NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Sinar matahari pagi menembus jendela apartemen yang ditata dengan apik, memberikan nuansa hangat pada meja makan kayu di sudut ruangan. Aroma nasi goreng mentega dan telur mata sapi yang baru saja matang menyerbak, menciptakan suasana rumah yang sangat nyaman dan jauh dari kesan markas spionase yang dingin.

Naura sudah siap dengan seragam SMA Pelita Bangsa yang rapi. Ia duduk di kursi makan sambil mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda yang tinggi, memberikan kesan siswi teladan yang penuh semangat.

"Nasi goreng spesial buat adik Kakak yang paling pintar," ucap Najam sambil meletakkan piring di depan Naura. Ia tidak lagi memakai kemeja taktis, melainkan kaos kasual dan celemek hitam, tampak seperti seorang kakak laki-laki yang sangat menyayangi adiknya.

Naura tersenyum lebar, matanya berbinar tulus. "Wah, makasih Kak Najam! Tahu aja kalau aku lagi lapar banget."

Najam duduk di hadapannya, menyesap teh hangatnya perlahan. Ia menatap Naura dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang hangat. "Jadi, ceritain dong. Gimana hari pertama sekolah kemarin? Teman-temannya asyik nggak? Ada yang jahil sama kamu?"

Naura tertawa kecil sambil menyuap sesendok nasi goreng. "Seru banget, Kak! Sekolahnya besar, fasilitasnya lengkap. Teman-teman di kelas XI-A juga baik-baik, meskipun ada beberapa yang sedikit sombong sih, tapi masih oke lah."

"Oh ya? Nggak ada cowok yang coba deketin kamu?" goda Najam sambil menaik-turunkan alisnya.

Naura sempat terhenti sejenak, bayangan Arkan yang menatapnya tajam di gang semalam melintas di benaknya. Namun, dengan cepat ia kembali ke perannya. "Ih, Kakak apa sih! Baru juga sehari. Tapi... ada sih satu cowok yang agak aneh. Namanya Arkan. Dia pendiam banget, tapi kayaknya dia populer karena jago gambar."

Najam mengangguk-angguk, wajahnya tampak tenang namun ia menyimak setiap detail. "Arkan, ya? Ya sudah, yang penting kamu hati-hati. Jangan terlalu cuek tapi jangan terlalu polos juga. Oh iya, tugas-tugas sekolah gimana? Perlu bantuan Kakak buat beli perlengkapan?"

"Aman, Kak! Semua sudah lengkap di tas," jawab Naura riang. "Hari ini ada jadwal olahraga, aku nggak sabar mau keliling area belakang sekolah yang katanya luas banget itu."

Najam mengacak rambut Naura dengan sayang. "Semangat ya sekolahnya. Belajar yang rajin, jangan main terus. Ingat, Kakak kerja keras biar kamu bisa sekolah di tempat terbaik."

"Siap, Bos!" Naura melakukan hormat lucu yang membuat Najam tertawa lepas.

Di balik tawa dan obrolan hangat tentang sekolah itu, keduanya tahu ada lapisan rahasia yang tidak terucapkan.

......................

Berbeda jauh dengan suasana hangat di apartemen Naura, pagi hari di kediaman Arkan terasa sunyi dan dingin. Rumah bergaya industrial itu tampak luas namun sepi, hanya menyisakan suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen.

Arkan duduk sendirian di ujung meja makan kayu panjang yang sanggup menampung sepuluh orang. Di depannya hanya ada setangkup roti bakar dan secangkir kopi hitam tanpa gula, sarapan yang lebih mirip dengan asupan bahan bakar daripada sebuah kenikmatan.

Kedua orang tuanya tidak ada di sana. Ayahnya, seorang pengusaha properti kelas kakap, lebih sering menghabiskan waktu di Singapura untuk mengurus ekspansi bisnis.

Sementara ibunya menetap di hunian mewah di kawasan berbeda sejak keduanya memutuskan untuk hidup terpisah demi menjaga reputasi publik keluarga mereka.

Bagi dunia luar, keluarga AR-Rais adalah potret kesuksesan, namun bagi Arkan, rumah ini tak lebih dari sekadar persinggahan taktis.

Ia mengunyah rotinya perlahan sambil menatap layar tablet yang menampilkan skema keamanan terbaru SMA Pelita Bangsa.

Tatapannya datar, tanpa emosi. Kesendirian ini sudah menjadi makanannya sehari-hari, sesuatu yang justru membentuk insting kemandiriannya menjadi begitu tajam.

Ting.

