"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Memangnya Kamu Siapa?
Mobil yang Evan kemudikan berhenti dengan kasar di area parkir AVA Corp, tangannya membuka pintu mobil dengan kasar, melangkah cepat masuk ke dalam gedung kantor, dan segera menghampiri meja resepsionis.
"Apakah Nyo-" Evan memejamkan mata, nyaris salah bicara. "Apakah Nona Rieta Ervina ada di tempat?" tanyanya sopan.
"Ada, Tuan," resepsionis menjawab. "Nona Rieta sudah datang pagi-pagi sekali."
"Bisa aku bertemu dengannya?" tanya Evan.
"Apakah Anda sudah membuat janji, Tuan?" resepsionis kembali bertanya.
Evan menggeleng. "Belum."
"Kalau begitu, saya akan menghubungi Nona Rieta. Mohon tunggu sebentar."
Evan mengangguk, menunggu dengan tenang, menyembunyikan kegelisahan yang tengah ia rasakan. Ia sadar, di kantor ini jugalah Rihana bekerja, jika Rihana menghampiri dirinya dan Rieta melihatnya, ia tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan situasinya jika itu terjadi.
Ia mendengar resepsionis berbicara sopan, menyapa Rieta, lalu bertanya nama yang segera ia sebutkan. Sesaat kemudian, resepsionis itu meletakkan gagang telepon di tempatnya, lalu meminta dirinya untuk menunggu.
Evan mengangguk, duduk di sofa yang tersedia, dan menunggu dengan gelisah. Detik terasa begitu lambat bagi Evan saat ia menunggu Rieta muncul, jantungnya berdebar, perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ketika wanita yang ia tunggu akhirnya datang, ia segera berdiri, melangkah mendekat dengan senyum di wajah.
Namun, senyum itu musnah dalam sekejap saat Rieta berdiri di hadapanya dengan menunjukkan sikap seolah mereka tidak saling mengenal.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Rieta bertanya dengan senyum tersungging di bibir tipisnya, memberikan senyum palsu yang begitu kentara. Ia bahkan secara terang-terangan membangun benteng tinggi pada pria yang menjadi suaminya.
"Rie-" suara Evan tercekat di tenggorokan, kalimat yang semula sudah ia susun rapi di pikirannya menguap begitu saja.
"Aku... Minta maaf."
Akhirnya hanya kata itu saja yang bisa Evan keluarkan, kepalanya tertunduk dalam, menunjukkan betapa ia menyesali perbuatannya.
"Minta maaf?" ulang Rieta mengerutkan kening. "Apa yang sedang Anda bicarakan , Tuan? Saya tidak mengerti."
"Rie..." Evan melangkah maju, tetapi segera terhenti saat tangan Rieta terangkat dengan isyarat untuk tidak mendekat.
"Jika tidak ada yang ingin Anda bicarakan lagi, saya permisi." ucap Rieta seraya berbalik.
"Tunggu." Evan bergerak cepat meraih pergelangan tangan Rieta, menahan istrinya beranjak.
"Lepas." desis Rieta dengan sorot tajam. "Harusnya kamu sadar di mana kita saat ini," tekannya pelan namun tegas.
Evan bergeming, tidak melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Rieta. Sementara pandangan hampir semua karyawan AVA Corp yang berada di sekitar mereka sudah tertuju pada mereka berdua.
"Pst... Bukankah itu putra dari keluarga Larson?"
"Maksudmu, putra dari pemilik LR Corp?"
"Benar, yang itu. Ada urusan apa dia datang kemari mencari Nona Rieta? Apakah mereka saling mengenal?"
"Kudengar, dia sempat mengalami koma."
"Aku malah mendengar dia sudah memiliki kekasih. Apakah Nona Rieta adalah kekasihnya?"
"Kurasa itu tidak mungkin, sebelum ini dia tidak pernah datang ke kantor ini meski Nona Rieta sudah bekerja di sini."
Suara bisik-bisik saling menimpali kini menggema, tetapi tidak membuat Evan melepaskan Rieta begitu saja. Ia ingin bertanya kenapa istrinya tidak pulang, dari mana istrinya mendapatkan pakaian yang sekarang dia kenakan, dan kenapa tidak mengirim pesan seperti biasa.
Namun, semua itu gagal ia lakukan saat suara bariton dari seseorang yang sangat ia kenal masuk ke dalam pendengarannya.
"Lihatlah, siapa yang datang sepagi ini untuk mengacau di kantorku."
