Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbeda pendapat
Pulang kantor bukannya ke rumah untuk istirahat, Liam malah melajukan mobilnya menuju lokasi kecelakaan beberapa hari lalu. Dia menepikan mobilnya dan memperhatikan jalan yang telah beroperasi seperti biasanya.
Ia menatap nanar pembatas jalan yang hancur sehancur jiwanya yang ditinggal pergi oleh wanita dicintainya. Ia turun dari mobil dan mendekati lokasi kecelakaan.
Mengedarkan pandangannya ke segala arah berharap menemukan petunjuk tentang kecelakaan yang menurut polisi direncanakan. Sampai akhirnya Liam tidak sengaja melihat kakek-kakek yang seolah curi-curi pandang padanya. Ia pun menyebrang jalan dan menghampiri kakek yang membawa gerobak tersebut.
"Boleh saya bertanya? Kenapa kakek terus menatap saya dan seperti ingin mengatakan sesuatu?" tanya Liam tetapi kakek yang dia hampiri tampak menghindar.
"Kakek?"
"Tuan calon suami orang kecelakaan malam itu kan? Tuan mirip dengan orang yang diberitakan di Tv."
"Iya itu saya, ada yang ingin kakek sampaikan?"
Kekek berpakai lusuh itu mengelengkan kepalanya.
"Kakek, polisi mengatakan kecelakaan calon istri saya direncakan. Jadi tolong jika kakek mengetahui sesuatu beritahu saya untuk memudahkan semuanya," pinta Liam dengan tatapan penuh permohonan.
"Satu malam sebelum kecelakaan, saya melihat calon istri Tuan bertengkar dengan seseorang di sana." Menunjuk pembatas jalan yang telah hancur. "Calon istri Tuan menangis dan berlutut di hadapan orang itu."
"Kakek mengenali orangnya? Pria atau wanita?"
"Saya tidak melihat wajahnya Tuan, orang itu memakai jaket bertudung, tapi saya menemukan ini setelah mereka pergi." Menyerahkan buku catatan kecil berwarna biru.
"Terimakasih." Liam mengambil buku tersebut dan memasukkan ke saku jasnya, kemudian mengeluarkan dompet dan memilah beberapa lembar uang. Ia menyerahkan pada kakek pemulung tersebut.
"Untuk kakek, sekali lagi terimakasih," ucapnya dan berlalu.
Liam melajukan mobilnya menuju studio foto Arumi yang masih beroperasi di tangan Sevia. Hanya saja kali ini studionya tidak lagi berbasis besar sebab para model dan agensi hanya mengingin Arumi dengan ide briliannya. Hanya studio biasa yang di datangi anak remaja untuk mengabadikan momen.
"Tuan." Sevia menunduk mendapati keberadaan Liam.
Tetapi Liam hanya bergumam dan menuju lantai dua di mana ruangan Arumi berada. Menggeledah laci sampai akhirnya menemukan tulis tangan sang kekasih yang sama persis dengan buku catatan di diberikan oleh kakek pemulung tersebut.
"Artinya Arumi punya masalah dengan seseorang," gumam Liam. Ia menekan intercom untuk memanggil Sevia keruangan Arumi.
"Apa kamu tahu kemana Arumi pergi satu malam sebelum kecelakaan?"
"Tidak Tuan. Hari itu bu Arumi hanya mengatakan akan menemui seseorang. Tapi setelah kembali matanya bengkak dan lututnya lecet. Besoknya pameran bu Arumi berantakan."
"Arumi punya musuh?"
"Tidak Tuan. Bu Arumi bukan tipe orang yang larut dalam masalah. Bahkan jika diperlakukan tidak adil, bu Arumi memilih melupakan perlakuan tidak mengenakan itu dan memaafkan orangnya."
"Kamu bisa pergi," usir Liam.
Pria itu membuka buku catatan yang ia dapatkan. Dilihat dari isinya, itu buku catatan baru.
Aku selalu ketakutan setiap kali melihat dirinya. Aku merasa dia akan mengambil segalanya dariku, termasuk kebahagianku.
Aku ingin dia pergi dari hidupku, tapi bagaimana aku melakukannya? Adakah orang yang akan mempercayai alasan tidak masuk akalku?
Mas Liam, apa kamu akan percaya padaku?
Aku takut bahkan saat akan menjadi istrimu.
Dia .... Aku sangat membencinya
"Dia siapa?" guman Liam ketika nama yang ditulis oleh Arumi dicoret sampai tidak bisa dibaca.
