Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 24
Arumi sedang mengemasi keperluan Kenan karena nanti sore ia akan berangkat ke Paris sesuai obrolannya semalam Kenan menjelaskan jika proyek pembangunan Hotelnya di sana mengalami masalah.
Sedangkan di bawah entah mengapa Ayumi terus saja menangis dan tidak mau lepas dari Kenan padahal saat ini ia harus berangkat ke kantor.
"Kenapa ya dengan Ayumi, pih. Kenapa dia tidak mau melepaskan Kenan ga seperti biasanya," heran Tiara.
Padahal suhu tubuhnya tidak panas, Arumi baru saja memberikannya asih dan makanan bayi tapi Ayumi masih saja menangis dan hanya ingin bersama Kenan.
"Apa mungkin dia tau kalau kakak mau pergi ke Paris? Secara Ayumi kan anteng sama kakak aja walaupun ada ibunya kalau ada kakak dia senangnya di gendong ayahnya," ujar Riana.
"Benarkah? Memangnya ada pengaruhnya," tanya Kenan.
"Aku pernah dengar sih begitu," balas Riana.
"Yasudah, Riana ... Kau gantikan dulu kakak mu meeting bersama Jimmy," titah Arsyad.
"Baiklah, aku berangkat dulu," pamit Riana tidak lupa ia mencium keponakannya itu yang sangat menggemaskan hingga tangisan itu terdengar kembali.
Tubuh Kenan lemas sudah susah payah dirinya menenangkan putrinya malah sangat adik membuatnya menangis lagi,"Cup ... Cup sayang, onty nakal yah nanti ayah jewer ya diam ya, anak cantik,"
Tangisannya mereda kembali, tetapi bibirnya masih memperlihatkan sedihnya hingga sesenggukan. Tiara menyarankan untuk membawanya kembali ke kamar untuk Ayumi beristirahat karena mungkin bayi itu lelah sehabis menangis.
Sampai kamar Arumi terheran melihat suaminya yang belum juga berangkat,"Loh, mas kamu belum berangkat?"
"Ayumi terus menangis dia tidak mau sama siapapun jadi Riana yang datang ke kantor," terang Kenan merebahkan tubuhnya di ranjang.
Ayumi di letakkan di atas dada nya dan bayi itu sangat senang,"Sini sama bunda ya sayang ayahnya mau kerja dulu," Kenan menepis tangan Arumi.
"Biarkan aku lelah jika Ayumi menangis lagi. Gak apa-apa mungkin dia hanya ingin bersama ku seharian ini karena nanti sore aku kan berangkat," jelas Kenan.
Kenan memberikan isyarat agar istrinya itu duduk dekat dengannya, ia meraih ponselnya lalu melakukan foto bersama.
"Ini harta ku yang paling berharga semoga kita selalu bahagia," ucap Kenan.
Cup
"Terimakasih dan maaf untuk rasa sakit yang aku berikan selama ini padamu," lirih Arumi.
Mereka berdua saling menatap hingga tidak sadar jika Ayumi turun dari pangkuan sang ayah. Wajah keduanya semakin mendekat.
Prok
Prok
HOYAAA
Suara itu membuat mereka tersadar dan melihat Ayumi yang sudah bisa duduk seraya menepuk tangannya ia juga tersenyum seakan bahagia melihat kedua orang tua nya sudah bersatu.
Di sisi lain Jimmy sudah sangat frustasi dengan pekerjaan yang ada dihadapannya itu Riana hanya memandang sekilas pada asisten kakaknya yang mana sedang gelisah memeriksa satu persatu dokumen yang membuat Jimmy sangat pusing sesekali ia menyandarkan tubuhnya di sofa.
Tok
Tok
"Masuk," sahut Riana.
Seorang gadis berseragam OB masuk dengan membawakan segelas kopi dan juga jus pesanan Riana. Jimmy masih belum memperhatikan karena kini ia memejamkan kedua matanya.
Gadis itu meletakkan kopi lebih dulu di meja kerja Jimmy lalu ia menghampiriku Riana dan meletakkan segelas jus di mejanya.
