Ongoing
Lady Anastasia Zylph, seorang gadis muda yang dulu polos dan mudah dipercaya, bangkit kembali dari kematian yang direncanakan oleh saudaranya sendiri. Dengan kekuatan magis kehidupan yang baru muncul, Anastasia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya yang jahat dan memulai hidup sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Salju malam itu turun lebih lambat dari biasanya bukan menggigil, melainkan seperti abu yang jatuh setelah bangunan raksasa runtuh. Angin membawa aroma besi, dingin, dan sesuatu yang lebih samar… ketakutan. Anastasia berdiri di balkon menara utara, jubah bulu tipis tergerai tertiup angin. Matanya yang abu-biru memantulkan kelamnya langit, seolah ia melihat sesuatu lebih jauh dari batas manusia biasa.
Di belakangnya, langkah berat dan teratur mendekat. “Kenapa kau di luar tanpa penjaga?” suara Aloric terdengar keras, namun bukan marah… lebih seperti cemas yang ia sembunyikan. Anastasia menoleh perlahan, bibirnya melengkung kecil. “Karena aku tidak membutuhkan mereka.”
“Anastasia,” Aloric menarik napas panjang, menahan diri, “kau berada di wilayah yang sedang diintai pemberontak. Beberapa jam lalu pasukan bayangan Putra Mahkota terdeteksi di hutan selatan.” Wanita itu menatap lurus ke matanya dalam, menelusuk. “Aku tahu.”
Aloric berhenti. “Kau… tahu?”
Ia mengangguk ringan. “Aku merasakannya. Tanah bergetar kecil, seperti ada sesuatu yang merayap di bawahnya. Dan udara… seperti retak.” Salah satu alis Aloric terangkat. “Kau terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengucapkan bahwa musuh sedang bergerak.”
“Aku tidak pernah bilang aku tenang.” Anastasia menatap salju yang jatuh di telapak tangannya. “Hanya saja… aku tidak takut lagi.” Dalam sunyi itu, Aloric memperhatikannya. Sinar bulan membuat wajah Anastasia tampak tak nyata seperti lukisan kuno tentang dewi yang turun dari salju. Namun, bukan kecantikan itu yang membuat Aloric terpaku. Ada sesuatu yang lebih dalam. Aura.
Sejak Anastasia membangunkannya dari kematian, aura wanita itu perlahan berubah… menjadi sesuatu yang menakutkan, namun tenang seperti permukaan danau beku. Aloric melepaskan napas perlahan. “Masuklah,” katanya akhirnya, nada suaranya lebih lembut dari yang ia sadari. “Aku tidak mau melihatmu membeku di sini.”
“Aku tidak bisa membeku,” jawabnya dengan senyum samar. “…Ya. Aku tahu.” Tapi ia tetap meraih pergelangan tangan Anastasia dan membawanya masuk.
Di ruang pertemuan pribadi Duke Silas
m eta besar kerajaan terbentang di atas meja batu. Lampu minyak berkedip-kedip, menyorot garis merah penanda pergerakan pasukan Putra Mahkota. Aloric berdiri tegap, tubuh kekarnya seperti dinding hitam. Anastasia duduk di kursi panjang, kaki disilangkan, mata tak beranjak dari peta. “Putra Mahkota semakin berani,” gumam Aloric.
“Dia tidak berani,” Anastasia membalas cepat. “Dia putus asa.” Aloric mengalihkan pandangan. “Jelaskan.”
“Dia kehilangan dukungan Majelis. Para Marquis dan Duke mulai menjauh… kecuali keluargaku.” Anastasia tersenyum pahit. “Ayahku terlalu bodoh untuk melihat bahwa Putra Mahkota memanfaatkannya.”
“Marquess Zylph memang bodoh,” desis Aloric. “Tapi kakakmu lebih berbahaya.” Nama itu membuat cahaya di mata Anastasia meredup. Theodora. “Dia selalu menjadi permata keluarga,” Anastasia berujar datar. “Dan aku hanya bayangannya.” Aloric menatapnya lama.
“Dulu mungkin begitu. Sekarang bukan.” Anastasia terdiam. “Sekarang,” lanjut Aloric, suaranya rendah, “kau adalah satu-satunya alasan aku hidup.” Ucapan itu membuat ruang terasa mengecil. Lampu minyak berkedip. Jantung Anastasia berdegup bukan karena romantis… melainkan karena bahaya. “Jangan katakan hal seperti itu, Duke,” bisiknya. “Kau membuatnya terdengar seperti aku… penting.”
“Kau memang penting.” Nada itu begitu jujur… begitu polos… sehingga rasanya seperti belati. Anastasia memalingkan wajah, menatap jendela. Jika kau tahu siapa aku… kau tidak akan mengatakannya.
