NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Anak Yatim Piatu / Kaya Raya / Keluarga / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Renko

✏ Season 1: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Ainsley)

Ainsley terpaksa menjalani pernikahan wasiat, menikah dengan suami kakaknya sendiri. Dia yang tidak tau penyebab kematian kakaknya harus bekerja sama dengan sang suami untuk mengusut kematian. Bisakah mereka menemukan pelaku di balik rencana pembunuhan? Lalu, bagaimana akhir dari kisah pernikahan wasiat?


✏ Season 2: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Gavin)

Kisah cinta pertama Gavin harus kandas ketika dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Beberapa tahun setelah itu mereka bertemu lagi dan membuat harapan muncul untuk kembali bersama. Sayangnya pengganggu kecil muncul di tengah itu semua, wanita dengan segudang kecerobohan. Pada siapa hati Gavin akan berlabuh?

___

Semoga novel ini satu selera denganmu 😊

Cek istagram @justrenko untuk informasi novel lainnya~


Terima kasih atas support readers dan NovelToon/MangaToon terhadap novel ini 💛

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bintang Kecil

Setelah membolak-balikkan buku resep yang dikirimkan Robin sejak lama, pilihannya jatuh pada resep yang terbilang mudah yaitu rolade ayam sayur. Semua bahan langsung dipersiapkan sesuai apa yang tertera di sana. Kesedihannya harus diatasi dan menyibukkan diri adalah salah satu caranya.

Di gambar makanan itu berbentuk seperti sushi, yang mana rumput lautnya diganti dengan telur. Bukan digoreng, melainkan dikukus setelah memasukkan campuran bahan ke dalam gulungan telur. Ainsley mengecilkan api kompor menjadi sedang dan harus menunggu selama 45 menit.

Selagi menunggu, kotak bekal dipersiapkan. Ainsley ingin masakan pertamanya Zack lah yang mencobanya. Berhubung dirinya sudah diketahui publik, memberikan bekal pada suami sendiri sepertinya tidak akan memunculkan konflik.

Setelah matang bersuka cita masakannya dipindahkan ke piring sebelum dimasukkan dalam kotak bekal. Ainsley tidak ingin mahakaryanya hancur jika memasukkannya langsung dalam keadaan panas. Dari segi tampilan sungguh mirip dengan yang ada di gambar. Untuk rasa pun bisa dibilang tidak buruk.

Sementara waktu Ainsley berdandan cantik dan memilih pakaian yang cantik pula. Tampilannya hari itu sudah menampilkan seseorang yang akan pergi berkencan. Sangat feminin memakai gaun selutut dan sepatu hak tinggi tentunya.

Sebelum itu masakan yang sudah sedikit dingin dipotong rapi dan disusun ke dalam kotak bekal. Di atasnya dilimpahi saus dan juga mayones. Sungguh menggugah seleranya pagi itu, tetapi Ainsley harus menahan perut laparnya dan menunggu sampai di kantor Zack nanti.

Setibanya di perusahaan, semua orang yang menyadari kedatangannya langsung menunduk hormat. Hal itu menandakan bahwa statusnya juga sudah diketahui oleh mereka. Tanpa diminta pun mereka yang sudah tau untuk apa Ainsley datang, segera menghubungi Robin karena segala hal yang menyangkut Zack harus dibicarakan pada Robin terlebih dahulu.

Tidak lama kemudian Robin muncul dan melemparkan senyuman. Sepertinya setelah mendengar kabar kedatangan istri atasannya, Robin buru-buru mendatangi lobi. Terlihat dari caranya bernapas kini sedikit terengah-engah. Tidak ingin orang dihormatinya menunggu terlalu lama, tanpa mengatur napas lebih dulu Robin pun langsung mempersilahkan Ainsley mengikutinya.

"Sepertinya suasana hati nona sedang bagus hari ini." berbicara setelah napas teratur kembali.

"Apa jelas sekali terlihat? Aku sudah berusaha keras." memperlihatkan kotak bekal yang dibawanya.

Robin tertawa kecil mengacungkan jempolnya, "Semoga nona berhasil!"

Luput dari pengawasan Robin, seorang wanita yang tidak diinginkan kehadirannya datang ke ruang kerja. Tampangnya sangat kesal dan menunjukkan ketidaksukaan lantaran Zack sudah memutuskan kontrak kerja sama tanpa sepengetahuannya.

