hancur... Semuanya hancur!"

Jeritan itu menggema, Lian mengacak-acak rambutnya yang kini kusut seperti pikirannya.

Sekali lagi, kata-kata Baskara membuatnya tertekan.

"Aku tau kau melakukan ini untuk menyadarkan kakakmu. Tapi kau lihat bahwa dia tak peduli, bukan? Bahkan jika Loria sudah disentuh oleh banyak pria pun dia akan tetap menerimanya. Jadi aku rasa kau tidak perlu melanjutkan permainan ini."

Jari-jarinya gemetar.

"Jika kau masih nekat untuk melanjutkan hal ini... maka aku terpaksa untuk memberitahu semua ini pada Dirga. Tapi jika kau mau menurut denganku sekali ini saja, maka hubunganmu dengan Dirga akan baik-baik saja."

Lian menggeleng, matanya terpejam saat mengingat kata-kata Baskara.

"Suruh Loria kembali, perintahkan dia untuk tutup mulut bahwa hilangnya dia adalah ulahmu. Dan... bebaskan perempuan polos tak bersalah itu dari dari ikatan keterpaksaan ini. Bebaskan putri bungsu Arseno dari ketidakadilan ini."

Bebaskan putri bungsu Arseno dari ketidakadilan ini—Kata-kata itulah yang paling melekat di dalam benaknya.

Baskara benar.

Ketidakadilan yang kini Hita terima adalah kesalahannya. Tanpa ia sadari ia telah menumbalkan perempuan tak bersalah itu hanya untuk rencana yang gagal total ini. Maka mau tidak mau, ia harus membebaskan perempuan itu dari ketidakadilan ini.

Meskipun itu berarti harus membawa Loria kembali.

...****************...

Berjalan tanpa arah. Tanpa tujuan. Itu adalah yang kini Hita lakukan saat menyusuri trotoar ibu kota yang ramai.

Kepala tertunduk, bahu bergetar, bahkan samar-samar Isak tangis terdengar lolos dari bibirnya yang pucat.

Hita tak tau bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Kenapa malah Dirga membuatnya seolah-olah menikmati penyiksaan malam itu? Menikmati bagaimana ia diperlakukan kasar dan direnggut harga dirinya?

Rasa ingin melawan semua ini sesekali hinggap, tapi Hita tak mampu. Sedari kecil ia dibesarkan untuk menerima perlakuan-perlakuan seperti ini, membuatnya merasa bahwa ini adalah hal yang pantas untuk ia dapatkan.

Suara guntur bersahutan, angin berhembus semakin keras dan menusuk hingga ke tulang. Agaknya hujan akan datang, tapi Hita tak terlalu memperdulikannya. Mau hujan ataupun tidak, tidak akan ada yang berubah dari situasi ini, kan?

Hita terhuyung ke sana-kemari saat orang-orang berhamburan lari, menabraknya tanpa sadar begitu gerimis membasahi jalanan.

Rintikan air hujan mulai membasahinya, membuat gaun putih yang ia kenakan melekat pada tubuhnya. Kainnya yang tipis tak memberi banyak ruang untuk imajinasi liar pria-pria yang menatapnya saat air membuat gaunnya transparan.

Dengan tangan yang bergerak mengusap air mata, Hita berlari kecil ke arah halte bus di tepi jalan untuk berteduh. Pada akhirnya menghindari hujan yang semakin deras. Suara guntur bersahutan, bahkan langit terlihat begitu gelap untuk disebut siang hari.

Hita akui hidupnya sangat malang. Setelah diusir, ia harus berjalan luntang-lantung tanpa tau arah. Hita tak tau apakah ia harus kembali ke kediaman Martadinata setelah mendengar semua perkataan Dirga. Ia merasa malu, malu menunjukkan wajahnya lagi.

Kemana ia harus pergi sekarang?

Tin! Tin!

Hita mengikuti arah mobil hitam mengkilap yang memelan ke arahnya, takut-takut ia melangkah mundur.

Apakah itu penculik? Pikirnya.

