SINOPSIS
Nara dan Ingfah bukan sekadar putri pewaris takhta Cankimha Corp, salah satu konglomerat terbesar di Asia. Di balik kehidupan mewah dan rutinitas korporasi mereka yang sempurna, tersimpan masa lalu berdarah yang dimulai di puncak Gunung Meru.
Tujuh belas tahun lalu, mereka adalah balita yang melarikan diri dari pembantaian seorang gubernur haus kuasa, Luang Wicint. Dengan perlindungan alam dan kekuatan mustika kuno keluarga Khon Khaw, mereka bertahan hidup di hutan belantara hingga diadopsi oleh Arun Cankimha, sang raja bisnis yang memiliki rahasianya sendiri.
Kini, Nara telah tumbuh menjadi wanita tangguh dengan wibawa mematikan. Di siang hari, ia adalah eksekutif jenius yang membungkam dewan direksi korup dengan kecerdasannya. Di malam hari, ia adalah ksatria tak terkalahkan yang bersenjatakan Busur Sakti Prema-Vana dan teknologi gravitasi mutakhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran baru sang penjaga dan Cahaya
Pagi buta di Kuil Emas terasa sangat dingin. Kabut tebal masih menyelimuti pegunungan Chiang Mai, dan suara burung malam terakhir masih terdengar bersahut-sahutan dengan lonceng kuil yang berdentang pelan, memanggil para penghuninya untuk memulai hari.
Disiplin yang Terlatih
Nara sudah terbiasa bangun sebelum fajar menyingsing. Meskipun kini ia berada di kuil yang megah, didikan Nenek Prik di masa lalu telah membentuknya menjadi gadis yang tangguh dan mandiri.
Sebelum takdir mempertemukannya dengan Patan dan menjadikannya kakak bagi Ingfah, Nara telah belajar bahwa hidup tidak akan menunggu siapapun.
"Nong bangun, kita harus bersiap," bisik Nara sambil mengusap lembut pipi adiknya.
Ingfah menggeliat, menarik selimut safronnya dengan malas.
"Pi Nara... kenapa bangunkan Fah? Ini masih gelap, Pi," tanyanya dengan suara serak khas anak kecil yang baru bangun.
"Kita harus mandi dan bersiap, Nong. Hari ini kita mulai belajar. Pi akan membantu para biksu menyapu pelataran dan mengambil air. Kita tidak boleh bermalas-malasan di sini," jelas Nara tegas namun tetap lembut.
Nara tahu bahwa untuk mendapatkan ilmu dan perlindungan dari Biksu Dutar, mereka harus menunjukkan bakti. Ia tidak ingin mereka hanya menjadi beban. Dengan cekatan, ia menyiapkan air dingin untuk membasuh muka adiknya.
Meskipun Nara bukan anak kandung Patan, ikatan batinnya dengan keluarga Khon Khaw lebih kuat dari darah mana pun. Ia merasa memiliki hutang nyawa dan kehormatan kepada Patan yang telah mengangkatnya menjadi bagian dari keluarga penjaga hutan suci tersebut.
Menyapu Pelataran: Di bawah cahaya remang obor, Nara mulai mengayunkan sapu lidi panjang, membersihkan daun-daun pinus yang gugur di halaman kuil yang luas.
Mengambil Air: Dengan tubuhnya yang kecil namun tegap, ia membawa ember kayu menuju mata air terdekat, diikuti oleh Ingfah yang mencoba membantunya membawa gayung kecil.
Dari balkon aula atas, Biksu Dutar memperhatikan kedua gadis itu. Ia tersenyum melihat kemandirian Nara. Ia bisa melihat aura pelindung yang sangat kuat terpancar dari diri Nara—sebuah kesetiaan yang murni.
"Nara memiliki jiwa seorang ksatria yang rendah hati," batin Biksu Dutar.
"Dan Ingfah adalah jantung dari kekuatan ini. Mereka adalah kombinasi yang tidak bisa dipisahkan."
Sesaat kemudian, matahari mulai mengintip dari balik cakrawala, mengubah langit menjadi jingga keemasan. Itulah saatnya latihan yang sebenarnya dimulai.
Matahari pagi kini telah sepenuhnya muncul, menyinari embun di pucuk-puncak pohon pinus hingga tampak seperti permata yang bertebaran.
Setelah lelah menyapu dan mengangkut air, Nara dan Ingfah duduk beristirahat di teras kayu kuil yang menghadap langsung ke lembah kabut.
Seorang biksu muda datang dengan langkah yang ringan, membawa nampan berisi bubur nasi hangat dengan taburan jahe dan wijen. Aroma gurihnya langsung membangkitkan selera makan kedua gadis kecil itu.
"Makanlah, murid kecil. Kalian sudah bekerja keras pagi ini," ujar biksu muda itu dengan senyum ramah.
"Setelah makan, kalian harus menghadap Biksu Dutar di aula. Pelajaran kalian akan dimulai di bawah bimbingan langsung beliau."
Nara segera berdiri dan melakukan Wai menelungkupkan kedua tangan di depan dada sambil menunduk hormat.
