perjalanan seorang remaja yang mencari ilmu kanuragan untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggun Turun Gunung
Hawa panas mulai menyengat kulit bahkan sebelum kaki menginjak lereng Gunung Api. Langit di atas puncak gunung itu nampak memerah, bukan karena senja, melainkan karena hawa murni yang terpancar dari kawah yang mulai bergolak. Di kaki gunung, pemandangan jauh lebih mengerikan daripada panasnya udara. Ratusan pendekar dari berbagai penjuru, baik dari aliran putih yang menjunjung keadilan maupun aliran hitam yang haus darah, telah berkumpul.
Namun, tidak ada semangat persaudaraan di sana. Yang ada hanyalah kecurigaan dan nafsu serakah yang memuncak.
Traaaang
craaash
Aaaaargh
Suara dentingan senjata beradu memecah keheningan di jalan menuju puncak gunung api. Seorang pendekar muda dari Perguruan Bangau Putih baru saja roboh dengan dada terbelah oleh kapak besar milik seorang pria kekar bermata satu.
"Pusaka Sisik Naga Emas hanya milikku! Siapa pun yang melangkah lebih dekat ke jalan menuju puncak ini akan mampus!" teriak pria kekar itu sambil mengayunkan kapaknya yang bersimbah darah.
Wush
Aaaaargh
Belum sempat ia tertawa, sebuah jarum beracun melesat dari balik pepohonan, menancap tepat di lehernya. Pria itu mati seketika dengan wajah membiru. Pertarungan acak meledak di mana-mana. Tidak ada kawan, tidak ada lawan yang pasti. Seorang pendekar tua yang mencoba melerai justru dikeroyok oleh tiga orang sekaligus karena dianggap menghalangi jalan.
"Gila, sebaiknya aku turun dan tak ikut ikutan" bisik seorang pendekar pengelana yang berusaha menghindar, namun ia pun akhirnya terpaksa mencabut pedangnya saat dua orang pendekar aliran hitam menyerangnya tanpa alasan yang jelas.
Traaang
traaaang
Aaaaargh
aaaaaaa
Debu beterbangan, teriakan kesakitan menyatu dengan gemuruh kecil dari puncak gunung yang kian sering bergetar. Tanah di jalan menuju puncak itu gunung seolah haus akan darah para pendekar yang berjatuhan.
Di balik bongkahan batu besar yang tertutup semak berduri, tiga pasang mata mengamati kerusuhan itu dengan senyum licik. Badra, Sunar, dan Ludira telah tiba lebih awal dan memilih posisi yang sangat strategis—cukup jauh untuk tidak terlibat keributan, namun cukup dekat untuk melihat siapa yang masih bertahan.
"Lihatlah mereka, seperti anjing memperebutkan tulang yang bahkan belum terlihat," bisik Ludira sambil mengasah belati kecilnya. Matanya sesekali melirik ke arah beberapa pendekar wanita yang juga ikut bertarung, namun nafsu birahinya kali ini kalah oleh ambisinya pada pusaka.
"Biarkan saja. Semakin banyak yang mati, semakin sedikit gangguan bagi kita," sahut Badra dengan suara rendah. Ia duduk bersila, mengatur napas agar hawa keberadaannya tidak terdeteksi oleh pendekar tingkat tinggi yang mungkin ada di sana. "Tujuanku bukan hanya pusaka itu, tapi melihat para pendekar 'suci' itu saling bantai. Itu pemandangan yang indah."
Sunar, yang biasanya paling waspada, terus memperhatikan puncak gunung. "Kakang, getarannya semakin kuat. Bulan merah akan segera muncul di puncak langit. Jika kita bergerak sekarang, kita akan terjebak dalam lingkaran pertempuran itu."
Badra menggeleng. "Sabar, Sunar. Ilmu meringankan tubuh kita memang cepat, tapi tenaga dalam kita belum pulih seratus persen sejak pertarungan melawan bocah murid Jaya itu. Kita gunakan otak. Biarkan mereka kehabisan tenaga, biarkan mereka saling melukai. Saat pemenangnya berdiri dengan napas tersengal, itulah saat kita memanen nyawa mereka."
Semakin tinggi mereka mendaki, rintangan semakin berat. Bukan hanya musuh, tapi juga gas belerang yang mulai keluar dari celah-celah tanah. Di sebuah dataran luas yang disebut Pelataran Naga, pertarungan menjadi semakin brutal. Di sana terdapat sebuah kolam besar dengan air yang mendidih, mengepulkan uap putih yang menyilaukan. Itulah Kolam Naga.
