NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Andrew perlahan melepaskan cengkeramannya pada pagar balkon. Ia berbalik, menatap Ares dengan tatapan yang sengaja ia buat sedingin es, tatapan yang biasanya ia gunakan untuk menghancurkan lawan bisnisnya di ruang rapat.

​Ia tahu, satu-satunya cara untuk menyelamatkan Ares dan menjaga rahasia ini tetap terkubur adalah dengan menjadi monster di mata adiknya.

​Andrew mendengus sinis, sebuah tawa kecil yang merendahkan keluar dari bibirnya. "Perasaan?" tanya Andrew dengan nada meremehkan. "Lo pikir selera gue serendah itu, Res?"

​Ares tertegun, langkahnya mundur satu tindak. "Maksud lo apa, Kak?"

​"Alana itu wanita yang baik untuk pria seperti lo, yang penuh drama, emosional, dan hidup di dunia fantasi," ucap Andrew sambil melangkah mendekat, mengintimidasi adiknya dengan postur tubuhnya yang tegak.

"Tapi buat gue? Dia cuma pemilik galeri kecil yang bahkan nggak punya pengaruh apa-apa di dunia gue. Dia membosankan, terlalu perasa, dan sejujurnya... nggak selevel sama standar wanita yang biasanya gue kencani."

​Wajah Ares memerah. "Tapi tadi Kiara bilang—"

​"Tadi itu gue cuma kasihan sama Kiara!" potong Andrew tajam. "Gue terpaksa duduk di sana karena Kiara merengek. Soal dia lap pipi gue? Itu karena dia nggak tahu tata krama. Dia terlalu agresif buat ukuran wanita yang sudah punya pacar. Gue bahkan merasa risih ada di dekat dia."

​Pang!

​Kalimat itu terasa seperti tamparan keras bagi Ares. Ia tidak menyangka kakaknya akan bicara sekejam itu tentang wanita yang ia cintai.

​"Jangan pernah tanya pertanyaan konyol itu lagi, Res," lanjut Andrew sambil merapikan kerah bajunya dengan angkuh. "Gue nggak punya waktu buat ngurusin pacar lo yang... biasa saja itu. Jaga dia baik-baik kalau lo memang cinta, tapi jangan bawa-bawa gue ke dalam drama murahan kalian."

​Andrew berjalan melewati Ares begitu saja, sengaja menabrak bahu adiknya dengan keras. Ia masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi, meninggalkan Ares yang berdiri mematung di balkon dengan rasa sakit dan amarah yang bercampur aduk.

​Namun, begitu pintu kamarnya tertutup rapat, pertahanan Andrew runtuh seketika. ​Ia bersandar di balik pintu, dadanya terasa sesak seolah baru saja dihantam batu besar. Tangannya gemetar hebat. Setiap kata hinaan yang ia lontarkan untuk Alana tadi sebenarnya adalah belati yang ia tancapkan ke jantungnya sendiri.

​"Maafin aku, Alana..." bisiknya parau ke dalam kegelapan kamar.

​Ia harus menghina Alana agar Ares tidak curiga. Ia harus membuat dirinya terlihat membenci Alana agar tidak ada yang menyadari bahwa ia justru memuja setiap inci dari wanita itu. Andrew meraih anting mutiara Alana dari lacinya, menggenggamnya kuat-kuat hingga mutiara itu membekas di telapak tangannya.

​Sementara itu, di luar kamar, Ares mengepalkan tinjunya. Ia marah karena Andrew menghina kekasihnya, tapi di satu sisi, ia merasa lega karena yakin kakaknya tidak akan pernah merebut Alana.

​Ares segera mengambil ponselnya dan menelepon Alana, butuh mendengar suara wanita itu untuk menenangkan hatinya yang panas. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, wanita yang ia telepon sedang menangis diam-diam di galerinya, meratapi perasaan terlarang yang ia miliki untuk pria yang baru saja menghinanya dengan sangat kejam.

Malam itu, setelah menutup telepon dari Ares, dunia Alana terasa runtuh. Suara Ares yang terdengar berapi-api saat menceritakan betapa "sombong dan kejamnya" Andrew menghina Alana di depannya, terus terngiang seperti kaset rusak.

