NovelToon NovelToon
Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

Status: tamat
Genre:Romantis / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Satu surat pemecatan. Satu undangan pernikahan mantan. Dan satu warung makan yang hampir mati.

​Hidup Maya di Jakarta hancur dalam semalam. Jabatan manajer yang ia kejar mati-matian hilang begitu saja, tepat saat ia memergoki tunangannya berselingkuh dengan teman lama sekaligus rekan sekantornya. Tidak ada pilihan lain selain pulang ke kampung halaman—sebuah langkah yang dianggap "kekalahan total" oleh orang-orang di kampungnya.

​Di kampung, ia tidak disambut pelukan hangat, melainkan tumpukan utang dan warung makan ibunya yang sepi pelanggan. Maya diremehkan, dianggap sebagai "produk gagal" yang hanya bisa menghabiskan nasi.

​Namun, Maya tidak pulang untuk menyerah.

​Berbekal pisau dapur dan insting bisnisnya, Maya memutuskan untuk mengubah warung kumuh itu menjadi katering kelas atas.

​​Hingga suatu hari, sebuah pesanan besar datang. Pesanan katering untuk acara pernikahan paling megah di kota itu. Pernikahan mantan tunangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Akuisisi

​"Turun sekarang, Maya. Ada sesuatu yang harus kamu lihat."

​Arlan mematikan mesin mobil hitamnya tepat di depan sebuah bangunan megah bergaya klasik di sudut jalan protokol kota. 

Maya mengernyit, menatap gedung yang cat kremnya masih terlihat mentereng meski gerbangnya dirantai besi besar. Logo bertuliskan Restoran Intan Permata dengan ukiran emas mencolok masih bertengger di sana, meski tertutup debu tipis.

​"Ngapain kita ke sini, Lan? Kamu mau ngajak aku makan di tempat saingan?" tanya Maya sambil merapikan celemeknya yang sengaja tidak dilepas karena ia pikir mereka hanya akan pergi sebentar untuk belanja bumbu.

​"Ini bukan lagi tempat saingan kamu," sahut Arlan santai. Ia keluar dari mobil, memutari kap depan, dan membukakan pintu untuk Maya. "Ayo."

​Maya melangkah turun, masih bingung. "Restoran ini kan paling besar di sini. Pemiliknya, Burhan, yang kemarin nyuruh preman buat nyerang warung kita. Kamu lupa?"

​Arlan tidak menjawab. Ia justru merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam. Ia menyerahkannya pada Maya dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah baru saja memberikan nota belanja sayur.

​"Apa ini?" Maya membuka map itu. Matanya membelalak saat membaca baris demi baris dokumen di dalamnya. "Sertifikat hak milik? Atas nama... Maya Puspa? Arlan, kamu gila ya? Ini kan gedung sitaan bank!"

​"Bank butuh likuiditas cepat, dan saya butuh gedung strategis untuk katering kamu. Jadi saya beli semua asetnya, termasuk peralatan dapur di dalamnya. Sekarang, gedung ini resmi milik kamu," ucap Arlan enteng.

​"Tapi harganya pasti gila-gilaan! Aku nggak punya uang buat bayar balik ke kamu, Lan!"

​"Siapa yang minta dibayar pakai uang?" Arlan melangkah mendekati gerbang, lalu mengeluarkan sebuah kunci besar dari sakunya. "Cukup pastikan masakan kamu tetap jadi yang terbaik. Itu bunga investasinya."

​Baru saja Arlan hendak memasukkan kunci ke lubang gembok, sebuah mobil sedan tua berwarna perak mengerem mendadak di belakang mobil Arlan.

 Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan baju berbahan sutra berwarna hijau zamrud keluar dengan wajah merah padam. Burhan.

​"Heh! Kurang ajar! Mau ngapain kalian di depan resto saya?!" teriak Burhan sambil berlari kecil, napasnya tersengal-sengal.

​Arlan berbalik perlahan, tetap tenang. "Resto siapa maksud Bapak? Setahu saya, Bapak sudah gagal bayar cicilan selama enam bulan. Bank sudah melepas aset ini pagi tadi."