Dua tokoh besar persilatan, Ketua Partai Cakar Elang dan Wakil Ketua Persilatan Pedang Langit, nampak sedang bertarung hebat di bibir kolam. Setiap benturan tenaga dalam mereka menciptakan gelombang angin yang mengempaskan pendekar-pendekar kelas rendah di sekitar mereka.
"Hentikan ini! Jika kita terus bertarung, naga penjaga akan bangun sebelum kita siap!" teriak sang Wakil Ketua Pedang Langit.
"Persetan! Kau hanya ingin aku lengah agar kau bisa melompat ke dalam kolam!" balas Ketua Cakar Elang dengan serangan cakar yang mengeluarkan hawa dingin yang kontras dengan panasnya lokasi itu.
Di sudut lain, Tiga Iblis Gunung Kunyit mulai merayap mendekat melalui bayang-bayang tebing. Mereka bergerak seperti bayangan hitam yang tak kasatmata.
"Kakang, lihat! Itu Sisik Naga Emas!" bisik Ludira dengan mata membelalak.
Di tengah kolam yang mendidih, sebuah cahaya keemasan mulai muncul ke permukaan. Cahaya itu begitu terang hingga menembus uap belerang. Bentuknya melengkung seperti sisik ikan namun berukuran sebesar perisai, memancarkan aura murni yang luar biasa kuat.
Para pendekar yang tadinya bertarung mendadak terhenti sejenak. Keserakahan di mata mereka kini berganti menjadi pemujaan. Namun, itu hanya sesaat sebelum mereka kembali menyerbu ke arah kolam dengan lebih beringas.
"Sekarang?" tanya Sunar, tangannya sudah memegang gagang senjatanya.
" Jangan , belum saatnya" jawab Badra tegas, meski keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Tunggu sampai naga itu muncul. Kabar burung mengatakan naga itu akan menyerang siapa pun yang menyentuh air. Biarkan mereka menjadi umpan pertama."
wuuut
Pyaaar
Roaaaaar
Benar saja, saat seorang pendekar nekad melompat menuju cahaya emas itu, permukaan kolam meledak. Seekor makhluk raksasa bersisik merah gelap dengan mata menyala keluar dari dalam air yang mendidih. Raungannya menggetarkan seluruh gunung, membuat beberapa pendekar yang lemah semangat langsung muntah darah.
Pertarungan yang tadinya antar manusia, kini berubah menjadi pembantaian oleh sang penjaga kolam. Di saat itulah, Badra memberikan isyarat.
"Persiapkan diri kalian. Saat naga itu mengeluarkan serangan pemungkasnya, ia akan melemah selama beberapa detik. Itulah satu-satunya kesempatan kita untuk merebut sisik itu dan lari menuju perbatasan Kotaraja!" perintah Badra.
Tiga Iblis itu kini bersiap, menunggu saat di mana semua pendekar lain tumbang dan sang naga lengah, sementara dendam dan ambisi membara di hati mereka, tidak menyadari bahwa di tempat lain, takdir sedang mempersiapkan kejutan yang tak terduga bagi mereka semua.
Hantu berkabut ternyata sama dengan mereka bertiga , bersembunyi di balik kegelapan, ia menunggu moment yang tepat untuk mendapatkan Pusaka Sisik Naga Emas itu
Ia tersenyum melihat Satu persatu para pendekar tewas secara mengenaskan, ia akan bergerak setelah pentolan dari kedua golongan itu tewas atau lemah, karena ia menyadari walau ia berilmu tinggi ia tak akan sanggup melawan mereka semua, apalagi usianya yang sudah tak muda lagi
Sementara itu, jauh di perguruan Dewi Mayang, Anggun baru saja menyelesaikan semedinya. Tubuhnya mengeluarkan uap tipis, tanda tenaga dalamnya telah mencapai tingkatan baru. Ia membuka matanya yang kini memancarkan ketegasan yang berbeda dari sebelumnya.
"Raka... jika kau memang sudah tiada, aku akan mempersembahkan kepala Tiga Iblis itu di tepi Jurang Neraka untukmu," gumamnya pelan. ia belum mengetahui jika Raka selamat dan mendapatkan Pusaka Pedang Matahari
Dewi Mayang yang berdiri di ambang pintu tersenyum tipis namun penuh kekhawatiran. "Anggun, bersiaplah. Kabar tentang Gunung Api sudah menyebar. Tiga Iblis itu pasti ada di sana. Ini saatnya kau menguji hasil latihanmu."
Anggun berdiri, mengambil pedangnya, dan memberi hormat pada gurunya. "Mohon doa restu, Guru. Aku berangkat sekarang."
Dengan langkah ringan namun pasti, Anggun melesat menuruni puncak perguruannya, menuju pusat badai yang sedang terjadi di Gunung Api