"Kamu ob baru ya?" Riana memperhatikan gadis itu lalu ia pun menganggukkan kepalanya membuat Riana bertanya lagi.
"Kamu bisu?" tanya Riana lagi.
"Gak, Bu saya bisa bicara. Maaf, saya sedikit gugup baru pertama kali bekerja seperti ini. Saya di sini sementara saja menggantikan sepupu yang sedang melahirkan. Saya sudah izin dengan Arumi ... Eh maksudnya ibu Arumi," terang Anita.
Suara Anita mampu membuat Jimmy membuka matanya lalu ia menatap Anita dengan sangat intens.
"Biasa aja kali liatnya," ledek Riana.
"Saya permisi dulu, Bu," pamit Anita.
Bruugh
Pintu itu di tutup sedikit kencang karena Anita sangat gugup, sambil berjalan menuju pantry Anita terus saja mengelus dadanya. Jujur jantung nya saat ini merasakan debaran yang sangat aneh.
"Mau ke mana? pekerjaan belum selesai," Riana melihat Jimmy beranjak dari duduknya dan ingin melangkah keluar, tetapi Riana malah menyuruhnya duduk kembali membuat Jimmy merasa kesal.
"Untung bos kalo ga ...," gerutu Jimmy.
"Kalo ga ... Apa? Aku dengar ya nanti aku laporin sama kakak," sela Riana.
"Jangan! Ya, aku kerja lagi," sahut Jimmy sembari cengengesan.
***
Di Bandara semua berkumpul kecuali kedua orang tua Kenan hanya Riana dan Jimmy yang mengantarkan Kenan.
Kedua orang tuanya di rumah menjaga Ayumi padahal Kenan ingin sekali membawa putrinya tapi mengingat kejadian tadi pagi ia tidak ingin melihat putrinya yang terus menangis membuat Kenan nantinya ragu untuk pergi.
"Mas jaga kesehatan, jangan telat makan, jangan begadang, terus jangan genit," Kata terakhir mampu membuat Kenan tertawa lepas lalu ia memeluk Arumi yang sedang menahan rasa cemburunya karena sedari tadi Jen selalu tersenyum manis pada suaminya itu.
"Ga, sayang percaya sama aku, ya," ucap Kenan dengan sangat lembut.
"Aku senang sekali kau sudah mulai cerewet sama aku," ledek Kenan.
"Mas," pekik Arumi.
"Pak Kenan, sudah waktunya berangkat," titah Jen yang mana ia menarik kopernya lebih dulu dengan memakai kaca mata hitamnya melewati Arumi begitu saja.
"CK, berlebihan," batin Jen.
Akhirnya Kenan pamit ia menyusul Jen sesekali Kenan menghadap ke belakang untuk sekedar melambaikan tangan pada sang istri.
"Sudahlah, kak kita pulang nanti Ayumi menangis. Kakak jangan khawatir Kak Kenan ga akan tergoda sama wanita mana pun," terang Riana membuat hati Arumi sedikit tenang.
"Riana, aku naek ojek online aja ya, ada urusan izin sebentar nanti aku balik lagi ke kantor," ujar Jimmy.
"Jangan lama-lama pekerjaan masih menumpuk," ketus Riana.
"Iya," singkat Jimmy.
***
"Akhirnya sampai juga," Jen merebahkan tubuhnya di atas ranjang di kamar tepatnya di apartemen milik Kenan.
gadis itu tertidur seketika, Kenan mengetuk pintu kamar karena ingin membahas tentang pekerjaan dengannya, tetapi Jen tidak mendengar karena ia sudah tertidur lelap.
"Apa dia tidur?" Kenan melihat jam yang melingkar di tangannya menunjuk kan pukul 12 siang. Mungkin saja Jen lelah di perjalanan pikir Kenan.
Setelah membuat minuman hangat Kenan duduk di sofa favorit nya yang menghadap langsung ke arah jendela. Ia membuka laptop nya untuk menghubungi Arumi dan juga Ayumi.
Di Jakarta pastinya jam sudah pukul 6 sore masih ada waktu untuk mengabari istrinya karena jujur baru saja ia tiba rasa rindu sudah melanda hatinya.
