NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ungkapan Rindu

Satu tahun kemudian...

Setelah putus dari Oto, Pie belum memiliki kekasih baru, ia belum berminat untuk menjalin hubungan kembali.

Akhir-akhir ini bayangan pelecehan yang terjadi di resto beberapa waktu lalu sering menghantuinya di dalam mimpi. Pie benar-benar merasa kacau, ia beberapa kali memaki Reami yang kabur usai melecehkan dirinya.

"Harusnya kubunuh saja laki-laki itu. Dia membuat hidupku terasa hidup di antara para hantu." Gumam Pie menatap langit biru melalu jendela kamarnya.

Berat badannya turun beberapa kilo dalam dua minggu, ia berusaha keras agar terlihat baik-baik saja di depan keluarganya.

Ia juga tak lagi pergi ke kebun, alasannya karena ia selalu ketakutan setiap berpapasan dengan laki-laki terlebih di area sepi dan hutan. Pie mengurung diri di rumah, ia akan keluar dengan minta ditemani oleh ayahnya dengan alasan takut begal.

Pie menyibukkan diri dengan ikut beberapa komunitas di facebook. Ia mempelajari berbagai bahasa daerah.

"Kak, maaf mengganggu. Aku ingin tanya beberapa materi." Pie mengirimkan pesan pribadi ke salah satu admin komunitas. Mereka ada grub untuk berdiskusi, tapi para ketua memberikan opsi jika ada yang ingin belajar dengan serius bisa menghubungi salah satu admin pengurus grup.

"Ya, silakan, Kak."

Gayung bersambut, Pie menjadi semakin bersemangat untuk belajar. Ia berdiskusi dengan admin yang ia kontak hingga beberapa jam ke depan.

"Untuk hari ini, itu saja yang kutanyakan. Terima kasih untuk waktunya, Kak."

"Santai saja, Kak. Boleh menghubungiku kapanpun diperlukan untuk berdiskusi. Aku akan membalasnya jika tiidak sibuk."

"Baik."

Pie membereskan buku-buku penunjang belajar. Ia merebahkan tubuhnya yang penat setelah duduk berjam-jam.

"Halo, apa kabar, Pie?"

Pesan di facebook membuat Pie mengernyitkan dahi. Itu adalah aku facebooknya yang kedua, sangat jarang ia mainkan. Di sana teman gengnya menjadi friendlist.

Pie membulatkan matanya. Lagi-lagi ia ditemukan Tama. Ia sangat yakin itu adalah pesan dari Tama, walaupun dari profil facebooknya yang tak ada identitas jelas.

"Tama?"

"Iya, ini aku."

Jujur saja, setiap kali Tama mengiriminya pesan setelah pelariannya berulangkali, Pie selalu berkeringat dingin dan mulas.

"Ada apa?"

"Ada apa, kau bilang? Tentu saja aku merindukanmu."

"Kemana saja kau selama ini?"

"Kenapa menghilang? Mana nomormu yang baru?"

"Kita sudah putus, Tama."

"No. Kau yang memutuskan seorang diri dengan tiba-tiba. Dan langsung menghilang."

"Tidak. Jangan hubungi aku lagi."

"Kenapa? Kau lupa janji kita? Janjimu, janjiku?"

"Itu sudah masa lalu."

"Kau memberikanku luka, Pie. Kau meninggalkan luka padaku."

Pie meneteskan air mata. Ia tak tahu apa arti air matanya ini, yang jelas ia sedikit lega ketika menangis.

"Angkat teleponku, kita perlu bicara."

"Tidak mau."

Pie enggan jatuh cinta lagi pada Tama. Karena suara Tama begitu candu untuk Pie, dulu Pie sering merajuk jika Tama tak meneleponnya barang sehari, mereka berdua sama-sama mendamba. Namun, Pie yang menyerah karena terlalu sesak dengan sikap Tama.

"Angkat. Aku ingin mendengar ucapanmu secara langsung jika kau benar-benar berani mengatakannya."

"Aku tidak mau."

Pie segera memblokir kembali akun Tama, ia juga segera menghapus akun facebooknya itu dan membuat akun baru. Ia memiliki akun satu lagi yang tersembunyi dari orang-orang yang dikenalnya. Pie mempertahankan akun itu untuk dirinya.

"Kau baik, kau membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, Tama." Pie menatap obrolan terakhir mereka.

Sejurus kemudian Pie menggeleng cepat.

