NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan mutlak

"Mas, bisa datang ke rumah secepatnya?" Pie mengirimkan pesan pada Oto.

"Besok Mas ke rumah, sayang. Sabar ya."

"Aku mau mengembalikan ATM."

Oto mengerti apa maksud Pie. Ini bukan pertama kali kekasihnya meminta putus.

"Iya, dik."

Waktu yang ditunggu, Oto datang seorang diri dengan meminjam motor sang mandor. Ia masih disambut hangat oleh keluarga Pie, dia tak melihat kehadiran Pie menyambut kedatangannya.

"Pie ada di kamarnya, sedang sakit." Ucap Mama yang seolah mengerti raut Oto yang mencari kehadiran Pie.

"Sakit bu? Sakit apa?"

"Kelelahan. Sudah dua hari, tapi sekarang Pie sudah lebih baik."

"Pie tidak mengatakan hal itu padaku, Bu." Oto merasa ia sudah mengabaikan sosok Pie karena pekerjaan yang akhir-akhir ini sedang padat.

"Temui saja dia di kamarnya." Ayah mempersilakan Oto untuk pertama kalinya masuk ke kamar putrinya, dia mengerti dua orang itu harus berbicara.

Oto mengangguk dan pamit untuk menemui Pie di kamarnya.

"Pie?" Oto berdiri di pintu kamar Pie yang sedikit terbuka. Ia melihat kekasihnya tengah bersandar di kepala ranjang dengan wajah pucat dan rambut yang berantakan.

"Masuk, Mas."

Oto perlahan melangkah masuk, ia begitu gugup memasuki kamar seorang gadis terlebih itu kekasihnya, ia perlahan duduk di tepi ranjang.

"Sakit apa, Sayang?"

"Hanya kelelahan." Pie menatap datar Oto yang raut wajahnya menyiratkan penyesalan.

"Adik tak bicara pada Mas."

"Takut menganggu, Mas sedang sibuk bekerja. Ini hanya sakit biasa, sebentar lagi juga sembuh."

Oto menggeleng pelan.

"Maaf, Mas terlalu sibuk sampai lupa berkabar."

"Aku paham, Mas."

Mereka diam dengan pikiran masing-masing.

Pie menarik laci nakas di sisi tempat tidur dan mengambil sebuah kartu kecil. Ia menyerahkan pada Oto yang menatapnya dengan raut sedih.

"Aku tidak mengambil sepeserpun. Uang Mas utuh."

Oto mengambil kartu ATM miliknya. Ia mengusap pelan dengan mata yang memanas. Betapa ia tak ingin berpisah dengan Pie. Gadis desa yang manis sudah berhasil membuatnya jatuh cinta.

"Apa adik serius ingin putus?"

Pie mengangguk. Ia merasa kepalanya berdenyut nyeri.

"Mas bisa apa, dik? Padahal tinggal sebentar lagi Mas ingin melamar adik."

"Sudah cukup, Mas. Aku sudah lelah menunggu, sesuai dengan kesepakatan kita. Hanya dalam satu tahun hubungan kita tidak ada kejelasan maka kita putus."

Oto menghela napas dalam. Adik-adiknya yang berada di kampung sudah sangat merestui hubungannya dengan Pie, bapak juga sudah mulai belajar untuk mandiri sejak dirinya menyerahkan ATM miliknya pada Pie.

"Mas sayang adik."

"Ya."

"Kita masih bisa berhubungan baik, kan?"

"Tentu, Mas."

"Mas boleh pegang tangan adik?"

Pie mengangguk pelan. Oto perlahan menyentuh lalu mulai menggenggam tangan lemah Pie, ia sedikit memberi tekanan seolah menyiratkan kerinduannya pada Pie.

"Seandainya Mas tahu adik sedang sakit, Mas pasti sudah dari kemarin datang ke sini."

"Untuk apa?" Pie hanya diam menatap Oto yang menunduk menatap genggaman tangan mereka.

"Bapak tidak bicara apapun, Mas pikir adik berubah pikiran."

"Ayah menyerahkan keputusannya padaku."

"Benar? Adik sudah yakin?"

"Yakin."

Hatinya terasa mencelos melihat tatapan dingin Pie padanya. Ia melirik boneka panda yang ia belikan tempo hari, Pie menatap arah pandang Oto.

"Bawa saja boneka itu Mas."

Oto terkejut mendengarnya.

"Untuk apa dik?"

"Kita sudah putus, aku harus mengembalikan semua pemberian Mas. Tapi pemberian Mas hanya boneka itu."

"Tidak. Mas membelinya sebagai hadiah. Itu untuk adik, kenapa berpikir harus mengembalikan?"