Saat kaca mobil diturunkan, Hita sedikit penasaran dan memiringkan kepalanya.

Dan saat kaca itu terbuka...

"Kak Bram?"

Hita mengerjap, terkejut saat melihat sang putra pertama Martadinata di sana. Dengan setelan jas lengkap yang masih rapi dan tatanan rambutnya yang sedikit acak di bagian depan.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Hita?" Nada Bram sedikit khawatir, matanya mengamati kondisi Hita yang basah kuyup. "Di mana Dirga? Kenapa kau sendirian saja?"

Bram memutar kunci, mematikan mesin dan melepas sabuk pengaman dengan gerakan mudah. Pintu mobil mewah itu di dorong, sebelum kembali ditutup kembali. Begitu kebetulan Bram melintas kemari.

Tapi Hita tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Saat Bram berada di hadapannya, Hita hanya bisa menundukkan kepala. Tapi Bram tidak bodoh untuk tidak menyadari bagaimana kacaunya Hita saat ini. Terutama mata bengkak itu.

"Kau menangis?"

Hita mendongak, mengamati raut wajah Bram yang kentara sekali sedang khawatir melihatnya yang acak-acakan seperti ini.

"Tidak..." Dari suara serak itu seharusnya Bram sudah tau bahwa Hita berbohong.

"Kau berbohong." Bram menghela napas, dengan cekatan melepaskan jasnya. "Kau mengira bahwa aku ini anak kecil yang bisa kau bohongi? Jelas sekali kau menangis, lihat saja mata sembabmu itu."

Hita hanya bisa diam saat Bram menyampirkan jas mahal itu di bahunya, aroma parfum khas Bram yang biasanya tercium di meja makan saat sarapan kini tercium jelas di tubuhnya.

"Dirga mengatakan sesuatu padamu? Dia memarahimu? Apa saja yang di katakan—"

"Kak Dirga tidak mengatakan apa-apa." Hita menyela, matanya yang sembab menatap Bram sementara kepalanya menggeleng pelan. "Semuanya baik-baik saja, aku hanya ingin... keluar dari sana dan pulang."

Sepertinya Hita benar-benar berpikir bahwa Bram adalah anak kecil. Bahkan saat jelas sekali terlihat telah menangis, dia malah sempat-sempatnya berbohong lagi.

"Jika ingin pulang bisa minta Wisnu mengantar," ujar Bram lembut. "Menghubungiku juga bisa, kan?"

Hita menggeleng. "Tidak mau merepotkan."

Bram tidak tau bahwa Hita merasa begitu.

"Berikan ponselmu." Itu bukan perintah, tapi permintaan. Bram menengadahkan tangannya, melirik tas putih kecil yang menggantung di tubuh Hita.

"Untuk apa?"

"Untuk memberikan nomorku," jelas Bram, "agar kau bisa menghubungiku saat kau membutuhkan bantuan. Seperti sekarang ini contohnya."

"Tapi—"

"Dan jangan berpikir bahwa itu akan membuatku merasa repot. Akulah yang menawarkan diri." Secepat kilat Bram menyela saat tau Hita akan menolaknya.

Dengan helaan napas pasrah Hita memberikan ponselnya. Setelah nama Dirga dan Lian, kini akan ada kontak Bram juga di sana.

"Masuk ke dalam mobil, aku akan mengantarmu pulang." Bram mengendikkan dagu ke arah mobil, matanya fokus pada layar saat mengetikkan nomornya.

Hita ragu sejenak, dengan Bram ia merasa bisa mengatakan sesuatu yang ia mau.

Setelah kemarahan Dirga hari ini, Hita rasa ia tak akan sanggup untuk bertemu ataupun sekedar berpapasan dengan laki-laki itu. Jadi...

"Kak Bram," panggilnya pelan, membuat Bram mengangkat pandangan dari ponsel.

Hita menelan ludah, jari-jarinya bertaut gugup.

"Kalau seandainya aku tidak ingin pulang sekarang... apakah kakak memiliki tempat untuk aku berdiam malam ini saja?"

Bersambung...

1
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!