Ketukan keras di pintu memutus suasana. “Masuk!” seru Aloric. Kapten Rowan melangkah cepat, wajahnya tegang. “Yang Mulia Duke, utusan rahasia dari istana baru tiba.” Aloric menegang. “Apa isinya?”
Rowan menelan ludah. “Perintah langsung dari Kaisar… permintaan pertemuan darurat. Beliau memerintahkan Anda kembali ke ibu kota besok pagi.” Ruangan langsung mendingin beberapa derajat. “Pertemuan… apa?” tanya Aloric dingin.
m owan ragu sejenak. “…Mengenai pertunangan Anda, Yang Mulia.”
Anastasia merasakan dadanya seperti dihantam palu. Aloric menggeram pelan, rahangnya mengeras. “Putri Kaisar ingin mempercepat pernikahan. Keluarga kekaisaran menginginkan upacara diselenggarakan dalam dua bulan.”
Senja yang berwarna kelabu seakan jatuh menimpa ruangan. Anastasia menunduk menatap lantai. Tubuhnya terasa kosong, tapi wajahnya tetap datar terlatih… seolah tidak peduli. Tentu saja. Ini dunia bangsawan. Pertunangan politik. Duke terkuat di kerajaan harus menikah dengan darah kaisar. Aloric menatapnya dari kejauhan, raut wajahnya tak terbaca.
Rowan melanjutkan, “Ada satu hal lagi, Yang Mulia… Kaisar menyebutkan bahwa Lady Anastasia harus tetap berada di wilayah utara hingga keputusan akhir dibuat.” Tatapan Anastasia langsung terangkat. “…Apa?” suaranya datar. Aloric mengepal tangan. “Kaisar ingin mengawasi Anastasia?”
“Bukan… hanya ingin memastikan tidak ada rumor yang berkembang,” jawab Rowan hati-hati. Rumor? Anastasia menegang. Tentang apa? Tentang hubungannya dengan Aloric? Atau tentang kebangkitannya dari kematian? Atau tentang kekuatan yang mulai bersinar di sekitar tubuhnya? Aloric mengibaskan tangan, mengusir Rowan pergi.
Saat pintu menutup, ruangan seketika menjadi sunyi memekakkan. Anastasia berdiri perlahan. “Jadi… kau akan menikah.” Aloric menatapnya tajam. “Aku tidak bilang aku akan menikah.”
“Itu adalah perintah Kaisar.”
“Aku tidak peduli.”
“Aku peduli.”
Aloric mendekat satu langkah. “Kenapa kau peduli?” Anastasia menelan ludah, menyembunyikan degup jantungnya. Bukan karena cinta. Karena rencananya terancam. Ia membutuhkan kedudukan. Ia membutuhkan kekuasaan. Ia membutuhkan perlindungan sampai saatnya ia menghancurkan keluarga Zylph dan melarikan diri dari dunia bangsawan. Pernikahan Aloric akan mengacaukan semuanya.
“Aku peduli,” katanya pelan, “karena jika kau menikah, aku akan menjadi beban. Dan aku benci menjadi beban.” Aloric berhenti tepat di depannya. Bayangannya menutup cahaya.
“Kau bukan beban, Anastasia.”
“Menurut siapa?”
“Menurutku.”
Nada itu keras. Tegas. Tak terbantahkan. Anastasia memejam mata sekilas saja seolah melindungi diri dari sesuatu yang mematikan. “Kalau begitu…” ia membuka mata perlahan, pandangannya sedingin salju yang membunuh, “…apa yang akan kau lakukan terhadap perintah Kaisar?”
“Aku akan menolaknya.”
“Kau akan dianggap berkhianat.”
“Aku tidak peduli.”
“Kau bisa dihukum mati.”
“Aku sudah pernah mati satu kali,” bisiknya, sangat dekat, “dan kau membangunkanku.” Anastasia terdiam. Ruangan seakan berhenti bernapas. Aloric melanjutkan, “Aku tidak akan menikah dengan Putri Kaisar. Aku hanya… belum tahu apa yang akan kulakukan setelah menolak.”
Wanita itu tersenyum kecil tidak hangat, tapi… cantik dan mematikan. “Kalau begitu,” katanya lembut, “biarkan aku membantumu.” Aloric mengernyit. “Membantu apa?”
“Membakar takhta.” Anastasia menatapnya lurus. “Mari kita hancurkan rencana Putra Mahkota… dan rencana Kaisar.” Keheningan yang jatuh begitu panjang hingga terdengar seperti badai salju. Kemudian… Aloric tersenyum tipis. Senyum predator. “Baik,” katanya pelan. “Aku akan berdosa bersamamu.”