Devan Artyom, sang pewaris sah Artyom Group, disingkirkan dalam konspirasi pembunuhan oleh kakaknya sendiri karena ambisi kekuasaan. Meski ia selamat, namun tidak dengan Ayahnya. Devan kemudian diasingkan dalam kondisi fisik dan mental yang hancur, termasuk ditinggalkan oleh tunangannya sendiri yang lebih memilih sang kakak yang telah berkuasa.
Di titik terendah dalam hidupnya itu, takdir mempertemukannya dengan seorang perempuan berambut keemasan yang menyelamatkan jiwanya dari kematian dan memberinya cahaya untuk hidup kembali, namun perempuan itu menghilang tanpa jejak.
Dialah Anna Isadora B, yang dibesarkan dalam kurungan seorang ibu yang kejam. Suatu hari ia kembali menerima janji kebebasan di atas kapal pesiar, namun nyatanya ia pun kembali diperjualbelikan.
Namun, takdir kembali mempertemukan Devan dan Anna tepat di saat Anna mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat ke tengah samudera. Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya?
💌DARK PSYCHOLOGICAl ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evrensya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Penenang Jiwa (1)
“Apa kau sedang sibuk, nak?” suara lembut di seberang sana sedikit memadamkan hati Devan yang membara. Walaupun ia tahu, bisa saja ucapan Ibu nantinya bagai minyak yang semakin membesarkan nyala api di dadanya.
“Tidak apa-apa jika itu Ibu, kalau ada keperluan katakan saja, aku akan mendengarkannya,” dengan penuh kerendahan hati Devan melayani ibunya, walau sudah tahu hal apa yang akan dibahas nyonya besar itu padanya. Ini pasti ada sangkut pautnya dengan Revy.
“Begini nak, baru saja hakim Athariz Biantara, Ayahanda Revy menelpon Ibu secara pribadi. Mengenai saingan bisnis yang merugikan usaha impor kita. Beliau mengatakan akan menggunakan orang terbaiknya sebagai kartu AS untuk melakukan pendekatan kepada hakim lain yang berseberangan, dan beliau berjanji akan memenangkan kita di pengadilan.”
Devan terdiam, rahangnya menegang. Jemarinya mengetuk ringan lengan sofa, tanda ia menahan diri untuk tidak langsung meledak.
“Supaya dipercepat permohonan uji materi terkait impor dari pihak lawan yang melimpah, yang membuat permintaan impor dari pihak kita menurun drastis. Beliau akan membalikkan keadaan yang akan menguntungkan kita,” lanjutnya Nyonya Tua itu.
Devan menarik napas berat, dadanya naik turun. Ada rasa enggan yang jelas terpancar dari suaranya saat ia akhirnya bersuara, “Ibu, jadi kita harus terus-menerus berhutang budi seperti itu? Apa tidak ingin mencari jalan keluar lain?”
Nyonya Nora terdiam sejenak, lalu memilih mengabaikan kalimat terakhir anaknya. “Nak, Ibu hanya ingin berpesan, tolong baik-baiklah pada nona Revy. Jangan terlalu keras padanya. Jika bukan karena kebaikan dan pengaruh ayahnya, maka bisnis kita tidak akan berjalan dengan mulus sejauh ini. Ini demi keluarga besar Artyom dan ayahmu khususnya, kau mengerti kan maksud ibumu ini nak?”
Lembut namun mematikan. Itulah makna dari kalimat permohonan yang diucapkan ibu pada Devan.
Devan menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada berat, “Tapi Ibu, apa aku harus selalu memahami setiap masalah yang dia ciptakan, dan membiarkannya begitu saja menghancurkan bisnisku?”
“Nak, setiap masalah kan ada solusinya. Revy sendiri pun mengatakan akan bertanggung jawab penuh atas kelalaian yang dia perbuat. Apa itu tidak cukup bagimu, nak? Berlapang dadalah. Bagaimana pun juga dia adalah calon istrimu di masa depan.”
Devan mendengus pelan, matanya berkilat penuh amarah yang ia tahan mati-matian. “Tanggung jawab katanya,” gumamnya lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri.
“Dan juga, untuk apa bertahan mengurus bisnis yang tidak jelas seperti apa masa depannya. Kembalilah ke Artyom Group, kau memiliki saham yang besar di beberapa sektor. Aku yakin dengan kontribusimu di sana, akan meningkatkan kemajuan perusahaan kita di Indonesia.”
Suara Ibu yang mendayu-dayu itu melesat tajam bagai gigi gergaji besi yang siap mengoyak pertahanan diri Devan. Ia menutup mata sejenak, seperti menelan racun.
