NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

'nyali'

Devan Yudistira berdiri di balik jendela kaca ruangannya, memandang lalu lintas kota yang tak pernah benar-benar diam. Dari ketinggian lantai belasan, semuanya terlihat kecil—mobil, manusia, bahkan masalah. Namun tidak dengan satu nama yang sejak pagi terus berputar di kepalanya.

Rayya Assyura.

Nama itu masih memiliki daya untuk mengusik ketenangannya, meski bertahun-tahun telah berlalu. Ia kira waktu, jarak, dan kesibukan di negeri orang akan menghapus semua yang pernah ada. Nyatanya, tidak. Sekali Rayya kembali muncul di hadapannya—dengan sorot mata dingin dan dagu terangkat penuh harga diri—semua ingatan lama bangkit tanpa aba-aba.

Devan menghela napas pelan.

Ia masih ingat betul hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah besar itu. Rumah keluarga Assyura. Rumah yang kala itu terasa terlalu luas, terlalu mewah, dan terlalu jauh dari dunia yang ia kenal.

Saat itu, Devan hanyalah anak lelaki berusia belasan tahun, dengan sepatu sekolah yang sudah mulai mengelupas dan seragam yang warnanya tak lagi putih sempurna. Ayahnya bekerja sebagai tukang kebun di rumah Pak Surya ayah Rayya. Setiap pagi ayahnya menyiram tanaman, merapikan halaman, memangkas bunga, sementara Devan membantu sebisanya sepulang sekolah.

Pak Surya bukan tipe majikan yang menjaga jarak. Ia sering menyapa, bertanya soal sekolah Devan, bahkan sesekali memintanya duduk dan mengobrol. Hingga suatu sore, Pak Surya memanggil Devan ke ruang tamu.

Ucapan itu masih terpatri jelas di ingatan Devan.

“Van, kamu harus jadi anak yang sukses. Bukan cuma untuk dirimu sendiri, tapi untuk orang tuamu. Angkat derajat mereka dengan caramu sendiri.”

Devan yang masih muda hanya mengangguk gugup.

“Kesempatan tidak datang dua kali. Kalau kamu disiplin, bertanggung jawab, dan mau berusaha, saya yakin kamu bisa melampaui batasan yang orang lain buat untukmu.”

Saat Pak Surya menawarkan agar Devan disekolahkan di SMA elit, sekolah yang sama dengan Rayya, Devan langsung menolak. Ia merasa itu terlalu besar, terlalu tinggi, terlalu tidak pantas.

“Saya tidak enak, Pak,” ucapnya lirih waktu itu. “Saya takut jadi bahan omongan.”

Namun Pak Surya tersenyum tenang.

“Justru di sana kamu akan belajar banyak hal. Lingkungan elit bukan untuk ditakuti, tapi untuk membuka mata dan koneksi. Jangan minder sebelum mencoba.”

Akhirnya Devan mengalah. Demi orang tuanya. Demi masa depan yang lebih baik.

Hari pertamanya di sekolah itu adalah salah satu hari terberat dalam hidupnya.

Seragamnya sama, gedungnya sama, tapi tatapan orang-orang membuatnya merasa berbeda. Dan Rayya, tanpa ia duga, menjadi orang pertama yang menegaskan perbedaan itu dengan cara yang paling menyakitkan.

Dengan nada santai namun tajam, Rayya pernah berkata di depan teman-temannya,

“Dia bisa sekolah di sini karena papa kasihan. Anak tukang kebun, tahu sendiri.”

Kalimat itu menyebar lebih cepat dari gosip apa pun.

Devan dibully. Dicemooh. Diremehkan.

Ia pernah pulang dengan buku dicoret-coret, sepatu disembunyikan, bahkan pernah didorong di lorong sekolah. Hatinya memberontak. Harga dirinya tercabik. Ada malam-malam di mana ia ingin berhenti saja, kembali ke sekolah biasa, dan melupakan semua ini.

Namun setiap kali ia hampir menyerah, wajah orang tuanya muncul di benaknya. Lalu suara Pak Surya itu kembali terdengar.

Jadilah sukses. Disiplin. Bertanggung jawab.

Devan menelan semua sakit itu. Ia memilih diam, memilih belajar, memilih berprestasi.

Sedikit demi sedikit, pandangan orang berubah.

Nilainya selalu berada di papan atas. Ia memenangkan olimpiade sains. Ia menjuarai taekwondo tingkat kota, lalu provinsi. Ketika ia terpilih menjadi ketua OSIS, tak ada lagi yang berani menyebutnya “anak tukang kebun” dengan nada merendahkan.

Rayya?

