NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:128.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Beberapa hari berlalu dengan tenang.

Terlalu tenang, bahkan untuk Qinghe.

Yun Ma mulai curiga setiap kali pagi datang tanpa teriakan Hui, tanpa suara anak-anak berlari terlalu dekat dengan Ye, dan tanpa Xuan melakukan sesuatu yang tidak perlu tapi serius.

Pagi itu, Yun Ma sedang mengantar obat ke toko kain di ujung jalan.

Ayin sedang sibuk di balai obat. Hui entah di mana kemungkinan besar sedang membuat masalah kecil yang ia anggap “hiburan”. Ye berjalan di sisi Yun Ma, langkahnya tenang.

Xuan tidak ikut.

Katanya ada warga yang minta bantuan memperbaiki jembatan kecil di sisi timur.

“Dia benar-benar tinggal,” gumam Yun Ma waktu itu, lebih ke diri sendiri.

Qinghe cukup ramai hari itu.

Bukan ramai seperti festival, tapi ada wajah-wajah baru.

Pedagang luar.

Kereta kuda yang tidak biasa.

Dan… tatapan yang terlalu lama.

Yun Ma berhenti di depan toko kain.

Saat itulah terdengar suara seseorang

“Yu… Mailan?”

Suara itu adalah salah sebutan, dengan nada ragu yang bercampur tidak percaya.

Yun Ma menoleh.

Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya.

Pakaian rapi. Rambut disisir sempurna. Sikap tubuh yang masih membawa kebiasaan orang yang suka dilayani.

Wajahnya pucat.

Matanya membesar seolah baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Ye langsung berhenti melangkah.

Telinganya tegak.

Ancaman?

Belum.

Yun Ma menatap pria itu sebentar, lalu hanya sebentar. “Oh,” katanya datar. “Kau.”

Pria itu menelan ludah. “…Yu Mailan.”

Nada itu bergetar.

Bukan marah.

Bukan sombong.

Lebih seperti… takut.

“Kau masih memanggilku begitu,” kata Yun Ma ringan. “Sudah lama tidak ada yang pakai nama itu.”

Gu Changfeng tidak bergerak.

Seolah kakinya tertanam di tanah Qinghe.

“Ini… ini tidak mungkin,” katanya pelan. “Aku… aku mencari...”

“Kalau kau mencariku,” potong Yun Ma, nada tetap biasa, “kau terlambat.”

Warga sekitar mulai melirik.

Tidak karena tegang.

Lebih karena penasaran.

Ye duduk di samping Yun Ma.

Tenang.

Tapi posisinya jelas.

Gu Changfeng akhirnya sadar bahwa semua mata mengarah pada mereka.

Ia menarik napas panjang, mencoba menguasai diri kebiasaan lama.

“Kau… hidup,” katanya lagi, bodoh.

“Biasanya begitu,” jawab Yun Ma. “Orang hidup, ya hidup.”

Beberapa orang di sekitar terbatuk menahan tawa.

Gu Changfeng tersentak.

“Kau… berubah.”

Yun Ma mengangguk kecil.

“Kau juga. Tapi sepertinya tidak ke arah yang lebih baik.”

Itu pukulan halus.

Dan Gu Changfeng merasakannya.

“Kau tinggal di sini?” tanyanya cepat, seolah mencari pegangan.

“Iya.”

“Dengan siapa?”

Yun Ma mengangkat alis.

“Itu bukan pertanyaan yang sopan.”

Gu Changfeng membuka mulut lalu menutupnya lagi.

Ia baru menyadari sesuatu yang lain.

Tidak ada rasa bersalah di wajah Yun Ma.

Tidak ada marah.

Tidak ada sakit hati.

Hanya… jarak.

Dan itu jauh lebih menakutkan.

Reaksi yang Tidak Sesuai Harapan

Gu Changfeng membayangkan banyak skenario.

Yun Ma menangis.

Yun Ma marah.

Yun Ma menuntut penjelasan.

Bahkan Yun Ma menamparnya.

Tapi ini?

Dia berdiri di depannya, tenang, dengan seekor srigala hitam duduk seperti penjaga pribadi.

“Kau…” Gu Changfeng mengusap wajahnya. “Kau tahu aku mencarimu.”

“Aku tahu,” jawab Yun Ma. “Aku juga tahu kenapa.”

Gu Changfeng menegang.

“Bukan untuk kembali,” lanjut Yun Ma sebelum dia bicara terlalu jauh. “Kau tidak pernah mencariku untuk itu.”

Itu tepat sasaran.

Gu Changfeng terdiam.

“Aku hanya ingin memastikan,” katanya akhirnya, suara lebih rendah, “kau baik-baik saja.”

Yun Ma menatapnya.

Benar-benar menatap.

“Pertanyaan itu,” katanya pelan, “datang terlalu terlambat untuk terdengar tulus.”

Ye mendengus pelan.

Seorang anak kecil lewat, menunjuk Ye.

“Ibu, srigalanya lucu.”

Ibunya menarik anak itu sambil tersenyum canggung.

Gu Changfeng menatap Ye.

“…Itu milikmu?”

“Bukan barang,” jawab Yun Ma cepat. “Dia temanku.”

Gu Changfeng tertawa kecil, gugup.

“Kau selalu suka hal-hal aneh.”

Yun Ma menghela napas.

“Kau masih suka meremehkan.”

Hening sebentar.

Gu Changfeng melangkah maju satu langkah.

Ye berdiri.

Satu langkah itu cukup.

“Jangan,” kata Yun Ma singkat.

Ye berhenti.

Gu Changfeng membeku.

Ia menatap Yun Ma, benar-benar menatap kali ini.

