Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Umpan yang Terpasang
Kediaman baru Boqin Tianzun terletak di pinggiran wilayah Murid Dalam, sebuah paviliun kecil yang dikelilingi oleh rumpun bambu hitam. Tempat ini sunyi, jauh dari kebisingan murid-murid lain—persis seperti yang ia butuhkan.
Setelah menutup pintu rapat-rapat, Boqin duduk bersila di atas ranjang batu yang dingin. Ia tidak langsung memejamkan mata untuk berkultivasi. Sebaliknya, ia menatap tangannya yang tadi digunakan untuk menghajar Song Yi.
"Marah, dendam, dan haus akan pembalasan," gumam Boqin dengan nada datar. "Manusia begitu mudah ditebak."
Ia tahu betul bahwa Song Yi tidak akan kapok. Saat pria itu berteriak, "Awas saja kau keparat! Aku pasti akan membalasmu!" sambil memegangi tangannya yang remuk, Boqin justru merasa puas. Itu adalah bagian dari rencananya.
Jika Boqin membunuh Song Yi di depan umum, ia akan menghadapi masalah hukum sekte yang merepotkan dan menarik perhatian para tetua terlalu dini. Namun, dengan membiarkan Song Yi hidup dalam dendam, Boqin sedang memasang umpan. Song Yi pasti akan kembali membawa bantuan yang lebih kuat, orang-orang dengan peringkat lebih tinggi—pion-pion yang lebih besar yang akan Boqin gunakan sebagai batu loncatan untuk mencapai peringkat seratus besar dengan cepat.
"Datanglah padaku dengan semua kebencianmu, Song Yi," bisik Boqin. "Semakin banyak yang kau bawa, semakin cepat aku naik."
Boqin menarik napas dalam-dalam. Fokusnya beralih ke dalam tubuhnya. Penyakit yang menggerogoti nyawanya terasa seperti kabut kelabu yang menyelimuti jantung dan paru-parunya. Setiap detik, kabut itu mencoba memadamkan api kehidupannya.
Namun, sekarang ia memiliki energi Qi dari ranah Inti Qi.
Ia mulai menjalankan teknik kultivasi yang ia sempurnakan sendiri, yang ia beri nama Metode Pemurnian Sisa Nyawa. Alih-alih mencoba mengusir penyakitnya—yang ia tahu mustahil dilakukan sekarang—Boqin justru menggunakan energi Qi untuk "menekan" penyakit itu ke sudut-sudut kecil di tubuhnya, mengubah rasa sakitnya menjadi pemicu untuk memacu aliran energinya lebih cepat.
Boqin mengarahkan energi dari Dantiannya untuk mengalir melalui Dua Belas Meridian Utama. Namun, ia melakukan sesuatu yang ekstrem: ia sengaja menyempitkan jalur energinya.
Ibarat air yang dipaksa melewati lubang yang sangat kecil, tekanan Qi-nya meningkat berkali-kali lipat. Dinding-dinding meridiannya bergetar hebat, menyebabkan rasa sakit yang bisa membuat orang biasa pingsan. Namun bagi Boqin, rasa sakit ini adalah kawan lama.
Hanya dalam beberapa jam, aura di sekitar paviliun bambu itu mulai bergejolak. Udara tampak melengkung karena panasnya energi yang dikeluarkan Boqin. Tetesan embun di daun bambu menguap seketika.
Deg! Deg! Deg!
Inti Qi di dalam tubuhnya mulai berputar lebih stabil, warnanya berubah dari bening menjadi sedikit keemasan. Ia sedang mengonsolidasikan kekuatannya di Inti Qi Level 1 menuju Level 2.
Meskipun ia memiliki bakat setinggi langit, ia tidak terburu-buru untuk sekadar naik level secara angka. Ia menginginkan fondasi yang begitu padat sehingga satu serangan darinya di Level 1 setara dengan kekuatan orang lain di Level 5.
Di sisi lain wilayah Murid Dalam, Song Yi sedang duduk di ruang pengobatan dengan wajah yang bengkak dan tangan yang dibalut kain kassa. Matanya merah karena amarah yang tak terkendali.
"Keparat itu... dia meremehkanku! Dia mempermalukanku di depan semua orang!" Song Yi memukul meja di sampingnya dengan tangan yang sehat hingga retak.
"Tenanglah, Song Yi," ucap salah satu rekannya yang tadi pingsan. "Dia hanya beruntung. Serangannya aneh, tidak terlihat seperti teknik bela diri yang normal."
"Beruntung atau tidak, dia harus membayar!" Song Yi menggeram. "Aku tidak bisa meminta bantuan kakak-kakaknya, mereka terlalu tinggi untuk urusan ini. Tapi aku tahu seseorang di peringkat 120 yang berhutang budi padaku. Kita akan menjebak Boqin Tianzun di tempat yang tidak ada saksi mata."
Song Yi tersenyum licik, membayangkan Boqin berlutut memohon ampun di bawah kakinya. Ia tidak menyadari, bahwa setiap langkah yang ia rencanakan, hanyalah naskah yang sudah ditulis oleh Boqin Tianzun dalam keheningan kultivasinya.
Di dalam paviliun bambu, Boqin membuka matanya yang berkilat di kegelapan.
"Umpannya sudah mulai bergerak." ucapnya pelan, sebelum kembali tenggelam dalam meditasinya.