"Terima atau tidak, itu sudah menjadi keputusanku."

Stella menghampiri Zack di sana, mengurangi jarak mereka. Bersandar di meja yang menjadi tempat kesibukan sejak tadi. Lalu meraup kerah Zack sehingga mau tidak mau mereka harus bertatapan dengan jarak dekat.

"Zack, kau tega sekali melakukan ini padaku. Apa kau tidak mencintaiku?"

Klontang..

Melihat pemandangan mengejutkan itu membuat Ainsley tanpa sadar menjatuhkan kotak bekal. Hatinya seakan hancur berkeping-keping kembali. Setelah kesakitan kemarin ketika melihat suaminya berciuman dan sekarang bermesraan dengan wanita yang sama pula.

Tanpa pikir panjang langkahnya langsung berbalik. Berlari sejauh mungkin asalkan tidak berada di tempat yang sama dengan sepasang kekasih itu. Seharusnya Ainsley tidak datang dan membawakan bekal atas rasa bersalahnya telah menyita waktu Zack tadi malam.

Kenapa selalu wanita itu yang terlihat mesra bersamanya? Kenapa bukan dia saja di sana? Harapan yang bodoh lagi untuk perasaan yang tidak tentu arah.

Bahkan untuk sekarang pun dirinya masih berharap bahwa Zack menyusulnya atau setidaknya mengirimkan Robin, tetapi tidak ada sama sekali. Di belakangnya kosong tidak ada orang. Hal itu semakin menjelaskan kalau Zack tidak ingin ada yang mencampuri urusannya.

Tin tin..

"Do you need a ride?"

Situasi sekarang mengingatkannya waktu pertama kali bertemu dengan Lewis. Ketika dirinya ditinggal pergi saat upacara kematian Emily. Sekarang Lewis juga melakukan hal yang sama dan mengucapkan hal yang sama seperti saat itu.

Lewis selalu ada ketika dirinya mengalami kesulitan. Bahkan sepertinya Lewis didatangkan dalam hidupnya untuk menjadi malaikat penolong. Menemani dan menghibur setiap kali kesedihan melingkupi, apalagi ketika bersedih karena Zack.

Selama ini pria itu selalu memberikan perlakuan lembut padanya, layaknya seorang putri kerajaan. Seharusnya dia menyukai orang sepertinya, bukan pria yang menyakitinya.

"Apa yang kau tunggu? Ayo, naik!"

Lamunannya buyar dan segera setelah itu menaiki mobil. Dengan kecepatan sedang mobil pun dijalankan dan mereka perlahan menjauh dari gedung perusahaan. Meninggalkan kepahitan yang baru saja terjadi di sana.

Padahal tanpa mereka sadari Zack sedang berdiri di luar gedung. Napasnya terengah-engah berusaha mengejar setelah menyelesaikan Stella. Tetapi apa yang dilihatnya ketika Ainsley masuk ke mobil Lewis mengurungkan niatnya untuk melangkah lebih jauh.

"Lewis, aku ingin pergi ke tempat yang jauh."

Sejenak kening mengkerut dalam, tetapi hanya sejenak. Setelah itu Lewis tersenyum, lalu mengatakan, "Apa kau akan mengajakku ke tempat yang jauh itu?"

"Jika kau mau." jawabnya tanpa basa-basi.

Lewis tau di mana tempat jauh yang mungkin bisa mereka datangi. Di tempat itu dirinya berharap akan ada sebuah senyuman tanpa beban lagi bisa didapatkannya dari Ainsley dan Lewis sangat menantikan itu.

Mereka disambut oleh ombak yang menderu merdu. Setiap hempasan gelombang rendahnya menciptakan ketenangan pikiran. Menyuguhkan irama khas yang memanggil mereka untuk ikut menikmati senja itu.

Sampai langit berubah gelap dan bintang mulai bermunculan, mereka masih tidak beranjak dari sana. Nikmatnya senja berganti dengan malam yang indah. Bintang tersebar di langit laksana permata yang menghiasi gaun pengantin, bahkan lebih berkilau dari itu.

"Lewis, lihatlah! Bintang itu sangat cantik!" menunjuk bintang paling kecil yang bersembunyi di antara bintang besar lainnya.

"Memang sangat cantik."

