Adult Action Romance
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan unsur dewasa. Mohon kebijakan Anda dalam membaca Novel ini.
Rain memilih mendekam dalam penjara agar dia bisa melupakan cinta pertamanya, cinta yang tak akan pernah bisa dia dapatkan kembali. Setelah 5 tahun menahan dirinya, dia dihadapkan dengan situasi dimana dia harus menyelamatkan dirinya sendiri dan juga seorang wanita yang tak sengaja dia temui di penjara.
Keputusannya untuk menjaga wanita itu karena sebuah janji nyatanya menyeretnya ke masalah yang lebih besar. Belum lagi dosanya dimasa lalu belum juga tuntas tertebus.
Apakah Rain bisa menghadapi semua orang yang ingin menjatuhkannya? bisakah dia menjadi dirinya yang baru atau kembali menjadi dirinya yang lama? ataukah dia bisa kembali mencinta?
---
Warning! 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 -
Lily beru saja bangun dan segera melihat ke arah jendela yang menampakkan gambaran samar matahari yang akan segera kembali merajai hari. Matanya berputar, seolah dia baru saja mendapatkan sebuah ide cemerlang di kepalanya, dia segera tersenyum dan bangkit.
Dia segera semangat turun dari tempat tidurnya, dengan baju tidur berbahan satin dengan hanya satu tali dia langsung mengambil kimono yang tergantung tak jauh dari tempat tidurnya. Lily langsung berjalan menuju ke arah kamar mandi, sebelumnya menyempatkan diri melihat pantulan dirinya dari kaca yang mempangkan seluruh dirinya di kaca itu. Lily tersenyum manis, pesona baru bangun tidurnya yang natural tentu terlihat begitu cantik, Lily lalu menurunkan sedikit kimononya, berpose memperlihatkan bagian bahunya yang kecil dan putih, sangat cocok dengan warna satin marun yang mengkilat di kulitnya, Lily juga memasang wajah menggodanya, ah, siapa yang tak akan tertarik dengan wajah seperti itu.
Lily langsung tersenyum senang, sangat percaya diri dia akan bisa menggoda pria yang dinginnya minta ampun itu, Dia berjalan lincah ke kamar mandi yang serba putih itu, mencuci mukanya seadaanya, menggosok giginya, lalu sedikit membuat riasan wajah senatural mungkin, Pria suka melihat wajah wanita yang baru bangun tidur. Lily memainkan bibirnya yang baru saja dia oleskan lipstick berwarna keorange-an tampak natural di bibir tipisnya.
Dia sedikit menata rambutnya, tak terlalu rapi namun juga tidak terlalu berantakan, anak rambutnya dia biarkan keluar sedikit agar dia bisa menunjukkan sisi baru bangun tidurnya.
"Perfect!" ujar Lily puas dengan apa yang sudah dia kreasikan di wajahnya.
Dia segera menyimpan semua peralatan make-upnya, dia tak lupa memberikan sentuhan wangi-wangian manis yang menggoda,siapa yang akan berani menolaknya jika begini.
Lily segera bergegas keluar dari kamarnya, jam segini pasti apartemen ini akan lebih sepi. Lily berjalan mengendap-endap melewati semua ruangan yang ternyata memang masih remang dan juga masih sepi.
Lily kemarin sengaja memperhatikan dimana kira-kira kamar dari Rain, dia ingin mengejutkan pria itu, Morning Suprise istilahnya.
Luke baru saja menerima panggilan dari Ken menyuruh dia memastikan untuk membawa Lily keluar dari Apartemen itu, Luke mengerutkan dahinya, bagaimana jika wanita itu tak mau? masa dia harus menyeretnya keluar dari sini?
Selain itu Ken meminta Luke untuk mengambilkan beberapa keperluan dari Rain yang harus dia bawa ke perusahaan nanti, sebab Rain akan langsung menuju ke perusahan setelah ini.
Setelah menyiapkan semuanya, Luke segera keluar dari kamar besar Rain yang hanya bisa dimasuki oleh Rain, Luke, Ken dan satu kepala pelayan yang mengawasi pembersihan kamar itu.
Luke membuka pintunya lebar, sambil menenteng sebuah tas lengkap dengan keperluan Rain, dia berjalan ini menuju ke ruang kerja Rain untuk mengambil beberapa berkas, namun baru saja dia berjalan beberapa langkah, tubuhnya disergap dari belakang.
Luke tentu langsung kaget, mencium bau manis yang menggoda itu, Luke seakan kenal baunya, dia melihat ke arah tangan yang sekarang melingkar di pinggangnya, selain itu ada tubuh hangat yang bersandar di belakanganya.
"Rain," suara lemah Lily terdengar begitu menggoda, seolah mengundang untuk dikasihani. Gadis itu mengetatkan pelukannya lebih erat, Luke bahkan sedikit kaget, dia kesusahan bernapas karenanya.