Ia tetap menjaga jarak. Tetap dingin. Tetap memandang Devan seolah ia tak pernah ada.

Namun satu peristiwa di masa SMA itu menjadi titik balik yang benar-benar menghancurkan hubungan mereka.

Hari ketika Rayya berkencan dengan pacar pertamanya, Sony.

Pak Surya secara khusus meminta Devan untuk memastikan Rayya pulang dengan aman. Bukan untuk mengganggu, hanya mengawasi dari jauh. Devan menjalankan instruksi itu dengan sungguh-sungguh.

Ia menunggu di seberang kafe. Tidak mendekat. Tidak mencampuri.

Namun kehadirannya rupanya cukup untuk membuat Sony tidak nyaman.

“Kenapa dia terus ada di mana-mana?” tanya Sony dengan wajah kesal saat itu.

Rayya marah. Bukan pada Sony, tapi pada Devan.

Ia mendatangi Devan dengan mata menyala.

“Pergi! Aku tidak butuh kamu mengawasiku!”

Devan tetap berdiri di tempatnya. Tenang. Teguh.

“Aku hanya menjalankan tanggung jawab.”

Kalimat itu menjadi pemicu.

Sony memutuskan hubungan mereka hari itu juga. Alasannya sederhana: ia tidak ingin berada dalam hubungan yang selalu diawasi.

Rayya murka.

Ia diam pada papanya selama seminggu. Ia juga membisu pada Devan, bahkan lebih dari itu. Rayya bersikap seolah Devan tidak pernah ada. Tidak menyapa. Tidak menoleh. Tidak mengakui keberadaannya.

Namun Devan tetap melakukan tugasnya.

Karena baginya, tanggung jawab tidak gugur hanya karena dibenci.

Beberapa tahun kemudian, beasiswa ke Oxford University datang seperti pintu pelarian sekaligus pembuktian. Devan pergi tanpa menoleh ke belakang. Ia tidak berpamitan pada Rayya. Tidak ada pesan. Tidak ada perpisahan.

Dan Rayya mengira, hidupnya kembali tenang.

Kini, bertahun-tahun setelah semua itu, mereka berdiri kembali di bawah atap yang sama. Dalam posisi yang nyaris sejajar.

Devan tersenyum tipis mengingat ekspresi Rayya pagi tadi, campuran marah, kaget, dan gengsi yang terluka.

Ia tahu ucapannya tentang “orang bernyali” akan menusuk Rayya. Ia sengaja. Bukan karena dendam, melainkan karena ia ingin Rayya berhenti bersembunyi.

Karena Devan ingin satu hal sejak dulu.

Diakui.

Diakui bukan sebagai anak tukang kebun.

Bukan sebagai bayangan.

Melainkan sebagai pria yang pantas berdiri di tempatnya sekarang.

Dan malam nanti, di restoran mewah tempat penyambutan itu diadakan, Devan yakin, permainan sesungguhnya baru akan dimulai.

Sementara itu, di ruangannya sendiri, Rayya duduk terpaku. Dadanya masih berdebar kencang. Amarah dan kenangan bercampur menjadi satu. Ia membenci kenyataan bahwa satu kalimat Devan saja masih bisa mengguncangnya.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca.

Kenapa kamu masih berpengaruh, Devan Yudistira?

Dan tanpa ia sadari, malam nanti bukan hanya tentang nyali,

melainkan tentang perasaan lama yang belum pernah benar-benar mati.

Rayya menutup map laporan dengan sedikit hentakan. Jam di dinding menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit. Lampu-lampu kantor lantai atas mulai menyala satu per satu, sementara sebagian besar karyawan sudah beranjak pulang. Hanya suara pendingin ruangan dan ketukan halus jarinya di meja kerja yang menemani pikirannya yang kacau.

Dadanya masih berdebar.

Bukan karena lelah.

Melainkan karena nama itu.

Devan Yudistira.

Rayya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia tidak menyukai kenyataan bahwa satu kalimat pria itu di ruang rapat tadi mampu mengusik kestabilan emosinya. Kalimat yang diucapkan dengan nada datar namun menusuk.

“Acara ini memang dikhususkan untuk orang-orang yang bernyali.”

Ucapan itu seperti bara yang sengaja dilemparkan ke dadanya.

“Tidak penting,” gumam Rayya pelan, meski hatinya menolak setuju.

Ia bangkit dari kursi, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke gemerlap kota. Jakarta tampak megah di malam hari, sama megahnya dengan gedung-gedung yang menjadi saksi perjalanan hidupnya. Namun semakin tinggi ia berdiri, semakin jelas luka lama itu kembali terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!