Kepala menoleh ke arah Lewis dan di saat itu pula wajahnya berubah merah. Bukan melihat bintang yang ditunjuk, sebaliknya sampai kini Lewis menatapnya lama.

"K-kau lihat apa?! Bintangnya ada di sana!" menunjuk sembarang bintang.

"Aku sedang melihatnya sekarang." tidak melepaskan tatapan.

Tidak ingin lebih lama membiarkan dirinya ditatap, kepala Lewis diputar paksa untuk melihat ke arah bintang yang di maksud. Ainsley sudah terbakar rasa malu, tetapi disimpannya rapat agar tidak ketahuan.

Sayangnya sikap yang berhasil membuat dada bergolak, membuat Lewis bergerak tiba-tiba. Menarik wanita yang selalu menciptakan rasa nyaman itu dan memasukkannya ke dalam pelukan.

"Aku mencintaimu, Ainsley."

Pengakuan mendadak untuk yang kedua kalinya meluncur bebas mencengangkan hati yang belum siap menghadapinya. Lewis terlalu blak-blakan menyatakan perasaannya. Ainsley yang mendengar semakin tidak tau bagaimana harus menyikapi.

"A-aku sudah memiliki suami, Lewis."

Benar. Ainsley sudah memiliki suami dan suami yang di maksud adalah kakaknya sendiri. Pria yang paling tidak diinginkannya untuk menjalin kehidupan bersama Ainsley.

"Kau bahagia dengan pernikahanmu itu?"

Lewis benar, tidak ada kebahagiaan yang didapatkannya selama menikah dengan Zack. Hanya segelintir perasaan bertepuk sebelah tangan yang membahagiakannya, segelintir saja tidak lebih. Dari awal pernikahan memang tidak diisyaratkan untuk membuatnya bahagia. Pernikahan hanya seperti perintah untuk dipatuhi.

Setelah menikah pun pernikahan dijadikan sebagai pajangan yang terkunci di dalam lemari. Ditutup dan tidak boleh diperlihatkan pada siapa pun. Tidak ada wanita yang menginginkan pernikahan seperti seorang simpanan, apalagi tidak pernah dianggap ada kehadirannya.

Tanpa sadar Ainsley menggeleng dan tentu saja gelengan itu adalah sebuah jawaban membahagiakan bagi Lewis.

"Kalau begitu aku yang akan membahagiakanmu." pintanya yakin tanpa ekspresi bahagia yang dibuat-buat, "Aku tidak tau apa alasanmu tetap bertahan dalam pernikahan itu, tetapi aku percaya padamu. Aku akan menunggumu dan setelah semuanya selesai aku akan menikahimu."

Untuk mendapatkan Ainsley meskipun harus menjadi orang ketiga di dalam hubungan mereka, Lewis akan melakukannya. Ya, Lewis bisa merasakan bahwa Ainsley memiliki perasaan pada Zack, tetapi sebentar saja dirinya ingin lebih lama bersama Ainsley.

"Lewis.. Aku.."

Kalimatnya tersendat saat memikirkan kembali bagaimana perasaannya pada Zack. Sudah jelas tidak ada harapan pernyataan cintanya dibalas. Sangat menyedihkan jika tetap mempertahankan perasaannya sendirian sampai tua nanti. Hidupnya akan lebih malang lagi jika hal itu terjadi.

"Aku berjanji akan membahagiakanmu sampai akhir hidupku. Kita akan menikah dan aku bisa pastikan pernikahan adalah apa yang kau inginkan." menangkup kedua sisi wajah itu, "Apa kau mau menerimaku dan menghabiskan waktu itu bersamaku?"

"A-aku.." lagi-lagi kalimatnya tersendat. Mulutnya terlalu berat mengucapkan sesuatu yang masih ragu untuk dijawab. Ketika dirinya memikirkan perasaan suaminya jika mengetahui dirinya berselingkuh, di saat itu pula ingatan tentang Stella muncul kembali. Mendorongnya untuk mengangguk dan menerima tempat di hati Lewis secepat mungkin.

Bahagia yang tidak bisa dideskripsikan lagi. Tidak sia-sia usahanya menyatakan perasaannya kembali, meski risiko untuk ditolak sangat tinggi. Semua ketakutan Lewis terbayar sudah setelah mendapat sebuah anggukan.

***

"Juni?"