Luke mengerutkan dahinya, bingung harus mengatakan apa, jika dia mengatakannya apakah itu tak akan memalukan, namun berpura-pura menjadi Tuannya pun tak mungkin.
"Eh, Nona," suara Luke sungkan terdengar, namun dia harus mengakuinya, dia bukan Rain.
Mendengar suara yang jauh dari suara dingin Rain, Lily membuka matanya besar, dia lalu melirik ke atas, melihat wajah Luke yang tampak tersenyum sungkan.
"A!!!" teriak Lily melepaskan dirinya, mundur beberapa langkah dengan wajah yang kagetnya setengah mati, seolah melihat Luke seperti melihat hantu. Suaranya menggema ke seantero apartemen itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lily kaget, dia mengusap-usap lengannya seperti sedang melakukan gerakan membersihkan dirinya, seolah jijik dengan apa yang terjadi.
Luke mengerutkan dahinya,"Seharusnya saya yang bertanya, Anda yang memeluk saya duluan, kita bisa melihat CCTV jika Anda tak percaya."
Lily terdiam, tentu apartemen sebesar ini punya CCTV, dan jika di lihat pasti dia akan malu.
"Tidak! kau harus merahasiakan hal ini! jangan sampai ada yang tahu!" tanya Lily merapikan kimono tidurnya yang satu lengannya jatuh, mengekspose bahu putihnya, Luke hanya mengerutkan dahi, sedikit sungkan.
"Baik Nona, tapi Tuan Rain meminta saya untuk membawa Anda ke tempat tinggal Anda yang baru, saya minta Anda bekerja sama, jika tidak …." kata Luke.
"Jika tidak apa?" Suara Lily setengah marah dan tak ramah, "kau mengancamku?"
"Tidak, saya hanya minta kerja samanya, Saya tak akan melaporkan kejadian tadi, dan Anda membantu saya dengan pindah dari sini," ujar Luke, akhirnya dia tak perlu susah payah membunjuk wanita ini.
Lily mendengus, wajahnya tampak kesal, namun bagi Luke wajah itu tampak sangat lucu, seperti anak-anak yang merajuk, Luke berusaha untuk tidak menampakkan wajah tawanya. Lily tampak berpikir.
"Baiklah, tapi awas! kalau ketahuan aku tak akan pernah membuatmu tenang," ancam Lily menunjuk batang hidung Luke sampai Luke harus memundurkan kepalanya, menatap jari telunjuk yang tampak indah itu.
"Anda bisa memegang janji saya," ujar Luke dengan senyuman manisnya. Lily melihat senyuman itu akhirnya menarik tangannya, walau wajahnya masih kesal namun dia merasa senyuman itu manis juga.
Dengan langkah kesal Lily segera pergi meninggalkan Luke yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah wanita itu.
Harum parfum manis itu masih tertinggal di sekitarnya, mungkin menempel di jasnya ketika Lily memeluknya dari belakang, sebuah keharuman yang entah mengapa membuat Luke ketagihan. Luke hanya tersenyum sebelum kembali melakoni tugasnya.
2 Jam kemudian setelah sarapan dan bersiap akhirnya Lily menarik kembali kopernya, Luke tampak sudah bersiap di dekat pintu utama apartemen itu.
Lily melangkah mendekati Luke, setelah tiba di depan Luke, Lily menyerahkan kopernya dengan asal, Luke mengerutkan dahi namun tetap saja dengan senyuman manisnya. Lily sedikit tak suka dengan senyuman manis itu, tapi bersamaan dengan itu ada perasaan dia ingin melihatnya, perasaan ambigu yang tak tahu artinya itu benar-benar membuatnya kesal. Fokus, Lily! targetmu adalah Rain, masa mendapat asistennya sih? pikir Lily memandang Luke dengan senyumannya.
"Dimana Rain?" tanya Lily mencoba untuk mengubah pikirannya.
"Tuan Rain kemarin malam pergi ke pulau, sampai sekarang Beliau masih di sana," jelas Luke jujur.
Lily mengapit kedua bibirnya, pantas saja dari tadi mengulur waktu untuk bertemu dengan Rain, berusaha untuk bertemu dengan pria itu, nyatanya dia sama sekali tak ada di sini. Lily tak punya lagi alasan untuknya bisa beralasan.
"Nona?" tanya Luke sekaligus mengajak wanita itu untuk mulai pergi.
"Ya," kata Lily yang mau tak mau mengiyakan, dia mengedarkan matanya melihat apartemen yang luas itu, dengan langkah berat, dia keluar dari sana.
ternyata mirip Jared, Johan dalam mencintai. tulus
hah....
woilahh buat gue ajaa/Shy/