“Baiklah Ibu. Aku mengerti, dan aku akan menelepon Ibu lagi nanti. Aku sibuk.” Devan mencukupkan percakapan ini agar tidak panjang. Ia juga malas menanggapi rayuan Ibu agar ia kembali ke Artyom Group, di bawah pimpinan kakaknya.
“Iya nak. Jangan lupa makan tepat waktu agar kau tetap sehat. Oh iya, jangan terlalu memforsir diri untuk bekerja di kantor, sesekali pulanglah ke rumah utama dan beristirahatlah.”
Setelah kalimat penuh perhatian itu terucap, panggilan pun ditutup.
Pulang? Devan berdecih.
Pulang ke rumah yang di dalamnya di huni oleh saudara yang selalu menganggapnya musuh, mengambil segala yang seharusnya menjadi hak nya, merebut apa yang ada dalam genggamannya, mencoba mematahkan kaki tangannya agar ia tak mampu berbuat apa-apa.
Devan meremas benda padat yang ada dalam genggaman tangannya itu erat-erat. Hingga tiba ketika Anna datang membawakan secangkir teh chamomile hangat untuk Devan.
"Silahkan di minum, Boss," ucapnya pelan sambil meletakkan benda yang di bawanya ke atas meja kaca persegi panjang.
Devan bangkit dari tempatnya dan beranjak menuju sofa cokelat di pojok ruangan pada ruang pribadinya, tempat dimana minuman itu tersedia.
"Kenapa teh?" mata pria itu menatap dingin, bersamaan dengan tangannya yang menjulur mengambil wadah kecil di atas sebuah tatakan perak berbentuk bulat.
Devan mencoba menormalkan raut wajahnya yang mulai kacau, menguncinya rapat-rapat pada nada suara yang berusaha ia datar kan. Ini adalah jam kerja, tidak seharusnya masalah pribadinya mempengaruhi profesionalisme kerjanya.
"Anda terlihat dalam mood yang kurang baik, Boss. Teh chamomile ini memiliki sifat sedatif alami yang bisa menenangkan pikiran, membantu mengurangi kecemasan, dan efek relaksasi. Coba saja." Jelas Anna mempersilahkan seraya berdiri tegap memegang nampan perak pada sisi sofa yang mewah.
Tanpa ragu Devan pun segera menghirup air hangat berwarna rose gold itu perlahan. Menikmati setiap rasa yang unik memanjakan lidah hingga kerongkongannya.
Anna tersenyum tipis melihat itu.
"Kalau begitu saya pamit ke bawah dulu, Boss. Masih ada pekerjaan saya yang tertunda, jika anda memerlukan sesuatu, saya akan segera datang kembali. Silahkan menikmati teh Anda," kata si gadis cupu itu sambil menggeser letak tubuhnya—hendak menjauhi sofa.
Tidak enak rasanya seorang pegawai rendahan, secara lancang menemani seorang Boss minum teh di ruangan pribadinya.
"Memangnya siapa yang mengizinkanmu pergi?!" cegat Devan langsung.
"Eh?" Anna tertegun dan membatalkan niatnya, iapun langsung mengatur tempat berdirinya kembali pada titik semula. "Baik, saya akan tetap di sini," jawabnya pelan.
"Duduklah," Devan mempersilahkan Anna duduk pada sofa yang ada di dekatnya, dengan suara yang rendah.
"Baik," Anna mengulang ucapannya, patuh. Dan menuruti perintah Devan untuk duduk di atas bantalan empuk dengan alas yang lembut menyelimuti permukaannya.
Saat ini Anna memang sudah tidak setegang kemarin, ketika hari pertama berjumpa lagi dengan Devan. Hanya saja, perlahan tumbuh sejumput rasa iba tatkala matanya menangkap wajah Devan yang jelas-jelas sedang menyimpan kekacauan berat.
Hatinya seolah ikut menanggung kalut itu. Aura pria ini, suka atau tidak, kembali mengingatkannya pada raut keputusasaan Devan sepuluh tahun silam, wajah yang tak pernah mampu ia abaikan begitu saja.
Dengan keberanian yang ia himpun, Anna memberanikan diri bertanya, “Apa yang membuat wajah Anda memerah, seolah terbakar amarah? Mungkin saja, dengan berbagi, sedikit bisa melegakan hati Anda.”
Pertanyaan itu membuat Devan terdiam sejenak. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja kaca berkilau setinggi lutut, lalu menatap lurus gadis cupu berponi tebal di hadapannya. Meski dadanya mendesak untuk segera meluapkan isi hati, ia menahan diri, seakan ingin menjadikan momen itu kian dramatis.
“Menurutmu, siapa kau, sehingga aku harus berbagi masalah denganmu?” Nada suaranya rendah, namun menekan.