Seorang pria berperawakan tinggi menghampiri. Penampilannya masih kelihatan segar sebagai seseorang yang sudah tua. Mengenali namanya sudah pasti pria itu adalah ayah tiri yang menjemputnya.

Juni mengangguk sopan tanpa mengeluarkan kata sedikit pun. Sepanjang perjalanan yang entah dirinya akan dibawa kemana, Juni juga tidak bersuara. Hanya diam mendengarkan kalimat ayah tirinya yang sudah pasti tujuannya untuk mendekati anak dari istrinya sendiri.

Mereka tiba di sebuah rumah sederhana bertingkat. Jauh dari kesan mewah ketika Juni tinggal bersama orangtuanya dulu. Saat masuk ke dalamnya, sangat berantakan tetapi tidak kotor. Berantakan karena beberapa lukisan yang menumpuk.

Juni terperangah saat itu dan mematung memandangi seluruh isi ruangan yang baginya sangat menakjubkan.

Bingung kenapa Juni tidak bergeming ketika dipanggil, ayah tirinya pun mengibas-ngibaskan tangan untuk menyadarkannya. Setelahnya tersenyum dan menggiring Juni naik ke lantai atas. Tempat di mana kamar-kamar berada.

Pertama Juni dibawa ke sebuah ruangan. Bukan kamarnya, melainkan kamar yang menjadi tempat beristirahat ibunya. Juni mengikuti pria yang masih bisa menyembunyikan dirinya dibalik punggung itu. Kemudian ketika mereka sudah sampai di depan sebuah ranjang, pria itu melangkah ke samping agar sosok Juni bisa terlihat.

Seakan mendapat kado istimewa, mata langsung berbinar cerah. Merentangkan tangan agar bisa bebas memeluk Juni. Menumpahkan segala kerinduan dalam pelukan yang akhirnya menemukan obat penawarnya.

Tangisan haru menyelimuti seluruh ruangan. Isakan tidak bisa dibendung lagi di antara keduanya. Juni sangat berterima kasih pada Lewis karena kalau bukan dorongan darinya, Juni tidak akan terpikirkan untuk menginjakkan kaki di tempatnya sekarang.

Ternyata kerinduannya pada sosok ibunya sangat besar dan Juni baru menyadarinya. Selama ini kerinduan itu terhalangi oleh kebencian, yang mana membuatnya tidak ingin lagi menolehkan muka. Namun, sekarang tidak ada penyesalan mengalir dalam keputusannya.

***

Setiap kali melihat jam dinding tangannya mengepal geram. Memikirkan kejadian di mana Ainsley pergi bersama Lewis membuatnya tidak tenang. Ditambah Ainsley yang masih belum juga pulang sampai detik ini.

Zack mendengkus kesal untuk ke sekian kalinya. Jika terus seperti ini setiap malam dirinya tidak akan tenang, apalagi bukan hanya khawatir yang mengusiknya melainkan kemarahan saat apa yang menjadi miliknya direbut oleh Lewis.

Mendengar suara pintu terbuka menyahut segala kekhawatiran. Zack langsung turun ke bawah tanpa pikir panjang. Tampak Ainsley dalam keadaan bingung sekarang dan kekhawatirannya semakin bertambah. Zack berpikir bahwa mungkin kesalahpahaman tentang Stella tadi adalah alasannya.

"Kau kemana saja sampai baru pulang semalam ini?"

Ainsley melirik jam tangannya, tidak sadar jika sekarang sudah pukul 11 malam. Perjalanan mereka sangat jauh untuk mencapai pantai, sampai-sampai harus pulang lebih lama.

"Aku ada urusan." sambil lalu menjawab sekenanya.

Sikap yang tidak sopan itu semakin mengundang kemarahan. Zack mencengkeram pergelangan tangan Ainsley sebagai peringatan untuk tidak melangkah lagi. Menuntut agar diberi penjelasan yang lebih bisa diterima.

Tetapi Ainsley sepertinya bergeming dan tidak memedulikan tuntutan itu, "Lepaskan aku! Aku lelah dan ingin beristirahat."

Keterlambatan dan kepergian Ainsley bersama Lewis sudah memberikan pikiran negatif padanya. Apalagi sikap dan ucapan yang semakin menyulut api kemarahan. Hanya penjelasan yang dibutuhkannya agar dirinya bisa tenang, karena tugasnya untuk melindungi Ainsley.

