NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan sang CEO

Sementara Ayunda bernegosiasi dengan sekutu barunya. Berbeda dengan Rasya. CEO muda itu tampak sedikit tegang. Jari-jemari Radya melayang di atas permukaan dingin tabletnya, ragu sejenak sebelum menyentuh ikon ‘putar’. Di layar, puluhan jendela video kecil menampilkan mosaik bisu dari aktivitas Cokrodinoto Group. Di salah satunya, seorang perempuan berseragam biru dongker sedang menyapu koridor dengan gerakan monoton. Rara.

Logikanya memberontak. Seluruh konsep probabilitas dan efisiensi yang menjadi fondasi hidupnya menolak premis ini. Tim perencana strategisnya, yang terdiri dari para lulusan MBA dengan gaji sembilan digit, telah melewatkan kesalahan fatal itu. Direktur keuangannya, seorang veteran Wall Street, tidak melihatnya.

Namun, seorang petugas kebersihan, seorang gadis desa yang mungkin bahkan tidak tahu apa itu EBITDA, menemukannya? Ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah anomali statistik yang menjengkelkan.

Ia menyeret jarinya di garis waktu, melompati rekaman berjam-jam yang menampilkan Rara mengepel lantai, mengelap meja, dan membawa tumpukan dokumen dengan wajah tanpa ekspresi. Membosankan. Tidak efisien. Radya hampir menyerah, menganggap ini semua hanya kebetulan konyol yang dibesar-besarkan oleh Sarah untuk menutupi kecerobohannya sendiri.

Kemudian, ia berhenti. Kamera di sudut pantry OB. Pukul 15.42.

Di layar, Rara masuk ke pantry yang sepi. Ia tidak langsung membuang kantong sampah dari ruang rapat. Sebaliknya, dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk seorang petugas kebersihan, ia meletakkannya di meja, mengeluarkan segumpal kertas, dan membukanya perlahan.

Radya mencondongkan tubuhnya lebih dekat, matanya menyipit. Resolusi kamera tidak sempurna, tetapi cukup jelas untuk melihat fokus yang tajam di wajah perempuan itu.

 Kepalanya sedikit miring, matanya bergerak cepat dari kiri ke kanan, memindai baris demi baris teks. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara, seolah sedang menghitung. Ini bukan tatapan orang yang kebingungan melihat dokumen rumit. Ini adalah tatapan seorang analis.

Rekaman berlanjut. Rara mengeluarkan ponselnya, model lama yang layarnya sudah sedikit retak, lalu membuka aplikasi kalkulator. Jari-jarinya menari di atas layar dengan kecepatan yang mengejutkan. Ia berhenti, menatap angka di ponselnya, lalu kembali menatap kertas di tangannya. Keningnya berkerut dalam.

Keringat dingin mulai terasa di tengkuk Radya.

Video berikutnya, dari kamera di koridor utama lantai dua puluh empat. Pukul 15.55. Rara berjalan keluar dari pantry, membawa kertas itu. Langkahnya cepat tapi terkendali. Tidak ada kepanikan, hanya tujuan. Ia mendekati kubikel Sarah. Radya menaikkan volume suara.

“Permisi, Mbak Sarah."Suara Rara terdengar pelan, sedikit gugup. Sempurna.

“Ya? Ada apa?” Suara Sarah yang jengkel dan lelah.

“Maaf mengganggu, Mbak. Tadi… waktu saya bersihkan ruang rapat, saya nemu ini di lantai, di dekat keranjang sampah. Saya nggak berani buang, kelihatannya penting.”

Sebuah kebohongan. Radya baru saja melihat dengan mata kepalanya sendiri, perempuan itu mengeluarkannya dari dalam keranjang sampah.

“Mungkin, Mbak. Tapi tadi saya lihat sekilas di halaman terakhir, kok, ada angka yang dilingkari pakai pulpen merah, ya? Saya kira mungkin ada revisi yang kelewat.”

Kebohongan kedua. Kebohongan yang brilian. Tidak ada lingkaran merah. Itu adalah pancingan psikologis yang dirancang untuk memaksa Sarah memeriksa halaman yang paling krusial.

Radya membanting tabletnya ke meja. Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Sinta yang duduk di luar ruangannya tersentak kaget.

