NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

privat les..

Sekitar pukul 10 malam,Arjuna mulai gelisah.

Kerongkongan nya terasa panas.

uhukkk..uhukkk..uhukkk...!

pria tampan itu terbatuk,,matanya menerawang menatap langit langit ruangan.

Arjuna menoleh ke samping,,ada Indira dengan mata terpejam,tampak sekali gadis berhidung mancung itu tidur nyenyak.

Arjuna bingung bagaimana caranya dia membangunkan Indira,,gadis itu terlihat sangat nyenyak,jadinya dia tidak tega membangunkannya.

Setelah dipikir pikir,akhirnya Arjuna berinisiatif membuka sendiri pakaian Indira,lalu mengeluarkan daging kenyal itu dari wadahnya,lalu melahap rakus puting berwarna pink pucat itu.

glekk..glekkk.. glekkk...!

cairan itu menyirami tenggorokannya yang panas dan kering.

Dahaga Arjuna berangsur pulih.

digantikan dengan kepuasan.

Habis dari yang satu,,Arjuna membuka wadah satunya lagi.

Ssshhhh...!

Indira mendesah disela tidur nyenyak nya.

Arjuna menghentikan sedotannya,,menatap wajah Indira yang masih terlelap.

namun bibirnya terbuka sedikit dan meloloskan desahan kecil.

Saat Arjuna sudah kenyang,dia kembali menutup daging menggiurkan itu.

Andai daging itu milik kekasihnya, mungkin dia sudah melahap dengan rakus,melahap penuh nafsu.

Arjuna kembali membalikkan tubuhnya memunggungi gadis cantik itu.

Takut dia khilaf,akhirnya memanfaatkan situasi.

Arjuna tidak ingin dicap sebagai pria yang suka memanfaatkan sesuatu.

***

Tepat pukul dua dini hari, seperti jadwal yang tak tertulis, Arjuna bergerak.

Rasa haus kembali mendera nya.

kerongkongan nya terasa panas dan kering.

​"Indira," panggilnya, suaranya pelan namun terdengar jelas di telinga gadis itu.

Dia ingin Indira bangun dan memberikan sendiri daging kenyal itu.

Dia tidak terlalu haus,sehingga masih bisa menunggu sampai Indira bangun.

"Indira..!" Arjuna meninggikan suaranya.

​Indira langsung tersentak bangun. Kantuknya hilang seketika. "Ya, Tuan," sahutnya, mencoba bergerak tanpa menyakiti kakinya.

​Arjuna berbalik menghadapnya. Dalam cahaya rembulan yang masuk dari jendela, wajahnya tampak pucat dan matanya sedikit memerah karena menahan rasa panas yang menyiksa.

 Ia tidak lagi menyembunyikan kebutuhannya.

​"Aku haus," desis Arjuna. Kali ini, tidak ada perintah tegas, hanya pengakuan kebutuhan yang mendesak.

​Indira mengangguk pasrah. Ia tahu, rasa haus ini selalu lebih kuat daripada rasa iba atau pertimbangan lainnya.

Tanpa menunggu diminta dua kali, ia segera memposisikan diri. Ia berhati-hati agar lututnya tidak bertumpu langsung di kasur untuk meminimalisir gerakan.

​Dengan kaki bengkak yang terasa berdenyut, ia memiringkan tubuhnya dan membuka kemeja tidur yang ia kenakan.

​Arjuna tidak menunggu. Ia meraih tubuh Indira dengan satu tangan dan langsung menyambut apa yang disodorkan. Hisapan yang kuat dan tergesa-gesa langsung terasa.

​Indira menggigit bibir bawahnya, menahan erangan. Bukan karena kenikmatan, melainkan karena rasa sakit dari tarikan kuat dan posisi tubuh yang tidak stabil. Ia merasakan tarikan di bagian sensitifnya, sekaligus denyutan nyeri di jempol kakinya yang semakin parah karena tekanan dan posisi miring tubuhnya.

​Ini harus cepat selesai, batin Indira.

​Kali ini, Arjuna lebih kasar dari biasanya, mungkin karena ia menahan rasa haus lebih lama. Ia menghisap seolah itu adalah air terakhir di padang gurun.

​"A-aduh..." Indira tanpa sadar berseru pelan, karena posisi tubuhnya goyah dan kakinya yang bengkak.

​Arjuna berhenti sesaat. Ia mendongak, matanya menatap tajam ke wajah Indira.

​"Sakit?" tanyanya, suaranya serak. Ada sedikit kerutan di dahinya, ekspresi yang menunjukkan ia terganggu sekaligus menyadari rasa sakit yang disebabkan oleh tindakannya.

​Indira menggeleng cepat, mencoba meyakinkannya. "Tidak, Tuan. Hanya... kaki saya tersenggol sedikit. Lanjutkan, Tuan."

​Arjuna menghela napas berat. Ia menyadari keegoisannya. Gadis ini terluka parah, dan ia memaksanya berposisi tidak nyaman demi memuaskan kebutuhannya.

​Namun, rasa haus itu kembali mendominasi. Ia hanya menggeser tubuh Indira, memposisikannya agar tidur lebih nyaman di sampingnya, dengan kaki yang diganjal bantal.

​"Peluk aku,agar posisimu nyaman," perintah Arjuna, kini suaranya kembali datar. Ia juga memeluk dan melingkarkan satu tangan di pinggang Indira, menahannya agar tidak goyah.

