Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketahuan
"Kenapa?." Theor bertanya dengan bodoh.
"Karena kau menyebalkan." Jujur Elena.
"Aku tidak sengaja terjatuh tadi, aku baik-baik saja. Aku minta maaf untuk itu." Ucap Theor.
"Sudahlah lebih baik cepat antarkan aku pulang, Ayahku bisa mengamuk jika aku hilang." Ucap Elena.
Dengan berat hati Theor membawa Elena kembali, meksipun lamarannya gagal setidaknya mereka benar-benar bertemu dan menghabiskan waktu walaupun sebentar.
Theor dengan hati-hati menurunkan Elena di balkon kamarnya, Elena menatap Theor tidak rela tapi dia harus tetap jual mahal. Dia tidak boleh terlihat gampangan, dia harus menjadi wanita berkelas.
"Lain kali... aku akan mempersiapkan semuanya dengan sempurna." Bisik Theor di telinga Elena.
BRAKKKK!
Deg.
Elena dan Theor tersentak kaget, tiba-tiba jendela balkon di buka kasar dan Duke muncul dari sana dengan wajah berang. Elena sudah ketar-ketir sedangkan Theor terlihat tenang, Merida sudah terlihat kacau di belakang sana. Pasti Merida yang berteriak mengira nona nya hilang di culik.
"Beraninya kau membawa putriku pergi tanpa izin." Duke menatap Theor tajam.
"Saya izin langsung pada Putri anda, dan dia mengizinkan." Jawab Theor santai.
"E-L-E-N-A." Duke menatap Elena marah.
"A-ayah, kami hanya melihat matahari terbit saja." Elena klarifikasi.
"Masuk Elena, jangan berani membelanya." Duke tidak mau mendengar.
Elena dengan berat hati masuk ke dalam kamar, dia melirik Theor merasa bersalah tapi Theor tersenyum tenang. Duke yang melihat itu merasa kesal, karena dia jadi teringat dengan masa mudanya dulu.
Gabriel (Duke) juga dulu sering mengajak Ibu Elena berkencan diam-diam seperti ini. Karena itu dia bisa menebak jika Elena pasti pergi berkencan diam-diam, alasan Duke marah tentu saja dia berpikir Theor sudah menyentuh Elena kemana-mana.
"Jangan berani kau menapakan kakimu disini lagi." Ancam Duke.
"Tapi... putri anda menginginkan saya." Ucap Theor tidak mau.
"Tidak usah di dengarkan, dia berbohong. Hei brengsek, jangan berani merayu putriku yang polos." Duke kebakaran jenggot.
"Putri anda yang merayu saya." Ucap Theor tidak terima.
"TIDAK MUNGKIN." Duke berteriak menyangkal, tapi di otaknya berputar saat Elena terus berkata akan menikah dengan Theor.
"Bukankah anda juga pernah muda, jika anda melarang putri anda merasakan cinta bukankah anda sangat kejam?. Lagi pula, saya memiliki batasan." Ucap Theor mengajari orangtua.
"Batasan? membawa anak orang pergi diam-diam di pagi buta apa itu yang kau sebut batasan?!!." Duke ingin menonyor kepala Theor.
"Aku minta maaf, kalau begitu lain kali aku akan mengajaknya saat siang hari." Theor mengakui kesalahannya.
"Tidak ada pagi, siang, sore ataupun malam. Kalian tidak akan pernah mendapatkan restuku, ingat itu Grand Duke Van Delon!!." Tegas Duke.
"Aku bukan Grand Duke, Aku datang sebagai Theor." Ucap Theor santai.
"Kau.... benar-benar bajingan gila__
"Ayah...bisa kah kalian pindah tempat? aku benar-benar mengantuk dan ingin tidur sekarang." Elena benar-benar mengantuk.
"Tentu saja, tidurlah dengan nyenyak dan jangan mau bertemu dengan bajingan ini lagi. Pelayan tutup pintu balkon dan kunci rapat." Ucap Duke.
"Baik, Tuan." Merida menutup pintu balkon.
Duke menarik kerah Theor dan membawanya melompat turun, Theor hanya pasrah saja ikut. Kebetulan dia sedang sangat senggang, mungkin menghabiskan waktu bersama calon mertua tidak buruk.
Duke membawa Theor ke barak pasukan, mereka bertanding dengan sengit di tonton banyak pasukan. Duke mengakui kemampuan berpedang Theor yang sangat mumpuni, apalagi di usianya yang masih 17 tahun.
