Jatuh cinta adalah perasaan terindah, namun apa jadinya jika cinta memiliki syarat?
Asfa hanya jatuh cinta, cinta yang membutakan hatinya. Hingga syarat menghempaskannya pada hubungan asing tanpa rasa. Akankah pernikahannya menumbuhkan cinta yang baru? Atau kandas di tengah karam?
Kembalinya sang Papa dengan tamparan keras di pipi mulusnya, menghentikan cinta butanya. Hidupnya terlalu berharga untuk di permainkan! Kembalinya Seorang Asfa, mendadak membuat dunia menjadi panas dengan musuh-musuh yang berdatangan silih berganti, berdoa untuk kehancurannya. Ada pengkhianatan yang menusuknya dalam diam. Jatuh bangun kepercayaan orang-orang di sekelilingnya menjadi emosi tanpa batas menghantam jiwanya.
Akankah orang-orang dalam circle kehidupannya bertahan? Siapa yang akan menjadi pendukung setianya? Siapa musuh-musuh yang siap menikamnya?
Hanya takdir yang tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Satu berita dari biang kerok
"Ikut" tarik dua pria bertato dengan wajah sangar menyeret seorang pria dengan masker dan kacamata hitam di wajahnya.
"Hey Lepaskan! " bentak pria ber masker dan kacamata hitam itu mencoba memberontak namun kekuatan fisiknya tak sebanding dengan dua pria bertato yang masih mengapit kedua tangannya.
Tidak ada jawaban selain cengkraman erat mengapit pria yang ternyata sangat kurus meskipun memakai jaket yang besar, banyak pasang mata melihat itu namun tak seorang pun berani menolong karena siapapun penghuni club itu tahu siapa dua pria bertato itu.
Bruuuk....
"Auuw, astaga aku ni masih hidup bukan barang! Kali... " seru pria ber masker dan kacamata mengaduh sakit setelah di lempar begitu saja oleh dua pria bertato di sebuah ruangan.
"Keluar! Biarkan aku sendiri bersama tamu ku." ucap seseorang memotong ucapan tamunya.
Kedua nya saling pandang tanpa kata hingga pintu ruangan remang-remang itu tertutup menyisakan dua manusia lawan jenis, seorang pria ber masker dan berkacamata bersama dengan seorang wanita memakai topeng hitam.
Pakaiannya terlihat mewah dengan dress di atas lutut memperlihatkan paha nya yang putih di tambah lagi rambutnya tergerai tanpa satu hiasan rambut, merasa sedang di perhatikan membuat wanita itu melangkah maju dengan jalan bak model catwalk. Memang benar setiap langkah nya anggun namun senyuman devil di balik topeng nya tersimpan dengan sempurna, membuat pria di depannya hanya mengagumi wanita yang kini berjongkok di depannya.
"Terimakasih sudah datang dan tidak meremehkan undangan ku. Ayo ku bantu." ucap wanita itu seakan mendayu-dayu dengan mengulurkan tangannya.
"Tak apa, apa maksud undangan mu sebenarnya?" tanya pria itu menerima bantuan wanita di depannya.
Kedua nya berjalan menuju tempat yang lebih nyaman di mana sebuah sofa panjang dengan meja penuh makanan dan minuman telah tersedia, dengan manis nya wanita itu membimbing tamu undangan nya untuk duduk di sampingnya tanpa jarak.
"Katakan?! " tanya pria itu sekali lagi dengan menatap lawannya secara dekat meskipun hanya terlihat bulatan mata dengan warna hitam.
"Bergabunglah dengan ku, bukankah kau menyesal telah melepaskan pelayan mu itu? Aku akan membantu mu mendapatkan nya kembali." ucap wanita itu dengan memainkan jari nya di wajah pria di depannya meskipun masih tertutup masker.
"Ucapan mu tidak benar! Aku hanya ingin bebas, yah bebas seperti dulu." jawab pria itu dan membiarkan wanita di depan nya mulai menggodanya dengan sentuhan jari lihai nya.
"Hehehe rupanya kau mudah sekali berhasr@t, mau main denganku? " tanya wanita itu dengan menarik pria di depannya hingga terlihat jelas bukit kembar yang tersembul tanpa halangan.
Gleek...
Melihat reaksi pria itu tidak menolak, permainan selanjutnya adalah permainan liar yang sudah pasti membuat kedua nya kehilangan seluruh tenaga nya dengan banjir keringat.
Pergulatan panas tanpa cahaya berakhir ketika pagi menyingsing membuat suara musik di luar sana hening tak tersisa, dapat terlihat keduanya menikmati duet perang tanpa perdebatan seakan keduanya sudah terbiasa dengan kegiatan panas seperti itu.
"Pagi Tuan A Narendra, saat nya kita bekerjasama." ucap lembut seorang wanita yang telah berpakaian rapi kembali meski dengan dress yang sama menunjukkan bercak merah di sekitar leher dan belahan dad@nya.
"Eeeuum. Pagi juga, apa kau tidak mau menunjukkan wajah mu? Bukankah aku berhak melihatmu?" jawab Nare dengan menguap.
"Belum saatnya, aku milikmu dan itu sudah cukup. Bukankah tanpa melihat kau sudah merasakan seluruhnya tanpa sisa?" ucap wanita itu dengan mengelus pipi Nare.
"Hhah baiklah. Apa yang akan kita lakukan, aku hanya ingin bebas dan polisi berhenti mencari ku." jawab Nare dengan tatapan menerawang ke belakang sana.
"Don't worry honey, i have great plan!(Jangan khawatir sayang, aku punya rencana bagus!)." ucap wanita itu dan lagi-lagi senyuman devil di wajahnya tertutupi topeng hitamnya.
