Hidup Jema berubah sejak ayahnya menikah lagi saat ia kelas 6 SD. Sejak itu, ia tinggal bersama ibu tiri yang semena-mena dan semuanya makin memburuk ketika ayahnya meninggal.
Saat SMA, ibu tirinya menikah dengan seorang duda kaya raya yang punya tiga putra tampan. Jema berharap hidupnya membaik… sampai ia melihat salah satu dari mereka: Nathan.
Musuh bebuyutannya di sekolah.
Cowok arogan yang selalu membuat hidupnya kacau.
Dan sekarang, jadi saudara tirinya.
Tinggal serumah membuat semuanya jadi lebih rumit. Pertengkaran mereka semakin intens, tetapi begitu pula perhatian-perhatian kecil yang muncul tanpa sengaja.
Di antara benci, cemburu, dan konflik keluarga perasaan lain tumbuh.
Perasaan yang tidak seharusnya ada.
Perasaan yang justru membuat Jema sulit bernapas setiap kali Nathan menatapnya lebih lama daripada seharusnya.
Jema tahu ini salah.
Nathan tahu ini berbahaya.
Tapi hati tetap memilh bahkan ketika logika menolak.
Karena siapa sangka, musuh bisa menjadi cinta pertama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumiiyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang disembunyikan
Jema kembali mengikat rambutnya dengan pelan, sangat hati-hati. Setiap tarikan karet terasa seperti ancaman. Mungkin kalau saja Nathan tidak datang tadi… entah apa yang terjadi pada rambutnya. Membayangkannya saja membuat Jema merinding.
Kulit kepalanya masih nyeri, perihnya belum sepenuhnya hilang.
Ia lalu mengobati pipinya yang tercakar oleh Sarah. Cairan obat menyentuh luka itu, membuat Jema meringis. Pedihnya menusuk hingga ke dada. Setelahnya, ia menempelkan plester dengan tangan gemetar.
Selesai.
Jema melangkah keluar kamar. Di saat yang hampir bersamaan, pintu kamar di seberang juga terbuka. Nathan keluar, sudah rapi dengan seragamnya. Wajahnya terlihat biasa saja, seolah kejadian semalam tak pernah terjadi.
“Lo beneran udah sembuh?” tanya Jema pelan.
Nathan melirik sekilas. “Yang lo lihat?”
Jema terdiam. Tidak ada jawaban lain yang bisa ia beri. Nathan tetaplah Nathan—keras kepala dan sulit ditebak. Ia langsung berjalan lebih dulu, meninggalkan Jema yang otomatis mengikutinya dari belakang.
Ruang makan sudah ramai. Semua berkumpul untuk sarapan.
“Nathan?” Chandra tampak terkejut saat melihat anak sulungnya duduk di meja makan. “Kamu kok udah pulang? Rumah sakit nggak ngabarin apa-apa ke papa.”
“Aku udah sembuh,” jawab Nathan santai.
“Kenapa dokter nggak bilang apa-apa ke papa?”
Belum sempat Nathan menjawab, ponsel Chandra berdering. Telepon dari rumah sakit. Chandra langsung menatap layar itu dengan ekspresi tidak percaya. Nathan pura-pura tidak tahu, fokus mengambil piring dan menyantap makanan yang sudah disiapkan Bik Diah.
“Oh… iya, nggak apa-apa, Dok,” ujar Chandra ke ponsel. “Soalnya dia sudah pulang.”
Telepon ditutup. Wajah Chandra tampak kesal. Rumah sakit dibuat panik hanya karena ulah satu anak.
Kevin tiba-tiba menggeplak kepala Nathan.
“Anjir, sakit!” protes Nathan.
“Gue anterin lo balik ke rumah sakit sekarang.”
“Nggak, nggak. Gue udah gapapa,” Nathan nyengir. “Pukul aja lagi sekalian.”
Kevin langsung menjejalkan sepotong roti ke mulut adiknya.
“Lagi dan lagi,” gumam Chandra, menggeleng pelan.
“Ntar uang papa habis,” Nathan bicara sambil mengunyah, “jadi aku pulang duluan aja.”
“Kamu itu ya,” Chandra menghela napas panjang, “kerjaannya bikin orang lain repot aja.”
“Aku kan udah bilang kalau aku mau pulang.”
Chandra hanya bisa menggeleng-geleng kepala.
“Pa…” Nathan memanggil lagi.
Chandra menatapnya.
“Kita udah lama nggak ngadain pengajian di rumah ini.”
“Kok tiba-tiba?” tanya Chandra curiga.
“Soalnya Jema bangun tidur berantem sama hantu.”
“Hah?”
Chandra spontan menoleh ke arah Jema. Tatapannya langsung tertuju pada pipi Jema yang diplester.
“Pipi kamu kenapa, Jema?” tanya Chandra, suaranya berubah serius.
“Ah ini…”
Nathan menyeringai, lalu menyela sebelum siapa pun sempat bicara.
“Itu dia. Ada sosok menyeramkan di rumah ini.”
“Lo hantunya?” Kevin nyeletuk datar.
“Bukan gue,” bantah Nathan cepat. “Itu ulah hantu. Kayak Mak Lampir gitu sih… pokoknya nyeremin. Untung gue masih gapapa.”
“Pagi ini kita ronsen isi kepala kamu aja,” sahut Chandra ketus.
Nathan mendengus. “Ini serius, pah.”
Jema tetap diam. Tatapannya tertuju pada meja makan, jarinya menggenggam sendok lebih erat. Sementara itu, Sarah tampak gelisah. Wajahnya sedikit pucat, sorot matanya tak tenang.
“Jema,” panggil Chandra kemudian, nadanya berubah serius. “Apa Nathan ganggu kamu? Jangan-jangan itu ulah Nathan?”
Jema mengangkat kepala pelan. “Nggak kok, pah. Bukan ulah Nathan. Aku gapapa.”
“Serius kamu?” Chandra menatapnya lekat. “Kalau ada yang ganggu, bilang aja ke papa.”
Jema hanya menggeleng, senyumnya tipis dan dipaksakan.
Chandra menghela napas, lalu melirik Nathan tajam. “Awas kamu ya, Nathan.”
“Hah? Kok jadi aku?” protes Nathan refleks.
Namun Chandra tak menanggapi lagi. Fokusnya kembali ke sarapan, seolah ingin mengakhiri percakapan itu secepat mungkin.
Di sisi lain meja, Susan dan Selin menatap Jema tanpa menyembunyikan rasa tidak suka. Tatapan mereka tajam, penuh kebencian. Jema bisa merasakannya, meski ia tak berani menoleh.
Meja makan itu kembali sunyi—sunyi yang menekan, seolah menyimpan sesuatu yang siap meledak kapan saja.