NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: tamat
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Hutan Besi yang Berbisik

​Meninggalkan lautan Aer'thos yang cair dan biru, mereka melakukan perjalanan ke daratan utama benua timur, menuju wilayah yang ditandai di peta sebagai "Zona Mati". Namun, penduduk setempat menyebutnya Ferro Silva—Hutan Besi.

​Saat Aethela dan Valerius melangkah melewati batas wilayah itu, dunia berubah warna. Hijau dan cokelat alami menghilang, digantikan oleh abu-abu, tembaga, dan hitam karat. Pepohonan di sini tidak terbuat dari kayu, melainkan dari logam organik yang tumbuh melintir. Daun-daunnya setajam silet, berdenting satu sama lain saat angin bertiup, menciptakan simfoni clinking yang membuat gigi ngilu.

​Hutan ini terasa... sakit. Tidak ada burung bernyanyi, hanya suara klik dan desis mekanis dari serangga-serangga logam yang merayap di batang pohon. Udara berbau seperti darah kering dan oli mesin.

​"Tetap di jalan setapak," peringatkan Nyra, yang bersikeras mengantar mereka sampai batas hutan sebelum kembali ke laut. "Penyihir Hutan Besi tidak menyukai tamu. Mereka adalah technomancers kuno yang mengasingkan diri. Jika kau menyentuh pohon yang salah, kau akan menjadi pupuk bagi akar-akar mesin mereka."

​"Terima kasih atas tumpangannya, Kapten," kata Valerius, memberikan sekantung permata dari Obsidiana sebagai pembayaran. "Kami akan menanggung risikonya dari sini."

​Nyra mengangguk, menatap hutan itu dengan bergidik, lalu berbalik pergi secepat mungkin.

​Aethela menatap ke dalam keremangan hutan. Kabut di sini berwarna kuning belerang.

​"Mereka mengawasi kita," bisik Aethela. Ia bisa merasakan tatapan mata majemuk yang tak terhitung jumlahnya dari balik semak-semak logam.

​"Biarkan mereka melihat," jawab Valerius, tangan di gagang pedang. "Kita datang membawa tawaran perang, bukan perdamaian."

​Mereka berjalan selama berjam-jam. Hutan ini adalah labirin. Kompas tidak berfungsi di sini karena medan magnet yang kacau. Valerius mengandalkan insting naganya, namun bahkan insting itu terasa tumpul di tengah banyaknya logam.

​Tiba-tiba, tanah bergetar.

​Bukan gempa bumi. Akar-akar logam mencuat dari tanah, melilit kaki Valerius dan Aethela secepat kilat.

​"Jangan bergerak!" teriak Valerius saat ia melihat duri-duri halus keluar dari akar tersebut, menempel di leher Aethela.

​Dari balik pepohonan, muncul sosok-sosok yang mengerikan.

​Mereka adalah wanita, tetapi tubuh mereka telah dimodifikasi. Sebagian lengan mereka diganti dengan cakar mekanis, mata mereka diganti dengan lensa kristal merah, dan kulit mereka berwarna abu-abu pucat seperti mayat.

​Para Iron Witches.

​Seorang wanita yang paling tinggi, yang separuh wajahnya tertutup topeng besi yang menyatu dengan tengkoraknya, melayang maju—kakinya tidak menyentuh tanah, melainkan ditopang oleh kaki-kaki laba-laba mekanis yang keluar dari punggungnya.

Makhluk-makhluk ini telah membuang kemanusiaan mereka demi kekuatan dan keabadian yang menyakitkan.

​"Darah Naga... Darah Bintang..." suara wanita itu terdengar seperti gesekan logam berkarat. "Kombinasi yang langka. Apakah kalian datang untuk didaur ulang? Bagian tubuh kalian akan sangat berguna untuk eksperimen kami."

​Valerius menggeram, api hitam mulai keluar dari tubuhnya, memanaskan akar logam yang mengikatnya hingga memerah. "Lepaskan kami, atau aku akan melelehkan hutan rongsokan ini menjadi genangan timah!"

​"Api..." wanita itu mundur sedikit, lensa matanya berputar fokus. "Suhu yang tidak efisien. Tapi energinya... tinggi."

​Aethela menyadari bahwa ancaman tidak akan bekerja pada makhluk yang tidak memiliki rasa takut biologis. Mereka beroperasi berdasarkan logika, efisiensi, dan pertukaran.

​"Hentikan apimu, Valerius," perintah Aethela tenang, meskipun duri logam di lehernya sudah menggores kulit.

​Aethela menatap mata lensa wanita itu. "Namaku Aethela. Dan aku tahu apa yang kalian cari, Matriarch. Kalian tidak mencari daging atau tulang. Kalian mencari sumber daya."

​Matriarch itu memiringkan kepalanya, mesin di punggungnya mendesis. "Lanjutkan, unit biologis."

​"Kalian mengasingkan diri di sini karena Solaria memburu kalian," kata Aethela. "Mereka menyebut teknologi kalian sebagai penistaan. Mereka memblokir akses kalian ke tambang Sun Crystals—satu-satunya sumber energi yang bisa menjaga mesin-mesin penopang hidup kalian tetap berjalan, bukan?"

​Aethela menunjuk dada Matriarch itu, di mana sebuah inti kristal redup berkedip lemah.

​"Kalian sedang sekarat, Matriarch. Baterai kalian habis. Hutan ini berkarat karena kalian tidak punya energi untuk merawatnya."