"Saya memang hanya orang biasa,” jawab Anna sopan, “tapi bukan berarti tak bisa memberikan beberapa kalimat kebaikan untuk Anda.”
Devan menyipitkan mata, lalu melempar kalimat sinis, “Apa kau aslinya seorang psikolog yang menyamar sebagai cleaning service?”
Anna menanggapi tanpa kehilangan ketenangan. “Dugaan Anda terlalu berlebihan. Bagaimana kalau saya langsung menebak saja?”
Kalimat itu—diksi yang persis sama seperti dulu—seketika mengguncang ingatan Devan. Momen lampau, seolah hidup kembali.
“Kalau tebakanmu salah, hukumannya berat,” balas Devan, kali ini tidak sepolos dulu.
“Tapi jika saya benar, Anda tidak boleh menyembunyikan apapun dari saya.” Alih-alih gentar, Anna justru mengucapkannya dengan mantap, tanpa ragu.
“Deal,” Devan menyeringai tipis. “Tapi, apa kau bisa dipercaya?”
“Bagaimana kalau saya serahkan satu kelemahan saya sebagai jaminan?”
Devan memperbaiki posisi duduknya, menyilangkan kaki, lalu menyandarkan punggungnya dengan sikap angkuh. “Memangnya itu penting bagiku?” ujarnya, seolah wanita di hadapannya tak berarti sama sekali.
“Untuk berjaga-jaga, siapa tahu Anda bisa memakainya untuk menutup mulut saya.”
Devan mencondongkan tubuh, sorot matanya berkilat tajam, penuh kuasa. “Baiklah. Katakan lebih dulu, baru kau boleh menebak. Kemarilah, lebih dekat denganku. Jika itu rahasia, bukankah seharusnya dibisikkan?”
Anna terdiam sejenak. Keragu-raguan jelas terpancar dari sorot matanya, seolah bertanya pada dirinya sendiri, apakah aku pantas berdekatan dengan seorang CEO sebesar dia?
Namun Devan tak memberi Anna waktu untuk berprasangka. Tangan kokoh itu langsung terulur, meraih pergelangan Anna. Tarikan mendadaknya itu membuat tubuh mungil gadis itu bangkit, tapi kakinya tersandung tepi meja.
Sekejap saja, Anna terhuyung dan jatuh tak terkendali hingga menimpa tubuh Devan. Sang pria kini terbaring dengan Anna di atasnya, jarak wajah mereka hanya sehelai napas yang panas.
Jantung mereka berdentum kencang. Sedang kedua telapak tangan Anna yang refleks menekan dada bidang Devan untuk bangkit justru membuat pria itu terhentak, ada kejut aneh yang berdenyut dari dalam dirinya.
Tubuh Anna yang begitu dekat menempel padanya, disertai aroma lembut dari tubuh gadis itu, membuat Devan seolah kehilangan kendali sesaat.
Tubuh mungil itu malah semakin menekannya ketika berusaha untuk bangun kembali, dan tindakan itu justru semakin menghempaskan Anna ke dalam tubuh Devan berkali-kali ketika gagal. Bahkan Devan sampai memegangi pinggiran sofa untuk menahan sensasi yang tak semestinya ia rasakan.
Wajah Anna memerah, hingga ke telinga. Nafasnya tercekat, gemetar dalam kecanggungan.
Devan sendiri mendadak kaku, tubuhnya bereaksi sebagai lelaki, tak kuasa menyembunyikan gejolak yang bangkit tanpa perintah. Ia segera meraih pundak Anna, mengangkatnya perlahan namun tergesa, lalu mendudukkannya di sampingnya. Gerakannya seakan mencoba menutup rasa yang sempat membara di balik kendalinya.
Devan menarik napas, matanya sekejap terpejam. Suara beratnya pecah, seolah untuk mengalihkan seluruh kekacauan barusan. “Ayo, beritahu aku rahasiamu,” desaknya, terburu-buru, seakan membutuhkan distraksi.
Anna menunduk dalam-dalam, wajahnya jelas diliputi ketidak nyamanan. Jemarinya saling meremas, napasnya tersendat. “Saya mengonsumsi daun Salvia divinorum, agar bisa tidur nyenyak.”
Suaranya begitu pelan, namun setiap hurufnya menempel kuat di telinga Devan.
Pria itu sontak mendekatkan wajahnya, matanya melebar penuh terkejut. “Hei! Kau sadar apa yang barusan kau katakan? Itu tanaman psikedelik, jika berlebihan, efeknya serupa narkotika! Apa kau gila?!” Suara sang CEO meledak, membelah keheningan ruangan.
❤️❤️❤️
semangat buat kakak author