NovelToon NovelToon
Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Kim O

Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.

Ia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.

Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.

Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Rasa trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.

Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.

(REVISI BERTAHAP)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Perasaan David.

"Mr. Dav," sapa tiga orang perawat muda ketika berpapasan dengan David yang baru saja keluar dari lift.

David sekadar menganggukkan kepala sambil melempar senyum ramah. Tiga perawat itu sontak memekik kecil, lalu saling berbisik diiringi tawa centil.

Sudah menjadi rahasia umum, David adalah primadona rumah sakit ini. Sifatnya yang terlampau hangat dan ramah sering menimbulkan salah paham di hati para wanita. Ia mudah menolong siapa saja, memperhatikan tanpa pandang bulu, hingga tanpa sadar menumbuhkan rasa yang seharusnya tak pernah ada.

David menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah ruangan. Senyumnya mengembang. Berita soal kembalinya Zenaya dari masa cuti sudah ia dengar sejak pagi.

David mengetuk pintu dua kali, sebelum akhirnya membuka pintu ruangan kerja Zenaya. Wanita itu rupanya sedang menikmati semangkuk zuppa soup sendirian.

Pria itu melirik ke setiap sudut ruangan.

"David!" pekik Zenaya terkejut. Wanita itu tersenyum sumringah.

David tersenyum. "Boleh aku bergabung?"

Zenaya mengulas tawa kecil. "Tentu saja boleh."

David melangkah masuk ke dalam ruangan Zenaya dan menutup pintu.

"Tidak biasanya kamu makan siang sendirian. Mana kekasihmu sehidup sematimu itu?" tanya David dengan nada bergurau, sebab tidak ada jejak Grace di ruangan itu.

Zenaya yang langsung paham siapa kekasih yang dimaksud David, lantas tertawa. "Ada operasi." Jawab wanita itu. "Kamu sudah makan? Aku masih memiliki satu porsi zuppa soup." Zenaya lalu menyodorkan semangkuk zuppa soup yang berada di dekatnya.

"Baru aku ingin mengajakmu makan siang," ujar David seraya mengambil zuppa soup tersebut. "Milik Grace yang belum sempat di makan ya? Baguslah, makanan ini ditakdirkan untukku," kelakarnya.

Zenaya tertawa. David memandangi sejenak wajah wanita itu yang terlihat sangat cantik di matanya. Sebongkah kerinduan tersemat dalam hati David.

"Kudengar dari beberapa orang penggemarmu, pasien fisioterapi sedang membeludak. Kamu bahkan hampir tak bisa menghabiskan waktu makan siang di luar." Perkataan Zenaya membuat David tersadar dari lamunannya.

David memasukkan sesendok zuppa soup ke dalam mulut dan mengunyahnya. "Benar. Entah hari ini keberuntunganku atau bukan, ada dua orang pasien yang baru saja membatalkan janji. Jadi aku bisa bebas selama dua jam ke depan." David menelan makanannya. Pria itu kemudian berdiri untuk mengambil air putih yang tersedia di ruangan Zenaya.

"Jangan terlalu memaksakan diri, kamu bisa menyerahkan beberapa pasien yang baru pada Fanya atau Melvin," usul Zenaya. Fanya dan Melvin merupakan terapis junior David.

"Tidak perlu, aku masih bisa melakukannya." David mengulas senyum. Wanita itu terlihat begitu senang hanya dengan semangkuk zuppa soup di hadapannya. Setiap berhasil memasukkan sesendok makanan tersebut, Zenaya akan bergumam senang.

Melihat cara makan Zenaya yang sangat lucu, membuat David tertawa kecil. Terlebih ketika mendapati makanan itu menempel di sudut bibirnya.

David kembali duduk di hadapan Zenaya. Tanpa sadar pria itu mengulurkan tangannya untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang terdapat di bibir Zenaya.

Mendapat perlakuan seperti itu sontak membuat Zenaya tersentak kaget. Matanya terbelalak menatap David.

David yang semula heran dengan reaksi Zenaya kemudian ikut terkejut.

Ia lupa akan status wanita itu, sekarang.

"Ma–maaf, aku tidak memiliki maksud apapun, Zen, hanya ...." Jarinya menunjukkan sisa makanan yang ada di bibir Zenaya sebelumnya.

"A–aa, tidak apa-apa, Dav. Terima kasih. Aku pasti terlihat sangat konyol." Zenaya tertawa canggung. Wanita itu pun membersihkan mulutnya dengan tisu makan yang ada di meja.

Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya David mencoba membuka topik kembali.

"Bagaimana dengan kehidupan pernikahanmu?" tanyanya kemudian.

