Edelweiss Javanica adalah seorang gadis cantik keturunan Jawa Eropa. El memiliki mata hazel sama seperti ibunya sehingga membuat banyak orang terhipnotis oleh tatapannya.
El juga seorang primadona kampus. Siapapun pasti mengenal si gadis cantik, pintar, kaya, ramah dan baik. Apalagi dia juga mempunyai kekasih yang tampan. Sungguh hidupnya terlihat begitu sempurna hingga banyak gadis yang iri padanya. Bahkan mereka memimpikan hidup seperti dirinya.
Namun ternyata hidupnya tak sesempurna yang terlihat. Kekasih tampannya sering membentak bahkan memukulnya jika ada pria lain yang menatap kagum padanya.
Akankah Edelweiss bertahan dengan kekasih posesif nya? Atau dia akan menemukan tempat bersandar yang baru dan lebih nyaman?
Baca kisah selengkapnya di SORRY, But I Love You.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pernikahan
El melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama El sudah menyelesaikan mandi kilatnya.
El berteriak memanggil Bu Asih dari balik pintu kamar mandi agar membawakannya baju ganti. Setelah mengenakan baju ganti yang di berikan Bu Asih padanya El keluar dari kamar mandi masih dengan handuk yang melilit di kepalanya.
"Papa kemana bu?" tanya El. Pasalnya Aditya dan suami Bu Asih sudah tidak berada di ruangan tersebut.
"Tuan Aditya sedang bertemu dengan dokter non," jawab Bu Asih.
"Apa ada yang terjadi dengan papa?" tanya El khawatir.
"Tidak nona. Tuan hanya konsultasi biasa saja. Mari nona Bu Asih bantu bersiap."
El meraih kotak make up yang di ulurkan Bu Asih padanya. Dia mulai merias wajahnya sendiri dengan bantuan Bu Asih. Hanya make up simple dan natural yang El poleskan di wajahnya saat ini, namun tetap saja membuat El terlihat sangat cantik. Karena pada dasarnya El memang sudah memiliki wajah cantik walaupun tanpa make up sekali pun.
Bu Asih melepas handuk yang melilit di kepala El. Dia mulai mengeringkan rambut putri majikannya itu dengan hair dryer yang dia bawa dari rumah. Setelah kering Bu Asih mengepang rambut pirang milik El dengan menyisakan beberapa helai rambut di depan. Tentu saja semua itu atas permintaan El. Walaupun tanpa hair stylist, El cukup puas dengan hasil karya asisten rumah tangganya itu.
Masih di bantu Bu Asih, El menganti pakaiannya dengan gaun pengantin yang di berikan aunty Mira tadi pagi.
Sesaat setelah El berganti gaun pengantin, Aditya sudah kembali masuk ke ruang rawatnya lagi dengan kursi roda yang di dorong suami Bu Asih. Namun El begitu heran saat melihat papanya yang sudah menganti baju pasiennya dengan setelan jas hitam.
"Papa kenapa memakai jas?" tanya El yang berjalan mendekati papanya.
"Kamu terlihat sangat cantik seperti mamamu sayang," ucap Aditya tanpa menjawab perkataan putrinya. Dia mengusap rambut putrinya yang kini sudah bersimpuh di hadapannya. Ingatannya kembali saat dia menikahi mendiang istrinya yang memang sangat mirip dengan El.
"Papa kenapa memakai jas?" tanya El lagi karna belum mendapat jawaban dari papanya.
"Kenapa bertanya sayang? Tentu saja papa harus memakai pakaian yang rapi untuk menghadiri pernikahan putri cantik papa. Tidak mungkin kan papa menghadiri pernikahanmu dengan baju pasien," jawab Aditya dengan terkekeh.
"Tapi papa masih perlu istirahat, kalau papa drop lagi bagaimana?" ucap El dengan menggenggam tangan Aditya.
"Kamu gak perlu khawatir, dokter sudah memberi izin papa untuk mulai rawat jalan. Jadi hari ini papa bisa keluar dari rumah sakit. Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja pada Pak Arif," ujar Aditya.
El menatap pria paruh baya yang sedang berdiri di belakang papanya. Sopir pribadi sekaligus suami Bu Asih asisten rumah tangga papanya. "Apa benar Pak apa yang dikatakan papa?" tanya El.