"Tidak. Kau bukan baik, tapi kau memanipulasi anak di bawah umur. Tapi kau membuatku jatuh cinta tapi aku juga tak ingin bersamamu. Kau menakutkan, Tama."

Pie bergumam sembari menetralkan detak jantungnya. Berkirim pesan dengan Tama sudah membuatnya kalang kabut apalagi jika mereka bertemu, Pie yakin dirinya tak berdaya di hadapan pria itu.

("Pie, makan yang banyak. Supaya kau berisi." Kim menepuk pucuk kepala Pie yang sedang makan.

"Apa aku begitu kurus, Kim?" Pie berhenti mengunyah, ia menatap Kim yang tersenyum menatap Pie sedang makan.

"Kau terlalu kurus untuk ukuran usiamu." Kim terkekeh pelan.

Pie menggembungkan pipinya.

"Begini saja aku sudah cukup lelah jika berlari. Kau juga kurus, terlihat seperti tiang listrik berjalan." Kim tergelak mendengar ucapan Pie.

"Tak apa, yang penting kau menyukaiku, Pie."

Pie hanya tertawa hambar.)

Pie membuka mata, mulutnya terkunci.

Ia mencerna ingatan di mimpi yang baru saja ia alami.

Pie merasa ada yang aneh dengan dirinya semenjak lulus SMA. Kim seolah-olah menghantuinya lewat mimpi.

"Kata orang, jika bermimpi seseorang yang dikenal, dia sedang rindu pada kita." Kedua maniknya menatap plafon kamar tidurnya.

"Aku tidak mempercayai itu, tapi kenapa dari sekian mantanku hanya Kim yang terus hadir di mimpi?"

Pie beranjak bangun, ia melirik jam kecil di atas nakas menunjukkan pukul 6 pagi. Ia harus segera bersiap berangkat bekerja.

Pie sudah dua bulan bekerja di toko roti yang ada di daerahnya. Di toko tersebut ada tiga pekerja dengan tugas masing-masing. Pie mendapat tugas bagian mengolah roti dan kue-kue yang dijual.

Di sana juga menjual pizza rumahan dan snack box

Pie memarkirkan sepeda motornya di sisi toko yang dinaungi oleh atap.

"Pantas masih sepi, aku datang terlalu pagi." Pie melirik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 8, jam kerja toko dimulai setengah delapan pagi.

Pie memilih untuk duduk di undakan tangga teras toko, ia menunggu rekan kerja yang membawa kunci toko.

Getaran ponsel membuat Pie memeriksanya, sebuah panggilan telepon dari seseorang.

"Pie?" Itu suara laki-laki, Pie tak mengenali suaranya.

"Ya? Ini siapa?"

"Aku, Kim."

Pie menutup mulutnya tak percaya. Ia melihat layar ponsel yang sedang menampilkan panggilan dari nomor baru.

"Halo? Pie, kau di sana?"

"Uhm, ya." Pie tiba-tiba gugup.

"Bisa kita bertemu hari ini?"

Pie mengerjapkan kedua matanya, ia mencubit kecil tangannya dan merasakan sakit. Ini bukan mimpi.

"Hari ini?"

"Ya. Aku akan ke sana, kau yang tentukan ingin bertemu di mana, Pie."

"Aku hari ini bekerja, Kim."

"Kau pulang jam berapa? Aku bisa menunggu kau pulang bekerja."

"Tidak tentu."

"Begitukah? Sayang sekali, aku hanya punya waktu sampai jam 5 sore, Pie."

"Kenapa tidak besok?"

"Aku besok akan kembali ke kampung halaman ibuku."

"Ah, begitu."

"Ya, Pie. Jadi bagaimana? Kita sudah lama tidak bertemu, aku rindu."

DEG!

Pie benar-benar terkejut mendengarnya, apa ini sebuah kebetulan? Ia baru saja bermimpi Kim dan ucapan orang-orang yang ia anggap mustahil benar-benar menjadi kenyataan.

"Pie?"

"Ya, aku di sini. Sepertinya tidak bisa, aku tak bisa memastikannya, Kim."

"Baiklah kalau begitu, aku tutup teleponnya."

Pie menatap diam layar ponsel yang gelap. Ia ingin bertemu tapi juga harus bekerja. Tak mungkin dirinya bisa pulang cepat hari ini, karena akan membuat jajanan yang banyak untuk pesanan diantar nanti malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!