“Kau… tidak membutuhkan aku lagi,” katanya.

Itu bukan pertanyaan.

Yun Ma mengangguk.

“Tidak sejak lama.”

Xuan Datang di Waktu yang Tidak Salah

“Yun Ma.”

Suara itu datang dari belakang.

Tenang.

Rendah.

Namun entah kenapa membuat beberapa orang otomatis menoleh.

Xuan berjalan mendekat.

Pakaiannya sederhana. Tangannya masih ada bekas debu kayu.

Ia berhenti di samping Yun Ma, jaraknya pas. Tidak menempel. Tidak jauh.

Cukup untuk terlihat… bersama.

“Maaf aku lama,” katanya. “Jembatannya sedikit bandel.”

Yun Ma mengangguk.

“Tidak apa.”

Xuan lalu menatap Gu Changfeng.

Satu pandangan.

Tanpa ancaman.

Tanpa senyum.

Namun cukup untuk membuat Gu Changfeng merasakan sesuatu yang tidak ia sukai.

“Ini?” tanya Xuan.

“Masa lalu,” jawab Yun Ma singkat.

“Oh.”

Xuan mengangguk, seolah itu penjelasan lengkap.

Lalu—ia menoleh kembali ke Yun Ma.

“Apa kau sudah selesai urusanmu?”

“Iya.”

“Kalau begitu,” kata Xuan ringan, “Ayin minta kita mampir. Hui entah kenapa memanjat menara lonceng.”

Yun Ma menghela napas.

“Dia akan jatuh.”

“Belum,” kata Xuan. “Dia teriak-teriak dulu.”

Gu Changfeng berdiri di sana, sepenuhnya diabaikan.

“Kau…” katanya cepat. “Kau tidak akan memperkenalkanku?”

Xuan menoleh.

Menatap Gu Changfeng.

Lalu berkata datar,

“Perlu?”

Yun Ma menggeleng.

“Tidak.”

Itu lebih menyakitkan dari penolakan langsung.

Gu Changfeng menatap Yun Ma.

“Kau benar-benar… bahagia?”

Yun Ma berpikir sejenak.

Lalu menjawab jujur,

“Tenang.”

Xuan tidak menoleh.

Tapi sudut bibirnya naik sedikit.

Setelahnya

Mereka berjalan menjauh.

Tidak ada drama.

Tidak ada teriakan.

Gu Changfeng tertinggal di tengah Qinghe, dengan semua bayangan kepalanya runtuh satu per satu.

-----

Di sisi lain

“Dia mantanmu?” tanya Xuan akhirnya.

“Iya.” jawab Yun Ma singkat

“Oh.”

“Itu saja?” tanya Yun Ma.

“Apa kau ingin aku berkata apa?” ujar xuan

“Entahlah. Cemburu. Marah. Atau setidaknya komentar dramatis.” jawab Yun Ma

Xuan berpikir. “…Aku tidak suka caranya memandangmu.”

Yun Ma menoleh.“Kenapa?”

“Seperti sesuatu yang seharusnya masih miliknya.” jawab xuan

Yun Ma tersenyum kecil.“Bagus. Karena itu tidak benar.”

Xuan berhenti berjalan.

Yun Ma juga berhenti.

Mereka saling menatap.

Tidak lama.

Tidak intens.

Tapi cukup.

“Yun Ma,” kata Xuan pelan, “kalau dia kembali mengganggumu....”

“Aku tahu,” potong Yun Ma. “Kau akan berdiri terlalu dekat dan membuat orang tidak nyaman.”

Xuan tersenyum kecil.

“Aku belajar cepat.”

Dari kejauhan, Hui berteriak dari atas menara,

“HEI—AKU JATUH KALAU KALIAN TERUS SALING TATAP DI BAWAH.”

Yun Ma menghela napas.

Xuan tertawa.

Dan Qinghe kembali tenang.

Bukan karena masa lalu menghilang—

melainkan karena masa lalu sudah tidak lagi punya tempat.

Bersambung

1
Hua Hua
gag seru ah, masa keluarganya mati gitu aja,, blm jg yun ma bls dendam😵
Hua Hua
aq bosan thor, seperti baca puisi, huuft
Andrea
kabur tanpa tujuan🤣🤣🤣
yetiku86
luar biasa👍👍👍
yetiku86
terimakasih Thor🙏🙏🙏
semoga sehat selalu🤲
Dandelion
pokoknya aku padamu yun ma😁
yetiku86
sayang sekali.... mereka blm sempat melihat Yun Ma yg sekarang.
yetiku86
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ kau hanya menyumbangkan cerewet tdk akan berdampak pada janinnya Hui... setidaknya utk sekarang belum.... 🤭
yetiku86
oh.... ternyata Xuan hanya seorang pangeran bukan Raja..
yetiku86
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
yetiku86
eee... cie.. cie... Raja kaku ini sdh bisa menggombal ternyata 😅
yetiku86
sejak kapan Ayin berani berteriak pada majikannya??? 🤔🤔🤔
yetiku86
dasar ceriwis.... mau jatuh... ya jatuh saja kok berisik 🤦‍♀️
yetiku86
untuk apa??? apakah utk menyiksanya lagi?? 😏
yetiku86
siapa juga yg mau bangunin si cerewet... 😅
yetiku86
lalu kamu ini sejenis apa Zhao Tian???
yetiku86
ada ya orang mau pingsan pake ijin dulu 😅
Dandelion
aku suka....aku suka...
yetiku86
jadi.... kamu itu seorang pangeran atau raja???
yetiku86
giliran dah bisa ngomong, cerewetnya minta ampun. padahal sebelumnya sok coll cuma menanggapi dgn "krrr" 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!