Kemarahan yang dingin dan pekat menjalari pembuluh darahnya. Ini bukan keberuntungan. Ini bukan kebetulan. Ini adalah sebuah skenario yang dieksekusi dengan presisi bedah. Perempuan itu, Raras Inten, istrinya yang ia bayar untuk menjadi jimat hidup, sedang mempermainkannya di dalam kerajaannya sendiri.

Siapa dia sebenarnya? Seorang mata-mata dari kompetitor? Terlalu berisiko dan tidak masuk akal. Seorang agen yang ditanam Eyang untuk mengawasinya? Mungkin. Eyang cukup licik untuk melakukan itu. Tapi untuk apa? Untuk membuktikan bahwa dunia spiritualnya lebih unggul dari logika Radya?

Rasa terhina membakar harga dirinya. Ia, Radya Maheswara, CEO Cokrodinoto Group, telah diselamatkan oleh seorang penjual jamu yang menyamar menjadi petugas kebersihan. Penyelamatan itu terasa seperti tamparan paling keras yang pernah ia terima. Perempuan yang ia anggap bodoh, kampungan, dan tidak berkelas, ternyata memiliki kecerdasan tersembunyi yang baru saja menyelamatkan seluruh kariernya.

Paradoks itu membuatnya mual.

Ia menekan tombol interkom dengan kasar.

 “Bayu. Ke ruangan saya. Sekarang.”

Tidak sampai dua menit, pintu ruangannya diketuk pelan. Bayu masuk dengan langkahnya yang efisien dan wajahnya yang tenang.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Duduk,” perintah Radya, suaranya datar tanpa emosi.

Bayu duduk di kursi di seberang meja, posturnya tegak dan penuh hormat seperti biasa.

Radya memutar tablet di atas meja menghadap Bayu. Di layar, gambar Rara yang sedang berbicara dengan Sarah terpampang, dibekukan tepat pada momen krusial itu.

 “Perempuan ini. Rara. Kamu yang merekrutnya, kan?”

Bayu melirik layar sekilas, ekspresinya tidak berubah.

“Secara teknis, bagian personalia yang merekrut, Pak. Tapi lamarannya memang saya teruskan atas perintah Eyang.”

“Aku tidak peduli siapa yang memerintah,” potong Radya tajam.

“Aku mau tahu semua tentang dia. Latar belakangnya. Pendidikannya. Pengalaman kerjanya. Semua yang kamu temukan saat melakukan pemeriksaan latar belakang. Jangan ada yang terlewat.”

Bayu terdiam sejenak, seolah sedang menyusun ingatannya. Itu adalah jeda yang diperhitungkan dengan cermat.

“Tidak banyak yang bisa dilaporkan, Pak. Namanya Rara, yatim piatu, tinggal dengan bibinya di pinggiran kota. Lulusan SMA Negeri biasa, nilainya standar. Tidak pernah kuliah karena masalah biaya. Pengalaman kerjanya hanya serabutan, membantu di warung, sesekali menjadi juru ketik lepas. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada catatan kriminal. Bersih.”

Setiap kata yang keluar dari mulut Bayu adalah kebohongan yang dirangkai dengan apik, fakta yang dipelintir untuk menyajikan gambaran yang diinginkan Radya, seorang gadis biasa yang tidak berbahaya.

Radya menatap lurus ke mata Bayu, mencari celah sekecil apa pun dalam benteng ketenangannya.

“Juru ketik lepas? Mengetik apa?”

“Menurut berkasnya, kebanyakan makalah mahasiswa atau proposal-proposal kecil untuk UMKM, Pak. Tidak ada yang signifikan,” jawab Bayu lancar.

Radya menyandarkan punggungnya. Penjelasan Bayu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal. Itu sangat cocok dengan prasangka yang selama ini ia pelihara. Namun, itu sama sekali tidak cocok dengan apa yang baru saja ia saksikan di rekaman CCTV. Otaknya yang logis kini berperang dengan instingnya.

“Jadi, menurutmu, bagaimana seorang lulusan SMA biasa dengan pengalaman mengetik proposal UMKM bisa menemukan kesalahan perhitungan aktuaria dalam proposal akuisisi bernilai triliunan rupiah yang bahkan tidak dilihat oleh tim analis kita?” tanya Radya, setiap kata diucapkannya dengan penekanan dingin.

