Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 18
"Dimana Reya sama Arlo? Mereka udah berangkat?" Tanya Reyhan pada asisten rumah tangganya itu
"Itu pak, semalem den Arlo demam, sampe kejang-kejang juga, makanya sama ibu dibawa kerumah sakit!"
Mendengar penuturan sang asisten rumah tangga, membuat Reyhan merasa khawatir, bagaimana bisa Reya tidak menghubunginya saat Arlo sakit seperti ini
Tanpa masuk lebih dulu, Reyhan segera memacu kendaraan roda dua miliknya dengan kecepatan tinggi, tujuan utamanya adalah rumah sakit terdekat
"Maafkan Papa Arlo!"
***
Reya mengerjap, manik indahnya mulai terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk lewat tirai
Saat kesadarannya sudah kembali, ia dibuat khawatir saat tak menemukan putranya diatas ranjang
"Arlo!" Teriak Reya, ia memegang jas mahal yang ia ketahui adalah milik Darren
"Arlo!"
"Arlo ada disini Reya!" Darren menjawab sembari menggendong tubuh bocah tampan itu
"Kamu dari mana?"
Darren lebih dulu membaringkan tubuh kecil Arlo keatas ranjang lalu memperbaiki lagi infus nya
Pria tampan itu melakukannya dengan begitu telaten, dan semua itu tak luput dari pandangan Reya
"Arlo dari mana sih sayang?" Tanya Reya lembut pada putranya
"Tadi Arlo mau kekamar mandi, tapi kamu lagi tidur, makanya aku anterin aja!" Jawab Darren
"Kenapa gak bangunin aku aja?" Reya sebenarnya tak enak pada Darren karena telah merawat putranya
"Bukan masalah Reya, kamu keliatan capek banget tadi!" Jawab Darren, ia senang jika dirinya menjadi bagian dari Reya dan putranya seperti ini
"Kenapa gak pulang aja semalem?"
"Aku gak tega ninggalin kamu!"
"Makasih yaa!"
Tak lama seorang perawat wanita masuk dan melakukan pemeriksaan terhadap tubuh Arlo
Setelah selesai memeriksa m, perawat itu lalu meninggalkan ruangan. Sekarang tinggllah Reya, Arlo serta Darren
"Arlo makan dulu yaa! Nanti baru minum obat!"
Reya meraih mangkuk bubur lalu duduk didepan putranya, walaupun menolak, Arlo tetap mau makan, tentu saja dengan berbagai bujukan yang diberikan Darren
"Pinter banget sih anak Mama!" Reya mengusap pipi putra kesayangannya itu
"Papa dimana Mah?"
Reya diam, entah jawaban apa yang akan ia berikan pada putranya, ia saja ragu jika suaminya tengah bekerja
"Papa lagi kerja sayang, nanti papa pasti dateng!" Reya tersenyum, tangannya telaten menyuapi putra semata wayangnya itu
"Arlo udah kenyang" Bocah tampan itu mendorong mangkuk bubur yang dipegang oleh sang ibu
"Sedikit lagi ya sayang!" Bujuk Reya, namun Arlo tetap menolak
"Arlo, Arlo habisin buburnya! Nanti om Darren beliin mainan"
Wajah bocah itu terlihat senang begitu mendengar kata hadiah "Beneran yaa om!"
"Iya sayang!"
"Yeay, ayo Mah! Arlo mau makan lagi!" Reya hanya menggelengkan kepalanya, wanita cantik itu tersenyum melihat tingkah putranya itu
"Mah, minum!" Reya hendak meraih gelas air diatas nakas, namun disaat yang bersamaan Darren juga menggenggam gelas tersebut hingga tangan Reya mendarat di atas tangan Darren
Tatapan keduanya bertemu, rasa itu kembali lagi, Darren menatap manik indah wanita pujaannya itu dengan penuh cinta, sungguh dirinya benar-benar mencintai Reya lebih dari apapun
Pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka, menampilkan seorang pria tampan dengan wajah begitu panik
Reyhan membeku sejenak, dahinya mengkerut, ada rasa cemburu saat melihat sang istri tengah berpegangan tangan bersama pria lain
"Arlo!"
"Papa!"