Zenaya mengambil air putih dan menandaskannya. "Biasa saja, sama seperti pasangan lainnya." Jawab wanita itu, berusaha menekan perasaannya tiap kali seseorang mencoba membahas pernikahan.

"Syukurlah. Aku cukup mengenal keluarga Krystal, dan yang kutahu, keluarga Walker merupakan keluarga terpandang dan dermawan. Kudengar, mereka sempat memiliki sebuah panti asuhan yang berada jauh dari sini sebelum diambil alih oleh pemerintah daerah," ucap David panjang lebar.

Zenaya cukup terkejut dengan informasi yang diberikan David. Maklum saja, wanita itu masih belum mengetahui apa-apa soal kedua mertuanya.

"Tak kusangka, kamu ternyata bagian dari mereka." Pria itu mengulas senyum.

Membahas tentang pernikahan Zenaya sebenarnya membuat hati David berdenyut nyeri. Pria yang telah memendam perasaannya pada Zenaya selama bertahun-tahun itu, kini harus rela membebaskan hatinya dari belenggu cinta yang melekat.

Tak ada lagi kesempatan bagi David untuk mendekati Zenaya. Wanita itu telah dimiliki pria lain yang jauh di atas dirinya, dan David tidak akan pernah berniat merebut Zenaya. Kecuali jika Reagen memang bukan pria baik-baik. Namun, ia sangat yakin bahwa pernikahan Zenaya bersama Reagen sangat bahagia.

Kendati demikian, bolehkah ia tetap menikmati pertemanan ini?

"Kamu tak pernah menceritakannya padaku." Zenaya membuka suaranya.

"Sama sepertimu yang tidak pernah menceritakan apapun tentang kalian."

Zenaya sontak terdiam mendengar balasan David yang tepat sasaran. Ia tak bisa berkata apa-apa.

David tertawa kecil. Ingin sekali ia mencubit hidung Zenaya, tetapi pria itu berusaha menahan diri.

"Baiklah, kita impas." Zenaya tersenyum lebar. Keduanya pun tertawa bersama.

Ya ... Meski hanya sebuah pertemanan, David sama sekali tidak keberatan.

...***...

Liam sedang berjalan menuju ke ruangannya setelah keluar dari ruang operasi. Jadwalnya yang lumayan padat membuat pria baya tak sempat menemui Zenaya yang telah kembali bekerja. Mereka hanya sempat saling bertukar kabar melalui telepon saat sang putri pamit pulang.

"Pa!" teriakan Zenaya membuat Liam terkejut. Sang anak ternyata sengaja menungguinya di dalam ruangan.

Zenaya memeluk erat sang ayah. Tak lupa, sebuah kecupan manis didaratkan Zenaya pada kedua pipi Liam.

"Kenapa belum pulang? Ini sudah malam." Liam melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, sementara Zenaya seharusnya sudah pulang sejak jam 4.

"Aku sibuk berkeliling dan bergosip dengan orang-orang di sini sambil menunggu Papa." Zenaya tertawa kecil. "Lagi pula, menantu Papa itu telat datang." Raut wajahnya tiba-tiba berubah dengan cepat. Ia terlihat kesal.

Liam tersenyum seraya mencubit hidung mungil Zenaya.

"Papa belum pulang?" tanya Zenaya kemudian.

"Baru akan. Papa temani sampai Rey datang ya?"

Zenaya mengangguk senang. Keduanya pun asyik berbincang sembari menikmati secangkir teh hangat buatan Zenaya. Di hadapan keluarganya, ia memang berubah menjadi gadis manis yang manja.

Beberapa kali Liam menanyakan bagaimana kehidupannya bersama Reagen, dan Zenaya akan selalu menjawab bahwa semua baik-baik saja. Meski harus dibumbui sedikit kebohongan, itu terasa lebih baik dari pada membuat beliau khawatir.

Zenaya sama sekali enggan menceritakan hambarnya kehidupan rumah tangga yang ia jalani bersama Reagen.

Beberapa saat kemudian, ponsel Zenaya berdering keras. Reagen ternyata meneleponnya untuk memberitahu, bahwa ia sudah menunggu di bawah.

"Aku sedang di ruangan Papa," jawab Zenaya.

"Aku akan ke sana."

Tak sampai lima menit, Reagen sampai di ruangan Liam. Pria itu membungkuk hormat pada ayah mertuanya.

Liam sendiri tak lagi bersikap dingin seperti dulu. Kendati begitu, ia belum sepenuhnya mempercayai Reagen.

Reagen pun menawari Liam untuk pulang bersama.

"Kalian pulang dulu saja, Mama akan datang menjemput," jawab Liam.

Reagen dan Zenaya mengangguk. Keduanya pun pamit pergi dari hadapan Liam.

"Hati-hati dalam mengemudi, Rey," pesan Liam.