​"Bohong! Saya masih dalam tahap negosiasi! Kamu pasti pakai cara kotor buat nyerobot ini, kan? Dasar CEO muda nggak tahu diri!" maki Haji Burhan, telunjuknya gemetar menunjuk wajah Arlan.

​Maya melangkah maju, berdiri di samping Arlan. "Pak Burhan, kalau Bapak lebih fokus ngurus manajemen daripada nyuruh preman buat gangguin warung saya, mungkin resto ini nggak akan bangkrut."

​"Kamu! Anak ingusan!" Burhan beralih menatap Maya dengan kebencian luar biasa. "Gara-gara kamu, pelanggan VIP saya lari semua! Sekarang kamu mau ambil gedung saya juga?"

​"Saya nggak ambil, Pak. Saya beli secara legal melalui Pak Arlan," jawab Maya telak.

​Arlan memasukkan kunci, memutarnya hingga bunyi klik keras terdengar di tengah kesunyian jalan. Rantai besar itu jatuh berdentang ke lantai semen. Arlan membuka gerbang lebar-lebar, seolah-olah sedang menyambut ratu masuk ke istananya.

​"Silakan masuk, Ibu Pemilik," ujar Arlan pada Maya.

Burhan mencoba merangsek maju, hendak masuk ke area halaman, tapi langkahnya diadang oleh dua orang penjaga berseragam hitam yang tiba-tiba muncul dari balik pilar gedung—orang-orang Arlan.

​"Lepasin! Saya mau ambil barang-barang saya di dalam!" teriak Burhan.

​"Semua isi di dalam gedung ini, termasuk kursi, meja, dan panci-panci mahal Bapak, sudah masuk dalam paket penjualan aset. Bapak tidak berhak menyentuh satu sendok pun," kata Arlan dingin. Ia kemudian menoleh ke arah Maya. "Maya, kamu mau mulai dari mana?"

​Maya tidak langsung masuk. Ia justru berjalan ke arah mobil Arlan, mengambil tas belanjaannya, dan mengeluarkan sesuatu dari sana. 

Sebuah stiker besar yang ia cetak kemarin di tukang fotokopi pasar. Dia memang sudah berencana memasang stiker ini tapi bukan di tempat ini. Sepertinya hari ini ada perubahan rencana. 

Tulisan di stiker itu sederhana tapi mencolok: Dapur Rempah Maya - Pusat Pelatihan & Katering Utama.

​Maya berjalan ke arah papan nama emas Intan Permata yang ada di samping pintu masuk. Sambil mengunyah kerupuk kaleng yang ia bawa sejak dari warung, ia mulai mengupas perekat stiker itu.

​"Kamu mau ngapain, May?" tanya Arlan heran.

​Sreeet!

​Maya menempelkan stiker itu tepat di tengah-tengah logo emas milik Burhan. Ia menekannya kuat-kuat hingga menutupi nama restoran lama itu sepenuhnya.

​"Nah, sekarang lebih bagus," ujar Maya santai sambil kembali menggigit kerupuknya. Suara kriuk kerupuk itu terdengar sangat menghina di telinga Burhan.

​Burhan yang melihat itu seolah ingin meledak. Matanya melotot, tangannya mencengkeram pagar besi dengan kuat. "Kurang ajar! Kamu berani mengotori nama resto saya dengan stiker murahan itu?"

​Maya menoleh, menatap pria tua itu dengan tatapan kasihan. "Ini bukan mengotori, Pak. Ini namanya rebranding. Oh iya, kalau Bapak mau, Bapak boleh tetap di sini kok."

​"Apa? Kamu mau saya kerja jadi tukang sapu di sini?" tantang Burhan sinis.

​"Nggak, saya nggak berani mempekerjakan orang yang hobi korupsi bahan makanan sendiri. Bapak boleh di sini, tapi posisinya jadi 'penonton'. Bapak silakan berdiri di seberang jalan tiap hari, lihat gimana resto yang Bapak hancurkan karena ketamakan ini bakal jadi Pusat Pelatihan Rempah paling sukses di provinsi ini," jawab Maya pedas.