Teriakan Arlo membuat kedua insan itu tersadar, keduanya sontak menoleh kearah Reyhan yang kini melangkah mendekati ranjang
"Arlo minum dulu yaa sayang!" Reya berusaha terlihat tenang, ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada suaminya ini, tapi sepertinya ini bukan waktunya
"Sekarang Arlo minum obat yaa!" Reyhan sadar jika Reya tengah mengabaikannya
"Obatnya pait Mah, Arlo gak mau!" Bocah enam tahun itu merengek dengan menutupi mulutnya dengan telapak tangan
"Mau sama Papa aja sayang!" Tanya Reyhan, namun bocah tampan itu tetap menolak
"Arlo! Kalau Arlo minum obatnya pinter, nanti om beliin robot, gimana?" Reyhan menoleh ke belakang, kenapa juga Darren terlihat ikut campur pada masalah keluarganya
"Robotnya yang bagus ya om!"
Darren mengangguk, membuat bocah laki-laki itu kegirangan "Ayo Mah! Sekarang Arlo mau minum obat!"
"Pinter!" Reya tersenyum lalu menyimpan kembali sendok takar serta botol obat itu keatas nakas
"Sekarang Arlo istirahat yaa!" Arlo berbaring, ia meminta agar sang Papa menemaninya diatas tempat tidur dan Reyhan segera menurutinya
"Maafin papa yaa sayang! Papa telat kesininya" Reyhan mengusap kepala putranya dengan lembut, Reya tidak ingin melihatnya
Wanita cantik itu hendak keluar ruangan namun suara Arlo membuatnya berhenti "Mah, Mama disini juga!"
Bocah itu menggeser hingga ada satu tempat lagi untuk sang mama
"Arlo sama Papa aja yaa! Mama diluar sebentar!" Reya masih sangat kesal melihat suaminya, itu sebabnya ia berusaha menolak
"Tapi Arlo maunya sama Mama sama Papa!" Arlo terdengar merengek dan mau tak mau Reya menurut
"Kalau gitu aku pulang dulu ya Re! Aku masih harus kekantor soalnya!" Pamit Darren, sebenarnya itu hanya alasannya saja, ia tidak akan suka melihat kemesraan Reya dan suami tidak berguna nya itu
"Makasih banget yaa buat bantuan kamu! Aku utang budi banyak sama kamu!" Keduanya saling bersalaman, dan hal itu membuat hati Reyhan bergejolak
"Kalau ada apa-apa langsung kabari aku!"
Reya mengangguk, wanita cantik itu tersenyum manis membuat Darren mabuk kepayang dibuatnya
Reyhan berdehem ketika Darren tak kunjung melepaskan tangan istrinya, bagaimana bisa ada laki-laki yang dengan lancangnya menyentuh wanita didepan suaminya
"Terima kasih tuan Darren, tapi disini sudah ada suaminya. Jadi Reya tidak membutuhkan bantuan dari anda!"
Ucapan Reyhan terdengar sombong, jika tidak karena ingin mencari bukti perselingkuhannya, mungkin Darren sudah memecat pria tidak setia ini
"Kalau suaminya lebih memilih bersenang-senang dengan orang lain, rasanya juga sama saja dengan tidak memiliki suami!" Sindir Darren
"Maksud...!" Reyhan hendak bangun namun tangannya ditahan oleh Arlo walaupun anak kecil itu terlelap
"Sudahlah Darren! Sekali lagi makasih ya, untuk bantuan kamu!"
Reya segera memisahkan dua pria yang seperti anak kecil itu, jika terus berdebat maka akan membuat putranya bangun
Setelah kepergian Darren, Reya berbaring disamping Arlo, bocah itu merengek ingin ditemani oleh kedua orang tuanya
Reyhan disebelah kiri sedangkan Reya disebelah kanannya, Reya menatap penuh amarah, jika bukan karena sang putra mungkin Reya sudah mencecar suaminya itu dengan ribuan pertanyaan
Arlo mulai terlelap, napas bocah tampan itu mulai teratur, Reya yang melihat itu mengecup kening putranya lalu beringsut turun dari tempat tidur
Melihat sang istri turun, Reyhan ikut turun. Ia kesal karena Reya mengabaikannya, terlebih sang istri tak memberitahu kan padanya jika Arlo sakit
"Arlo sakit dan kamu gak ngabarin aku?" Reyhan sedikit berbisik, takut pertengkaran mereka membangunkan putranya