"Terima kasih, Pi Biksu," ucapnya sopan.
Ingfah, yang selalu mencontoh setiap gerak-gerik kakaknya, ikut meletakkan sendoknya sejenak dan melakukan Wai dengan kikuk namun tulus.
"Terima kasih, Pi Biksu," tirunya dengan suara kecil.
Sambil menyuapi Ingfah, pikiran Nara melayang pada tongkat kayu yang ia sandarkan di sampingnya. Ia merasa beruntung karena didikan keras Nenek Prik membuatnya tidak manja.
Namun, ia juga merasa tegang; apa yang akan diajarkan oleh seorang Biksu Agung seperti Dutar kepada mereka?
"Pi Nara, apakah gurunya galak?" bisik Ingfah sambil mengunyah buburnya.
Nara tersenyum kecil untuk menenangkan adiknya.
"Biksu Dutar sangat bijaksana, Nong. Beliau tidak galak, tapi kita harus patuh. Ingat, ini demi pesan Ayah agar kita menjadi kuat."
Setelah selesai makan dan merapikan pakaian safron mereka, Nara menggandeng tangan Ingfah menuju aula utama. Aula itu sangat luas, dengan pilar-pilar besar yang diukir dengan kisah-kisah para pelindung alam. Di tengah ruangan, Biksu Dutar sudah duduk bersila di atas altar rendah, dikelilingi oleh asap dupa yang tipis.
Suasana sangat hening, hanya terdengar suara detak jantung mereka sendiri. Nara merasakan energi yang kuat namun menenangkan dari tempat itu. Di depan Biksu Dutar, tongkat kayu Nara dan Mustika Khon Khaw telah diletakkan berdampingan.
Biksu Dutar membuka matanya yang jernih. "Mendekatlah, anak-anakku. Hari ini kalian bukan lagi pelarian yang bersembunyi. Hari ini, kalian adalah Pewaris Cahaya."
Nara dan Ingfah duduk bersimpuh dengan khidmat di atas lantai kayu yang sejuk. Meskipun udara di dalam aula itu terasa suci dan tenang, Ingfah tetap merapatkan tubuhnya ke arah Nara, jemari mungilnya menggenggam erat tangan sang kakak seolah mencari perlindungan.
Biksu Dutar, dengan tatapan matanya yang tembus hingga ke jiwa, tersenyum lembut melihat kedekatan mereka.
"Jangan takut, Nak. Di sini, alam adalah kawanmu, dan kuil ini adalah perisaimu," ucap Biksu Dutar menenangkan Ingfah.
Nara, yang jiwanya sudah tertempa oleh kerasnya perjalanan, memberanikan diri untuk bertanya.
"Khun Khru, apa yang harus saya pelajari hari ini?"
Biksu Dutar mengangguk kecil. "Kamu sangat bersemangat. Baik, Nara. Pelajaran pertamamu adalah memahami bahwa bentuk fisik hanyalah sementara. Kamu membawa tongkat yang sebenarnya adalah busur pusaka. Tugasmu adalah belajar Mantra Parivartan—mantra perubahan. Kamu harus bisa memanggil kembali wujud asli busur itu hanya dengan kekuatan pikiran dan tekadmu untuk melindungi."
Pandangan Biksu Dutar kemudian beralih kepada si kecil Ingfah.
"Dan untukmu, Anak Cahaya... Ingfah. Tugasmu jauh lebih tenang namun berat. Kamu harus belajar menjaga ketenangan hati. Hanya dengan hati yang sedalam telaga dan setenang langit pagi, kamu bisa mengendalikan kekuatan besar di dalam dirimu, termasuk menggerakkan mustika keluargamu dari jarak jauh tanpa menyentuhnya."
Ingfah mendengarkan dengan saksama. Rasa takutnya perlahan berganti dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia menatap batu yang bersinar lembut di atas altar, batu yang telah menyebabkan ayahnya tiada dan mereka harus melarikan diri sejauh ini.
"Kakek Biksu," tanya Ingfah dengan suara polos dan jernih, "apa sebenarnya nama batu itu? Mengapa semua orang menginginkannya?"
Biksu Dutar menghela napas panjang, seolah sedang membuka lembaran sejarah yang sangat tua.
"Batu itu disebut 'Jantung Hutan Ban Khun Phum' atau dalam bahasa kuno kami disebut Mustika Prema-Vana. Ia bukanlah sekadar batu perhiasan, Ingfah. Ia adalah kristalisasi dari doa-doa para leluhurmu dan energi kehidupan dari hutan suci. Ia memiliki kekuatan untuk menyembuhkan tanah yang mati, namun di tangan yang serakah, ia bisa menjadi senjata yang menghancurkan. Itulah mengapa hanya garis keturunan Khon Khaw yang murni, seperti dirimu, yang bisa menjadi wadahnya."
Ingfah tertegun mendengar penjelasan itu. Ia menatap tangannya sendiri, lalu menatap batu itu kembali.
"Sekarang," lanjut Biksu Dutar, "mari kita mulai. Nara, pegang tongkatmu. Ingfah, pejamkan matamu dan rasakan detak jantung batu itu di depanmu."