Sindiran Arlan cukup untuk membuat Evan menoleh, tetapi tidak melepaskan tangannya dari sang istri.
"Tuan Evan Larson, ada keperluan apa kiranya yang membuat Anda datang ke kantor saya sepagi ini? Saya tidak ingat memiliki jadwal pertemuan dengan perusahaan Anda," ucap Arlan diakhiri sindiran.
"Dan..." tatapan Arlan beralih ke tangan Evan yang masih mencengkram pergelangan tangan Rieta.
"Tolong lepaskan tangan sekretaris saya," tekannya kemudian. "Dia jelas menolak, tapi Anda memaksa."
Sekilas, Evan melihat kilat amarah yang tidak bisa ia pahami artinya. Amarah yang tidak pernah ia lihat dalam diri pamannya, seolah ia sudah mengambil apa yang menjadi milik sang paman.
"Jika saya menolak?"
Entah datang dari mana keberanian itu hingga Evan justru menantang pamannya sendiri.
Arlan melangkah maju dengan satu tangan di saku celana, mengunci pandangannya pada Evan. "Oh... Kau menantangku rupanya," ujarnya pelan, namun penuh tekanan.
Evan bisa merasakan tatapan semua orang masih tertuju pada mereka. Situasi yang sangat tidak menguntungkan baginya jika mengingat hubungan yang terjalin bersama sang paman tidaklah baik dan tidak diketahui banyak orang karena pamannya yang senantiasa menutup diri. Siapa yang akan percaya jika ia tiba-tiba mengatakan dirinya adalah keponakan Arlan? Dan bagaimana jika Arlan justru menyangkalnya? Itu akan membuat dirinya malu.
"Aku bisa saja meminta security untuk menendangmu dari kantorku, Evan," tekan Arlan dengan suara pelan tetapi sarat akan ancaman, memastikan hanya mereka bertiga saja yang mendengar.
"Tapi aku lebih ingin kau pergi tanpa aku harus mengotori tanganku untuk mengusirmu."
"Aku ingin berbicara dengan Rieta sebentar, Paman," kukuh Evan penuh harap. "Sebentar saja."
"Rieta sudah memberikan rasa keberatannya, kenapa kau memaksa?" sahut Arlan. "Dan satu hal lagi perlu kutekankan padamu, jangan memanggilku paman di sini. Atau kau akan tahu akibatnya."
Satu tangan Evan yang masih bebas terkepal, netranya menatap nyalang sang paman. Perasaan direndahkan kini menyelimuti hatinya.
"Rieta diam saja, kenapa Anda yang protes?" sahut Evan meninggikan suaranya. Seolah ia sengaja menarik perhatian semua orang yang sejak awal sudah memperhatikan mereka bertiga.
"Anda juga tidak berhak mengatur Rieta."
Arlan tersenyum miring. "Kenapa aku tidak memiliki hak? Tentu saja aku punya," ucap Arlan menghilangkan sisi pura-pura formalnya.
"Rieta sekretarisku di sini, dan dia sedang bekerja sekarang. Sedangkan kau, memangnya kamu siapanya Rieta?"
.
.
.
Sementara itu, di sebuah kamar dari apartemen yang menjadi tempat tinggal Rihana, wanita itu berjalan mondar-mandir dengan langkah gusar. Puluhan kali ia mencoba menghubungi Evan, tetapi pria itu tidak segera menjawab panggilannya.
Di malam saat dirinya kepergok kedua orang tua Evan setelah menghabiskan waktu bersama Evan di kamar hotel, Tuan Marlan memberikan peringatan keras padanya untuk tidak menemui Evan lagi. Tetapi, ia mana mungkin menurut. Ia tidak rela melepaskan Evan begitu saja.
Namun, nasib sialnya tak berhenti sampai di sana. Ia juga mendapatkan e-mail dari kantor bahwa ia tidak diperbolehkan datang ke kantor untuk sementara waktu sampai mendapatkan panggilan dari atasannya.
Rencana untuk mempermalukan Rieta dengan menyebarkan rumor jika Rieta seorang penggoda berantakan. Bukan Rieta yang malu, tetapi justru dirinya-lah yang malu karena Arlan sudah melihatnya.
"Sial."
Rihana menggigit kuku jemarinya, dua pria yang ia bayar untuk mengambil foto pun seolah hilang ditelan bumi. Disaat pikirannya benar-benar kalut, sebuah pesan masuk ke ponselnya yang membuat ia reflek menjatuhkan ponsel usai membaca pesan yang ia terima.
. .. .
. . . .
To be continued...