"Katakan apa rencana mu?" tanya Nare menarik wanita itu ke dalam dekapannya.
"Rencana ku adalah........... " jawab wanita itu dengan sangat detail dan membuat sebuah senyuman hadir di wajah pria kurus itu.
........................
"Queeen.... " seru seseorang dari bawah yang membuat banyak penghuni mansion berlarian menghampiri teriakan itu dengan terbirit-birit.
Fikiran mereka sudah buruk dan ada yang berdoa semoga queen mereka baik-baik saja, tapi setelah banyak penghuni yang berkumpul justru sosok yang menjadi bahan teriakan masih belum menunjukkan tampangnya.
"Apa kau gila! Ini rumah bukan hutan!" bentak seseorang dari atas tangga yang terlihat ada asap mengepul di kepala nya.
Tak.. tak.. tak..
Suara hentakan sepatunya terdengar lebih di tekan dengan wajah kesalnya, semua mata hanya bisa menelan saliva melihat kedatangan pria itu. Berharap semoga tidak ada bencana alam dadakan, karena terlihat jelas biang yang membuat keributan hanya berdiri santai dengan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Ada apa!? " tanya pria yang masih berdiri di tangga terakhir dengan suara serak seperti baru saja bangun tidur.
"Aku ingin queen yang melihat ini pertama kali bukan kau." jawab biang kerok dengan santai.
"Apa kau pikun? Queen baru saja istirahat dan kau mau.... " ucap pria di tangga dengan tatapan tajam.
"Tenanglah Justin, aku baik-baik saja. Kalian kembali lah untuk istirahat, hari ini semua ku bebaskan. Sampaikan dengan yang lain!" ucap Asfa dengan langkah tanpa suara menuruni tangga karena tidak mengenakan alas kaki apapun, satu kebiasaan gadis itu adalah berjalan tanpa alas kaki di dalam wilayah nya sendiri.
Setelah semua pergi meninggalkan tiga anak manusia, dengan satu isyarat pemimpin, kini ketiga nya berganti tempat ke ruangan kerja yang sangat luas dengan berbagai jenis elektronik canggih yang membuat siapapun bermimpi memiliki semua itu dalam sekali kedipan mata.
"Katakan Dominic? " tanya Asfa setelah duduk di kursi kebesaran nya.
"Tuan A Narendra dinyatakan meninggal dunia di sebuah rumah kumuh dengan luka wajah serius." jawab Dominic dengan menyerahkan ponselnya kepada Asfa.
"Hey... " ucap Dominic yang kesal dengan kelakuan satu pria di samping nya.
"Apa tes DNA dan visum sudah di lakukan?" tanya Asfa dengan santainya.
"Proses masih berlanjut dan hasil nya akan keluar sore ini." jawab Dominic.
"Bagaimana menurut mu? " tanya Asfa yang menatap Justin.
"Kamuflase kematian, itu yang ku fikirkan." jawab Justin melihat video dan foto yang di jadikan bukti.
Beberapa saat Asfa juga memeriksa apa yang di dapatkan oleh Dominic, hanya mata nya yang fokus dengan berkeliling di dalam benda pipih itu hingga mata nya terpejam dan wajahnya berubah serius dengan tatapan tajam setelah terbuka.
Aura ruangan yang seketika meremang kan bulu kuduk membuat kedua pria dewasa itu saling pandang, kedua bisa merasakan aura membunuh dari queen nya meskipun hanya dalam hitungan detik karena queen nya mengubah mode tenang kembali.
"Biarkan mereka bermain sepuasnya, cukup awasi dari jauh dan simpan bukti di setiap tindakan mereka! Kalian akan bekerjasama dalam kasus ini, apa kalian paham? " ucap Asfa setelah berfikir dua menit.
"Kami?" jawab keduanya serempak.
"Jika kalian tidak mau, kemasi barang dan angkat kaki saja!" ucap Asfa meninggalkan keduanya yang terlihat berpandangan sengit namun pasrah.
*Kalian harus sibuk, aku ingin menghadapi masalah ku sendiri. Aku harus meminta papa untuk mengawasi kedua makhluk yang memiliki tingkat keras kepala sama.* batin Asfa setelah kembali ke kamarnya.
Bolehkah dirinya memilih menjadi gadis normal dengan keluarga harmonis tanpa masalah rumit? Sudah pasti jawabannya tidak karena sejak awal hidupnya di takdirkan dengan kehidupan yang ajaib. Bagaimana papa nya yang semula membiarkan putri tunggalnya menikmati dunia dengan bebas tanpa tanggung jawab harus berubah dengan sikap tegas setelah kejadian masa lalu yang bisa di anggap sebagai lonceng kuil berdenting.
Ingatan samar namun nyata itu mulai kembali, rasa sakit di kepala nya yang tiba-tiba datang membuat buliran air mata meluncur tanpa hambatan, diraihnya sebuah kotak biru di laci nakas nya. Butiran pil merah terlihat mengisi separuh tempat kotak biru itu, dengan tangan gemetar satu butir pil merah telah berpindah ke dalam tubuhnya. Rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang menyisakan rasa sakit di dalam hati nya , kini memori masa lalu itu melintasi tanpa rasa sakit.
kalau memang ngak cinta seharusnya jujur dari awal.... jangan menjadikan oranglain tumbal atas kegoisan aqsa n keluarga.....
semangat ya asfa.....
dan ingat cinta bisa krn terbiasa
Selamat pagi, semuanya.
Buat semua reader's tercinta.
Terima kasih telah memberikan support dan membagikan semangat kalian agar othoor trus berkarya.
Sehat selalu, ya buat kalian. 🥰