​Arlan terkekeh rendah. "Tawaran yang menarik. Saya bisa belikan kursi taman di seberang sana supaya Bapak nyaman menonton kesuksesan Maya."

Burhan gemetar saking marahnya. Ia mendekat ke arah pagar, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Maya. Ia merendahkan suaranya, sebuah bisikan penuh racun yang membuat suasana mendadak dingin.

​"Dengar ya, Maya Puspa," desis Burhan. "Kamu mungkin bisa punya gedungnya karena bantuan laki-laki kaya ini. Kamu bisa pamer stiker murahan kamu. Tapi bisnis kuliner itu soal bahan baku."

​Maya menaikkan sebelah alisnya. "Maksud Bapak?"

Burhan tersenyum licik, sebuah senyum kemenangan yang prematur. "Besok pagi, coba kamu cek ke pasar induk. Coba kamu cari daging sapi, daging ayam, atau tulang sumsum untuk katering besar kamu itu. Saya sudah telepon semua jagal dan pemasok besar di kota ini. Mereka semua sudah di bawah telapak kaki saya selama puluhan tahun. Kamu punya gedung mewah, tapi kamu nggak akan punya daging untuk dimasak besok pagi. Kita lihat, apa tamu VIP kamu mau makan nasi pakai stiker?"

​Maya terdiam. Ia tahu Burhan tidak menggertak. Di kota ini, mafia daging memang sangat kuat dan dikuasai oleh pemain lama.

​"Silakan nikmati gedung kosong ini, Maya. Besok, katering kamu akan hancur karena nggak punya stok barang!" seru Burhan sambil berbalik, tertawa keras menuju mobilnya.

​Maya menatap punggung Burhan yang menjauh. Ia menoleh ke arah Arlan yang wajahnya kini berubah serius.

​"Dia beneran bisa lakuin itu, Lan?" tanya Maya pelan.

​Arlan menatap gedung megah di depannya, lalu menatap Maya. "Di dunia bisnis, gertakan adalah bumbu. Tapi kalau soal pasokan, kita memang harus gerak cepat sebelum fajar."

​Maya mengepalkan tangannya. Ia menatap stiker Dapur Rempah Maya yang tertempel gagah di sana. Ia tidak akan membiarkan kemenangan ini hancur hanya karena masalah daging.

​"Oke," ujar Maya tegas. "Kalau dia mau main di pasar, kita tunjukkan gimana cara koki kampung belanja. Ancaman ini bukan yang pertama bagiku."

1
Warni
Ada saja ujiannya.
Warni
Astaga
Dewiendahsetiowati
terima kasih untuk ceritanya dan ditunggu karya selanjutnya thor
Rina Arie
good book
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kamu kuat Maya dan pasti bisa membuktikan bahwa kamu bisa bangkit
Savana Liora: iya. maya pasti bisa
total 1 replies
Dewi Sri
Hadir.... cerita sederhana tp bagus 👍
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Feni Puji Pajarwati
good job author...ceritanya menarik dan gak bikin bosen sama alur ceritanya...
Savana Liora: makasih akak
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
Terimakasih thor untuk ceritanya..
vote untuk mu👍
Iqlima Al Jazira: sama-sama thor
total 2 replies
Iqlima Al Jazira
aku padamu arlan🤭
tutiana
bagusss
Dewiendahsetiowati
ada aja ujiannya, paling ini kerjaan Rosa edan,bikin jengkel aja manusia 1 itu
Dewiendahsetiowati
kamu kuat Maya dan Adit akan menyesal membuang berlian kayak kamu
Dewiendahsetiowati
awal mula Maya untuk bangkit lagi
Savana Liora: iya bener
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Savana Liora: makasih udah hadir kakak
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
aku pada mu arlan🤩
Savana Liora: halo kak. happy reading
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
so sweet👍
Savana Liora: iya kan?
total 1 replies
Ma Em
Semangat Maya semoga masalah yg Maya alami cepat selesai dan usaha kateringnya tambah sukses .
Savana Liora: terimakasih udah mampir ya kk
total 1 replies
macha
kak semangat💪💪
Savana Liora: hi kak. makasih ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!