Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Panggung Sandiwara.
Di ruang kerja lantai tiga.
"Apa anda ingat, Rembulan ngotot di depan keluarga saat kumpul bersama kepada orangtua anda, bahwa dia ingin belajar akting sampai dia mendaftarkan diri di IKJ (Institut Kesenian Jakarta)!?"
"Saya sempat bertanya mengapa? Bukankah dengan belajar di fakultas ekonomi dia bisa bekerja di perusahaan Ambrosia!? Tinggal memilih mau ditempatkan di negara mana kalau tidak betah disini?" tanya Henry mengulas masa lalu dan mengorek ingatan anak asuhnya.
Reynand ingat saat kelulusan SMU, anak itu ngotot ingin sekolah akting dia ingin jadi artis. Daddy dan Mommy tidak setuju. Dia harus bekerja di perusahaan Ambrosia. Tapi akhirnya, daddy luluh saat anak itu tidak keluar kamar berhari-hari. Daddy pun mengabulkan keinginannya.
"Yah, aku ingat. Akhirnya daddy dan mommy meluluskan permintaannya dengan syarat kalau nilainya jelek langsung pindah haluan kuliah di jurusan ekonomi!" ucapnya lirih.
Reynand memiliki daya ingat yang cukup kuat dan tajam. Hanya sekali baca, sudah hafal satu buku. Itu sebabnya di usia 13 - 15 tahun dia lulus S1 dan S2 di Colombia University of Amerika jurusan ekonomi dan arsitektur, sambil magang dan masuk jajaran perusahaan di tempat yang sama.
Selanjutnya pindah ke Inggeris, kuliah di Oxford University of England, ambil jurusan hukum di usia 16 - 18 tahun dan memegang di cabang Ambrosia, Inggeris. Di usia 19 tahun sudah bisa memimpin kantor cabang pusat di Indonesia (daddy Jonathan pensiun dan menyerahkan tampuk pimpinan sepenuhnya serta pemimpin klan Ambrosia) sampai sekarang di usianya yang memasuki 26 tahun.
Ternyata keponakannya memiliki bakat di dunia akting dan nyanyi. Beberapa ajang perlombaan keduanya, dia selalu ikuti dalam dan luar negeri. Menjadi pemenang.
Dia pun mengasah bakatnya di dunia modeling dan tarik suara. Katanya untuk menopang aktingnya dan ingin melanjutkan kuliah di Amerika. Dia bercita-cita bisa tembus Broadway. Untuk itu, daddy dan mommy menghadiahi grand piano putih atas kemenangannya menjadi yang pertama di ajang pencarian bakat.
Sekarang, sebelum cita-citanya tercapai, mommy malah menjodohkan dia dengan Calvin. Dan dia menjadi orang rumahan sejak menikah. Mengurus suaminya.
Ada perasaan sesak dalam dada Reynand, mengenang itu semua. Sejujurnya, dia lebih dekat dan akrab dengan Rembulan dibandingkan dengan keponakan lainnya. Ditambah selama beberapa tahun, gadis itu yang selalu merawatnya tanpa pamrih. Dengan lainnya, jangankan mengurusnya, menjenguknya bisa dihitung jari.
Henry pun melanjutkan cerita tentang Rembulan dengan lugas tanpa rasa takut.
"Saya pernah bertanya padanya, kenapa bersikeras ingin berakting!? Bukankah menjadi Ambrosia sangat enak. Tidak perlu bersusah payah bekerja! Rembulan pun menjawab.
"Katanya, dunia ini adalah panggung sandiwara yang besar. Setiap orang ada peranannya!"
"Ada yang menjadi bos, pelayan, penjahat juga seorang anak.
"Kalau perannya harus menangis maka harus sedih dan menyayat hati, kalau peran bercinta yah harus romatis. Kalau peran bahagia harus tersenyum dan tertawa terbahak-bahak, walaupun keadaan kita sedang susah atau tidak baik-baik saja. Kita harus berakting meyakinkan supaya panggung pertunjukan sukses!" lirih Henry.
"Begitu pun dalam hidup. Terkadang kita harus berakting di depan orang agar tidak diketahui maksud dalam hati, pun sebaliknya. Orang pun akan memakai topeng dan berakting di depan kita bahkan menjadi orang lain agar kita sukses dalam kehidupan!"
"Tadinya saya tidak mengerti maksudnya. Ternyata selama ini dia berakting bahagia dan ceria hanya untuk menutupi penderitaan dan kesedihannya. Saya juga dapat informasi dari seorang maid yang sangat dekat dengan neng Rembulan. Mungkin karena umurnya tidak jauh dengannya.
"Apa anda ingat bernama Sari Ningsih!?" tanya Henry.
Lama Reynand terdiam. Dia hapal betul para pekerjanya berkat daya ingatannya yang tajam.
"Bukankah dia orang Ciamis satu daerah dengan paman!?" tanya Henry begitu ingat pelayan wanita tersebut.
