NovelToon NovelToon
Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.

Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.

Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.

Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 04

“Arga!” 

Larissa memanggil pria itu sambil menarik tangannya ke dalam kamar. Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu kamarnya. 

Arga yang tak sengaja melintas di depan kamarnya sontak terkejut dan menatap perempuan di depannya dengan heran. “Ada apa denganmu, Larissa? Kenapa wajahmu terlihat ketakutan seperti itu?” tanyanya.

Larissa meletakkan satu jarinya di bibir, meminta pria itu untuk diam. Lalu, ia menarik tangan Arga menjauh dari pintu. 

“Ada apa? Kenapa kau seperti seorang pencuri seperti ini?” tanya Arga lagi lantaran pertanyaannya tak kunjung dijawab.

“Aku takut Samira akan melihat kita,” katanya berbisik pelan. “Jadi, pelankan suaramu.” 

Alih-alih mengikuti perkataan Larissa, Arga justru tertawa pelan, merasa lucu. “Kau ini mengigau atau apa? Dia itu buta, Sayang. Mana mungkin dia bisa melihat kita,” katanya diikuti tawanya. 

Larissa menatapnya dengan kesal. “Aku serius, Arga!” sentaknya. “Aku melihat matanya, dan tatapannya … tatapannya itu seperti seseorang yang—”

“Sudahlah, Larissa. Sepertinya kau terlalu lelah sampai jadi mencemaskan hal lain seperti ini. Istirahatlah, dan jangan terlalu memikirkan yang lainnya,” ucap Arga santai. Ia hendak berbalik pergi, tetapi tangannya dicekal oleh Larissa.

“Kenapa kau tidak percaya kepadaku? Aku sungguh-sungguh melihatnya, aku bersumpah!” kata Larissa serius. “Kurasa … kurasa dia bisa melihat sekarang.” 

Tetapi, lagi-lagi Arga menyikapinya dengan santai. “Mana mungkin? Dokter juga sudah bilang, mustahil perempuan buta itu bisa melihat lagi, kecuali jika dia mau melakukan transplantasi mata. Sudah, jangan bicara hal aneh lagi.” 

Arga meninggalkan Larissa begitu saja, memilih pergi ke suatu tempat untuk bersenang-senang. 

Sementara Larissa terduduk di sana dengan perasaan yang terasa janggal. Ia ragu antara harus memeriksanya atau membiarkan semuanya seperti tidak terjadi apa-apa.

Rasa penasarannya menuntun langkahnya pergi ke kamar Samira. Kamar itu kebetulan tidak dikunci, entah karena Arga lupa atau ia sengaja membiarkannya. Tangan Larissa terulur membuka pintu kamar itu perlahan. 

Ia mengintip dari luar, dan melihat Samira yang sepertinya sudah terlelap. Larissa tergerak, sekadar untuk memastikan sesuatu. Ia berjalan mengendap-endap mendekati Samira. 

“Apakah dia sudah benar-benar tidur?” gumamnya pelan. Ia mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Samira, tetapi urung. “Tunggu dulu … mungkin hanya perasaanku saja,” katanya lalu berjalan keluar dari sana. 

Selepas kepergian Larissa, Samira membuka mata. Ia menatap ke arah pintu yang menutup perlahan. “Kau mulai merasa cemas, ya? Tenanglah, kau tidak akan merasa cemas lagi, karena besok, kau akan segera mendapatkan pembalasan dariku.” 

•••

Pagi hari, selepas sarapan dan Arga telah berangkat kerja, Samira sengaja berjalan pelan ke arah ruang tamu. Biasanya ia akan duduk-duduk di sana, mendengarkan musik atau sekadar bersantai, namun beberapa hari terakhir ia tidak melakukannya karena kondisinya yang kurang sehat. 

Langkahnya terhenti beberapa langkah saat menyaksikan Larissa yang tengah bersantai sambil menonton televisi, sikapnya sudah seperti ialah sang pemilik rumah. 

Melihat itu, Samira terpikir untuk memberinya pelajaran. Ia berpura-pura berjalan mendekati ruang tamu dan memanggil-manggil Larissa dengan keras. 

“Larissa? Larissa! Di mana kau?” panggilnya dengan keras, sengaja membuat perempuan itu kesal. 

Larissa yang tengah menonton televisi itu pun menoleh dengan kesal. “Iya, Nyonya. Ada apa? Apakah Anda membutuhkan sesuatu?” tanyanya pelan, tapi ekspresinya menunjukkan kekesalan.

Samira tersenyum senang. “Ya, aku haus, tolong buatkan aku teh,” pintanya pada Larissa. 

Perempuan itu langsung berjalan dengan menghentakkan kaki. Samira mengikutinya ke pantry dan duduk di kursi pantry seraya menunggu Larissa membuatkan teh untuknya. 

“Kau mau teh, kan? Baiklah, rasakan teh asin ini!” Gumamnya, memasukkan garam ke dalam cangkir teh Samira dan bukannya gula.