Liam menyimpan buku catatan kecil itu, berjalan menuju balkon untuk melihat sekitar. Tatapannya tertuju pada parkiran mobil.
"Baut ban kendur, sabotase," gumam Liam "Cctv!" serunya.
Liam langsung beralih ke ruang kontrol dan menemukan layar yang menampilkan cctv studio Arumi. Harapan yang semula terpatri di hatinya sirna ketika cctv di hari kejadian hilang.
"Sevia!"
"Iya Tuan?" Menghampiri Liam yang berdiri di anak tangga.
"Hari sebelum kecelakaan apakah Arumi sempat meninggalkan studio?"
"Tidak Tuan, sejak bu Arumi datang pagi-pagi sekali dia belum meninggalkan studio. Dan saat meninggalkan studio kecelakaan sudah terjadi."
"Cctv di hari itu hilang. Siapa saja yang datang ke studio?"
"Tidak ada selain karyawan studio itu sendiri."
Liam senyum sinis, ia merasa seseorang berusaha menghapus jejak keterlibatannya atas rencana kecelakaan calon istrinya. Namun, Liam tidak akan menyerah untuk mencari siapa yang telah berani membuat calon istrinya cemas menjelang pernikahan.
....
"Kak Liam ayo jalan-jalan!" teriak Leona dari balkon kamarnya.
Tetapi yang di panggil sama sekali tidak bergeming padahal mendengar teriakan adik bungsunya. Liam masih fokus pada layar ponselnya sambil bermalas-malasan di gazebo seorang diri.
Hari ini hari libur dan Liam memutuskan untuk pulang kerumahnya sebab merasa kesepian di rumahnya sendiri.
"Kak Liam!" Pekikan itu kembali terdengar tetapi bukan dari balkon melainkan tepat di telinganya. "Kok nggak marah?" tanya Leona bingung ketika Liam hanya menampilkan wajah datarnya.
"Mas nggak mau jalan-jalan, panggil Leon saja."
"Tapi aku maunya sana kak Liam."
"Nggak bisa Dek, mas ada kerjaan."
"Kerjaan apa sih? Dari tadi Leona perhatikan kakak cuma tiduran di gazebo sambil main hp."
"Leona ayo jalan-jalan sama papa!" panggil Cakra di ambang pintu.
Leona merengut dan langsung menghampiri papanya. Merasa tidak ada orang di rumah, Liam ikut meninggalkan kediaman Alexander dengan berjalan kaki sebab tujuannya sangat dekat.
Dari kejauhan ia melihat adik perempuan Arumi baru saja keluar pagar. Ia berjalan cepat untuk menghampiri.
"Mas Liam? Tumben pulang," sapa Devina ramah.
"Om Rocky ada?"
"Nggak ada Mas, ayah baru saja pergi sama mas Vino."
"Tante Lea?"
"Ibu ada, ayo masuk!" ajak Devina.
Liam pun melangkahkan kakinya memasuki pagar tinggi milik orang tua Arumi. Ia menghela napas panjang mengingat Aruminya. Biasanya dia datang bertamu untuk menemui Arumi, tapi kali ini tidak lagi.
"Tuan muda, duduk dulu."
"Iya tante." Liam segera duduk di sofa, memperhatikan Alea sampai menghilang dari pandangannya. Tidak lama wanita itu kembali membawa secangkir kopi.
"Kapan om Rocky kembali, Tante?"
"Um mungkin beberapa menit lagi."
"Saya mau bertanya perihal kasus Arumi yang ...."
"Maaf Tuan Muda, tapi saya tidak mau kematian putri saya terus menjadi perbincangan."
Liam langsung menoleh ke sumber suara. "Tapi om, polisi mengatakan kecelakaannya bisa saja direncanakan kenapa om malah meminta penyelidikan berhenti!" protes Liam. Untuk pertama kalinya dia tidak suka keputusan sahabat sekaligus kepercayaan papanya.
"Tuan muda bisa berhenti sampai di sini saja. Saya tahu tuan muda merasa kehilangan, kami pun sama. Tapi tidak seharusnya memaksakan sebuah kecelakaan menjadi ajang balas dendam yang tidak ...."
"Saya kecewa sama om!" Liam berdiri dan menatap Rocky dengan mata memerah. "Om kira dengan menutup kasusnya akan menghentikan saya? Tidak akan. Saya bersumpah akan menghukum siapapun orangnya!" ucapnya dengan tangan mengepal.
....
Kok Rocky nggak mendukung Liam sih? Sekarang Liam sendirian
jijik