​Ia berjudi dengan informasi yang ia baca di perpustakaan terlarang ayahnya dulu. Jika ia salah, mereka mati.

​Hening sejenak. Hanya suara tik-tok dari jantung mekanis para penyihir yang terdengar.

​"Analisis... akurat," kata Matriarch itu akhirnya. Akar-akar logam yang melilit leher mereka sedikit melonggar. "Kami membutuhkan Sun Core. Solaria memilikinya. Tapi kami tidak punya jumlah pasukan untuk menembus tembok mereka."

​"Kami punya pasukannya," sela Valerius, memahami arah permainan Aethela. "Kami akan menyerang Solaria. Kami akan membuka gerbang gudang senjata mereka. Kalian bisa mengambil semua Sun Core yang kalian inginkan. Sisanya—kota itu—milik kami.

​Matriarch itu mendekat ke wajah Valerius. Lensa merahnya memindai retina Valerius.

​"Janji unit biologis sering kali... buggy (cacat/penuh kebohongan)," kata Matriarch. "Kami membutuhkan uang muka."

​"Apa yang kalian inginkan?" tanya Valerius.

​"Kami ingin melihat code (kode) masa depan," Matriarch beralih ke Aethela. "Kau memiliki First Flame. Itu adalah energi komputasi tanpa batas. Izinkan kami terhubung ke pikiranmu. Izinkan kami melihat probabilitas kemenangan perang ini. Jika probabilitasnya di atas 70%, kami akan bergabung."

​"Kau ingin masuk ke kepalaku?" Aethela tampak ragu.

​"Hanya read-only (baca saja)," kata Matriarch. "Kami tidak akan mengubah data."

​Valerius hendak menolak. Membiarkan technomancer masuk ke pikiran Aethela terlalu berbahaya.

​Tapi Aethela mengangkat tangan. "Lakukan."

​Matriarch itu menempelkan jari-jari logamnya yang dingin ke pelipis Aethela. Kabel-kabel halus keluar dari ujung jarinya, menusuk kulit tanpa rasa sakit, terhubung langsung dengan sistem saraf.

​Rasanya seperti tersengat listrik statis, lalu diikuti oleh aliran data yang dingin. Aethela tidak melihat visi, ia melihat angka. Ia melihat dunia seperti yang dilihat para penyihir ini—sebagai serangkaian persamaan matematika.

​Matriarch itu "mengunduh" memori perang di Obsidiana. Dia melihat kekuatan First Flame. Dia melihat pasukan Elf Laut. Dia melihat tekad Valerius.

​Di dalam pikiran Aethela, Matriarch itu berbicara.

Ambisius. Logis. Tapi berbahaya. Variabel 'Cinta' kalian menyebabkan inefisiensi taktis.

​Cinta bukan inefisiensi, balas Aethela dalam pikirannya. Cinta adalah pendorong yang melampaui batas kemampuan mesin.

​Data tidak mendukung klaim itu... Tunggu...

​Matriarch itu melihat memori di Puncak Void. Dia melihat penyatuan jiwa. Dia melihat sumber tenaga yang tak terbatas yang dihasilkan oleh emosi murni itu.

​Kabel-kabel itu ditarik kembali dengan cepat. Matriarch itu mundur, tubuh mekanisnya bergetar.

​"Energi... overflow," gumam Matriarch. "Kalkulasi selesai. Probabilitas kemenangan: 88%."

​Matriarch itu berbalik menghadap pasukannya—ratusan cyborg penyihir yang diam menunggu.

​"Protokol Isolasi: Nonaktif," suaranya menggema metalik. "Protokol Perang: Aktif. Target: Solaria. Tujuan: Akusisi Energi."

​Matriarch kembali menatap Valerius dan Aethela.

​"Kami adalah The Iron Coven. Kami akan menyediakan Siege Engines (Mesin Pengepungan) dan pasukan infanteri berat. Sebagai gantinya, Inti Matahari Solaria adalah milik kami."

​"Sepakat," kata Valerius.

​Saat mereka berjalan keluar dari Hutan Besi, diikuti oleh suara gemuruh mesin-mesin perang kuno yang mulai dinyalakan setelah tidur panjang, Valerius merasa ngeri sekaligus takjub.

​"Elf Laut menguasai air. Penyihir Besi menguasai teknologi," gumam Valerius. "Kita sedang membangun pasukan monster, Aethel."

​"Ayahku menyebut kita monster," kata Aethela, menatap tangannya yang baru saja terhubung dengan mesin. "Jadi, mari kita tunjukkan padanya apa yang bisa dilakukan oleh monster yang bersatu."

​Valerius merangkul bahu Aethela. Ia merasakan tubuh istrinya sedikit gemetar—efek samping dari koneksi saraf tadi.

​"Kau baik-baik saja?"

​"Mereka kesepian, Valerius," bisik Aethela. "Di balik mesin itu, mereka hanya wanita-wanita yang takut mati. Sama seperti kita semua."

​Sekutu kedua telah didapatkan. Pasukan mereka kini memiliki Angkatan Laut dan Angkatan Darat Mekanis. Tapi kepingan terakhir puzzle masih hilang. Sekutu yang paling sulit diprediksi: Para Nomad Gurun.

​"Selanjutnya ke selatan," kata Valerius, menatap cakrawala yang mulai gelap. "Ke tanah pasir dan ilusi."

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!