Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Keesokan paginya, Alyssa terbangun dengan perasaan berat di dada. Suasana apartemen terasa tenang, hanya terdengar bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring saat mereka bertiga sarapan.
"Mommy, pancake-nya enak banget. Terima kasih sudah bikinin," komentar Cecil ceria, satu-satunya yang memesan pancake pagi itu.
Alyssa tersenyum. Setiap melihat senyum putri bungsunya, rasa sesak di dadanya selalu sedikit mereda.
"Tentu, sayang. Makan yang banyak," ucap Alyssa sambil mengusap lembut bibir Cecil.
Di seberang Cecil, Niko duduk diam. Ia hanya menatap piringnya, scrambled egg dengan sosis dan roti, lalu makan tanpa suara.
Wajahnya cemberut.
Mungkin tidurnya terganggu karena Alyssa membangunkannya lebih awal untuk sarapan. Saat seperti ini, Alyssa selalu merasa Niko sangat mirip ayahnya, terutama ketika memasang wajah masam.
Alyssa menyesap kopi, matanya tak lepas dari putra sulungnya.
Ia tahu, di dalam hati Niko tersimpan luka dan amarah pada ayahnya.
'Junior… apa kamu tahu sejauh apa jarak anakmu darimu sekarang?'
Alyssa akhirnya berbicara dengan nada tenang, sengaja menarik perhatian Niko.
"Sayang… misalnya saja ya anggap saja, kalau suatu hari daddy-mu menyesal, meminta maaf padaku dan padamu, lalu bilang ingin menebus semuanya… apa yang akan kamu katakan padanya?"
Niko tak menoleh. Ia terus makan. Alyssa menarik napas dalam-dalam. Dua menit berlalu dalam keheningan sebelum Niko akhirnya menjawab.
"Nggak ada, Mommy. Aku sudah terbiasa hidup tanpa Daddy. Kalau dia nggak ada selamanya pun, aku nggak peduli lagi. Nggak apa-apa cuma Mommy saja yang jadi orang tua buat aku dan Cecil," katanya datar, tanpa ragu, tanpa emosi.
Alyssa terhenyak. Ia melirik Cecil, bersyukur karena anak itu belum mengerti apa yang mereka bicarakan dan sibuk dengan pancake-nya.
Alyssa menghela napas panjang, meletakkan alat makannya, lalu memejamkan mata.
'Dengar itu, Junior' batinnya. 'Dengar apa yang kamu lakukan pada anakmu sendiri?'
Ia menoleh ke jendela, seolah berharap melihat sesuatu, bayangan atau jawaban. Namun yang ada hanya ketidakpastian. Ia tahu Junior akan kembali mengganggunya, dan ia tak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Ia mengambil segelas air dan meneguknya.
"Kenapa, Mommy? Apa dia minta maaf?" tanya Niko sambil mengunyah, alisnya berkerut.
"Buat apa? Kalau dia mau baikan, kasih saja ke Cecil. Aku nggak butuh dia. Mommy saja cukup. Dan Mommy kan janji nggak akan pernah balik ke dia. Mommy janji sama aku. Aku bakal marah kalau Mommy memaafkan dia."
Alyssa menggigit bibir. Ia tak sanggup menjawab. Ia takut membuat Niko marah takut anak itu kembali berubah, kembali dingin dan memberontak seperti dulu.
"Mommy akan menepati janji," ucap Alyssa akhirnya.
Niko mengangguk lalu melanjutkan makan.
Jika suatu hari Junior meminta maaf pada Niko dan tak mendapat pengampunan, Alyssa tahu, itu adalah akibat dari kesalahan Junior sendiri.
***
Mereka baru saja membereskan meja makan. Niko menawarkan diri mencuci piring, sementara Cecil berlari ke kamar untuk menonton kartun favoritnya.
"Jangan berantakin kamar. Kalau berantakan, aku nggak izinin kamu tidur sama aku," peringat Niko.
"Iya, Kak!" Cecil terkikik sambil berlari.
Alyssa tersenyum kecil saat merapikan sisa makanan. Ia terhenti ketika bel pintu berbunyi. Jantungnya berdegup, pikirannya langsung tertuju pada Junior.
"Aku buka pintu sebentar ya, Nak."
Begitu pintu dibuka, Ashley berdiri di depan dengan tablet di tangan, Edgar di belakangnya.
"Hai!" sapa Ashley ceria.
"Oh, kalian," Alyssa menghela napas lega dan tersenyum.
"Kok mukanya jelek?" celetuk Edgar.
"Eh!" Ashley mencubit pinggang Edgar.
"Nah, gitu dong!" sahut Alyssa tertawa.
"Kami boleh masuk? Ada yang perlu dibicarakan."
Alyssa mengangguk dan mempersilakan. "Mau kopi?"
"Ya!" jawab Edgar antusias, lalu langsung mengusili Niko.
"Paman!" teriak Niko sambil melempar spons.
"Kayak anak kecil," gumam Ashley.
Suasana sedikit cair. Setelah Edgar masuk ke kamar anak-anak, Ashley menoleh serius pada Alyssa.
"Aku sudah menunjukkan ini ke Junior kemarin. Maureen nggak tahu kalau aku merekamnya. Aku ingin kamu tahu kebenarannya."
Ashley memutar video di tablet. Alyssa menonton sampai selesai, diam, tanpa ekspresi.
"Aku melakukan ini untuk membersihkan namamu dan nama Edgar," kata Ashley pelan.
"Junior marah besar waktu tahu semuanya."
Alyssa menatap Ashley.
"Tidak semudah itu memaafkan orang yang menghancurkan hidupku. Apalagi dampaknya ke anak kami. Niko membenci ayahnya sekarang."
"Lalu apa rencanamu?" tanya Ashley.
"Aku ingin melihat dia benar-benar menebus kesalahannya. Setidaknya pada anakku."
Edgar mengangguk. "Biarkan dia membuktikan."
***
Beberapa hari berlalu. Alyssa merasa Junior tidak sungguh-sungguh, hanya sekali datang memohon, lalu menghilang.
Hingga suatu hari, saat Alyssa hendak pergi menemui klien, bel pintu kembali berbunyi.
Ia mengintip.
Junior.
Ia membuka pintu setengah.
"Apa lagi?" tanyanya dingin.
"Alyssa… beri aku lima menit," pinta Junior.
"Aku sibuk."
"Aku ingin menebus semuanya."
Alyssa menggeleng dan melangkah pergi.
Saat itu pintu kembali terbuka.
"Mommy!" teriak Cecil, berlari sambil memegang dompet.
"Mommy ketinggalan dompet!"
Alyssa terhenti.
Junior menatap Cecil. Matanya membelalak.
Ia menoleh ke Alyssa, penuh tanya.
Dan Alyssa tahu, semua akan berubah mulai detik itu.