"Jika suatu hari Mas mem-"

"Tidak. Mas tidak begitu, dik. Simpan saja untuk teman adik di kamar."

"Baiklah."

"Cepat sembuh, dik. Jangan kelelahan lagi, jaga diri baik-baik."

"Terima kasih, Mas."

"Mas langsung kembali ke sana."

"Apa?"

"Sudah tidak ada urusan lagi di sini."

"Menginap saja dulu, besok baru ke sana. Ini sudah malam, apa tidak lelah?"

Oto merasa hangat, walaupun Pie memutuskannya tapi masih ada kepedulian dari gadis itu.

"Tidak enak dengan tetangga, dik."

"Ya sudah, hati-hati di jalan."

"Iya, dik. Mas pamit."

Pie mengangguk pelan. Oto keluar dengan menutup pintu kamarnya dengan rapat. Pie merasa ada yang hilang dari hatinya, namun ia membisikkan bahwa ini akan berlalu dan akan baik-baik saja.

"Apa yang Pie katakan?" Mama dan ayah Pie sudah menunggu di ruang keluarga. Oto duduk bergabung.

"Pie tetap ingin berpisah, Bu, Pak."

"Maaf ya, kalau putri bapak sudah banyak merepotkanmu."

Oto menggeleng pelan.

"Tidak pernah merepotkan saya, Pak. Pie gadis yang baik."

"Ibu sama bapak bisa apa, To? Keputusan ada di tangan Pie. Yang menikah kalian berdua jadi kenyamanan kalian itu yang utama."

"Iya, bu. Saya tidak mau memaksa kehendak Pie."

"Ayo makan dulu. Kau akan menginap kan?"

"Tidak, Bu. Saya akan langsung kembali ke sana malam ini."

"Ya ampun. Apa kau tidak lelah? Perjalanan jauh dan kau baru saja sampai. Tidak apa, menginap saja. Besok baru jalan."

"Jangan menolak, To. Kami merasa tidak enak karena Pie memintamu jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengatakan perpisahan. Menginap saja, ada kamar kosong yang bersih." ucap Ayah menimpali.

Mau tak mau Oto menerima kebaikan orang tua Pie.

Usai makan malam, Oto berbincang santai bersama kedua orang tua Pie. Sedangkan gadis itu sudah terlelap setelah meminum obat. Ia tak tahu Oto akan menginap.

"Kenapa kau sudah bangun?" Mama yang sedang memasak saat subuh mendengar suara langkah kaki ke arah dapur.

"Saya ingin perjalanan pagi buta, Bu. Sudah janji dengan mandor hari ini akan bekerja."

"Begitu ya? Semoga kau selalu sehat, To. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Mulai hari ini tak ada lagi gadis yang mendesakmu, santai saja."

"Saya tidak ingin mengulangi hal yang sama. Maaf, putri ibu yang jadi korban."

"Tak apa. Ada kalanya kita harus belajar dari pengalaman yang kurang berpihak pada kita."

Oto mengangguk. Ia segera mencuci wajah dan Mama segera menyiapkan sarapan cepat untuk Oto sebelum mantan calon menantunya itu berangkat.

"Kau jaga diri, jaga kesehatan di sana. Semoga mendapat jodoh yang sesuai." Ayah menepuk pundak Oto dengan mantap.

"Main kemari jika sewaktu-waktu kau ke sini."

"Iya, Bu, Pak. Saya permisi. Terima kasih atas jamuannya."

"Ya, hati-hati di jalan."

Oto menyalami kedua orang tua Pie. Hari masih gelap, Pie belum bangun dari tidurnya. Oto sengaja berangkat pagi-pagi sekali sebelum Pie terbangun, ia tak ingin berpapasan dengan Pie dengan perasaan yang canggung.

"Pie, kau masih pusing?" Mama memeriksa suhu tubuh Pie yang masih hangat pagi itu.

"Masih sedikit."

"Pie, lebih baik kau keluar dari kamar supaya menghirup udara segar." ucap Ayah yang berdiri di ambang pintu lalu berlalu pergi.

"Aku akan duduk di luar, Ma."

"Tak apa jika kau masih pusing."

"Tidak. Benar kata ayah, aku harus keluar. Siapa tahu cepat sembuh."

"Ya sudah. Mama ambilkan sarapan untukmu."

"Biar aku yang ke dapur, Ma."

"Ayo, Mama tuntun."

Mama memapah Pie untuk ke dapur. Beberapa kali Pie berhenti untuk menyeimbangkan tubuhnya. Ia menyesal tak melawan dirinya untuk banyak bergerak, kini tubuhnya terasa kaku akibat beberapa hari berdiam diri di atas tempat tidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!