Sebuah notifikasi masuk ke ponsel pribadinya. Bukan ucapan selamat pagi dari keluarga, melainkan pesan dari Najam.

"Tim peretas sudah standby. Gerbang sekolah dalam pantauan. Target 'Hummingbird' baru saja berangkat."

Arkan meletakkan rotinya yang baru termakan setengah. Ia kehilangan selera makan.

Baginya, keheningan rumah ini adalah pengingat bahwa satu-satunya hal yang bisa ia percayai adalah misinya sendiri.

Ia berdiri, merapikan seragamnya yang sangat rapi, sebuah kamuflase sempurna untuk menyembunyikan identitas aslinya sebagai sosok yang bergerak di balik bayang-bayang. Sebelum melangkah keluar, ia melirik foto keluarga di atas bufet yang sudah mulai berdebu. Sebuah senyuman palsu di masa lalu yang kini terasa sangat asing.

"Hari ini, mari kita lihat seberapa dalam lubang kelinci ini, Naura," gumamnya rendah.

Arkan menyambar kunci mobil sportnya, meninggalkan rumah besar yang kosong itu.

Di jalanan Jakarta yang mulai macet, ia sudah sepenuhnya beralih ke mode operasi, siap menghadapi variabel bernama Naura Amira yang terus mengusik logikanya.

......................

Di sebuah lounge tersembunyi dengan pencahayaan temaram di pusat kota, dua sosok yang memegang kendali atas operasi bayangan ini bertemu.

Di kursi kulit yang elegan, duduk seorang wanita dengan tatapan tajam dan setelan formal berwarna abu-abu baja. Ia adalah Madam Elena, atasan langsung Naura dari agensi intelijen pusat.

Di hadapannya, duduk seorang pria dengan bekas luka kecil di pelipisnya, mengenakan jaket bomber gelap. Ia adalah Kapten Bram, komandan faksi militer taktis yang membawahi Arkan.

Kedua orang ini mewakili dua instansi yang berbeda, namun di meja ini, mereka adalah sekutu rahasia.

"Kedua aset kita sudah melakukan kontak pertama di lapangan," buka Madam Elena sambil menggeser sebuah tablet yang menampilkan rekaman CCTV gang semalam.

"Hummingbird hampir saja menggunakan teknik pelumpuhan saraf jika Arkan tidak mengintervensi."

Kapten Bram terkekeh rendah, suara yang terdengar seperti gesekan batu. "Anak itu memang terlalu protektif jika melihat sesuatu yang dianggapnya tidak adil. Tapi dia belum tahu kalau 'gadis lemah' yang dia tolong adalah pembunuh bayangan terbaikmu, Elena."

Madam Elena menyesap minumannya tenang. "Itu memang bagian dari skenario kita. Agensi butuh enkripsi digital Naura, dan faksi milikmu butuh kemampuan penetrasi fisik Arkan. Hard drive Keluarga Abraham tidak bisa dibuka hanya dengan satu keahlian.

Sistemnya menggunakan Biometric Dual-Sync—butuh dua operator yang bekerja dalam sinkronisasi detik yang sama."

"Jadi, kita tetap pada rencana awal?" tanya Kapten Bram memastikan. "Membiarkan mereka tetap dalam gelap tentang status satu sama lain?"

"Ya," jawab Madam Elena tegas. "Jika mereka tahu mereka bekerja sama sejak awal, kewaspadaan mereka akan menurun. Kita butuh ketegangan di antara mereka agar insting mereka tetap tajam. Biarkan mereka bersaing, biarkan mereka saling mengawasi. Saat mereka mencapai pintu bunker bawah tanah sekolah itu, mereka akan menyadari bahwa satu-satunya cara untuk keluar hidup-hidup adalah dengan saling memercayai."

Kapten Bram mengangguk, menyetujui strategi dingin tersebut. "Arkan sudah mulai melacak profil Naura. Aku akan memastikan timku memberikan data yang 'setengah matang' agar dia terus merasa ada yang janggal dan semakin mendekati gadis itu."

Madam Elena tersenyum tipis, sebuah senyum penuh perhitungan. "Dan aku akan memastikan Naura tetap memainkan perannya sebagai siswi polos yang butuh perlindungan. Permainan ini akan menjadi sangat menarik saat jam istirahat sekolah nanti."

Kedua atasan itu bangkit, meninggalkan ruangan melalui jalur yang berbeda. Di mata mereka, Naura dan Arkan bukan sekadar agen, melainkan pion-pion berharga dalam papan catur yang jauh lebih besar dari sekadar gedung sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!