Telepon tersambung, ia langsung di hadapkan dengan wajah gemas putrinya yang mana memakai piyama tidur berbentuk anak itik.
"Sayang, kapan kau membelinya Ayumi sangat lucu sekali pakai baju itu," tanya Kenan.
"Ini hadiah dari Anita, dia memang sangat sayang dengan Ayumi. Mas baru sampai atau dari tadi?"
Keduanya mengobrol dengan begitu bahagianya, Kenan menjelaskan pada istrinya apa saja yang akan ia kerjakan di Paris.
"Aku akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan ku di sini setelah itu aku akan mengajak mu dan Ayumi berlibur," ujar Kenan.
"Aku akan menunggu Mas, semoga cepat selesai pekerjaannya," balas Arumi.
Kenan memutus teleponnya dengan senyuman nya yang sangat manis lalu menutup laptop nya.
"ASTAGA! NONA JEN KAU SEPERTI HANTU TAU GAK!" jantung Kenan serasa mau loncat ketika menoleh ke belakang ia mendapati Jen yang memakai dress putih dengan rambut nya yang tergerai serta wajahnya yang pucat tanpa make up.
Sedangkan yang sedang dimarahi malah tertawa sembari memundurkan langkahnya hingga hilang keseimbangan lalu dengan cepat Kenan menangkap tubuh tinggi Jena.
"Hampir saja," gumam Kenan yang akan berdiri kembali tapi dengan cepat Jena menahannya membuat Kenan menatap nya Heran dengan alisnya terangkat ia menatap tangan Jena terulur menyentuh wajahnya Jena mendekat dan ingin meraih bibir Kenan yang terdiam sejenak seakan ia pun memperbolehkan Jena menyentuhnya.
Bruggh!
"Akhhhh .... DADY!" teriak Jena.
ceklek
Kenan langsung menerobos masuk ke dalam karena mendengar teriakan Jena ia melangkah masuk memanggil nama gadis itu karena tidak terlihat di mana-mana.
"Aku di sini," pekik Jena kemudian Kenan menelusuri sumber suara yang terdengar sedikit lirih.
Betapa terkejutnya Kenan melihat Jena yang tersungkur di lantai ia tidak bisa bangun karena terlilit selimut. Bukannya membantu Jena Kenan malah tertawa melihat ekspresi wajah Jena.
"Cepatlah, dada ku sangat sesak," masih sambil tertawa Kenan mendorong tubuh Jena dan akhirnya selimut tebal itu pun terlepas.
"Kau itu sedang apa? Mimpi buruk kah sampai terguling begitu?" Kenan menggelengkan kepalanya terkekeh.
"Bukan aku bermimpi indah sangat indah," seru Jena.
"Mimpi apa? Saking indahnya sampai loncat sambil berbaring," seru Kenan.
"Itu ...,"
Ucapannya terhenti Jena mengingat mimpinya bersama Kenan sangat indah tapi tidak mungkin dia mengatakan jika baru saja ia memimpikan Kenan.
"Sudahlah, jangan di bahas," Jena pergi keluar kamar diikuti oleh Kenan ia menuju dapur sedangkan Kenan kembali membuka laptop nya.
Ting
Tong
Kenan melangkah menuju pintu ia pun segera mengambil pesanan dan mengajak makan dengan sangat senang Jena pun membuka satu persatu makanan itu.
Sembari memainkan ponselnya Kenan juga menikmati makanannya, tetapi selang beberapa saat ia menghentikan acara makannya dan sendok yang ia genggam terjatuh begitu pun ponselnya.
"Ada apa, Kenan?" tanya Jena.
Sambil memegangi lehernya Kenan merintih kesakitan dan ia sulit bernapas. Jena langsung mendekatinya ia sedikit panik melihat Kenan kesakitan.
"Kenan, kau kenapa? Jangan bercanda?" Jena meraih gelas dan memberikannya pada Kenan sembari ia membantunya juga.
Kenan tidak kuat ia menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya sementara Jena melihat apa yang baru saja Kenan makan. Menurutnya tidak ada yang aneh tapi mengapa dia dia seperti itu?
Brugh
"Kenan," teriak Jena mendapati pria itu pingsan.
*
*
Bersambung.