​"Dia bilang kamu nggak selevel, Lan. Dia bilang kamu agresif dan membosankan," ucap Ares dengan nada emosi.

​Alana tidak bisa membalas kata-kata Ares. Ia hanya bisa terisak dalam diam setelah sambungan terputus. Rasa sakitnya ganda: ia terluka karena dihina dengan begitu rendah, namun ia lebih terluka karena pria yang sempat memberikan tatapan paling hangat padanya itu ternyata memiliki hati sedingin es.

​Keesokan Harinya

​Alana tidak bisa membiarkan ini. Jika Andrew ingin membencinya, silakan. Tapi ia tidak akan membiarkan martabatnya diinjak-injak tanpa perlawanan. Dengan mata sembab yang ditutupi kacamata hitam, ia mengendarai mobilnya menuju gedung pusat Wijaksana Group.

​Ia berjalan melewati lobi dengan langkah tegas, mengabaikan tatapan heran para staf yang melihat wanita dengan wajah asing nekat menerobos masuk.

​"Maaf mbak, apakah sudah ada janji dengan Pak Andrew?" cegat sekretaris Andrew di depan pintu jati besar itu.

​"Minggir," ucap Alana dingin. Ia langsung mendorong pintu ruangan Andrew tanpa mengetuk.

​Di dalam, Andrew sedang berdiri menatap jendela, membelakangi pintu. Ia tidak berbalik, mengira itu adalah sekretarisnya. "Saya bilang jangan ada interupsi sampai jam makan siang, Siska."

​"Jadi aku ini hanya interupsi yang membosankan dan tidak selevel bagimu, Andrew?"

​Suara itu membuat bahu Andrew kaku seketika. Ia berbalik perlahan, matanya melebar melihat Alana berdiri di sana dengan wajah yang memerah karena marah dan luka.

​"Alana? Apa yang kamu—"

​PLAK!

​Satu tamparan keras mendarat di pipi Andrew. Napas Alana memburu, tangannya gemetar hebat.

​"Itu untuk semua hinaan yang kamu lontarkan di depan keluargamu semalam," ucap Alana dengan suara bergetar. "Kalau kamu memang membenciku, katakan di depanku! Jangan menjadi pengecut dengan merendahkanku di depan orang lain agar kamu terlihat hebat!"

​Andrew terdiam, pipinya terasa panas, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat. Ia menatap Alana, melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata wanita itu.

​"Keluar, Alana," bisik Andrew parau. Ia tidak bisa menatapnya. Jika ia menatapnya lebih lama, ia akan jatuh berlutut dan memohon ampun.

​"Kenapa, Andrew? Kenapa kemarin kamu menatapku seolah aku adalah duniamu, tapi semalam kamu menjadikanku sampah?" Alana melangkah maju, memukul dada Andrew dengan kepalan tangannya yang lemah. "Katakan yang sejujurnya! Apa kamu benar-benar menganggapku serendah itu?"

​Andrew menangkap kedua pergelangan tangan Alana, menahannya dengan kuat hingga wanita itu terpaksa menatap matanya. Di sana, Alana tidak menemukan kebencian. Ia menemukan kehancuran yang sama dalamnya dengan yang ia rasakan.

​"Iya! Aku harus bilang begitu!" bentak Andrew frustrasi, suaranya menggema di ruangan luas itu. "Aku harus menghinamu agar Ares tidak curiga! Aku harus membuat diriku terlihat membencimu agar aku tidak membunuh adikku sendiri karena rasa cemburu ini!"

​Andrew melepaskan tangan Alana dan mundur beberapa langkah, menyugar rambutnya dengan kasar. "Kamu mau kejujuran? Jujur aku mencintaimu sampai aku merasa ingin mati setiap kali melihatmu tersenyum pada Ares. Aku menghinamu untuk menyelamatkan kita semua dari kehancuran, Alana! Sekarang... tolong pergi. Pergi sebelum aku melakukan kesalahan yang lebih besar lagi."