"Tapi tetap saja kau tidak lebih hebat dari Elena." Ucap Duke, pamer.
"Elena bisa berpedang?." Theor terkejut.
"Hmph! dia bahkan bisa mengalahkanku dengan mudah." Sombong Duke.
"Benarkah, saya jadi penasaran. Izinkan saya bertanding dengannya." Ucap Theor tidak tau malu.
"Dalam mimpimu!!." Tolak Duke mentah-mentah.
"Oh.. sepertinya saya harus segera pergi, maaf atas kelancangan saya. Saya tidak akan mengulangi nya lagi, sampai bertemu lagi Ayah mertua." Tiba-tiba mata Theor berkilat merah, dia terlihat menakutkan dan pergi dengan cepat.
"AYAH MERTUA KATANYA?!! GILA YA!!!." Duke terlambat merespon.
Duke jadi sensi dan protektif pada Elena, dia tidak mengizinkan Elena pergi tanpa pengawalan. Melarang siapapun berkunjung, bahkan Elena tidak di perbolehkan menghadiri undangan minum teh.
"Ayah, kenapa Ayah jadi seperti ini sih. Jika aku di kurung terus, bagaimana aku bisa memiliki relasi." Elena mulai merasa tidak senang.
"Elena, menurutlah." Ucap Duke.
"Tidak mau, jika Ayah tetap mengurungku seperti ini maka aku akan kabur dan menikah diam-diam dengan Theor. Aku serius Ayah, jangan memperlakukan ku seperti tahanan." Ucap Elena tegas.
"Kenapa harus bajingan itu?!!." Duke frustasi.
"Sebenarnya kenapa Ayah begitu membenci Theor?." Elena penasaran.
"Dia bukan manusia Elena." Lirih Duke lelah.
Deg.
"Kenapa Ayah bisa tau?." Elena malah keceplosan karena kaget.
"Apa? jadi kau sudah tau tapi tetap mau dengannya?!." Duke serangan jantung.
"Ayah, Theor memang kejam dan dia bukan manjakan. Tapi, dia selalu memperlakukan ku dengan baik dan tidak pernah bersikap kurang ajar." Ucap Elena.
"Dia hanya sedang berpura-pura, jangan tertipu olehnya. Dia benar-benar berbahaya Elena." Ucap Duke was-was.
"Ayah benar-benar egois, yasudah jika Ayah ingin aku diam maka aku akan diam selamanya." Elena berlari kembali ke kamarnya.
"Elena!!." Duke memanggil Elena dengan lelah.
Elena mengurung diri di kamar, dia bukan kecewa dia hanya sedang membuat strategi. Jika dia tidak bisa bersama Theor, maka rencananya akan gagal dan Bumi akan musnah.
Duke sudah berusaha menggedor pintu, Elena tetap tidak mau keluar. Perlahan Duke mulai luluh, dia akhirnya setuju tidak akan melarang Elena lagi dengan syarat.
Duke memberi syarat jika Elena hanya boleh bertemu dengan Theor di mansion Duke, Elena tidak boleh berkencan di luar. Elena menyetujui itu, asalkan bisa bertemu Theor maka semuanya akan baik-baik saja.
Elena menghubungi Theor lewat telepati, tapi sayangnya tidak ada jawaban. Elena merasa aneh, Theor sudah senyap sejak terakhir kali mereka bertemu.
"Apa terjadi sesuatu? atau dia sibuk bekerja?." Batin Elena.
Di saat galau itu lah Elena mendapatkan undangan minum teh dari Roxane. Sebelum acara pertunangan di gelar secara resmi, Roxane mengundang banyak nona bangsawan untuk pesta teh.
Elena tentu saja akan datang, dia bersiap memakai pakaian yang sederhana namun elegant. Menggunakan gaun putih dengan corak keemasan yang mewah, Elena menggerai rambutnya tanpa riasan karena dia merasa cantik.
Merida menemani Elena pergi menuju mansion Marques Bexxa. Perjalanan sekitar 1, 5 jam melewati jalan kota, Elena sudah tidak sabar mendengar gosip terbaru setelah dirinya dikurung oleh Ayahnya kemarin.
"Aku harap gosip kali ini tidak akan menyeret namaku untuk hal yang tidak-tidak." Gumam Elena.
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