​Posisi itu jauh lebih stabil bagi Indira. Ia menuruti perintah Arjuna, merasakan detak jantung pria itu yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

​Arjuna kembali melahap dengan rakus. Suara tegukan yang berulang terdengar memecah keheningan malam. Glek... glekkk... glekkk...!

​Indira memejamkan mata.

Sentuhan tangan Arjuna di pinggangnya yang menahan, hisapan yang kuat, dan rasa sakit di kakinya bercampur menjadi pengalaman yang aneh. Ia merasa menjadi sebuah anugerah sekaligus alat pemuas kebutuhan.

​Setelah menghabiskan satu sisi, Arjuna beralih ke sisi lainnya. Frekuensi tegukan mulai melambat, menjadi lebih tenang dan ritmis. Itu adalah tanda bahwa rasa haus Arjuna mulai mereda.

​Beberapa saat kemudian, Arjuna melepaskan hisapannya. Dada Indira terlihat memerah dan terasa perih. Ia segera menutupinya dengan kemeja tidurnya.

​"Terima kasih," kata Arjuna, suaranya kembali normal. Kali ini, ia benar-benar mengatakannya. Suara itu dingin, tetapi diucapkan.

​Indira tertegun sesaat. Ia baru menyadari betapa jarangnya pria itu mengucapkan kata 'terima kasih' padanya.

​"Sama-sama, Tuan," jawab Indira.

​Arjuna tidak berbicara lagi. Ia melepaskan pelukan di pinggang Indira, kembali berbaring membelakanginya, dan menarik selimut hingga ke leher. Seolah momen intim beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.

​Indira juga kembali ke posisinya, menyandarkan kakinya di bantal dan berusaha tidur.

***

Pagi harinya, Indira bangun dengan rasa lega di dada, tidak hanya karena rasa sakit di kakinya sedikit mereda, tetapi juga karena ia tidak perlu buru-buru menyiapkan dirinya. Toni sudah menepati janjinya.

​Seorang wanita paruh baya yang terlihat cerdas dan ramah telah datang. Dia adalah Miss Rina, guru privat yang disewa Arjuna untuk mengajar semua mata pelajaran sekolah menengah atas.

​Arjuna mengamati dari ranjangnya. Ia tidak lagi mengenakan infus, hanya duduk bersandar dengan laptop di pangkuannya, tampak seperti pria bisnis yang fokus.

​"Indira, jangan hanya diam. Mulai pelajaranmu," titah Arjuna, tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

​Indira segera duduk dengan sopan di meja belajar kecil yang telah disiapkan Toni, tepat di sudut ruangan, jauh dari ranjang Arjuna.

​Selama satu jam pelajaran matematika, Arjuna tidak menunjukkan ekspresi apapun. Namun, ketika Miss Rina sedang menjelaskan tentang aljabar, Arjuna tiba-tiba menginterupsi.

​"Miss Rina, tolong ulangi pelajaran apa saja yang belum di ketahui,,Saya rasa penjelasan Anda tadi terlalu cepat untuknya," potong Arjuna, suaranya tenang namun jelas.

​Indira dan Miss Rina saling pandang. Mereka sama-sama terkejut.

​"Tentu, Tuan Arjuna," jawab Miss Rina profesional. Ia kembali menjelaskan, kali ini dengan tempo yang lebih lambat dan contoh yang lebih sederhana.

​Arjuna kembali fokus pada laptopnya.

​Indira merasa malu. Ternyata Arjuna tidak hanya mendengar, tetapi juga mengawasi dan menilai dirinya. Ia merasa seperti seorang murid yang harus diawasi oleh dua guru sekaligus.

​Setelah sesi pelajaran selesai, Miss Rina pamit dan berjanji akan kembali besok.

​Arjuna menutup laptopnya dan menatap Indira. "Bagaimana?"

​"Terima kasih, Tuan. Saya merasa terbantu," jawab Indira.

​"Guru privat bukan untuk membuatmu merasa dibantu," potong Arjuna tajam. "Itu untuk memastikan kamu tidak tertinggal. Kamu harus belajar sungguh-sungguh."

​Indira menunduk. "Baik, Tuan."

​Arjuna menghela napas. Ia menoleh ke sisi nakas dan mengambil sebuah botol minuman berwarna putih. Itu adalah susu khusus ibu menyusui yang ia perintahkan kepada Toni.

​"Minum ini," perintah Arjuna. "Habiskan."

​Indira meraih botol itu. Aroma vanilla yang manis tercium dari susu tersebut. Ia meminumnya sedikit, ragu-ragu.

​"Indira," panggil Arjuna, membuat gadis itu menghentikan tegukannya. "Jangan sungkan. Kamu minum itu untuk diriku sendiri, untuk nutrisi yang hilang dari tubuhmu. Aku butuh kamu tetap sehat dan asupanmu tercukupi."

​Kalimat itu, meskipun tulus, tetap mengandung pengakuan bahwa kesehatan Indira diprioritaskan demi kepentingan Arjuna.

​"Tentu, Tuan," jawab Indira, ia melanjutkan meminum susu itu hingga habis.

​Arjuna kembali menyalakan laptopnya. "Darsih akan membawakanmu makanan sebentar lagi. Habiskan. Setelah itu, kamu bisa tidur. Jangan beranjak dari tempat tidur, kecuali untuk ke toilet."

​Indira hanya mengangguk patuh. Ia menyadari, dirinya kini benar-benar terikat dan terkunci di ruangan ini. Bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai penawar yang harus dijaga dan dilindungi dengan baik.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!