Bayu mengangkat bahu sedikit, gerakan yang menunjukkan simpati sekaligus ketidakberdayaan.

 “Keberuntungan pemula, mungkin, Pak? Atau bisa jadi ini hanya akal-akalan Mbak Sarah dari divisi perencanaan. Mungkin dia yang menemukan kesalahannya di menit terakhir, panik, lalu menggunakan anak OB baru itu sebagai alasan agar dia terlihat seperti pahlawan, bukan orang ceroboh yang hampir menghancurkan perusahaan.”

Argumen itu cerdas. Sangat cerdas. Itu memberikan Radya kambing hitam yang sempurna dan memulihkan tatanan logis di dunianya, Sarah yang ceroboh, bukan Rara yang jenius. Itu adalah penjelasan yang paling nyaman untuk egonya yang terluka.

Tapi Radya tidak merasa nyaman. Sama sekali tidak.

“Cukup. Kamu boleh pergi,” kata Radya tiba-tiba.

“Baik, Pak.” Bayu berdiri, mengangguk hormat, lalu berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa suara.

Sepeninggal Bayu, Radya kembali memutar tabletnya. Ia tidak lagi percaya pada penjelasan siapa pun. Ia hanya percaya pada data mentah di depannya. Ia memutar ulang rekaman di pantry, kali ini memperlambatnya hingga setengah kecepatan.

Ia mengamati setiap detail. Cara Rara memegang kertas itu. Cara matanya menyapu angka-angka. Cara kerutan di keningnya menunjukkan pemahaman, bukan kebingungan. Tidak ada keberuntungan di sana. Yang ada hanya kompetensi murni.

Lalu, jarinya berhenti pada satu frame. Sebuah gambar buram saat Rara memasukkan kembali ponselnya ke saku seragamnya. Layarnya masih menyala sekilas. Radya menekan tombol zoom, memperbesar gambar itu hingga pikselnya pecah.

Di layar ponsel yang retak itu, ia tidak melihat aplikasi kalkulator. Yang ia lihat adalah tampilan sebuah dokumen, sebuah draf tulisan dengan baris-baris kalimat yang rapi. Dan di bagian paling atas, samar-samar terbaca sebuah judul.

Dekret…

Kata selanjutnya tidak terbaca.

Jantung Radya serasa berhenti berdetak. Ia memundurkan rekaman ke beberapa detik sebelumnya, saat Rara pertama kali mengeluarkan ponselnya. Ia melakukan zoom digital maksimal, mengabaikan gambar yang pecah. Ia hanya butuh satu petunjuk lagi.

Ia menemukannya. Di sudut lain rekaman, sebuah pantulan sesaat dari layar ponsel Rara terlihat di permukaan dispenser air berbahan metal. Pantulan itu terbalik dan terdistorsi, tetapi cukup untuk Radya menangkap satu detail kecil yang selama ini ia abaikan. Sebuah detail yang seharusnya tidak mungkin ada di sana.

Di sudut kanan atas dokumen yang sedang diketik Rara di ponselnya, terdapat sebuah logo kecil. Logo kepala singa dengan mahkota.

Logo penerbit buku internasional yang sama, yang baru saja menolak naskah novel bisnisnya dua bulan lalu.

Napas Radya tercekat di tenggorokan. Kebingungan dan kemarahan yang tadi bergejolak kini membeku menjadi satu bongkahan es yang mengerikan di perutnya: pemahaman.

Ia memutar kembali rekaman ke wajah Rara. Ia memperbesarnya hingga memenuhi seluruh layar tablet. Wajah polos itu. Wajah biasa yang selama ini ia pandang dengan hina. Wajah yang ia lihat di akad nikah sirri yang dingin.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihatnya. Bukan sebagai Rara si office girl. Bukan sebagai Raras Inten si penjual jamu.

Ia melihat mata yang sama. Mata yang menatapnya dengan campuran ketakutan dan perlawanan saat ia melemparkan kontrak pernikahan di depannya. Mata cerdas yang sama, yang kini ia sadari, telah menilainya, menganalisisnya, dan mungkin… menertawakannya dalam diam selama ini.

Kedua persona itu, perempuan di layar dan perempuan di rumahnya, bertabrakan di benaknya dengan kekuatan sebuah ledakan. Mereka adalah orang yang sama.

Penyelamat perusahaannya adalah istri yang paling ia benci.

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!