"Lelah? Memangnya apa yang kau lakukan bersama pria itu sampai kau kelelahan?"

Matanya mendelik kaget dan bertanya-tanya bagaimana Zack bisa tau bahwa dirinya pergi bersama Lewis. Semakin lebarlah kedua matanya ketika menyadari mungkin saja Zack tadi telah menyusulnya.

Namun, bukan hal itu yang menarik baginya sekarang. Ucapan Zack tadi seakan sedang merendahkannya. Menganggap dirinya seperti wanita gampangan yang memberikan tubuhnya untuk pria lain.

Tangan yang tidak dicengkeram melayang ke permukaan pipi. Tidak begitu kuat karena Ainsley menggunakan tangan kirinya, "Kau menganggap aku wanita murahan seperti Stella mu itu?"

Tamparan tidak mempan menyulut kemarahannya, sebaliknya ucapan yang didengarnya barusan lebih memancing kemarahannya, "Berhenti menyebutnya begitu!"

Semakin menyakitkan baginya ketika Zack membela wanita bernama Stella itu dan semakin membuatnya ingin bertingkah yang mungkin akan menjengkelkan, "Kenapa? Kau marah karena aku mengatakan kalau Stella mu itu adalah wanita murahan."

Kedua tangan beralih mencengkeram bahu dan tatapan yang akan sangat menusuk itu dilayangkan, "Jangan menguji kesabaranku lebih dari ini dan berhenti menyebutnya sebagai wanitaku." melepas kasar cengkeraman dan berlalu begitu saja. Zack tidak bisa melakukan apa pun meski dirinya sekarang sangat marah.

Ainsley terdiam sejenak mencerna kalimat barusan. Kenyataan sangat berbeda dengan apa yang didengarnya. Sudah jelas mereka memiliki hubungan, tetapi masih menyangkalnya. Pastinya Ainsley tidak ingin menerima sangkalan itu jika hanya untuk mengasihani dirinya.

1
Kheira Luna
Renkoo aku balik lagi kangen pria tua😍
Justrenko🐣: Wah, senang sekali melihatmu kembali~
total 1 replies
Fransiska Siba
makanya jgn bodoh bergerak sendiri. makan kebodohan mu. sdh diingatkan Zack tp keras kepala
Fransiska Siba
kecewa aku thor, setidak nya ceweknya tahan dlu lahh ini sudah namanya selingkuh
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa asalkan tau kapan waktunya untuk minta maaf dan pasanganmu yg baik pasti akan selalu memaafkan. kalo tidak berarti dia bukan org yg baik.
bagaimana menurutmu tentang ini kk?
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa, asalkan kita tau kapan waktunya untuk minta maaf. Dan wanita yg baik akan selalu memaafkan, kalo tidak memaafkan berarti dia bukan org yg baik.
Pemburu Cinta Sejati: mohon maaf, aku cmn mau bilang cerita kesempatan kedua adalah kebanyakan cerita di novel. itu tidak berbeda
total 17 replies
iis_lintang95
tetiba kangen ainsly sm zack, alhasil baca ulang lage.🤩
Metta R'za
dendam lidya yg bodoh.....
Ijah Sopiah
Apakah tidak ada satupun cowok yang suka sama Anseley
Seelmy Saleem
nyimak dulu thor baru mampir
SRI SETYA
aq bingung banget ini
Dimas Wahyu
kiraain Setelah sekian lama end....ada part tambahan ..😊😊..oklah otw
💞Aam Mulyani💞: makanya sering kontrol...
total 1 replies
Deta Hebalina
o
First Time
apalah dayaku yg bacanya loncat2 tiba2 dah sampe sini mumet😂
Faradilla
kenapa si Ainsley dibuat kayak perempuan bucin gak nyadar diri sih Thor... gak adil banget... Kebagusan amat si Zack jadinya
Faradilla
pasti Ainsley
Dede
8
Si mamahx anak anak
hhhaaahhhhaaa,,akhirx kau merasakn derita hati ainsley zack...
bunda ime
ff
Julia Lia
miris hidup dua bersaudara 😔
Elfi Susanti
bukankah gambar yang ditemukan Emily dilaci meja Zack adalah Ainsley ibunya Gavin... wah makin rumit... saya pamit baca cerita yg lain dulu.... mumet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!