"Baik, Pa," jawab Reagen.

Pria itu mengantar keduanya sampai di ujung lorong.

Begitu Reagen dan Zenaya berjalan menjauh, sorot mata Liam berubah sendu. Pria baya itu tahu, bahwa cerita sang anak pasti tak sepenuhnya benar. Zenaya terlihat menekan perasaannya saat bercerita soal kehidupan mereka.

Liam menghela napas. Iaa sangat berharap putri tercintanya itu dapat menghilangkan semua rasa trauma yang membelenggu. Sebab dengan begitu, ia bisa menerima Reagen seutuhnya.

1
Rahma Sari
awal baca ceritanya emosi oas mau ending gak kuat aku mewek...
Mei Saroha
loh. bukannya zenaya anak kelas 1 ? koq sebulan pacaran lgs kelulusan??
Hiatus: pelan coba ka diulang bacanya😊
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
lah udh tamat aja padahal belum lahiran.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa selalu maen rahasia²an segala sh, kalau mau gitu lbh baik ga usah menikah drpd terbuka jg takut krn alasan menyakiti itu konyol justru krn rahasia kamu nanti bakal jd semua orang lbh trsakiti rey bahkan mgkn saling menyalahkan... ini bkn hanya tntg hidupmu sendiri tp jg istri n jg klwrgamu yg harus kamu pikirkan..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aduuhh thor baru jg bahagia kok malah ditambah lg ujiannya baru sedikit brnafas lega padahal kehidupan zen, rey
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
akhirnya kebahagiaan datang lg pd kalian berdua, semoga langgeng trs jdkan pelajaran kedepannya utk lbh waspada n saling terbuka.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙯𝙚𝙣 𝙜𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞 𝙩𝙞𝙢𝙥𝙖 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙙 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙖𝙣... 𝙢𝙜 𝙖𝙟𝙖 𝙜𝙖 𝙖𝙥𝙖2
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙚𝙩𝙪𝙟𝙪 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖, 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙧𝙚𝙮 𝙜𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙢 𝙨𝙟 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙜𝙣 𝙡𝙚𝙖 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙘𝙖𝙢 𝙠𝙧𝙣 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙤𝙣𝙜𝙠𝙖𝙧 𝙩𝙥 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙟𝙪𝙨𝙩𝙧𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙙𝙜𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙟 𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙛𝙞𝙨𝙞𝙠 𝙨𝙢 𝙡𝙚𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙠𝙚𝙖𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙩𝙥 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙜𝙣 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞𝙢𝙪 𝙠𝙢 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙪𝙝 𝙨𝙜𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙧𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙩𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙟𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙡𝙚𝙣𝙖 𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙧𝙚𝙮
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙚𝙖 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙝 𝙙𝙜𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠 𝙧𝙬𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙙𝙧 𝙢𝙜𝙠𝙣🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙢𝙢𝙢 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪 𝙮𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙟𝙙 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙮𝙤𝙤 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙗𝙪𝙧 𝙗𝙞𝙖𝙧 𝙗𝙨 𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙞𝙣 𝙟𝙜 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙡𝙢 𝙣𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙢𝙨𝙝 𝙗𝙨 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙜𝙣 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙢𝙪 𝙮𝙜 𝙗𝙣𝙧 𝙨𝙟 𝙯𝙚𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙢𝙪 𝙙𝙡𝙢 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙣𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖𝙧𝙖2 𝙠𝙚 𝙚𝙜𝙤𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙧𝙚𝙮, 𝙯𝙚𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙮𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙙 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙩𝙚𝙧𝙨𝙨
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙧 𝙖𝙬𝙖𝙡 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙡𝙖 𝙨𝙢 𝙧𝙚𝙮, 𝙯𝙚𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙜 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙞𝙝𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙤𝙗𝙨𝙚𝙨𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙞
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙜𝙖 𝙟𝙪𝙟𝙪𝙧 𝙨𝙟 𝙯𝙚𝙣, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙧𝙞𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙢 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙠𝙧𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙖𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙢 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙧𝙚𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙮𝙜 𝙗𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙮𝙖 𝙖𝙢𝙥𝙮𝙮𝙪𝙪𝙪𝙪𝙣𝙣𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙚𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙥𝙙 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙩𝙤𝙤𝙝𝙝 𝙧𝙚𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙥𝙙 𝙯𝙚𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙖𝙡𝙚𝙭... 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝 𝙙𝙞𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙖𝙨𝙪𝙝𝙖𝙣.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙟𝙜𝙣2 𝙣𝙖𝙩𝙖𝙡𝙞𝙚 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙣𝙙𝙧𝙮𝙖𝙣.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙙𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙡𝙚𝙭 , 𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙟𝙙 𝙡𝙖𝙥𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙢𝙪 𝙪𝙩𝙠 𝙜𝙖 𝙣𝙜𝙚𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!