​Alana terpaku. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Kebenaran yang baru saja meledak di antara mereka terasa jauh lebih berbahaya daripada kebohongan apa pun yang pernah ada.

Pengakuan Andrew menggantung di udara seperti gas yang mudah terbakar. Alana tidak bergerak, ia hanya berdiri di sana dengan air mata yang mengalir, menatap pria yang baru saja menelanjangi jiwanya di depan martabatnya.

​"Andrew..." bisik Alana.

​Andrew tidak bisa lagi menjaga jarak. Pertahanannya yang sekuat baja selama bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik. Ia melangkah maju, tangannya yang gemetar menangkup wajah Alana. Matanya menatap bibir wanita itu dengan rasa lapar yang menyakitkan, sebuah kerinduan yang telah ia pendam di bawah tumpukan pekerjaan bisnis dan tanggung jawab keluarga.

​Lalu, itu terjadi.

​Andrew menunduk dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang penuh keputusasaan. Itu bukan ciuman yang manis atau romantis; itu adalah ciuman yang penuh dengan rasa sakit, kemarahan, dan kerinduan yang terlarang. Alana terkesiap, namun sedetik kemudian ia membalasnya, tangannya meremas kemeja Andrew, menarik pria itu semakin dekat seolah ingin melebur menjadi satu.

​Di dalam ruangan kantor yang dingin itu, mereka seolah menciptakan dunia mereka sendiri. Sebuah dunia di mana tidak ada Ares, tidak ada Nama baik perusahaan keluarga, dan tidak ada pengkhianatan. Hanya ada dua orang yang saling menginginkan dalam diam selama ini.

​Namun, saat tangan Andrew mulai bergerak turun ke pinggang Alana, sebuah suara di kepalanya berteriak. Suara tawa Ares, suara harapan Papi Adrian, dan wajah polos Kiara saat mereka melukis bersama.

​Andrew tersentak. Ia melepaskan ciuman itu dengan kasar, mendorong bahu Alana hingga wanita itu terhuyung ke belakang.

​Andrew berbalik membelakangi Alana, napasnya memburu, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Wajahnya yang tadi penuh gairah kini kembali mengeras, namun kali ini bercampur dengan rasa jijik pada dirinya sendiri.

​"Pergi," suara Andrew terdengar seperti geraman yang ditekan.

​"Andrew, aku—"

​"SAYA BILANG PERGI, ALANA!" Andrew berbalik dan membentak, matanya merah padam. "Apa yang baru saja kita lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Sebuah dosa. Kamu adalah kekasih adik saya, dan saya baru saja mengkhianati darah daging saya sendiri!"

​Alana berdiri mematung, bibirnya masih terasa panas karena ciuman tadi, namun hatinya mendadak membeku. "Andrew, kamu tidak bisa terus-terusan mengusirku setelah apa yang baru saja terjadi..."

​"Saya bisa dan saya harus melakukan itu!" Andrew menunjuk pintu keluar dengan tangan yang bergetar. "Jangan pernah datang ke sini lagi. Jangan pernah bicara pada saya di luar urusan keluarga. Lupakan ciuman ini, lupakan semua yang saya katakan tadi. Mulai detik ini, kamu adalah orang asing bagi saya."

​Andrew berjalan menuju meja kerjanya, mengambil telepon internal. "Siska, panggil keamanan ke lantai ini. Ada tamu yang harus segera keluar dari ruangan saya."

​Alana menatap Andrew dengan tatapan yang hancur. Ia menyadari bahwa Andrew sedang mencoba membunuh perasaannya dengan cara yang paling kejam dengan memperlakukan Alana seolah-olah dia adalah sebuah kesalahan yang memalukan.

​Tanpa sepatah kata pun lagi, Alana berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu. Ia melewati sekretaris dan petugas keamanan dengan air mata yang tak terbendung. Ia masuk ke dalam lift, membiarkan dirinya luruh ke lantai saat pintu lift tertutup.

​Di dalam ruangannya, Andrew mendengar pintu tertutup. Ia perlahan duduk di kursinya, menyembunyikan wajah di kedua tangannya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang sempurna, sang CEO Wijaksana Group itu menangis dalam kesunyian.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!