"Iya nona, tuan Aditya sudah di perbolehkan untuk pulang dan akan di jadwalkan untuk kontrol ke rumah sakit seminggu dua kali," jawab Arif. El menganggukan kepala tanda mengerti.
"Syukurlah kalau papa sudah boleh pulang. Tapi papa harus janji tetap jaga kesehatan," ucap El yang kini menatap lembut Aditya.
"Tentu saja sayang papa harus tetap sehat agar bisa menggendong cucu papa kelak," ujar Aditya dengan senyum di bibirnya.
"Papa...." ucap El mencebikan bibirnya.
"Baiklah.. papa akan sabar jika kamu tidak mau terburu-buru memiliki anak. Tapi kalau sekarang kita harus buru-buru ke gedung pernikahanmu. Karna tinggal setengah jam lagi acara pernikahanmu dimulai," ucap Aditya.
Diiring dengan tatapan heran beberapa orang yang mereka lewati saat menuju parkiran, akhirnya mereka berempat pun meninggalkan rumah sakit.
***
Disebuah gedung pernikahan hanya ada beberapa orang yang sudah hadir, bahkan dapat dihitung dengan jari. Ini semua sesuai dengan permintaan sang mempelai pria.
Tubuh Kennan tiba-tiba ditarik Dad Michael agar berdiri kemudian di hadapkan ke arah pintu masuk yang di buka.
Dengan malas Kennan mengangkat kepalanya menatap 3 orang yang sedang berjalan ke arahnya dan satu orang lagi yang duduk di kursi roda dengan didorong salah satu dari mereka.
Namun siapa sangka pandangan matanya justru hanya terpaku pada gadis cantik yang berjalan dengan menundukan kepalanya. Gaun pengantin berwarna putih yang di kenakan gadis itu terlihat sangat pas sehingga membuat lekukan indah terpampang nyata di tubuhnya.
Rambut pirangnya yang di kepang dengan menyisakan beberapai helaian rambut di depan berhasil membuat kessan messy pada El. Di tambah rangkaian bunga putih yang menghiasi kepala gadis cantik itu, berhasil membuat El semakin menawan di hari pernikahannya.
Bukankah aku akan menikah dengan sekertaris culunku? Lalu siapa gadis cantik yang memakai gaun pengantin itu? Atau dia sudah kabur dan papa mencarikan aku calon yang lain? Tapi mana mungkin, saat di cafe kan kita sudah sepakat untuk menikah sandiwara.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Kennan masih tak menyadari jika gadis cantik yang akan menjadi istri sandiwaranya sudah berdiri di hadapannya.
Kennan yang masih belum berkedip sedikit pun berhasil membuat kedua orang tuanya tersenyum melihat putranya yang seperti sangat terpesona dengan kecantikan calon menantu mereka.
"Kamu bisa menatapnya nanti lagi. Sekarang buatlah Edelweiss sah dulu menjadi istrimu boy, agar kau bisa menatap menantu Mommy sepuas yang kau inginkan," bisik Mom Mira dengan senyum jahil di wajahnya.
Kennan langsung berdehem dan mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah karna merasa malu tertangkap basah sedang menatap El.
Jadi benar dia Edelweiss sekertaris culunku? Kenapa bisa berubah secantik ini? Ehh,, kenapa aku malah memunjinya. Tapi tunggu, sepertrinya aku sangat familiar dengan gadis ini.
Masih dengan senyum yang terukir di bibirnya, Michael mulai memberi kode kepada petugas KUA yang akan menikahan El dengan Kennan. Dan hal itu berhasil membuat Kennan tersadar dari pikirannya yang sedang beradu mengingat-ingat dimana dia bertemu gadis di depannya.
Jatung El bedegup kencang saat acara penyatuan janji sucinya akan di mulai. Begitu pula dengan Kennan.
Bahkan tidak ada senyum atau pun pancaran rona bahagia di kedua wajah mempelai setelah kini sah menjadi sepasang suami istri. Yang ada hanya senyum palsu yang bahkan dengan sekuat tenaga berusaha mereka berdua tampilkan agar tidak menimbulkan kecurigaan orang tua mereka.
Kedua mempelai mulai menanda tangani buku nikah sebagai syarat sah menjadi pasangan suami istri di mata negara.
Disaat bersamaan Kennan sesekali mencuri pandang pada gadis disamping kirinya yang sekarang sudah sah menjadi istri seorang Kennan Mallory.
gimn Megan thort