Samira melihatnya dan tersenyum tipis. “Tolong tambahkan gulanya sedikit lagi, Larissa. Hari ini aku ingin yang manis-manis untuk memperbaiki mood,” katanya. 

Larissa pun menuangkan lebih banyak garam ke dalam cangkir itu, dan berkata, “Baik, Nyonya.” 

Setelah selesai, ia menyajikan teh panas yang uapnya masih mengepul itu ke hadapan Samira. Ia tersenyum puas membayangkan Samira akan meminum teh panas itu dan merasa keasinan, lalu Samira akan refleks menjatuhkan cangkir itu.

Namun, Samira jauh lebih pintar darinya. Ia mengangkat cangkir teh itu, berpura-pura hendak meminumnya. Namun, yang terjadi berikutnya, Samira berpura-pura menumpahkan tehnya ke atas meja pantry. Sehingga teh panas itu tumpah dan mengenai tangan Larissa yang berada di atas meja. 

Larissa sontak berteriak, “Ah! Panas! Panas sekali!” Ia meringis panas dan perih, lalu langsung pergi ke wastafel dan menyiramkan air dingin. 

Samira yang melihat itu, ikut berpura-pura panik, tapi sama sekali tidak beranjak dari duduknya. “Ma-mafkan aku, Larissa. Ya ampun, entah kenapa akhir-akhir ini aku begitu ceroboh. Apa kau baik-baik saja?” Tanyanya, berpura-pura khawatir. 

Larissa yang kesal, menatapnya tajam tapi menjawab, “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” 

“Baguslah kalau begitu, jangan lupa untuk mengoleskan obat agar lukamu tidak infeksi,” katanya memberi saran. “Sekali lagi, aku minta maaf, tanganmu pasti memerah sekarang.”

Samira berjalan pergi dari sana dengan menggunakan tongkatnya sambil tersenyum puas. “Ini hanya permulaan,” gumamnya. 

Melihat Samira yang bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa itu membuatnya kesal. Ia melihat tangannya yang berubah kemerahan. Niatnya untuk membuat Samira celaka justru berbalik mengenainya. “Sialan! Ada apa dengan wanita itu? Sikapnya semakin aneh. Awas saja kau! Aku pasti akan membalasmu dua kali lipat!” 

***

Malam harinya, ketika Arga pulang kerja, Larissa langsung menghampirinya dan menceritakan semua yang terjadi padanya siang itu, termasuk kecurigaannya pada Samira. 

“Kita tidak boleh tinggal diam, Arga! Apakah kau tidak merasa ada yang aneh dengan wanita buta itu? Aku sangat yakin hal ini bukan hanya kebetulan!” seru Larissa merasa yakin. 

Arga pun mulai berpikir untuk mempercepat rencananya itu. 

“Kita harus segera membuatnya menandatangani surat-surat pengalihan aset. Kau harus segera melakukannya, Arga! Aku pun sudah tak tahan terus bersandiwara menjadi asisten rumah tangga!” kata Larissa, semakin mendesak Arga/. 

“Kau pikir semudah itu membuat Samira menandatangani berkas penting? Jika aku melakukannya dengan tergesa-gesa, dia pasti akan curiga. Kita harus membuat alasan yang logis lebih dulu. Meskipun buta, tetapi Samira bukanlah perempuan bodoh, Larissa.” 

Larissa pun terdiam. Keduanya hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Memikirkan cara bagaimana agar mereka bisa menipu Samira dengan mudah tanpa membuatnya curiga. 

Tanpa mereka sadari, Samira mendengar semua percakapan itu. Tangannya terkepal kuat. “Ternyata seperti itu. Kalian pikir, kalian bisa merebut semuanya dariku? Tidak akan semudah itu.”  

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang hanya kebahagiaan yg akan menghampirimu Samira 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
omooo.. sejak kapan ray?
HK: Sejak ...
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
karepmu
HK: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Astiana 💕
baru 20 bab masa dah tamat, cerpen kah🙏
HK: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
cinta semu
jgn bilang kayak film India ,,setelah musuh ny mati ,,,polisi ny datang 🤣🤣
HK: Kak 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
cinta semu
q lebih suka cepat tamat .. daripada lama sampai bab ny banyak tamat kagak malah di gantung iya ...🤣🤣yg penting kn happy. ending 💪
HK: Betul 🤭🤭🤭
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
lanjut dong 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga berjodoh dengan Rayhan 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kisah Wanita hebat 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu karmamu 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa mereka akan mati bersama..?
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Good job Samira 👍🏻
Siti Siti Saadah
pertarungan yg cukup tegang samira punya dokter reyhan kenapa ngga bantu cari cara melawan arga
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg akan tertipu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar orang gila 😏
Rosmayanti 80
dikit se x update nya trs LM pula update 🙏😄🤭
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
dikit ihh
HK: Ngejar target Nyak 🤣
total 1 replies
Siti Siti Saadah
arga ternyata sungguh terlalu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jahat sekali kamu Arga 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!