"Betul!"
"Saya bertemu dia setahun yang lalu saat lebaran. Itu juga tak sengaja. Ternyata dia berjualan ikan di Pangandaran bersama suaminya. Suatu hari saat masih bekerja disini, dia terluka, kakinya terdapat guratan merah dan berdarah. Dia bilang terperosok di lubang ketika dari supermarket. Ternyata bukan seperti itu kejadiannya!"
"Dia dicambuk pagi hari oleh mas Damian dan mbak Ellena karena kedapatan membantu neng Rembulan mengerjakan pekerjaan rumah.
"Saya ingat betul. Saat dia bercerita, saya izin pagi hari untuk menghadiri wisuda Widya si bungsu setengah hari. Jam 13:00 WIB, sudah kembali bekerja. Saya mendapati Sari yang terluka di waktu sore hari (saat selesai jam kerja pukul 17:00 WIB). Waktu shift pekerja di mansion dibagi tiga dengan durasi 8 jam per orang. Dan gadis itu mendapat shift kedua, waktu kerja jam 08:00-17:00 WIB potong istirahat sejam.
"Berhubung semua diliburkan oleh mbak Ellena, neng Rembulan yang mengerjakan. Mbak El dan mas Damian pergi liburan dengan anak-anak dua hari. Pada saat itu, neng Rembulan sakit panas demam maka itu Sari seorang diri dengan sukarela menggantikan tugas neng Rembulan. Rupanya, ada yang melaporkan kepada mbak El!"
"Bapak dan ibu sepuh sedang melakukan lawatan ke luar negeri dan anda baru pulang liburan dengan mbak Helga selama dua minggu dari Swiss lantas anda pergi lagi sorenya ehm 4 tahun yang lalu!?" unggah Henry mencoba membuka ingatan anak asuh di depannya yang mengerutkan dahinya tanda mengingat memorinya.
"Ya, aku ingat!" ucap Reynand.
"Neng Rembulan menyuruhnya pergi dari rumah ketika malam hari dan mengatakan bahwa pelayan itu kabur dari rumah begitu dia mengabari saya keesokan harinya. Saya pun mengabari mas Rey. Dan Sari Ningsih pun kembali ke kampung halaman dengan sisa gaji bulan di tangannya dan tambahan uang pemberian neng Rembulan sebagai pesangon, ungkap Sari Ningsih!" tutur Henry mengisahkan.
Mereka selalu melakukan itu saat bapak ibu dan mas Rey tidak ada. Dan puncaknya saat setahun yang lalu saat pergi berobat dalam waktu yang lama.
"Ya Tuhannn. Selama itu!?" gumam Reynand geram, marah dan sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Dia ingat, dirinya menginap di keluarga Helga sehabis makan malam. Dia langsung kerja dan pulang ke rumah. Dia memang mendengar dari paman Henry ada maid yang mengundurkan diri. Dia tak terlalu merisaukan kecuali kalau pegawai rumah ada yang melakukan kriminal.
Ada penyesalan dalam diri Reynand. Seandainya tidak menginap, seandainya tidak berobat dan meninggalkan mansion terlalu lama, seandainya lebih peka dan perhatian pada gadis itu.
Seandainya ...
Seandainya ...
Pasti kejadian itu tak terjadi!
"Rembulan selalu menolak memakai pakaian terbuka di bagian leher, dada dan lengan karena ..."
Bibir Henry terkatup rapat sesaat. Mulutnya tercekat menahan sakit ditenggorokannya. Sebisa mungkin ditahannya tangisan dan sesak yang mendesak naik dari dada ke permukaan.
"Me ... Menutupi luka cambuk di tubuhnya! Dan selalu meminum obat pereda nyeri selama bertahun-tahun. Saya mengetahui dari selembar kertas berlogo rumah sakit yang menyatakan kesehatan gadis itu. Salah satu ginjalnya rusak karena terlalu banyak dan keseringan meminum obat pereda nyeri, selama bertahun-tahun!"
Hati Reynand mencelos kaget mendengar fakta mengerikan yang keluar dari mulut pelayan setianya.
"Begitulah kisahnya. Dan sekarang saya baru mengetahui bahwa neng Rembulan te ... tewas dd ... dalam kecelakaan!" ucap Henry bergetar.
"Hu ... hu ... hu ... hu!!!"
Akhirnya pecah juga tangisan sang butler setia yang dia tahan selama bertahun-tahun. Tubuhnya merosot ke lantai tertopang lutut, kemudian menangkup di lantai dan menangis sejadi-jadinya. Itulah tangisan seorang ayah terhadap puterinya karena Henry memiliki seorang anak gadis. Rasa sesak merongrong dadanya. Tak kuasa menolong gadis yang tampak selalu tegar walaupun penderitaan menderanya.
"Saya sungguh tak berdaya. Bagai makan buah simalakama, menolong salah, membiarkan salah. Ini sangat menyakitkan!" ucapnya sambil terisak pilu.